KHULAFAUR RASYIDIN
A. Al‐Kindi (185 – 252H / 806 – 873 M) Biografi Al‐Kindi
BAB VII
MENGENAL TOKOH MUSLIM TERKEMUKA
A. Al‐Kindi (185 – 252H / 806 – 873 M) Biografi Al‐Kindi
Al‐ Kindi bin Ishaq atau nama legkapnyaAl‐Kindi bin Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al‐Kindi ialah ilmuan dan filosof besar Islam yang hidup pada masa kekhalifahaan Bani Abbasiyah. Ia lahir pada 809 M dan wafat pada 873M. Ia masih keturunan suku Kindah, sebuah suku besar di Arab Selatan pada masa sebelum Islam. Keluarga Al‐Kindi adalah keluarga terhormat dengan status sosial tinggi. Ayahnya pernah menduduki jabatan sebagai gubernur Kufah pada masa Khalifah Al‐Mahdi(775‐778M) dan Khalifah Ar‐Rasyid(786‐809M).
Dunia mengenal Al‐Kindi sebagai penggerak dan pengembang ilmu pengetahuan. Hal ini karena karya dan pemikiran Al‐Kindi meliputi bidang yang sangat luas dan beragam. Hampir setiap bidang keilmuan, pasti ada karya Al‐Kindi yang membahas Atau mengulasnya. Pada awalnya, Al‐Kindi belajar di Bashrah, sebuah kota di Iraq yang menjadi pusat pengetahuan dan pergunulan intelektual dunia, namun demikian ia kemudian menamatkan pendidikannya di Bagdad.
Di kota yang kini menjadi Ibu kota Iraq modern tersebut, Al‐Kindi berkenalan dengan para pangeran Abbasyiah, seperti Al‐Ma’mun dan Al‐Mu’tasim. Lalu Al‐Kindi diangkat menjadi guru pribadi Ahmad, putra Al‐Makmun yang darinya ia memperoleh dukungan kuat untuk melahirkan karya‐karya besar dibidang ilmu pengetahuan.
Al‐Kindi hidup selama pemerintahan Bani Abbasyiah, yaitu Al‐Amin (809‐813M), Al‐
Ma’mun (813‐833M), Al‐Mu’tasim (833‐842M), Al‐Watsiq (842‐847M), dan Al‐Mutawakil (847‐851M). Selama kurun waktu itu, Al‐Kindi banyak melahirkan karya dibidang filsafat, matematika (geometri), agama, asrtonomi, logika dan kedokteran. Diantara karya al‐Kindi yang turut meramaikan dunia pengetahuan adalah Risalah fi masail suila anha min ahwal al‐
kawakib (jawaban dari pertanyaan‐pertanayaan planet), risalah fi mathrah asy‐syu’a (tentang projeksi sinar), dan risalah fi idhah ‘illat ruju’ al‐kawakib (tentang penjelasan sebab
gerak ke belakang planet‐planet). Dari sekian banyak ilmu ia sangat menghargai matematika, hal ini disebabkan matematika bagi Al‐Kindi, adalah mukadimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat. Mukadimah ini sangat penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai keahlian dalam filsafat tanpa terlebih dahulu menguasai matematika. Matematika disini meliputi ilmu tentang bilangan, harmoni, geomeri, dan astronomi. Tetapi yang paling utama dari seluruh cakupan matematika disini adalah ilmu bilangan atau aritmatika karena jika bilangn tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun[2].
Ia adalah filsuf berbangsa Arab dan dipandang sebagai filsuf muslim pertama. Diantara Kelebihan Al‐Kindi adalah Menghadirkan filsafat Yunani kepada kaum muslimin setelah terlebih dahulu meng islamkan pemikiran‐pemikiran filsafat Yunani yang ada.
Karya – Karya Al‐Kindi
Sebagai seorang filosof Islam yang produktif, diperkirakan karya yang pernah ditulis al‐Kindi dalam berbagai bidang tidak kurang dari 270 buah. Dalam bidang filsafat, diantaranya adalah:
1) Kitab Al‐Kindi ila Al‐Mu’tashim Billah fi al‐Falsafah al‐Ula (tentang filsafat pertama),
2) Kitab al‐Falsafah al‐Dakhilat wa al‐Masa’il al‐Manthiqiyyah wa al Muqtashah wa ma fawqa al‐Thabi’iyyah (tentang filsafat yang diperkenalkan dan masalah‐masalah logika dan muskil, serta metafisika), 3) Kitab fi Annahu la Tanalu al‐Falsafah illa bi ‘ilm al‐Riyadhiyyah (tentang
filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika),
4) Kitab fi Qashd Aristhathalis fi al‐Maqulat (tentang maksud‐maksud Aristoteles dalam kategori‐kategorinya),
5) Kitab fi Ma’iyyah al‐‘ilm wa Aqsamihi (tentang sifat ilmu pengetahuan dan klasifikasinya),
6) Risalah fi Hudud al‐Asyya’ wa Rusumiha (tentang definisi benda‐benda dan uraiannya),
7) Risalah fi Annahu Jawahir la Ajsam (tentang substansi‐substansi tanpa badan),
8) Kitab fi Ibarah al‐Jawami’ al Fikriyah (tentang ungkapan‐ungkapan mengenai ide‐ide komprehensif),
9) Risalah al‐Hikmiyah fi Asrar al‐Ruhaniyah (sebuah tilisan filosofis tentang rahasia‐rahasia spiritual),
10)
Risalah fi al‐Ibanah an al‐‘illat al‐Fa’ilat al‐Qaribah li al‐kawn wa al‐Fasad (tentang penjelasan mengenai sebab dekat yang aktif terhadap alam dan kerusakan).
Pandangan Filsafat Al‐Kindi Epistemologi Al‐Kindi
Al‐Kindi menyebutkan adanya tiga macam pengetahuan manusia, yaitu:
a). pengetahuan inderawi,
b). pengetahuan yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal yang disebut pengetahuan rasional, dan
c). pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan yang disebut pengetahuan isyraqi dan iluminatif.
1) Pengetahuan Inderawi
Pengetahuan inderawi terjadi secara langsung ketika orang mengamati terhadap obyek‐obyek material, kemudian dalam proses tanpa tenggang waktu dan tanpa berupaya berpindah ke imajinasi (mushawwirah), diteruskan ke tempat penampungannya yang disebut hafizhah (recollection). Pengetahuan yang diperoleh dengan jalan ini tidak tetap, karena obyek yang diamati pun tidak tetap, selalu dalam keadaan menjadi, berubah setiap saat, bergerak, berlebih‐berkurang kuantitasnya, dan berubah‐ubah pula kualitasnya.
Pengetahuan inderawi ini tidak memberi gambaran tentang hakikat sesuatu realitas.Pengetahuan inderawi selalu berwatak dan bersifat parsial (juz’iy). Pengetahuan inderawi amat dekat kepada penginderaannya, tetapi amat jauh dari pemberian gambaran tentang alam pada hakikatnya.
2) Pengetahuan Rasional
Pengetahuan tentang sesuatu yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal bersifat universal, tidak parsial, dan bersifat immaterial. Obyek pengetahuan rasional bukan individu, tetapi genus dan spesies. Orang mengamati manusia sebagai yang berbadan tegak dengan dua kaki, pendek, jangkung, berkulit putih atau berwarna, yang semua ini akan menghasilkan pengetahuan inderawi. Tetapi orang yang mengamati manusia, menyelidiki hakikatnya sehingga sampai pada kesimpulan bahwa manusia ialah makhluk berpikir (rational animal=
hayawan nathiq), telah memperoleh pengetahuan rasional yang abstrak universal, mencakup semua individu manusia. Manusia yang telah ditajrid (dipisahkan) dari yang inderawi tidak mempunyai gambar yang terlukis dalam perasaan.
Al‐Kindi memperingatkan agar orang tidak mengacaukan metoda yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan, karena setiap ilmu mempunyai metodenya sendiri yang sesuai dengan wataknya.Watak ilmulah yang mennetukan metodenya. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan suatu metode suatu ilmu untuk mendekati ilmu lain yang mempunyai metodenya sendiri. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan metoda ilmu alam untuk matematika, atau menggunakan metode ilmu alam untuk metafisika.[17]
3) Pengetahuan Isyraqi
Al‐Kindi mengatakan bahwa pengetahuan inderawi saja tidak akan sampai pada pengetahuan yang hakiki tentang hakikat‐hakikat.
Pengetahuan rasional terbatas pada pengetahuan tentang genus dan
spesies. Banyak filosof yang membatasi jalan memperoleh pengetahuan pada dua macam jalan ini. Al‐Kindi, sebagaimana halnya banyak filosof isyraqi, mengingatkan adanya jalan lain untuk memperoleh pengetahuan lewat jalan isyraqi (iluminasi), yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh dari pancaran Nur Ilahi. Puncak dari jalan ini ialah yang diperoleh para Nabi untuk membawakan ajaran‐ajaran yang berasal dari wahyu kepada umat manusia. Para Nabi memperoleh pengetahuan yang berasal dari wahyu Tuhan tanpa upaya, tanpa bersusah payah, tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya.Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semata‐mata.Tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkan‐Nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu.Pengetahuan dengan jalan wahyu ini merupakan kekhususan bagi para Nabi yang membedakan dengan manusia‐manusia lainnya.Akal meyakinkan kebenaran pengetahuan mereka berasal dari Tuhan, karena pengetahuan itu memang ada pada saat manusia biasa tidak mampu mengusahakannya, Karena hal itu memang diluar kemampuan manusia.
Bagi manusia tidak ada jalan lain kecuali menerima dengan penuh ketaatan dan ketundukan kepada kehendak Tuhan, membenarkan semua yang dibawakan para Nabi.
Filsafat dan Agama Menurut Al‐Kindi
Agama yang bersumber dari wahyu Ilahi mengandung kebenaran, dan kebenaran ini dituangkan untuk manusia. Filsafat juga mengandung kebenaran, kebenarannya didasarkan pada pencarian nalar manusia.
Dengan demikian ujung dari keduanya ialah “kebenaran”. Filsafat mencari kebenaran dan agama membawa kebenaran. Namun demikian kebenaran agama tidak akan dirasakan kecuali oleh orang yang berakal. Oleh sebab itu kebenaran agama harus digali agar lebih jelas. Penggalinya ini dilakukan dengan menggunakan nalar filsafat.
Bagi al‐Kindi kebenaran yang dibawa oleh agama lebih positif dan lebih meyakinkan daripada kebenaran filsafat, walaupun ia juga harus memakai
filsafat untuk lebih memperjelasnya, tetapi pekerjaan itu hanyalah pekerjaan membuka selubung barang yang telah ada. Jadi, kebenaran yang hendak dicari oleh filsafat, akallah yang menjadi alat pencariannya, dan kebenaran yang dibawa oleh agama akal pulalah yang berfungsi untuk membuka tabirnya. Dengan demikian akal berfungsi dalam filsafat dan juga dalam agama.
Selanjutnya pembahasan yang paling tinggi dalam filsafat ialah pembahasan tentang masalah yang ada atau masalah kebenaran yang awal, yakni masalah ketuhanan. Sebab yang menjadi inti dari penggalian filsafat tidak lain ialah kebenaran. Kebenaran tidak akan sampai tuntas pembahasannya sebelum sampai kepada pokok dari segala kebenaran. Untuk itu filsafat berusaha keras untuk sampai kepada kebenaran pertama itu.Kebenaran pertama itulah Tuhan.Masalah ketuhanan digali dari berbagai jurusan, sehingga tampak dengan jelas kemutlakan‐Nya, keadaan‐Nya, keesaan‐Nya dan sebagainya.Demikian pulalah dengan agama, di mana teologinya dengan dalil‐dalil aklinya menetapkan tentang eksistensi Tuhan Yang Maha Mutlak itu.Demikianlah pandangan al‐Kindi tentang filsafat dan agama.
Keduanya berjalan seiring, yang satu membutuhkan yang lain. Suatu kali al‐
Kindi pernah mengatakan, bahwa siapa yang mengatakan filsafat ini bertentangan dengan agama berarti dialah yang tidak beragama.
Dengan ini tampak dengan jelas, bahwa al‐Kindi sangat mengagumi filsafat di samping kecintaannya kepada agama.Melihat jalan fikirannya dengan demikian tidak salah ada diantara ahli sejarah yang menganggap dia sebagai ahli ilmu kalam dari golongan Mu’tazilah ketimbang sebagai filosof.Tetapi karena al‐Kindilah orang yang pertama memperkenalkan buah fikiran filosof‐filosof Yunani serta memberikan analisa‐analisa yang jelimet tentang dasar‐dasar filsafat yunani itu, maka oleh sebagian besar pemikir Islam menamakan dia sebagai filosof.
Metafisika Al‐kindi
Alam ini merupakan juz’iat (particulars) yang segalanya itu terdapat materi hakiki yang disebut kulliat (universal).Dalam istilah filsafat hakikat yang juz’iat itu biasa disebut dengan aniah dan hakikat yang kulliat disebut mahiah.Mahiah terdiri dari genus dan species.
Bagi Aristoteles benda‐benda terdiri dari materi dan bentuk.Materi ialah substansi yang belum mempunyai bentuk, yang merupakan inti dari segala‐
galanya.Bila bentuk diletakkan pada materi berwujudlah materi tadi dalam keragaman yang dapat kita inderai.Terwujudnya bentuk digerakkan oleh penggerak pertama yang tidak diliputi oleh waktu, sebab adanya waktu ialah ketika telah wujudnya alam.Bagi al‐Kindi Tuhan tidaklah terdiri dari aniah ataupun mahiah. Tuhan mengatasi segenap alam, oleh sebab itu ia tidak sama dengan alam. Juga Tuhan tidak tersusun dari genus dan species, sebab setiap yang tersusun dari genus dan species adalah merupakan bentuk kejamakan dan bersifat fana (temporer), sedangkan Tuhan Maha Suci dari jamak dan fana.Tuhan hanya Esa, Dia‐lah satu‐satunya yang Esa, sebab Dia satu‐satunya yang tidak tersusun dari genus dan species.Dan Tuhan itu kekal buat selama‐lamanya.
Tuhan bukan sebagai penggerak pertama seperti yang diungkapkan oleh Aristoteles, tetapi bagi al‐Kindi Tuhan adalah pencipta.Daripada ciptaan‐Nya yang awallah alam ini bersumber, sebagai akibat dari emanasi.Dalam hal ini al‐Kindi dekat dengan Plotinus. Bagi Plotinus, dari Yang Asal lagi Maha Sempurna melimpahlah makhluk yang pertama yaitu akal. Dari akal mengalir jiwa dunia dan dari jiwa lahirlah materi sebagai makhluk terendah.Mata rantai ini semakin jauh dari asalnya semakin berkuranglah kesempurnaannya. Menurut pandangan al‐Kindi yang asal dan Maha Sempurna itu, itulah Al‐Khalik (Creator) sebagai pencipta makhluk, kemudian makhluk melahirkan makhluk dan seterusnya sambung‐
bersambung ke bawah ke tingkat terendah.
Di sini tampak bahwa al‐Kindi menyesuaikan antara filsafat Plotinus dengan asas kepercayaan Islam. Baginya Tuhan berada di atas hukum alam, Tuhan menjelmakan alam itu mempunyai suatu sunnah (ketentuan) yang tetap, sehingga yang satu menjadi sebab timbulnya yang lain.Teori emanasi yang dibawa oleh al‐Kindi merupakan pembuka jalan bagi al‐Farabi untuk selanjutnya lebih memperjelas emanasi ini dalam bentuk yang lebih rinci.
Tentang hakikat Tuhan, al‐Kindi mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud yang Haq(sebenarnya) yang tidak pernah tiada sebelumnya dan tidak akan pernah tiada selama‐lamanya, yang ada sejak awal dan akan senantiasa ada selama‐lamanya. Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak pernah didahului wujud yang lain, dan wujud‐Nya tidak akan pernah berakhir serta tidak ada wujud lain melainkan dengan perantaraan‐Nya.
Untuk membuktikan tentang wujud Tuhan, al‐Kindi berpijak pada adanya gerak, keanekaan, dan keteraturan alam sebagaimana argumentasi yang sering dikemukakan oleh filosof Yunani.
Sehubungan dalil gerak, al‐Kindi mengajukan pertanyaan sekaligus memberikan jawabannya dalam ungkapan berikut: mungkinkah sesuatu menjadi sebab adanya sendiri, ataukah hal itu tidak mungkin? Jawabnya:
yang demikian itu tidak mungkin. Dengan demikian, alam ini adalah baru, ada permulaan dalam waktu, demikian pula alam ini ada akhirnya, oleh karenanya alam ini harus ada yang menciptakannya.Dari segi filsafat, argument al‐Kindi itu sejalan dengan argument Aristoteles tentang causa prima dan penggerak pertama, penggerak yang tidak bergerak. Dari segi agama, argumen al‐Kindi itu sejalan dengan argumen ilmu kalam: alam berubah‐ubah, semua yang berubah‐ubah adalah baru, jadi alam adalah baru. Karena alam adalah baru, maka alam adalah ciptaan yang mengharuskan ada penciptanya, yang mencipta dari tiada (creation ex nihilo).
Tentang dalil keanekaan alam wujud, al‐Kindi mengatakan bahwa tidak mungkin keanekaan alam wujud ini tanpa ada kesatuan, demikian pula
sebaliknya tidak mungkin ada kesatuan tanpa keanekaan alam inderawi atau yang dapat dipandang sebagai inderawi.Karena dalam wujud semuanya mempunyai persamaan keanekaan (keserbaragaman) dan kesatuan (keseragaman), maka sudah pasti hal ini terjadi karena ada sebab, bukan karena kebetulan, dan sebab ini bukan alam wujud yang mempunyai persamaan dan keserbaragaman dan keseragaman itu sendiri. Jika tidak demikian akan terjadi hubungan sebab‐akibat yang tidak berkesudahan, dan hal ini tidak mungkin terjadi. Oleh karenanya, sebab itu adalah diluar wujud itu sendiri, eksistensinya lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih dulu adanya.Sebab ini, tidak lain adalah Tuhan.
Mengenai dalil keteraturan alam wujud sebagai bukti adanya Tuhan, al‐Kindi mengatakan bahwa keteraturan alam inderawi tidak mungkin terjadi kecuali dengan adanya zat yang tidak terlihat, dan zat yang tidak terlihat itu tidak mungkin diketahui adanya kecuali dengan adanya keteraturan dan bekas‐
bekas yang menunjukkan ada‐Nya yang terdapat dalam alam ini.Argumen demikian ini disebut argumen teleologik yang pernah juga digunakan Aristoteles, tetapi juga bisa diperoleh dari ayat‐ayat Al‐Qur’an.
Tentang sifat‐sifat Tuhan, al‐Kindi berpendirian seperti golongan Mu’tazillah, yang menonjolkan ke‐Esa‐an sebagai satu‐satunya sifat Tuhan.
Corak filsafatal‐Kindi tidak banyak diketahui karena buku‐bukunya tentang filsafat banyak yang hilang, baru pada zaman belakangan orang menemukan kurang lebih 20 risalah al‐Kindi dalam tulisan tangan.
Al‐Kindi telah berjasa dalam usahanya menjadikan filsafat sebagai salah satu khazanah pengetahuan Islam setelah disesuaikan lebih dahulu dengan agama. Dalam risalahnya yang dihadiahkan kepada Ahmad bin al‐Mu’tashim Billah tentang filsafat “pertama”(metaphysic) al‐Kindi menyatakan pendapatnya, baik agama maupun filsafat kedua‐duanya menghendaki kebenaran. Agama menempuh jalan syari’at, sedangkan filsafat menempuh jalan metode pembuktian. Filsafat yang mempunyai kedudukan serta martabat yang tertinggi dan termulia ialah filsafat “pertama”(filsafat
metafisik), yakni pengetahuan tentang “kebenaran pertama”(al Haqqul‐
awwal) yang merupakan illah (sebab pokok) bagi semua kebenaran (Al‐
Haqq), demikian al‐kindi.
Ketuhanan Menurut Al‐Kindi
Sebagaimana halnya dengan filosof‐filosof Yunani dan filosof‐filosof Islam lainnya, al‐Kindi, selain dari filosof adalah juga ahli ilmu pengetahuan.
Pengetahuan ia bagi ke dalam dua bagian:
1. Pengetahuan Ilahi (
ﻢﻠﻋ ﻲﻬﻟﺍ
, Divine science), sebagaimana yang tercantum dalam Al‐Qur’an: yaitu pengetahuan lansung yang diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ini ialah keyakinan.2. Pengetahuan manusiawi (
ﻢﻠﻋ ﻲﻧﺎﺴﻧﺍ
, human science) atau filsafat.Dasarnya ialah pemikiran (ratio‐reason)
Argumen‐argumen yang dibawa Al‐Qur’an lebih meyakinkan daripada argument‐argumen yang ditimbulkan filsafat.Tetapi filsafat dan Al‐Qur’an tak bertentangan, kebenaran yang diberitakan wahyu tidak bertentangan dengan kebenaran yang dibawa filsafat.Mempelajari filsafat dan berfalsafat tidak dilarang, karena teologi adalah bagian dari filsafat, dan umat Islam diwajibkan belajar teologi.
Filsafat baginya ialah pengetahuan tentang yang benar (
ﺚﺤﺑ ﻦﻋ ﻖﺤﻟﺍ
, knowledge of truth). Di sinilah terlihat persamaan filsafat dan agama.Tujuan agama ialah menerangkan apa yang benar dan apa yang baik, filsafat itu pulalah tujuannya. Agama, disamping wahyu, mempergunakan akal, dan filsafat juga mempergunakan akal. Yang benar pertama (
ﻖﺤﻟﺍ ﻝﻭﻷﺍ
, the first truth) bagi al‐Kindi ialah Tuhan. filsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama ini pulalah dasarnya. Dan filsafat yang paling tinggi ialah filsafat tentang Tuhan. Sebagaimana kata al‐Kindi:
ُﻑ َﺮﺳﺃ َﻭ ِﺔﻔَﺴﻠَﻔﻟﺍ َﺎﻫﻼْﻋﺃﻭ ًﺔَﺒﺗ ْﺮَﻣ ُﺔﻔﺴﻠَﻔﻟﺍ ﻰﻟ ْﻭُﻷﺍ ِﻰﻨْﻋﺃ َﻢﻠِﻋ ِّﻖَﺤﻟﺍ ِﻝ ﱠﻭﻷﺍ َﻮُﻫ ُﺔﱠﻠِﻋ ِّﻞُﻛ ٍّﻖَﺣ
“Filsafat yang termula dan tertinggi derajatnya adalah filsafat utama, yaitu ilmu tentang yang benar pertama, yang menjadi sebab bagi segala yang benar.”
Adapun mengenai Ketuhanan, bagi al‐Kindi, Tuhan adalah wujud yang sempurna dan tidak didahului wujud lain. Wujud‐Nya tidak berakhir, sedangkan wujud lain disebabkan wujud‐Nya. Tuhan adalah Maha Esa yang tidak dapat dibagi‐bagi dan tidak ada dzat lain yang menyamai‐Nya dalam segala aspek. Ia tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan.
Sesuai dengan faham yang ada di dalam Islam, Tuhan bagi al‐Kindi adalah Pencipta dan bukan penggerak pertama sebagaimana pendapat Aristoteles.
Alam bagi al‐Kindi bukan kekal dizaman lampau (qadim) tetapi mempunyai permulaan. Pendapat al‐Kindi yang demikian menunjukkan betapa kuatnya pengaruh ilmu kalam pada waktu itu. Dalam hal membuktikan adanya Tuhan, al‐Kindi mengemukakan dalil empiris, yaitu: 1. dalil baharu alam, 2.
dalil keragaman dan kesatuan, dan 3. dalil pengendalian alam.[30]
Jiwa Menurut Al‐kindi
Adapun tentang jiwa, menurut al‐Kindi, tidak tersusun, tetapi mempunyai arti penting, sempurna dan mulia.Substansi roh berasal dari substansi Tuhan. Hubungan roh dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari. Selain itu jiwa bersifat spiritual, Illahiah, terpisah dan berbeda dari tubuh.
Roh adalah lain dari badan dan mempunyai wujud sendiri. Argumen yang dikemukakan al‐Kindi tentang kelainan roh dari badan ialah keadaan badan mempunyai hawa nafsu (carnal desire) dan sifat pemarah (passion). Roh menentang keinginan hawa nafsu dan passion. Sudah jelas hawa yang melarang tidak sama, tetapi berlainan dari yang dilarang.
Roh bersifat kekal dan tidak hancur dengan hancurnya badan. Dia tidak hancur, karena substansinya berasal dari substansi Tuhan.Ia adalah cahaya
yang dipancarkan Tuhan selama dalam badan, roh tidak memperoleh kesenangan yang sebenarnya dan pengetahuannya tidak sempurna. Hanya setelah bercerai dengan badan, roh memperoleh kesenangan sebenarnya dalam bentuk pengetahuan yang sempurna.Setelah bercerai dengan badan, roh pergi ke alam kebenaran atau alam akal diatas bintang‐bintang, di dalam lingkungan cahaya Tuhan, dekat dengan Tuhan dan dapat melihat Tuhan.Disinilah terletak kesenangan abadi dari roh.
Hanya roh yang sudah suci di dunia ini yang dapat pergi ke alam kebenaran itu.Roh yang masih kotor dan belum bersih, pergi dahulu ke bulan. Setelah berhasil membersihkan diri dari sana, baru ia pindah ke merkuri, dan demikianlah naik setingkat demi setingkat hingga ia akhirnya setelah benar‐
benar bersih, sampai ke alam akal, dalam lingkungan cahaya Tuhan dan melihat Tuhan.
Jiwa mempunyai tiga daya:daya bernafsu (appetitive), daya pemarah (irascible), dan daya berpikir (cognitive faculty). Sedangkan daya berpikir itu disebut akal. Menurut al‐Kindi ada tiga macam akal:akal yang bersifat potensial, akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual, dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas, yang dalam bahasa arab disebut:
ِﻰﻓ ﺎﺣ ٍﺔﻟ َﻦ ِﻣ ِﻞْﻌﻔﻟﺍ ًﺓﺮِﻫﺎَﻅ َﻦْﻴ ِﺣ ُﺮِﺷﺎَﺒَﻳ َﻞْﻌِﻔﻟﺍ, ُﻞْﻌِﻔﻟﺍ ﻯﺬﱠﻟﺍ ِﻪْﻴِّﻤﺴُﻧ ﻰِﻧﺎﱠﺜﻟﺍ.
“Dalam keadaan aktual nyata, ketika Ia aktual, akal yang kami sebut “yang kedua”
Akal yang bersifat potensial tak bisa mempunyai sifat aktual jika tidak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar. Dan oleh Karena itu bagi al‐Kindi ada lagi satu macam akal yang mempunyai wujud diluar roh manusia, dan bernama:ﻞﻘﻌﻟﺍ ﻱﺬﻟﺍ ﻞﻘﻌﻟﺎﺑ ﺪﺑﺃ (akal yang selamanya dalam aktualitas). Akal ini,
karena selamanya dalam aktualitas, ialah yang membuat akal bersifat potensial dalam roh manusia menjadi aktual. Sifat‐sifat akal ini:
1. Merupakan akal pertama 2. Selamanya dalam aktualitas 3. Merupakan species dan genus
1. Merupakan akal pertama 2. Selamanya dalam aktualitas 3. Merupakan species dan genus