BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teoretis
3. Teori Komunikasi Antarbudaya
Teori komunikasi antarbudaya yang digunakan ialah pendekatan teori dua puluh komunikasi antarbudaya oleh Andi Faisal Bakti. Ada dua puluh teori komunikasi antarbudaya di dalam buku Andi
Faisal Bakti,39 yang kemudian dibagi menjadi
kategori konservatif, transformatif, dan dalam konsep Islam, yaitu:
Tabel 2.2 Berikut penjelasan teori dua puluh (konservatif dan transformatif) No. Masyarakat Konservatif Masyarakat Transformatif Solusi dalam Islam 1.
“Êntre pensé par sa culture: Suatu
kelompok, golongan, agama, dan budaya terdiri atas nilai-nilai,
persepsi adat istiadat, kebiasaan,
tradisi, kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang dikendalikan atau dikontrol oleh budayanya (masa
lalu).”
“Penser sa culture: Suatu kelompok, golongan, agama, dan budaya terdiri atas nilai-nilai,
persepsi adat istiadat, kebiasaan,
tradisi, kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang berupaya untuk mengubah budayanya. Baik itu
yang sekarang maupun masa depan. Hal itu sangat berkaitan dengan budaya lain
“Al-Muhafadzatu ‘ala Al-Qadim Al-Shalih wa Al-Akhdzu bi Jadidi Al-Aslah.”
39 Andi Faisal Bakti, Communication and Family Planning in
Islam in Indonesia: South Sulawesi Muslim Perception of a Global Develompment Program, h. 128.
yang dikembangkan untuk masa depan.”
2.
“Hériter la culture: Suatu kelompok, golongan, agama, dan budaya terdiri atas nilai-nilai,
persepsi, adat istiadat, kebiasaan,
tradisi, kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang mewarisi budayanya dari masa lalu dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang.”
“Acquérir la culture: Suatu
kelompok, golongan, agama, dan budaya terdiri atas nilai-nilai,
persepsi, adat istiadat, kebiasaan,
tradisi, kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang berupaya untuk mendapatkan
kultur-kultur yang baru dan berbeda
dari warisan keluarga dan budayanya. Dengan
kata lain lebih produktif dalam mendapatkan kultur yang baru.” “Al-Muhafadzatu ‘ala Al-Qadim Al-Shalih wa Al-Akhdzu bi Jadidi Aslah dan
Al-‘Urf.”
3.
“Submission: Sekelompok masyarakat, agama,
dan budaya yang hanya tunduk kepada budayanya
sendiri dan tidak terpengaruh dengan
ajaran lain yang bertetangan dengan budayanya sendiri.” “Egalitarian/Eman cipation: Sekelompok masyarakat, agama,
dan budaya yang mengikuti aturan-aturan lain dan bersikap egaliter atau tidak tunduk serta ingin bebas dari cengkraman yang sudah ada.”
“Al-Islam.” 4. “Adoration of scriptures: “Interpretation of scriptures: “Al-Ijtihad.”
Sekelompok masyarakat, agama
dan budaya yang sangat mencintai atau menyukai teks
agamanya (kitab sucinya).”
Sekelompok masyarakat, agama,
dan budaya yang memaknai atau memahami teks (kitan suci) yang
menjadi pegangannya.” 5. “Textualist: Sekelompok masyarakat, agama,
dan budaya yang percaya teks sebagai suatu kebenaran. Dengan
kata lain teks yang berkata-kata atau
berbicara.”
“Contextualist: Sekelompok masyarakat, agama,
dan budaya yang percaya kepada konteks dan pemahamannya tidak secara harfiah.” “Al-Tafsir.” 6. “Gemeinschaft: Sekelompok masyarakat, agama,
dan budaya yang ingin membangun kelompoknya berdasarkan komunitasnya.” “Gesellschaft: Sekelompok masyarakat, agama,
dan budaya yang ingin membangun kelompoknya berdasarkan societas.” “Al-Ummah.” 7. “Reproduction: Sekelompok masyarakat, agama,
dan budaya yang memproduksi
budaya dan keluarganya.”
“Creation and trust in foreigners:
Sekelompok masyarakat, agama
dan budaya, yang tidak harus memproduksi generasi yang sama.
Akan tetapi dari budaya yang sama dan memiliki kreasi
“Al-Amanah.”
dengan keadaan sekarang.”
8.
“Fundamentalism: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, dan kebiasaan, tradisi, kreasi, kepercayaan,
pola pikir, dan perasaan yang berdasarkan pada
pondasi utama ajaran agama, bangsa, Negara, dan masyarakat tertentu. Dengan kata lain dianggap sebagai kekuatan yang
absolut. Fundamentalism
berasal dari Protestan yang anti
teknologi dan sains.”
“Rationalism/Secul arization: pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang berdasarkan rasionalisme atau akal bukan pada
kitab dan lebih mementingkan dunia.” “Al-Ihsan.” 9. “Geographical immobility: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi, kreasi, kepercayaan,
pola pikir, dan perasaan yang tidak mau pindah-pindah
dan lebih mengutamakan
“Geographical mobility: Pemikiran
KAAB yang terdiri atas nilai-nilai,
persepsi, adat istiadat, kebiasaan,
tradisi, kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang lebih menguatamakan berpindah-pindah.”
menetap di suatu tempat.”
10.
“Je me souviense: Pemikiran KAAB yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi, kreasi, kepercayaan,
pola pikir, dan perasaan yang
cenderung mengingat masa lalunya yang harus dipertahankan. Dan ini lebih mengarah kepada hal-hal yang
negatif.”
“Déracinement: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang tercabut dari
akar-akarnya. Artinya meninggalkan masa
lalu untuk menatap masa depan yang lebih baik dan lebih
pasti.” “Al-Muhadharah. ” 11. “Paganism (Idol worshipping): Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi, kreasi, kepercayaan,
pola pikir, dan perasaan yang melakukan penyembahan kepada selain Tuhan. Baik itu terhadap sesajen, jimat, dukun atau membaca ayat-ayat
tertentu untuk tujuan tertentu.”
“Monotheism (Idol destruction)/Huma
nism (God created by humans): Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang percaya kepada Tuhan yang
satu.”
12.
“Imposition/Holy war/Proselytism: Pemikiran KAAB yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi.
Kreasi. Kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang cenderung memaksakan agama dengan cara-cara berupa bujukan, rayuan, paksaan, tekanan, intimidasi
atau dengan cara melalui perang
suci.”
“Negotiation: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang mengutamakan asas sama rata dan sama
rasa.” “Al-Musyawarah. ” 13. “Nationalism/Triba lism: Pemikiran KAAB yang terdiri
atas nilai-nilai, persepsi, adat istiadat, kebiasaan,
tradisi, kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang sangat menekankan nasionalisme atau kesukuan/fanatik.” “Universalism/Inte rnationalism: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang sangat mengutamakan aspek universal, internasional. Dalam arti tanpa
sekat-sekat.”
“Al-Ta’aruf.”
14.
“Orthodoxy/Traditi onalism: Pemikiran KAAB yang terdiri
atas nilai-nilai,
“Protestanism/Mod ernism: Pemikiran KAAB yang terdiri atas nilai-nilai,
“Al-Maslahah.”
persepsi, adat istiadat, kebiasaan,
tradisi, kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang ingin mempertahankan budaya tradisional yang ada dan masih
bersifat ortodoks.”
persepsi, adat istiadat, kebiasaan,
tradisi, kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang mengikuti
perkembangan secara modern dan
lebih maju.”
15.
“Sectarian/Local communitarianism : Pemikiran KAAB yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi, kreasi, kepercayaan,
pola pikir, dan perasaan yang patuh hanya kepada golongan/komunita
snya saja.”
“Global communitarianism : Pemikiran KAAB yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang lebih terbuka tetapi hanya kepada golongan/komunita snya saja.” “Al-Qaum.” 16. “Cult/Lang/Compe tence Inheritence: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi, kreasi, kepercayaan,
pola pikir, dan perasaan yang berdasarkan kemampuan berbahasa budaya yang didapat atau diperoleh atau
“Cult/Lang/Compe tence acquisition: Pemikiran KAAB yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang memiliki penguasaan bahasa
melalui proses pembelajaran.”
diwariskan dari masa lalu.”
17.
“Depedency/Egois m: Pemikiran KAAB yang terdiri
atas nilai-nilai, persepsi, adat istiadat, kebiasaan,
tradisi, kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang cenderung kepada orang/bangsa yang
mempu dan egois akan tetapi sangat bergantung kepada
yang lain.”
“Interdepedency/S olidarity: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang mengutamakan saling tolong menolong dan bantu membantu.” “Al-Ta’awun.” 18. “Exclusivism: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi, kreasi, kepercayaan,
pola pikir, dan perasaan yang menolak orang lain
untuk masuk ke dalam kelompoknya.”
“Inclusivism: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang bersedia menerima orang lain.” “Al-Washatiyah.” 19. “Vernacular language: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi, adat istiadat, kebiasaan, tradisi, “Verhicular language: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang cenderung belajar bahasa sendiri/lokal.” kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang belajar bahasa pengetahuan/bahasa
lain.”
20.
“Parochialism: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi, kreasi, kepercayaan,
pola pikir, dan perasaan yang menyampaikan ajaran secara kaku.”
“Flexibility: Pemikiran KAAB
yang terdiri atas nilai-nilai, persepsi,
adat istiadat, kebiasaan, tradisi,
kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan
yang menyampaikan ajaran secara elastis/lentur.” “Al-Tasamuh.”
Namun, perspektif yang digunakan penulis dalam menganalisis komunikasi antarbudaya kelompok masyarakat Samin dengan Muslim di Desa Baturejo Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati Jawa Tengah hanya menggunakan beberapa perspektif di antaranya:
a. Êntre pensé par sa culture dan Penser sa culture
Secara sederhana, entre pensé par sa culture merupakan sebuah pemikiran dalam
komunikasi antarbudaya mengenai suatu
kelompok atau golongan yang nilai-nilai di
terdahulunya. Sementara itu, berkebalikan dengan teori entre pensé par sa culture adalah penser sa culture yang berarti bahwa adanya pemikiran dalam komunikasi antarbudaya mengenai suatu kelompok atau golongan yang memiliki perasaan untuk berupaya mengubah budayanya. Baik itu yang sekarang maupun di masa depan. Hal itu sangat berkaitan dengan budaya lain yang dikembangkan untuk masa depan. Dalam Islam teori ini sejalan dengan muhafadzhatu ‘ala Qadim Sholih wa Al-Akhdzu bi Al-Jadid Al-Aslah.
b. Hériter la culture dan Acquérir la culture Definisi mengenai hériter la culture secara sederhana merupakan suatu kelompok atau golongan yang sarat akan nilai-nilai dan memiliki perasaan untuk mewarisi budayanya dari masa lalu serta mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Sementara itu, lawan dari perspektif tersebut ialah acquérir la culture yang bermakna adanya kelompok atau
golongan dan memiliki nilai-nilai serta
berupaya untuk mendapatkan kultur-kultur yang baru dan berbeda dari warisan keluarga dan budayanya. Dengan kata lain lebih produktif dalam mendapatkan kultur yang baru.
Dalam Islam, kedua perspektif ini sesuai dengan Al-muhafadzotu ‘ala Al-Qadim Al-Sholih wa Al-Akhdzu bi Al-Jadid Al-Aslah dan Al-Urf’. c. Gemeinschaft dan Gesellschaft
Gemeinschaft merupakan sekelompok masyarakat, agama, dan budaya yang ingin
membangun kelompoknya berdasarkan
komunitasnya. Sementara lawan dari perspektif tersebut ialah gesellschaft yang bermakna sekelompok masyarakat, agama, dan budaya
yang ingin membangun kelompoknya
berdasarkan societas. Dalam Islam, kedua perspektif tersebut sesuai dengan Al-Ummah. d. Sectarian/Local communitarianism dan Global
communitarianism
Sectarian/local communitarianism merupakan sebuah pemikiran komunikasi antarbudaya yang terdiri dari nilai-nilai, persepsi, adat istiadat, kebiasaan, tradisi, kreasi, kepercayaan, pola pikir, dan perasaan yang patuh hanya kepada golongan/komunitasnya saja. Sementara lawan dari persepktif tersebut ialah global communitarianism yang bermakna sebuah pemikiran komunikasi antarbudaya yang terdiri dari nilai-nilai, persepsi, adat istiadat, kebiasaan, tradisi, kreasi, kepercayaan,
pola pikir, dan perasaan yang lebih terbuka tetapi hanya kepada golongan/komunitasnya saja. Dalam Islam, kedua perspektif tersebut sesuai dengan Al-Qaum.