• Tidak ada hasil yang ditemukan

Al-Qisth adalah Sifat Orang yang Berilmu

BAB III OBJEK AL-QISTH DALAM AL- QUR’AN

B. Objek Al-Qisth dalam Al- Qur’an

1. Al-Qisth adalah Sifat Orang yang Berilmu

Al-qisth (adil) adalah sifat yang sangat terpuji, dan sifat orang-orang yang berilmu serta menjadi identitas orang Islam. Keadilan juga termasuk ambisi orang-orang yang berakal, tujuan orang-orang bijak dan sasaran yang ingin dicapai oleh semua orang yang normal. Tanpa keadilan kehidupan akan menjadi goncang, timbangan akan terbalik dan ukuran akan meleceng. Jika keadilan tidak ditegakkan, maka akan banyak orang-orang yang kuat berlaku sewenang-wenang terhadap orang yang lemah, dan orang yang zalim akan berlaku semenah-menah terhadap orang yang merdeka.71 Orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang terbukti mampu untuk berserah diri kepada Allah Swt. dan keadilan yang

ditegakkan oleh mereka adalah dalam hal beragama dan mengerjakan syari‟at

agama Islam.72 Sebagaimana firman Allah Swt.



































Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.73

Ayat di atas menerangkan tentang persaksian (syah dah) atas keesaan Allah Swt.74 Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang Maha Perkasa

71

Yusuf, Berbuat Adil Jalan Menuju Bahagia, h.57

72

Al-Maraghī, Tafsīr Al-Maraghī, Jilid I, h. 117

73Q.S. „Alī„Imr n [03]:18 lihat Al-Qur‟an Al-Hadi

74Asb b an-nuzūl ayat ini menceritakan dua orang alim penduduk Syam bertanya tentang syahadat (persaksian) paling tinggi. Ketika Nabi berada di kota Madinah datanglah dua orang alim tersebut. Ketika keduanya melihat kota Madinah, salah satu dari mereka berkata bahwa kota Madinah sangat mirip sekali dengan kotanya Nabi Muhammad Saw. yang akan datang pada akhir zaman. Kemudian keduanya masuk menemui Nabi Muhammad dan mereka telah mengenal sifat dan karakter beliau, Lalu keduanya menanyakan namanya sebanyak dua kali. Sedangkan Nabi

dalam memimpin kerajaan langit dan bumi serta menciptakan segala yang ada pada keduanya, lagi Maha Bijaksana dalam firman-Nya, perbuatan-Nya dengan memberikan balasan kepada setiap makhluk-Nya sesuai dengan amal perbuatan mereka masing-masing, menetapkan peraturan-Nya dan tidak ada siapapun yang dapat menandinginya. Syahadat pada hakikatnya adalah kabar yang harus disahkan/dibenarkan oleh orang yang menerima kabar (persaksian) tersebut. Namun terkadang kabar juga dapat bersifat dusta/bohong seperti firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah [02]:282.

Menurut Ibn „ syūr ayat di atas menerangkan tiga syahadat. Pertama, syahadatullah adalah Allah bersaksi bahwa Dia Esa, dan keesaannya dibuktikan dengan dalil-dalil yang telah Allah tetapkan (dalīl qath‟i). Kedua, Syahadat malaikat adalah persaksian di antara mereka dengan menyampaikan wahyu kepada para rasul,75 dan ketiga, syahadat orang-orang berilmu adalah kesaksian mereka atas keesaan Allah dengan hujah-hujah dan dalil-dalil (al-Qur‟an, sunnah,

dan ayat-ayat kauniyah) untuk melawan kekafiran.76 Persaksian ini ditujukan untuk membantah perkataan-perkatan orang-orang kafir yang memperolok-olok Islam.77

tentang syahadat paling tinggi dengan berjanji bahwa setelah mereka diberitahu, mereka akan

memeluk agama Islam. Kemudian turunlah ayat ini dan keduanya segera masuk Islam. Lihat

Al-lūsī, Rūh Al-Ma‟ nī fi Tafsīr Al-Qur‟an Al-‟Azhīm wa As-Sab‟ Al-Mats nī, h. 102

75

Syahadat malaikat adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, karena Allah telah mengabarkan kepadanya--tentang ayat yang turun di Mekkah sebelum ayat ini bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang mulia yang tidak akan berbuat maksiat kepada-Nya dan mereka mengarjakan segala perintah-Nya dan selalu bertasbih kepada-Nya. Q.S. Al-Anbiy ‟ [21]:27 dan

Q.S. Asy-Syūra [42]:05. Lihat Muhammad Husain at-Thab thab ī, Al-Mīz n fī Tafsīr Al-Qur‟an, (Bairut: Muassasah Al-A‟la, 1983), h. 114-1115

76

Muhammad at-Thahir Ibn „ syūr, Tafsīr At-Tahrīr wa At-Tanwīr, (t.tp: Al-D r at -Taunisiyyah, t.t), h. 186

Menurut ar-R zī keadilan yang dimaksud adalah kondisi tiap-tiap orang mukmin yang berilmu dalam menegakkan keadilan dengan bersaksi bahwa Allah Swt adalah Esa. 78 Pendapatnya juga sejalan dengan az-Zamakhsyarī,79 al- lūsī,80 dan Thab thab i‟.81

Menurut al- lūsī orang-orang yang berilmu adalah para Nabi

as, atau muh jirin dan ansh r, atau para ulama‟ yang mengimani kitab, atau para ulama‟ mukmin yang mengetahui keesaan Allah Swt. dengan dalil qati‟ dan

hujjah-hujjah yang nyata.82

Ar-R zī menjelaskan bahwa kesaksian yang dilakukan oleh orang-orang yang berilmu adalah terhadap keadilan yang Allah lakukan. Keadilan tersebut terbagi dua yaitu keadilan yang berkaitan dengan dunia dan keadilan yang berkaitan dengan agama. Adapun yang berkaitan dengan dunia adalah proses penciptaan anggota tubuh manusia, perbedaan kondisi individu ada yang baik dan ada yang buruk, kaya dan miskin, sehat dan sakit, panjang pendeknya umur seseorang, adanya kenikmatan dan penderitaan, dan penciptaan elemen-elemen bumi. Keadilan hal ini berkaitan dengan keadilan Allah dengan menggunakan term „adl. Sedangkan keadilan yang berkaitan tentang perkara agama adalah perbedaan dalam penciptaan makhluk ada yang berilmu dan ada yang tidak berilmu, ada yang cerdas dan ada yang bodoh, dan ada yang mendapatkan hidayah dan ada yang mendapatkan kesesatan. Keadilan ini berkaitan dengan keadilan Allah dengan menggunakan term „adl dan qisth.83 Hal-hal tersebut adalah bukti

78Fakhruddīn, Tafsīr Al-Fakhr Ar-R zī: Al-Tafsīr Al-Kabīr wa Maf tīh Al-Ghaib, h. 222

79

Mahmūd bin „ūmar bin Muhammad az-Zamakhsyarī, Tafsīr Al-Kasysy f ‟an Haq iq Ghaw midh At-Ta‟wīl wa‟Uyūn Al-Aq wīl fī Wujūh At-Ta‟wīl, h. 338

80

Al- lūsī, Rūh Al-Ma‟ nī fī Tafsīr Al-Qur‟an Al-„Azhīm wa As-Sab‟ Al-Mats nī, h. 102

81

At-Thab thaba‟ī, Al-Mīz n fī Tafsīr Al-Qur‟an, h. 114

82

Al- lūsī, Rūh Al-Ma‟ nī fī Tafsīr Al-Qur‟an Al-„Azhīm wa As-Sab‟ Al-Mats nī, h. 101

83Fakhruddīn, Tafsīr Al-Fakhr Ar-R zī: At-Tafsīr Al-Kabīr wa Maf tih Al-Ghaib, h. 222- 223

bahwa Allah Esa. Maha Sempurna dalam perbuatan-Nya dan zat-Nya.84 Tidak ada seorangpun yang mampu selain dari pada-Nya. 85

Orang-orang yang berilmu akan selalu taat dan patuh kepada Allah Swt. mereka dapat membedakan mana baik dan buruk. Sehingga mereka mengetahui perkara yang diperintahkan oleh Allah untuk dikerjakan dan perkara-perkara yang harus dijauhi. Ini salah satu bukti mereka mengagungkan keesaan Allah. Mereka akan menempatkan segala perintah-Nya sesuai dengan kadar dan takarannya/porsinya. Tidak ada yang dilebihkan dan dikurangkan seperti dalam hal ibadah ke pada-Nya. Mereka akan selalu mensyukuri apapun yang Allah berikan.

Dokumen terkait