BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Al-Muhafadzatu ‘ala Al-Qadim Al-Shalih wa Al-
Konsep ini merupakan salah satu solusi dalam Islam yang berkaitan dengan teori Komunikasi Antarbudaya, yaitu entre pensé par sa culture dan penser sa culture.1 Abdurrahman Wahid menjelaskan bahwa konsep ini layaknya “memegangi sesuatu yang lama yang bersifat baik dan mengadopsi sesuatu yang
1 Andi Faisal Bakti, Communication and Family Planning in
Islam in Indonesia: South Sulawesi Muslim Perception of a Global Develompment Program, h. 128.
baru yang lebih baik.”2 Sementara itu, Agus Eko Sujianto menerangkan definisi dari konsep tersebut sebagai “upaya untuk melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik untuk
merespon perubahan.”3 Singkatnya konsep ini
bertujuan untuk mempertahankan metode dan hasil kajian lama yang bersifat positif dan menyesuaikan dengan metode baru sehingga lebih baik. Sementara itu, penerapan dari konsep ini dalam Komunikasi Antarbudaya kelompok masyarakat Samin dan Muslim di Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo Pati Jawa Tengah, yang dapat berfungsi sebagai penengah dan solusi dalam Islam antara perspektif entre pensé par sa culture maupun pensér sa culture di satu sisi konservatif dan di sisi lain transformatif hal tersebut, di antaranya:
1. Sistem Kepercayaan
Seperti yang telah dijelaskan di bab
sebelumnya, sistem kepercayaan kelompok
masyarakat Samin masuk ke dalam kategori entre pensé par sa culture yaitu dikontrol oleh budaya
2 Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama
Masyarakat Negara Demokrasi, (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), h.
26-27.
3 Agus Eko Sujianto, Modernitas Kyai dan Implikasinya terhadap
Pendidikan Kewirausahaan di Pondok Pesantren, (Jurnal Millah Vol.XI
lokal dan masa lalu. Kelompok masyarakat Samin memiliki paham akan adanya Tuhan, hal tersebut sesuai dengan penuturan salah satu narasumber, yaitu:
“Ya percaya kalau Tuhan itu ada. Kalau sedulur sikep itu punya kepercayaan baguse kelakuan, jadi ketika kita bersekolah di rumah, sekolah itukan punya cita-cita. Jadi sebagai sedulur sikep itu hanya pengen memperbaiki kelakuan dan memperbaiki ucapan. Nah, makanya yang sangat kita percayai adalah kelakuan dan ucapan, karena apa? Walapun kita punya entah itu sesebutannya Gusti, ataupun Allah, ataupun yang lain, tapi kalau kita mengumbar nafsu, mengumbar laku, mengumbar ucapan itu juga tidak akan dilindungi yang namanya Tuhan, atau Allah. Makanya Tuhan atau Allah atau sesebutan apapun, menurut saya pada dasarnya setiap manusia itu punya dan itu bisa bertempat di tubuh seseorang, atau diri kita sendiri di manapun kita berada di situlah pasti berada. Kami percaya seperti itu, karena jika kita berhati-hati dalam bertindak, dalam berucap pasti ya kebaikanlah yang kita terima.”4
Dalam kutipan jawaban dari hasil wawancara dengan narasumber, dapat ditarik kesimpulan bahwa kelompok masyarakat Samin percaya akan adanya Tuhan, dan menganggap bahwa sebaik-baiknya manusia ialah yang bagus kelakuannya. Sedangkan sistem kepercayaan pada kategori
4 Wawancara Pribadi dengan Bu Gunarti (Masyarakat Sedulur
penser sa culture yaitu mengotrol budaya sendiri, ditandai dengan masyarakat modern dalam hal menyikapi kepercayaan yang dianut oleh masing-masing individunya secara terbuka dan kadang liberal. Saat ini, banyak ditemui masyarakat modern yang mulai tidak percaya akan adanya Tuhan, sehingga amalan-amalan yang dilakukan oleh masyarakat yang menganut agama tertentu, maka pada golongan masyarakat ini mereka tidak melakukan hal-hal yang berbau keagamaan. Penjelasan tersebut, sejalan dengan adanya perubahan pola pikir pada masyarakat modern kebanyakan.
Meskipun demikian, sesuai dengan penejelasan di atas mengenai sistem kepercayaan pada kategori entre pensé par sa culture dan pensér sa culture, Islam hadir sebagai penengah dari kedua perspektif tersebut. Sesuai dengan muhafadzatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah, Islam mengajarkan untuk senantiasa bersikap baik sesuai dengan kepercayaan yang dianut dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Hal tersebut tentu selaras dengan yang dianjurkan, sesuai dengan sistem kepercayaan pada kelompok masyarakat Samin
maupun kepercayaan yang dianut oleh masyarakat modern.
2. Sistem Peribadatan
Berbicara mengenai sistem peribadatan,
kelompok masyarakat Samin juga memiliki tata cara peribadatan sendiri. Sistem peribadatan pada kelompok masyarakat Samin sesuai dengan kategori perspektif entre pensé par sa culture. Istilah ibadah bagi kelompok masyarakat Samin ialah dengan cara berdiam diri (semedi) dan memanjatkan doa agar apa yang menjadi
keinginannya bisa terpenuhi.5 Sementara itu,
bentuk dari adanya perspektif penser sa culture sesuai dengan sistem peribadatan pada masyarakat modern. Sebagai contoh, saat ini khususnya di bidang teknologi sudah banyak ditemui berbagai aplikasi kitab suci digital bagi tiap-tiap agama. Selain itu, banyak kegiatan kajian agama yang dilakukan secara virtual di berbagai platform digital. Dengan demikian, jelas terlihat adanya sedikit perbedaan pada sistem peribadatan
kelompok masyarakat Samin yang masih
mempertahankan ajaran-ajaran yang sesuai dengan
5 Moh. Rosyid, Upaya Komunitas Samin di Kudus Jawa Tengah
dalam Mempertahankan Jati Diri di Tengah Problematika Kehidupannya,
keyakinannya, serta adanya unsur yang masuk di bidang teknologi dalam hal sistem peribadatan bagi masyarakat modern. Menanggapi penyataan di atas, maka Islam sebagai penengah dan sesuai dengan sudut pandangnya dalam al-muhafadzatu ‘ala qadim shalih wa akhdzu bi jadid al-aslah, maka hendaklah menjalankan ibadah sesuai dengan syariat-syariat agama dalam hal ini unsur Islamnya terlihat pada yang diajarkan. Hal tersebut tentu sesuai dengan sistem peribadatan yang dijalankan kelompok masyarakat Samin, maupun yang lain.
3. Sistem Berpakaian
Kelompok masyarakat Samin memiliki
kebiasaan dalam berpakaian khususnya, yaitu tidak menggunakan bawahan berupa celana unutuk perempuan, berlaku untuk golongan muda hingga tua. Biasanya bawahan tersebut berupa rok atau kain jarik atau kain yang bercorak batik, dan dipakai seperti halnya rok pada umumnya. Selain itu, kelompok masyarakat Samin juga identik dengan busana serba hitam, kini pakaian serba hitam tersebut digunakan saat acara besar seperti pernikahan atau bertepatan dengan perayaan hari besar. Untuk perempuan, biasanya mengenakan kebaya hitam dan kain jarik sebagai bawahannya.
Sedangkan untuk pria, selain menggunakan atasan
dan bawahan serba hitam, mereka juga
mengenakan kain yang diikatkan di kepalanya. Selain itu, perspektif pensér sa culture
ditunjukkan dengan cara berpakaian pada
masyarakat modern. Masyarakat modern
cenderung berpakaian sesuai dengan sebuah trend yang marak atau sedang berlangsung. Bahkan tidak dapat dipungkiri jika pakaian yang sebelumnya pernah trend di masanya, kini kembali terulang dan diterima baik di masyarakat. Hal tersebut menunjukkan salah satu faktor yang memengaruhi cara berpakaian pada masyarakat modern.
Sementara itu, sesuai dengan penjelasan di atas maka Islam dengan sudut pandangnya senantiasa selalu menganjurkan untuk selalu berpakaian yang sopan, bersih, dan juga nyaman. Hal tersebut tentu saja demi terciptanya rasa nyaman terhadap diri sendiri sebagai yang mengenakan, serta orang lain. 4. Sistem Pendidikan
Kelompok masyarakat Samin percaya bahwa pendidikan terbaik untuk anak-anaknya tak harus dengan bersekolah formal seperti pada anak-anak umumnya.
“Tata cara kami salah satunya memilih tidak bersekolah formal, dan Mbah-mbah yang dahulu juga begitu, dan saya mempertahankan
sampai sekarang. Bukan berarti kami tidak belajar, sekolah, tetapi kami bersekolah dengan tata cara sedulur sikep, yaitu sekolahnya di rumahnya sendiri.”6
Meskipun anak-anak sedulur sikep atau Samin tidak disekolahkan di sekolah formal pada umumnya, tetapi hal tersebut tidak lantas membuat anak-anak dari keluarga Samin tidak diberi pembelajaran mengenai bagaimana pentingnya bersikap oleh orangtua masing-masing. Dalam rangka mendewasakan anak-anaknya, masyarakat sedulur sikep lebih mengutamakan pendidikan
informal yang dilakukan di lingkungan keluarga.7
Seperti yang diungkapkan dalam pernyataan sebelumnya, anak-anak sedulur sikep tetap bersekolah dengan tata cara sedulur sikep yang diajarkan langsung oleh orangtuanya masing-masing.
Selain itu, bentuk dari adanya perspektif pensér sa culture pada masyarakat modern dalam sistem pendidikan yaitu bersekolah di sekolah formal hingga ke jenjang lebih tinggi. Meskipun bersekolah di sekolah formal, masyarakat modern
6 Wawancara Pribadi dengan Bu Gunarti (Masyarakat Sedulur
Sikep), pada Rabu 17 Oktober 2018.
7 Mukodi dan Afid Burhanuddin, Pendidikan Samin Surosentiko, h 67.
terlebih dahulu juga mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga. Dengan demikian, sistem pendidikan pada masyarakat modern tak hanya dari sekolah formal, tetapi juga didapat dari lingkungan keluarga.
Sementara itu, dalam sudut pandang Islam menuntut ilmu merupakan sesuatu yang wajib dilakukan bagi kaum Muslimin. Sehingga, penerapan pendidikan dalam Islam juga berlaku dalam adanya pembentukan sekolah formal maupun nonformal. Bentuk sekolah formal yang
biasa dikenal dengan sebutan Madrasah
Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah. Selain sekolah formal, sekolah nonformal yang salah satunya berasal dari lingkungan keluarga juga tak kalah penting, karena pendidikan pertama seorang anak merupakan hasil dari didikan kedua orangtuanya, sehingga baik pendidikan formal ataupun nonformal perlu selaras dan seimbang dalam penerapannya.
5. Sistem Mata Pencaharian
Sistem mata pencaharian yang dilakukan oleh masyarakat Samin sejak dahulu hingga saat ini yaitu bertani atau berladang dan juga berternak. Hal tersebut sama halnya dengan penuturan salah satu narasumber, yaitu:
“Pekerjaannya bertani, garap sawah di ladang, yang di-garap juga nggak padi aja, sayur atau buah juga. Itu semangkanya juga dari kebun. Ya ada juga yang melihara ternak, ayam, sapi, kambing. Sehingga untuk kecukupan, kami bertani dan tidak boleh berdagang. Dan pesan si Mbah sih dulu kalau mau dagang silakan, tapi kalau belinya seribu harus dijual delapan ratus atau di bawah itu. Karena kalau dijual lebih kan bisa merugikan orang lain, jadi pilihannya kalau tidak mau rugi dan merugikan orang lain, lebih
baik tidak usah berdagang.”8
Sesuai dengan penuturan di atas, maka hingga saat ini masyarakat Samin belum ada yang mempunyai usaha toko atau warung untuk berjualan sebagaimana mestinya. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat Samin masih menggeluti pekerjaan atau profesi yang telah berlangsung secara turun-temurun tersebut hingga saat ini.
Selain itu, sistem mata pencaharian masyarakat modern masuk pada kategori pensér sa culture. Mata pencaharian pada masyarakat modern justru lebih bervariatif dibandingkan dengan mata pencaharian kelompok masyarakat Samin. Jika kelompok masyarakat Samin cenderung mengikuti apa yang telah dilakukan secara turun temurun
8 Wawancara Pribadi dengan Bu Siti Muryati (Masyarakat
sebagai mata pencahariannya, maka hal tersebut tidak berlaku bagi masyarakat modern yang justru memiliki mata pencaharian dari banyak bidang sesuai dengan kemampuan tiap masing-masing individu. Sementara itu, Islam yang hadir sebagai penengah antara perspektif entre pensé par sa culture dan pensér sa culture, juga menegaskan untuk selalu bersikap jujur dan senantiasa bekerja dengan hasil yang halal.