B. Kontribusi Ulama dalam Politik
3. Al-Ghazali
Nama lengkap al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad al-Ghazali, lahir di Ghazaleh, sebuah negeri dekat Thus, Khurusan, 1059 M/450 H. Meninggal di kota yang sama pula pada tahun 1111 M/501 H. Perjalanan intelektual sangat berliku, ia pernah mengalami semacam krisis dalam hidupnya. Al-Ghazali merupakan pemikir Muslim yang paling populer dan paling berpengaruh di dunia Islam. Pemikiran keislamannya meliputi seluruh aspek ajaran Islam, baik itu tafsir, hadis, fiqih, ushul fiqh, filsafat, tasawuf, teologi, pendidikan hingga politik.
Al-Ghazali pernah belajar fiqih dengan seorang ulama yaitu Ahmad Ibnu Muhammad Raskani di Thus pada tahun 1073 M/ 465 H, kemudian berangkat ke Jurjan disana al-Ghazali belajar Ilmu Hadis dengan seorang ulama Mazhab Safi’i bernama Abu Qasim al-Ismaili. Dan kemudian belajar dengan Imam Haramain di Nasabur, dari Imam Haramain ini al-Ghazali belajar Filsafat, Kalam, dan Mantik.
Sepeninggalan al-Juwaidi, Nizham al-Muluk, Perdana Menteri Sultan Saljuk memintanya menjadi guru besar di Madrasah Nizhamiah menggantikan al-Juwaidi. Pada masa inilah al-Ghazali mengalami krisis dalam perjalanan intelekualnya. Ia mempelajari semua filsafat dan berusaha mencari jawaban atas belenggu keraguan yang menggangu pikiranya. Pada masa inilah ia mengalami gangguan saraf sehingga ia tidak dapat mengajar di Madrasah Nizhamiyah. Ketika al-Ghazali berhenti mengajar di Madrasah Nizhamiyah dalam usia 38 tahun. Kemudian meninggalkan Bagdad hendak pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Menurut Munawir, kepergiannya dari Bagdad sebenarnya adalah untuk mengakiri kariernya baik jadi guru besar maupun sebagai ahli Hukum.
Pada masa al-Ghazali di Afrika Utara sebelah barat telah berdiri dua kerajaan: Murabitin yang telah dibangun oleh Abdullah bin Yasin dan yusuf bin Tasfin, yang wilayahnya meliputi Aljazair, Marakisy, Afrika Barat, dan Andalusia; dan kemudian Muwahidin yang dibangun oleh Muhammad bin Tumarad, yang wilayahnya meliputi seluruh daerah Maghrib Arab, Afrika Barat dan Andalusi. Al-Ghazali cukup bersahabat dengan dua pendiri kerajaan tersebut. Yusuf sering meminta petunjuk dan nasihat serta kebijakan politik kepada al-Ghazali. Oleh karena itu al-Ghazali cukup bangga dengan mereka karena mereka mampu mengelola negara dengan penuh keadilan dan kearifan sehingga ia mendapatkan julukan amīr al-Muslimīn.
Hubungan al-Ghazali dengan dengan kerajaan Murabithin menjadi retak setelah khalifah Yusuf meninggal kemudian digantikan oleh aaknya Ali bin Yusuf bin Tasyfin. Barangkali karena hasutan dari ulama di sekeliling raja, sekap permusuhan raja dengan al-Ghazali memuncak, sampai-sampai pada suatu hari diselenggarakan acara api unggun di halaman masjid di Andalusia dan Maghrib dengan bahan bakar buku Iḥya ‘Ulumuddīn, karya al-Ghazali.
Adupun karya-karya tulis dari al-Ghazali yakni: Iḥya ‘Ulumuddīn (Menghidupkan Ilmu Agama), Kitab as-Sya’ab, al-Iqṭisḥād fī al-I’ṭiqād (Sikap Lurus dalam I’tiqad), al-Tibr al-Masbūk fī Naṣīḥaḥ al-Muluk (Batangan Logam Mulia Tentang Nasihat Untuk Raja-Raja).
b. Pemikiran Politik al-Ghazali
Sebagaimana ilmuan lain, al-Ghazali berpendapat bahwa manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak dapat hidup sendiri disebabkan oleh dua faktor. Pertama, kebutuhan keturunan demi kelangsungan hidup umat manusia, hal itu hanya mungkin dilakukan dengan pergaulan pergaulan antara laki-laki dan perempuan serta keluarga. Kedua, saling bantu membantu dalam menyediakan bahan makanan, pakaian serta pendidikan. Pergaulan itu akan melahirkan anak, dan tidak mungkin seorang dengan sendiri menaga anak sekaligus mencukupi kebutuhan hidupnya.
Mendirikan sebuah negarah atau imamah dan pemilihan kepala negara bukanlah berdasarkan pertimbangan rasio, melainkan juga kewajiban agama, sebagaimana yang terdapat dalam kitabnya al-Iqṭisḥād fī al-I’ṭiqād. Al-Ghazali mengungkapkan hubungan agama dengan politik dengan ungkapan:
Sultan (di sini berarti kekuasaan politik) wajib untuk ketertiban dunia; ketertiban dunia wajib bagi ketertiban agama; ketertiban agama wajib bagi keberhasilan di akhirat. Inilah tujuan sebenarnya para rasul. Jadi, wajib adanya imam merupakan kewajiban agama dan tidak ada jalan untuk meninggalkannya.112
Apa yang diungkapkan al-Ghazali tidak jauh berbeda dengan al-Mawardi di atas, tentang bentuk pemerintahan, kewajiban dalam mendirikan sebuah pemerintahan mengangkat imam yang berfungsi untuk mengurusi persoalan agama dan dunia. Imam atau pemimpin yang seperti ini disebut dalam sejarah politik Islam dikenal dengan istilah khalifah. Al-Ghazali melihat agama dan politik begitu dekat dan saling berhubungan antara agama dan kekuasaan politik. Agama adalah dasar dan sultan adalah penjaganya. Hubungan agama dengan politi menurut al-Ghazali seperti saudara kembar yang lahir dari seorang ibu. Keduanya saling melengkapi. Bahkan al-Ghazali mengungkapkan hubungan
politik dengan agama itu menempati posisi yang sangat penting strategis yang hanya berada setingkat di bawah kenabian.
Al-Ghazali mengungkapkan bahwa, Allah memilih dua kelompok manusia. Pertama, nabi dan rasul. Mereka diutus untuk memberikan penjelasan kepada umat manusia tentang petunjuk dan dalil-dalil guna beribadah kepada-Nya, mereka jugalah yang memberikan kabar gembira tentang surga yang dijanjikan kepada orang yang beriman. Kedua, penguasa. Kelompok ini diutamakan Allah, karena mereka dapat menjaga permusuhan satu dengan lainnya. Untuk itu para penguasa mendapatkan tempat yang strategis oleh Allah, jika mereka menggunakan kekuasaannya sesuai dengan kehendak-Nya. Hal ini sebagaimana diungkapkan al-Ghazali dalam kitabnya al-Tibr al-Masbūk fī Naṣīḥaḥ al-Muluk .
Untuk itu, mesti diketahui bahwa orang yang diberi pangkat oleh Allah SWT. Sebagai penguasa dan pengayom Tuhan di muka bumi, maka setiap orang wajib mencintai, tunduk, dan mematuhinya. Mereka tidak dibenarkan mendurhakai dan menetangnya. Sebagaimana firman Allah: hai orang-orang yang beriman taatlah kamu kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul dan uli al-amri di antara kamu.113
Setiap orang harus menaati dan wajib mematuhi segala perintah dari kepala negaranya atau pemimpinnya. Kepatuhan dan ketaatan kepada pemimpin itu merupakan atas amanat Allah kepada umat yang beriman karena kekuasaan itu diberikan-Nya kepada orang yang dipilihnya.114 Bahkan kekuasaan para pemimpin itu adalah suci yang berasal dari Tuhan. Selain itu, al-Ghazali berpendapat bahwa para penguasa adalah bayang-bayang Tuhan di muka bumi (Żillullāh fil arḍ).
Munawir Syadzali menyimpulkan bahwa, Al-Ghazali berpendapat kekuasaan dari Tuhan, dengan itu sistem pemerintahan yang ia tawarkan berbentuk teokrasi. Dengan demikian berbeda halnya dengan sistem pemerintahan yang ditawarkan al-Mawardi yang memiliki gagasan tentang kontrak sosial dalam teorinya aḥl al-imāmah dan aḥl al-ikhtiār membuka peluang adanya pemaksulan
113Munawir Syadzali, Islam dan Tata Negara... h. 46-47. Terdapat juga dalam bukunya Muhammad Iqbal dan Amien Husin Nasution, Pemikiran Politik Islam,... h. 30.
114Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Surah ‘Alī Imran ayat 26 “Wahai Tuhan Yang
mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
imam. Bagi al-Ghazali, kepala negara tidak bertanggung awab kepada rakyat melainkan kepada Tuhan.
Menurut al-Ghazali, ada sepuluh kriteria seorang imam, pemimpin, sultan, ataupun raja, yaitu: (1) dewasa atau aqīl baligh; (2) otaknya sehat; (3) mardeka dan bukan budak; (4) laki-laki; (5) keturunan Quraisy; (7) sehat pendengaran dan penglihatannya; (8) hidayah; (9) memiliki ilmu pengetahuan; (10) wara (kehidupan yang bersih dengan kemampuan menggendalikan diri tidak membuat hal-hal terlarang dan tercela).115
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pemikiran al-Ghazali sangat diwarnai dengan sikap pemihakan kepada penguasa. Doktrin politik Sunni yang sangat kental dalam pemikirannya. Dengan itu dia tidak berani mengambil kebijakan yang bersebarangan dengan kekuasaan, karena ia sendiri mendapatkan petronase dari penguasa.
4. Ibn Taimiyah