BAB II KAJIAN TEORITIS TENTANG KEADILAN
C. Term Keadilan dalam Al- Qur’an
Al-Qur‟an adalah firman Allah Swt. yang terdiri dari susunan berbagai macam kosakata. Banyaknya kosakata tersebut disesuaikan dengan teks dan konteksnya. Oleh karena itu cukup banyak pula beberapa kosakata yang memiliki arti yang sama. Hal inilah yang menjadi perdebatan para mufassir, karena ada anggapan bahwa kosakata yang terdapat di dalam al-Qur‟an memiliki sinonim. Ada pula mufassir yang berpendapat bahwa tidak ada sinonimitas di dalam al-Qur‟an.
‟Aisyah binti Sy thī menolak adanya sinonimitas kata di dalam al-Qur‟an. Menurutnya setiap kata memiliki arti dan makna tersendiri. Sehingga antara satu kata dengan kata lainnya tidak memiliki kesamaan makna. Di dalam kitab
Al-Burh n fī ‟Ulūm Al-Qur‟an dijelaskan bahwa ada beberapa kata yang dianggap
mutaradif (sinonim).30 Seperti kata adil. Di dalam al-Qur‟an banyak kata yang semakna dengannya namun berbeda lafaznya yaitu kata ‟adl dan qisth.
30
Adapun beberapa kata yang dianggap memiliki sinonim kata seperti kata al-khauf, di dalam al-Qur‟an kata ini disebutkan sebanyak 125 kali dengan berbagai derivasinya. Kata al-khauf
berarti takut dan lafaz lain yang satu arti dengannya kurang lebih ada 8 kata, yaitu kata al-khasyyah, ar-ru‟bah, ar-ruhbah, wajala, asy-syafaqah, hadzara, ar-rau‟u. Kata-kata tersebut memiliki makna yang sama dengan kata al-khauf. Lihat Mann ‟ al-Qathth n, Mab hits fī ‟Ulūm
Al-Qur‟an, (Riyadh: D rul Rasyīd, t.t), h. 204
Kata lain yang dianggap memiliki sinonim adalah kata al-bukhl yang berarti pelit, kikir, atau bakhil. Di dalam al-Qur‟an kata al-bukhl disebutkan sebanyak 12 kali pengulangan dengan berbgai macam derivasinya. Kata-kata yang memiliki arti sama dengannya seperti qatara, al-syuh,
dandhanīn. Lihat „Abdul B qī, Al-Mu‟jam Al-Mufahr s li Alf dz Al-Qur‟an Al-Karīm, h. 115 dan 246
Kata al-‟adl bermakna al-istiw ‟ ( ) “suatu keadaan yang
sama/lurus.”31
Makna ini berarti menetapkan hukum dengan benar. Jadi orang yang adil adalah seseorang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kata al-‟adl memiliki makna ”persamaan”, dan inilah makna asal kata al-‟adl yang menjadikan pelakunya tidak berpihak kepada salah satu.32 Sehingga ia hanya menegakkan keadilan terhadap orang yang bersalah sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan di dalam al-Qur‟an dan al-Sunnah. Menurut pendapat al-Raghib al-Ashfahani dalam kitabnya Al-Mufrad t fī Gharīb Al-Qur‟an mngatakan bahwa pengertian term „adl adalah ا س ا ع ض ق ظف : ع ا ا ع ا.33
Kata al-‟adl disebutkan di dalam al-Qur‟an sebanyak 28 kali pengulangan dengan berbagai derivasinya. Salah satunya terdapat pada Q.S. al-Nis [04]:129.
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.34
Kata ‟adl pada ayat ini diartikan ‟sama‟ . Menurut al-Baidhawī35
kata ‟adl pada ayat ini adalah tidak condong sedikitpun kepada salah satu istri sebagaimana
31Abū al-Husain Ahmad bin F ris bin Zakariy , Mu‟jam Maq yis Al-Lughah, (T.tp:D rul
Fikr, t.t), h. 246
32
Dahlan, et. al., (eds), Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid I, h. 5
33
Abu al-Q sim al-Husain bin Muhammad (ar-R gib al-Ashfah nī), Al-Mufrad t fī Gharīb Al-Qur‟an,(T.tp, Maktabah Naz r Mushthafâ al-B z, t.t), h. 422
34
Lihat Al-Qur‟an Al-Hadi
35
yang dilakukan oleh rasulullah dengan menbagikan bagiannya/haknya terhadap para istrinya ”Ya Allah, inilah pembagianku yang aku mampu, maka janganlah Engkau cela aku pada sesuatu yang Engkau mampu dan tidak aku mampu." (Abu Daud berkata; yaitu hati).36
Hal ini mengindikasikan bahwa rasul membagi hak dan kewajiban kepada para istrinya dengan adil dalam hal kasih sayang. Begitupun yang dimaksud ayat ini bahwa jika seorang suami memiliki dua istri maka hendaklah ia berlaku adil dengan semampunya, tidak condong berbuat baik kepada salah satunya dan membenci yang lainnya. Rasulullah bersabda ”Barangsiapa yang memiliki dua
orang istri kemudian ia cenderung kepada salah seorang diantara keduanya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan sebelah badannya miring."37 Dapat disimpulkan bahwa makna kata ‟adl berkaitan dengan sesuatu yang bersifat immateri yaitu bersifat abstrak dan keadilan dengan menggunakan term al-‟adl sangat sulit untuk dilakukan. 38
Sedangkan kata al-qisth ( ) yang terdiri dari tiga huruf yaitu q f, sīn dan tha‟ adalah kosa kata bahasa arab yang berbentuk masdar yang memiliki dua makna yang berbeda.39 Berdasarkan derivasinya, kata al-qisth memiliki dua
36Diriwayatkan oleh „ isyah Dalam kitab Sunan Abu Daud
Lihat
Abū D ud bin al-Asy‟ats as-Sijist nī al-Adzdī, Sunan Abī D ud, Jilid I, Kitab Al-Nik h, bab fī
Al-Qism baina An-Nis ‟, No. Hadits 2134 (Indonesia: Maktabah Risunkur, t.t ), h. 242
37
Diriwayatkan Abu Hurairah dalam kitab Sunan Abu Daud
Lihat Abū D ud, Sunan
Abī D ud, Jilid I, Kitab Al-Nik h, bab fī Al-Qism baina An-Nis ‟, No. Hadits 2133, h. 242
38
Dahlan, et. al., (eds), Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid I, h. 6
39
makna pokok yang bertentangan yaitu (adil dan menyimpang).40 Menurut as-Sya‟r wī kata al-qisth yang bermakna adil berasal dari kata
sedangkan yang bermakna menyimpang berasal dari kata
41
Asal makna al-qisth adalah al-nashīb yaitu bagian. Makna pertama adalah keadilan dan makna kedua adalah mengambil bagian orang lain. Menurut al-Raghib al-Ashfahanī maksud dari makna al-qisth yang kedua adalah kecurangan. Sedangkan kata al-qisth yang bermakna adil berasal dari bentuk tsulatsī mazīd dari kata bermakna “memberikan bagian orang lain” yang berarti bertindak secara proporsional. Seperti kalimat bermakna“seorang laki
-laki telah berlaku curang” dan bermakna “seorang laki-laki telah
berlaku adil.”42
Kata al-qisth yang bermakna menyimpang terdapat dalam Q.S Al-Jin [72]:14-15 wa minn al-qasithūn ( = dan ada (pula) di antara kami yang menyimpang dari kebenaran) dan wa amm al-qasithūn ( =
dan adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran). Kata al-qisth pada dua ayat tersebut berbentuk isim f ‟il dari tsulatsī mujarrad. Asal katanya adalah . Kata ini sangat bertentangan dengan kata al-qisth yang bermakna adil yang berasal dari kata
40
Ahmad bin Muhammad bin „Alī al-Muqrī al-Fayyūmī, Al-Mishbah Al-Munīr, (Bairūt: D rul Kutub al-„Ilmiyah, 1994), h. 503
41
.Muhammad Mutawallī Asy-Sya‟r wī, Tafsīr Asy-Sya‟r wī, Jilid 4, (T.tp.: Dar at-Tafiqiyyah li at-Turats, t.t.), h. 30
42
Nasaruddin Umar, et. al, (eds), Ensiklopedia Al-Qur‟an Kajian Kosakata, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 775
walaupun makna keduanya berbeda namun berasal dari satu suku kata.43
Di dalam kitab tafsir Maf tih Al-Ghaib diterangkan bahwa kata al-qisth bermakna
adil digunakan untuk menerangkan sifat orang-orang mukmin dan orang-orang
yang berilmu, dan juga dalam hal mu‟amalah. Sedangkan kata al-qisth bermakna
menyimpang menerangkan tentang sifat orang-orang kafir karena mereka selalu menyimpang dari kebenaran, sifat orang-orang musyrik yang berbuat zalim, dan termasuk sifat para jin.44
Dalam kamus Al-Munawwir kata al-qisth memiliki banyak arti. Secara etimologi kata al-qisth ( ) an-nashīb artinya bagian dan ada beberapa makna yang semakna dengannya. Seperti al-qisth dapat bermakna ( ) al-miqd r artinya kadar, jumlah, ( ) al-mīz n artinya neraca, timbangan, ( ) ar-rizq artinya rezeki, ( ) an-najm artinya angsuran, cicilan.45 Elias A. Elias dan Edwar E. Elias mengartikan kata al-qisth adalah fair and square46 (dengan jujur).47
Di dalam kitab T j Al-‟ rūs diterangkan bahwa kata al-qisth digunakan untuk menerangkan keadilan yang terkait tentang pembagian saja
ا (bila memutuskan perkara mereka memutuskannya dengan adil, bila mereka membagi mereka membaginya dengan merata) artinya
43
Abu al-Fadhl Jam luddīn Muhammad bin Mukrim,Lis nul „Arab,(Bairut: D r Sh dar,
t.t.), h. 377
44
Muhammad ar-R zī Fakhruddīn, Tafsīr Al-Fakhr Ar-R zī: At-Tafsīr Al-Kabīr wa Maf tīh Al-Ghaib, (Bairūt: D rul Fikr, 1985), h. 160
45
Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Q mūs „Arabī-Indūnisī, (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1984), h. 1202
46
Elias A. Elias dan Edwar E. Elias, Q mūs Al-Ily s Al-„Ashrī Injilīzī-„Arabī, (Bairūt: D rul Jīl, 1974), h. 256
47
Peter Salim, M.A., Adavced English-Indonesia Dictionary, (Jakarta: Modern English Press, 1991), h. 822
apabila mereka membagi (sesuatu) mereka membaginya dengan adil.48 Sedangkan kata al-‟adl digunakan untuk menegakkan keadilan secara lurus, sesuai dengan
hukum syar‟i, seperti hukum qish s, jinay t, dan sebagainnya. Adanya persamaan dalam memberikan balasan/ganjaran. Jika hal itu baik, maka katakan baik dan jika hal itu buruk, maka katakan buruk.49