• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teoretis

2. Masyarakat dalam Budaya Jawa

Suwardi Endraswara mendefinisikan

kejawen sebagai “sebuah kepercayaan atau agama yang terutama dianut di Pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa.”23 Ciri khas utama dalam kepercayaan Kejawen ialah adanya perpaduan antara animisme, agama Hindu, dan agama Buddha.24 Kejawen juga merujuk pada sebuah etika dan gaya hidup yang dipengaruhi oleh pemikiran Jawa.

Selain itu, Suwardi Endraswara kembali

menambahkan bahwa “kejawen juga

diistilahkan sebagai ajaran spiritual asli leluhur tanah Jawa, yang belum terkena pengaruh

budaya luar.”25 Artinya, sebelum masuknya

budaya Hindu dan Buddha ke tanah Jawa, para leluhur di tanah Jawa sudah mempunyai peradaban budaya yang tinggi. Adapun yang sekarang berkembang di masyarakat Jawa

23 Suwardi Endraswara, Etnologi Jawa, (Yogyakarta: CAPS, 2015), h. 156.

24 Suwardi Endraswara, Etnologi Jawa, h. 156. 25 Suwardi Endraswara, Etnologi Jawa, h. 158.

sudah merupakan proses atau hasil dari sinkretisme.26

b. Islam

Ahmad Khalil menjelaskan bahwa “Islam masuk ke tanah Jawa melalui jalur perdagangan yang berkedudukan di Malaka, dan di antara

pedagang-pedagang tersebut merupakan

pedagang Muslim dari Gujarat dan Arab yang berinteraksi secara langsung dengan pedagang-pedagang lain yang salah satunya berasal dari tanah Jawa dan akhirnya memeluk agama

Islam.”27 Khalil kembali menambahkan, di

antara pedagang-pedagang yang berasal dari Jawa merupakan masyarakat pesisir seperti Tuban dan Gresik yang kemudian membawa agama Islam ke tempat asalnya.

Ada beberapa pendapat mengenai

penyebaran Islam di tanah Jawa, menurut Purwadi penyebaran agama Islam secara besar-besaran terjadi pada abad ke 15 (periode Gresik) dan abad 16 (periode Demak), dengan ditandai jatuhnya kerajaan Majapahit sebagai kerajaan

26 Suwardi Endraswara, Etnologi Jawa , h.158

27 Ahmad Khalil, Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi

Hindu di Jawa pada tahun 1478 M.28 Solichin Salam menambahkan bahwa penyebaran agama Islam pada periode Gresik dimulai oleh Kewalian Giri Kedathon yang dipimpin langsung oleh Sunan Giri dan keturunanya, sementara itu pada periode Demak penyebaran agama Islam dimulai oleh kesultanan Demak Bintoro.29

Penyebaran Islam di tanah Jawa dilakukan oleh tokoh-tokoh yang di dalam sejarah dikenal sebagai Wali Songo.30 Pengertian Wali Songo menurut Titin Nurhidayati, dapat dipahami secara denotatif dan konotatif.31

“Dalam pengertian secara denotatif, nama Wali Songo bermakna sejumlah guru besar atau ulama yang berdakwah dalam wilayah tertentu. Sedangkan dalam pengertian konotatif, nama Wali Songo bermakna

sebagai “seseorang yang mampu

mengendalikan babaha nawa sanga

(Sembilan lubang pada diri manusia), maka dia akan memperoleh predikat kewalian yang mulia dan selamat dunia akhirat.”

28 Titin Hurhidayati, Proses Penyebaran Nilai-Nilai Islam Dalam

Tradisi Masyarakat Jawa, (Jurnal FALASIFA Vol.1 No.2, September

2010), h.82

29 Titin Hurhidayati, Proses Penyebaran Nilai-Nilai Islam Dalam

Tradisi Masyarakat Jawa, h.82

30 Titin Hurhidayati, Proses Penyebaran Nilai-Nilai Islam Dalam

Tradisi Masyarakat Jawa, h.85.

31 Titin Hurhidayati, Proses Penyebaran Nilai-Nilai Islam Dalam

Kesembilan tokoh Wali Songo kemudian melakukan proses islamisasi di tanah Jawa tanpa memicu adanya konflik. Hal tersebut terjadi karena kesembilan para wali tersebut tidak menghapuskan secara terang-terangan mengenai tradisi dan kepercayaan lama yang telah dipercaya oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Namun, yang dilakukan ialah mengganti hal-hal yang dianggap bertentangan dalam ajaran agama Islam dan memasukkan unsur-unsur Islam. Oleh sebab itu, terjadilah proses akulturasi dan sinkretisasi antara tradisi dan kepercayaan lokal, dengan ajaran serta kebudayaan Islam di tanah Jawa.

Sementara itu, berbicara mengenai Islam di tanah Jawa, Clifford Geertz dalam bukunya yang berjudul Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi mengelompokkan masyarakat Islam di pulau Jawa ke dalam tiga golongan, yaitu: 1. Abangan

Golongan Islam Abangan merupakan satu dari tiga golongan Islam di tanah Jawa. Geertz menyebutkan bahwa, “golongan ini masih menerapkan tradisi Jawa pada pola kehidupan mereka salah satunya dengan

adanya tradisi selametan.”32 Tradisi selametan merupakan sebuah tradisi yang

dijalankan untuk memenuhi hajat

sehubungan dengan adanya suatu kejadian

yang diperingati, ditebus, ataupun

dikuduskan.33 Selain itu, golongan abangan

biasanya masih mempercayai apa yang dianggap mistis yang berada di sekitar

mereka.34 Dengan demikian, golongan

abangan mencerminkan budaya Jawa yang sarat akan aspek animisme dan sinkretsime yang identik dengan tradisi rakyat di dalamnya.

2. Santri

Golongan yang kedua yaitu santri merupakan golongan masyarakat Islam di tanah Jawa yang tidak mencampurkan unsur-unsur lain selain agama Islam seperti

halnya pada golongan abangan.35 Bambang

Pranowo menambahkan bahwa ciri tradisi

32 Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi Dalam

Kebudayaan Jawa, h. 3.

33 Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi Dalam

Kebudayaan Jawa, h. 3.

34 Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi Dalam

Kebudayaan Jawa, h. 9.

35 Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi Dalam

beragama kaum santri ialah pelaksanaan ajaran dan perintah-perintah dasar agama Islam secara hati-hati, teratur,

Oleh karena itu, adanya keterlibatan

secara aktif yang sesuai dengan

kepercayaan, nilai-nilai, dan norma-norma

yang terdapat dalam agama Islam

merupakan ciri khas golongan santri di tanah Jawa.36

3. Priyayi

Awalnya kaum priyayi adalah salah satu golongan yang merujuk kepada raja-raja besar Jawa pada zamannya.37 Istilah priyayi biasanya mengacu kepada orang-orang yang menurut kepercayaan masyarakat Jawa dianggap berbeda dari rakyat biasa. Dengan demikian, kaum priyayi dibedakan dengan rakyat biasa karena memiliki gelar-gelar

kehormatan dengan tingkatan hirarki

menurut hak dan kewajibannya.38

36 Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi Dalam

Kebudayaan Jawa, h. 179.

37 Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi Dalam

Kebudayaan Jawa, h. 330.

38 Clifford Geertz, Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi Dalam

Dokumen terkait