BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1 Pengumpulan Data
4.1.1 Alamat Gudang
CV DH Permata Sentosa memiliki tiga gudang yang tersebar diberbagai daerah di Sumatera Barat. Berikut adalah alamatnya :
1. Gudang 1
Terletak di Kota Padang 2. Gudang 2
Terletak di Kota Payakumbuh 3. Gudang 3
Terletak di Kota Kiliran Jao 4.1.2 Kapasitas dan Permintaan
Adapun kapasitas setiap gudang dan permintaan kebutuhan setiap daerah adalah sebagai berikut :
1. Kapasitas setiap gudang
a. Padang = 2400 sak
b. Payakumbuh = 1200 sak c. Kiliranjawo = 800 sak 2. Permintaan kebutuhan daerah
a. Pekanbaru = 1800 sak b. Pasir Pangaraian = 1600 sak c. Rengat = 1000 sak 4.1.3 Jenis Transportasi
Dalam mendistribusikan produk ke setiap daerah CV DH Permata Sentosa menggunakan mobil dengan jenis Truk.
4.1.4 Biaya Transportasi
Biaya transportasi yang dikeluarkan CV DH Permata Sentosa dalam mendistribusikan suatu produk ke setiap daerah adalah sebagai berikut :
1. Padang – Pekanbaru = Rp 1.700.000,- per truk 2. Padang – Pasir Pengaraian = Rp 1.750.000,- per truk 3. Padang – Rengat = Rp 2.350.000,- per truk 4. Payakumbuh – Pekanbaru = Rp 850.000,- per truk 5. Payakumbuh – Pasir Pengaraian = Rp 900.000,- per truk 6. Payakumbuh – Rengat = Rp 3.000.000,- per truk 7. Kiliran jao – Pekanbaru = Rp 2.350.000,- per truk 8. Kiliran jao – Pasir Pengaraian = Rp 2.600.000,- per truk 9. Kiliran jao – Rengat = Rp 1.600.000,- per truk
Adapun kapasitas setiap truk adalah 400 sak semen. Jadi, biaya transportasi per sak adalah :
1. Padang – Pekanbaru = Rp 1.700.000,- per truk / 400 sak
= Rp 4.250/ sak
2. Padang – Pasir Pengaraian = Rp 1.750.000,- per truk/ 400 sak
= Rp 4.375/sak
3. Padang – Rengat = Rp 2.350.000,- per truk/ 400 sak
= Rp 5.875/sak
4. Payakumbuh – Pekanbaru = Rp 850.000,- per truk/ 400 sak
= Rp 2.125/sak
5. Payakumbuh – Pasir Pengaraian = Rp 900.000,- per truk/ 400 sak
= Rp 2.250/sak
6. Payakumbuh – Rengat = Rp 3.000.000,- per truk/ 400 sak
= Rp 7.500/sak
7. Kiliran jao – Pekanbaru = Rp 2.350.000,- per truk/ 400 sak
= Rp 5.875/sak
8. Kiliran jao – Pasir Pengaraian = Rp 2.600.000,- per truk/ 400 sak
= Rp 6.500/sak
9. Kiliran jao – Rengat = Rp 1.600.000,- per truk/ 400 sak
= Rp 4.000/sak
Untuk lebih jelasnya, biaya transportasi yang didapatkan dari pengolahan data diatas akan di masukkan kedalam tabel. Adapun tabel biaya transportasi adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1
Biaya Transportasi Semen Per Sak
Dari/Ke Pekanbaru Pasir Pengaraian Rengat
Padang Rp 4.250 Rp 4.375 Rp 5.875
Payakumbuh Rp 2.125 Rp 2.250 Rp 7.500
Kiliran jao Rp 5.875 Rp 6.500 Rp 4.000
Sumber : Pengolahan Data 4.2 Pengolahan Data
Dalam mendistribusikan semen dari Gudang ke masing-masing Daerah tujuan, CV DH Permata Sentosa menggunakan metode tersendiri. Untuk distribusi produk dari gudang ke daerah-daerah, biaya transpostrasi yang digunakan oleh perusahaan dapat mencapai Rp 17.100.000,-.
Bentuk model transportasi yang digunakan adalah dengan menentukan solusi awal terlebih dahulu dengan menggunakan Metode Vogel Approximation (VAM), kemudian mencari solusi akhir dengan menggunakan Modified Distribution (MODI).
4.2.1 Solusi Awal
4.2.1.1 Metode North West Corner
Tabel 4.2 Metode NWCR Sumber
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas
Padang 4.250 4.375 5.875
a. Alokasikan pertama pada sudut kiri atas sebesar 1800 sak semen (kapasitas 2400 sak semen dan permintaan 1800 sak semen jadi pilih yang paling kecil).
b. Padang- pasir pengaraian sebesar 600 sak semen (kapasitas 2400 sak semen dan permintaan 600 sak semne).
c. Payakumbuh – pasir pengaraian sebesar 1000 sak semen( kapasitas 1200 sak semen dan permintaan 1000 sak semen).
d. Payakumbuh – rengat sebesar 200 sak semen(kapasitas 1200 sak semen dan permintaan 200 sak semen).
e. Kiliran jao – rengat sebesar 800 sak semen( kapasitas 800 sak semen sama dengan permintaan yaitu 800 sak semen).
Dengan demikian besarnya biaya transportasi yang didapatkan dari solusi awal adalah sebagai berikut :
a. Padang – Pekanbaru = 1800 × 4.250 = Rp 7.650.000,- b. Padang – Pasir Pangaraian = 600 × 4.375 = Rp 2.625.000,- c. Payakumbuh – pasir pengaraian = 1000 × 2.250 = Rp 2.250.000,- d. Payakumbuh – rengat = 200 × 7.500 = Rp 1.500.000,- e. Kiliran Jao – Rengat = 800 × 4.000 = Rp 3.200.000,-
Total = Rp17.225.000,-
4.2.1.2 Metode Least Cost
Tabel 4.3 Metode LC Sumber
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas
Padang 4.250 4.375 5.875 dialokasikan sebanyak 1200 sak ( permintaan 1800 sak dan kapasitas 1200 sak jadi pilih yang paling kecil).
b. Langkah selanjutnya adalah biaya Rp 4.000,dengan kapasitas 800 sak dan permintaan 1000 sak(pilih 800 sak).
c. Selanjutnya biaya Rp 4.250, dengan kapasitas 2400 sak den permintaan 1800 sak(di alokasikan 600 sak pada kolom permintaan dikarnakan untuk memenuhi sisa permintaan yang belum terpenuhi).
d. Selanjutnya biaya Rp 4.375, dengan kapasitas 2400 sak dan permintaan 1600 sak(pilih 1600 sak).
e. Langkah terakhir yaitu biaya Rp 5.875, dengan kapasitas 2400 sak dan permintaan 200 sak(di alokasikan 200 sak untuk memenuhi permintaan yang ada pada kolom permintaan).
a. Payakumbuh – Pekanbaru = 1200 × 2.125 = Rp 2.550.000,-
4.2.1.3 Metode Vogel Approximation (VAM)
Dalam melakukan pengolahan data menggunakan metode VAM ada beberapa tahap yang dilakukan untuk mendapatkan solusi awal. Adapun tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Tahap 1
Mencari selisih dua biaya terkecil setiap kolom dan baris : Tabel 4.4
Tahap 1 Metode VAM Sumber
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas Selisih baris
Dari tabel diatas, ditemukan selisih terbesar berada pada kolom Pekanbaru dan kolom Pasir Pangaraian maka dipilih salah satu. Selanjutnya dari kolom yang telah dipilih yaitu kolom Pekanbaru, kotak kosong dengan biaya terkecil berada pada kotak Payakumbuh – Pekanbaru. Kemudian pada kotak yang dipilih di isi
muatan maksimal sebesar 1.200 dengan demikian kapasitas pada baris Payakumbuh sudah terpakai dan tidak perlu dicari selisihnya lagi.
Tahap 2
Tabel 4.5
Tahap 2 Metode VAM Sumber
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas Selisih baris Pangaraian. Selanjutnya dari kolom Pasir Pangaraian, kotak kosong dengan biaya terkecil berada pada kotak Padang – Pasir Pangaraian. Kemudian pada kotak yang dipilih di isi muatan maksimal sebesar 1.600 dengan demikian total muatan untuk Pasir Pangaraian telah terpenuhi dan tidak perlu mencari selisihnya lagi.
Tahap 3
Tabel 4.6
Tahap 3 Metode VAM Sumber
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas Selisih baris
Dari tabel diatas, ditemukan selisih terbesar berada pada kolom Rengat.
Selanjutnya dari kolom Rengat, kotak kosong dengan biaya terkecil berada pada kotak Kiliran Jao – Rengat. Kemudian pada kotak yang dipilih di isi muatan maksimal sebesar 800 dengan demikian total kapasitas pada baris Kiliran Jao telah terpakai semua dan tidak perlu mencari selisihnya lagi.
Tahap 4
Karena yang tersisa hanya 2 kotak pada baris Padang saja (dari pengolahan tahap 3) maka tidak perlu lagi dicari selisihnya tetapi langsung saja di isi muatannya. Untuk kotak Padang – Pekanbaru dibutuhkan sebesar 600 dan untuk kotak Padang – Rengat dibutuhkan hanya 200 saja. Dengan demikian kebutuhan baris dan kolom sudah terpenuhi yang berarti solusi awal telah ditemukan.
Tabel 4.7
Tahap 4 Metode VAM Sumber
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas Selisih baris
Dengan demikian besarnya biaya transportasi yang didapatkan dari solusi awal adalah sebagai berikut :
f. Padang – Pekanbaru = 600 × 4.250 = Rp 2.550.000,- g. Padang – Pasir Pangaraian = 1.600 × 4.375 = Rp 7.000.000,- h. Padang – Rengat = 200 × 5.875 = Rp 1.175.000,-
i. Payakumbuh – Pekanbaru = 1.200 × 2.125 = Rp 2.550.000,- j. Kiliran Jao – Rengat = 800 × 4.000 = Rp 3.200.000,-
Total = Rp 16.475.000,-
Jadi, total biaya transportasi untuk mendistribusikan produk dari gudang ke daerah dengan menerapkan model transportasi Vogel’s Approximation Method (VAM) sebesar Rp 16.475.000,-. Penerapan VAM dapat meminimumkan biaya transportasi dari Rp 17.100.000,- untuk distribusi dari gudang ke daerah, menjadi Rp 16.475.000,-. Terjadi penurunan biaya sebesar Rp 625.000,- atau 3,65 %. Serta dapat meningkatkan laba/pendapatan perusahaan.
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas
Padang 4.250 4.375 5.875
Gerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong(padang – rengat) menuju padang – pasir pengaraian selanjutnya payakumbuh – pasir pengaraian dan terakhir payakumbuh – rengat sebelum akhirnya kembali ke sel semula.
Tabel 4.9
Metode Stepping Stone (Lanjutan) Sumber
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas
Padang 4.250 4.375 5.875
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong(payakumbuh – pekanbaru) menuju payakumbuh – pasir pengaraian,selanjutnya padang- pasir pengaraian dan terakhir menuju ke padang – pekanbaru dan pada akhirnya kembali ke sel semula.
Tabel 4.10
Metode Stepping Stone (Lanjutan) Sumber
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas
Padang 4.250 4.375 5.875
Pergerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong(kiliran jao – pasir pengaraian) menuju kiliran jao – rengat,selanjutnya payakumbuh- pasir rengat dan terakhir menuju ke payakumbuh – pasir pengaraian dan pada akhirnya kembali ke sel semula.
Tabel 4.11
Metode Stepping Stone (Lanjutan) Sumber
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas
Padang 4.250 4.375 5.875 payakumbuh- rengat, payakumbuh – pasir pengaraian, padang – pasir pengaraian dan terakhir padang – pekanbaru lalu pada akhirnya kembali ke sel semula.
Sel-sel yang kosong :
a. 5875-4375+2250-7500 = -3750 b. 2125-2250+4375-4250 = 0 c. 6500-4000+7500-2250 = 7750 d. 5875-4000+7500-2250+4375-4250 = 7250
Tabel 4.12
Metode Stepping Stone (Lanjutan) Sumber
Tujuan Pekanbaru Pasir
Pangaraian Rengat Kapasitas
Padang 4.250 4.375 5.875
Sel-sel yang kosong :
a. 7500-2250+4375-5875 = 3747 b. 2125-2250+4375-4250 = 0 c. 5875-4000+5875-4250 = 3500 d. 6500-4000+5875-4375 = 4000
Dari hasil perhitungan tidak ditemukan nilai negatif(penghematan biaya), maka proses eksekusi telah selesai,dan biaya transportasinya adalah :
a. padang – pekanbaru 1800 x 4250 = Rp 7.650.000,-
4.2.2.2 Metode MODI (Modified Distribution) Tahap 1
Mencari nilai baris dan kolom. Rumus : R + K = C , dimana R adalah baris, K adalah kolom dan C adalah biaya.
Tabel 4.13
Sumber : Pengolahan Data Tahap 2
Mencari angka indeks. Rumus : C - R - K, dimana C adalah biaya, R adalah baris, dan K adalah kolom.
Langkah selanjutnya adalah mencari sel-sel yang kosong :
a. Padang – Rengat = 5875 – 0 – 9625 = -3750 b. Payakumbuh – Pekanbaru = 2125 – (-2125) – 4250 = 0 c. Kiliran Jao – Pekanbaru = 5875 – (-5625) – 4250 = 7250 d. Kiliran Jao – Pasir Pangaraian= 6500 – (-5625) – 4375 = 7750 Karena masih ada nilai yang negatif, berarti solusi ini belum optimal.
Tahap 3
Menentukan titik tolak perubahan pada nilai yang negatif. Perubahan dimulai pada kotak yang mempunyai nilai negatif karena akan dapat mengurangi jumlah pengangkutan biaya terbesar. Bila niainya positif maka pengisian akan mengakibatkan kenaikan biaya pengangkutan.
Tabel 4.15
Beri tanda (+) pada sel yang mempunyai angka indeks negatif (Padang - Rengat), kemudian sel terdekat yang berisi dan sebaris (Padang – Pasir Pangaraian) dan sekolom (Payakumbuh - Rengat) beri tanda (-). Kemudian sel yang sebaris (Payakumbuh – Pasar Pangaraian ) beri tanda (+), maka akan menjadi :
Tabel 4.16
Tahap 3 Metode MODI (Lanjutan) Sumber baris, K adalah kolom dan C adalah biaya.
Tabel 4.17 adalah baris, dan K adalah kolom.
Tabel 4.18
Langkah selanjutnya adalah mencari sel-sel yang kosong :
a. Payakumbuh – Pekanbaru = 2125 – (-2125) – 4250 = 0 b. Payakumbuh – Rengat = 7500 – (-2125) – 5875 = 3750 c. Kiliran Jao – Pekanbaru = 5875 – (-5625) – 4250 = 7250 d. Kiliran Jao – Pasir Pangaraian= 6500 – (-5625) – 4375 = 7750
Karena hasil perhitungannya tidak ditemukan nilai negatif, berarti solusi ini sudah optimal. Dengan demikian, besarnya biaya transportasi dari solusi akhir yang telah didapatkan adalah :
a. Padang – Pekanbaru = 1800 × 4250 = Rp 7.650.000,- b. Padang – Pasir Pangaraian = 400 × 4375 = Rp 1.750.000,- c. Padang – Rengat = 200× 5875 = Rp 1.175.000,- d. Payakumbuh – Pasir Pangaraian = 1200 × 2.250 = Rp 2.700.000,- e. Kiliran Jao – Rengat = 800 × 4000 = Rp 3.200.000,-
Total = Rp 16.475.000,-
Jadi, total biaya transportasi untuk mendistribusikan produk dari gudang ke daerah dengan menerapkan model transportasi Modified Distribution (MODI) sebesar Rp 16.475.000,-. Penerapan MODI dapat meminimumkan biaya transportasi dari Rp 17.100.000,- untuk distribusi dari gudang ke daerah, menjadi Rp 16.475.000,-. Terjadi penurunan biaya sebesar Rp 625.000,- atau 3,65 %. Serta dapat meningkatkan laba/pendapatan perusahaan.
61
BAB V
ANALISIS HASIL PENGOLAHAN DATA
5.1 Analisis Kapasitas dan Permintaan
Kapasitas dan permintaan sangat berperan penting dalam hal distribusi, terutama dalam pendistribusian barang ke daerah-daerah. Kapasitas yang ada pada setiap gudang di CV DH Permata Sentosa adalah 2400 sak semen pada gudang di kota Padang lalu 1200 sak semen di kota Payakumbuh dan 800 sak semen di kota Kiliran Jao. Dengan permintaan untuk masing-masing daerah adalah sebanyak 1800 sak di Kota Pekanbaru lalu 1600 sak di kota Pasir pangaraian dan 1000 sak pada kota rengat. Permintaan untuk daerah Pekanbaru dan Pasir pengaraian akan dipenuhi oleh gudang di Payakumbug dan di Padang,sedangkan untuk wilayah rengat akan di penuhi oleh gudang di Kiliran Jao.
5.2 Analisis Jenis dan Biaya Transportasi
CV DH Permata Sentosa mendistribusikan produknya dengan meggunakan truk. Untuk satu kali angkut atau satu kali jalan truk dapat memuat 400 sak semen. Adapun biaya transportasi yang dikeluarkan oleh perusahaan tergantung ke daerah mana produk yang nantinya akan dikirim. Misalkan untuk pengiriman dari gudang yang ada di Padang memerlukan biaya pengiriman sebesar Rp 1.700.000 untuk sekali pengiriman. Dan kalau dihitung biaya
distribusi per sak semen adalah Rp 1.700.000,-/400 sak yaitu sebesar Rp 4.250/sak. Dengan begitu didapatkan biaya pengiriman untuk masing-masing
gudang ke daerah tujuannya.
5.3 Analisis Metode NWCR
Dalam menggunakan metode NWCR pengisian terlebih dahulu dilakukan pada kolom kiri dan disesuaikan dengan berapa kapasitas yang ada atau permintaan pada kolom kiri atas. Dalam hal ini alokasikan pertama pada sudut kiri atas sebesar 1800 sak semen (kapasitas 2400 sak semen dan permintaan 1800 sak semen jadi pilih yang paling kecil) lalu Padang- Pasir Pengaraian sebesar 600 sak semen kemudian Payakumbuh – Pasir Pengaraian sebesar 1000 sak semen lalu Payakumbuh – Rengat sebesar 200 sak semen dan terakhir Kiliran jao – rengat sebesar 800 sak semen. Setelah sel di isi lalu didapatkanlah jumlah biaya distribusi sebesar Rp 17.225.000,-
5.4 Analisis Metode LC
Metode LC sendiri adalah metode biaya terkecil. Cara pengalokasian kebutuhan permintaan pada kolom di dapatkan dengan menentukan biaya terkecil untuk semua kolom setelah itu baru di alokasikan permintaan yang di inginkan.
pada pengolahan data, biaya terkecil Rp 2.125 dialokasikan sebanyak 1200 sak ( permintaan 1800 sak dan kapasitas 1200 sak jadi pilih yang paling kecil). Langkah selanjutnya adalah biaya Rp 4.000,dengan kapasitas 800 sak dan permintaan 1000 sak(pilih 800 sak). Selanjutnya biaya Rp 4.250, dengan kapasitas 2400 sak den permintaan 1800 sak(di alokasikan 600 sak pada kolom permintaan dikarnakan untuk memenuhi sisa permintaan yang belum terpenuhi). Selanjutnya biaya Rp 4.375, dengan kapasitas 2400 sak dan permintaan 1600 sak(pilih 1600 sak).
Langkah terakhir yaitu biaya Rp 5.875, dengan kapasitas 2400 sak dan permintaan 200 sak(di alokasikan 200 sak untuk memenuhi permintaan yang ada pada kolom
permintaan). Setelah semua permintaan di isi maka dilakukanlah perhitungan untuk mencari nilai biaya distribusi dengan menggunakan metode LC dan di dapatlah biaya distribusi sebesar Rp16.475.000,-
5.5 Analisis Metode VAM
Menggunakan metode VAM ada beberapa tahap yang dilakukan untuk mendapatkan solusi awal. Langkah-langkahnya adalah mencari dua biaya terendah dari masing-masing kolom dan baris. Seperti yang telah kita lakukan pada pengolahan data dan setelah didapatkan dua biaya terkecil kita selisihkan dua biaya terendah tersebut. Pilih selisih terbesar yang didapatkan dari selisih baris dan kolom. Maka didapatkankan selisih berada pada kolom Pekanbaru dan Pasir Pangaraian dengan selisih 2125. Selanjutnya dari kolom yang telah dipilih yaitu kolom Pekanbaru, kotak kosong dengan biaya terkecil berada pada kotak Payakumbuh – Pekanbaru. Kemudian pada kotak yang dipilih di isi muatan maksimal sebesar 1.200 dengan demikian kapasitas pada baris Payakumbuh sudah terpakai dan tidak perlu dicari selisihnya lagi. Lakukan kembali langkah ini agar semua produk dapat di alokasikan sesuai dengan kapasitas dan permintaan.
Setelah semua kapasitas dan permintaan terpenuhi pada baris dan kolom, lalu kapasitas yang telah di isikan pada kotak di kalikan dengan biaya yang ada pada masing-masing kotak. Misalnya seperti yang ada pada kotak Padang – Pekanbaru dengan kapasitas sebesar 600 sak dikalikan dengan biaya pengiriman sebesar Rp 4.250/sak maka didapatkanlah biaya pengiriman dari kota Padang ke Pekanbaru ialah sebesar Rp 2.550.000,- . Jadi total biaya yang dikeluarkan oleh CV DH Permata Sentosa dalam pengiriman barang ke masing-masing daerah
adalahsebesar Rp 16.475.000,-. Penerapan VAM dapat meminimumkan biaya transportasi dari Rp 17.100.000,- untuk distribusi dari gudang ke daerah, menjadi Rp 16.475.000,-. Terjadi penurunan biaya sebesar Rp 625.000,- atau 3,65 %.
5.6 Analisis Metode Stepping Stone
Pada pengolahan data dengan menggunakan metode stepping stone untuk mendapatkan biaya transportasi yang minimum dengan menggunakan solusi yang optimal. Adapun tahapan yang dilakukan adalah dengan cara mengisi baris pertama dari kiri atas sampai ke kanan bawah. Setelah itu dilakukan gerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong. Gerakan batu loncatan dimulai dari sel yang kosong (padang – rengat) menuju padang – pasir pengaraian selanjutnya payakumbuh – pasir pengaraian dan terakhir payakumbuh – rengat sebelum akhirnya kembali ke sel semula. Begitu pula dengan sel yang kosong lainnya.
Setelah itu dari sel-sel kosong yang telah dilakukan metode batu loncatan dicari nilai sel, nilai sel yang didapatkan tidak boleh negatif. Pada pengolahan data nilai sel yang didapatkan ada yang negatif dan dilakukan pencarian lagi sampai nilai sel didapatkan positif.
Setelah nilai sel yang kosong didapatkan positif semua barulah dilakukan pencarian biaya distribusi. Biaya distribusi dengan menggunakan metode stepping stone adalah Rp 16.475.000,-
5.7 Analisis Metode MODI
Pada metode MODI pengolahan data dilakukan dengan cara mencari nilai C, R dan K untuk mendapatkan biaya transportasi yang minimum dengan menggunakan solusi yang optimal. Adapun tahapan yang dilakukan adalah isilah
kotak yang dimulai dari baris pertama dengan memilih kotak dengan biaya terkecil. Setelah itu isilah sesuai kapasitas dan permintaan. Apabila kotak telah terisi langkah selanjutnya mencari nilai R dan K dengan cara R+K=C. Pada kotak baris pertama nilai R di isi dengan 0. Untuk nilai K pada kolom Pekanbaru di isi dengan cara (0+K=4250) jadi nilai K pada kolom pekanbaru adalah 4250.
Lakukan hal yang sama pada langkah selanjutnya sampai didapatkan nilai R dan K untuk semua baris dan kolom.
Setelah didapatkan nilai R dan K, selanjutnya menghitung nilai pada sel-sel yang kosong dengan menggunakan rumus C-R-K maka didapatkanlah hasil Padang-Rengat (-3750), Payakumbuh-Pekanbaru (0), Kiliran Jao-Pekanbaru (7250) dan Kiliran Jao – Pasir Pangaraian (7750). Apabila terdapat tanda negatif maka solusinya blum optimal dan dilakukan eksekusi pada tanda negatif pada kolom Padang-Rengat. Setelah itu dicari kembali nilai R dan K lalu dilakukan langkah yang sama sampai tidak ada lagi hasil yang negatif.
Apabila hasil sudah positif semua maka solusi sudah optimal dan dengan demikian besarnya biaya transportasi dapat dicari. Setelah nilai yang ada pada kotak dikalikan dengan biayanya maka total biaya pengiriman yang di keluarkan oleh CV DH Permata Sentosa yang paling optimal adalah sebesar Rp 16.475.000.
66
BAB VI PENUTUP
6.1 KESIMPULAN
Dari tujuan penelitian penerapan model transportasi yang cocok untuk meminimalkan biaya distribusi yang optimal dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil penerapan model transportasi yang cocok adalah model VAM untuk solusi awal dan MODI untuk solusi akhir/optimal, biaya pendistribusian barang yang awalnya dari Rp 17.100.000 menjadi Rp 16.475.000 sehingga terjadi penurunan biaya sebesar Rp625.000,- atau 3,65%.
6.2 SARAN
Dari hasil pengolahan data dan analisa diatas, maka saran-saran yang dapat diberikan pada CV DH Permata Sentosa adalah sebagai berikut :
1. Dari hasil pengolahan data dan analisis maka perlu bagi CV DH Permata Sentosa dalam melakukan perencanaan pendistribusian yang optimal demi menghemat biaya yang dikeluarkan untuk distribusi.
2. CV DH Permata Sentosa sebaiknya menggunakan metode tranportasi karena dengan model transportasi menghasilkan biaya lebih minimum. Hal ini membuat keuntungan perusahaan dapat lebih maksimal.
3. Mendistribusikan produk sesuai dengan besarnya kapasitas yang optimal, karena melakukan pendistribusian yang tidak sesuai dengan kapasitas optimal akan mengakibatkan lonjakan biaya transportasi.
4. CV DH Pemata Sentosa harus mempekerjakan staff yang ahli dan faham untuk perencanaan menggunakan metoda model transportasi terutama model VAM dan MODI sehingga dapat mengerti dan menerapkan sistem transportasi yang baik.
Devo,Avianto P. Pengertian Distribusi dan fungsi Distribusi. (online) (http:
//devoav 1997. webnode.com). 2010.
Dimyati, Akhmad. Operations Research. Penerbit PT. Sinar Baru Algensido.
Bandung. 1987.
Ervil, Riko, dkk. Buku Panduan Penulisan Dan Ujian Skripsi. STTIND Padang.
Padang. 2013.
Fandy tjiptono. Strategi Pemasaran. Erlangga. Yogyakarta. 2008.
Hariyono, Achmad. Analisis Penerapan Model Transportasi dan Distribusi Dengan Menggunakan NWCRM dan SSM Harian Tribun Timur Makassar. Skripsi. Makassa. Program Strata Satu Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Makasar. 2012.
Havaldar, Khrisna K. Industrial Marketing. 2ndEdition, Singapore, Mc-Graw Hill. 2005.
Heizer,Jay,and Barry Render. Operations Management. Sidney. 2015.
Hermanto,Nico; Hermaliani, EniHeni; Sutinah, Entin. Vogell’s Aproximation Method Dalam Optimalisasi BiayaTransportasi Pengiriman Koran Pada Pt. Arah Medialog Pembangunan. Jurnal Teknik Komputer AmikBsi. 2017.
Iriani, yani; Agus. Evaluasi Biaya Distribusi PERTAMAX PLUS Dengan Menggunakan Metode Transportasi di PT. Pertamina UPMS III Balongan Indramayu Jawa Barat. Universitas Widyatama.
Kotler, Philip, Management Pemasaran: Analisis, Perencanaan dan Pengendalian. Erlangga, Edisi Kelima. Jakarta. 1989.
Purnomo, Rahman. Optimasi Pengiriman BBM ke SPBU pada Kasus Multi Depot dan Multi Product di Sales Area Bandung. Program Fakultas Teknik Industri Universitas Indonesia. 2011.
Surjadi, Lukman. Akutansi Biaya. Jakarta. Penerbit PT. Indeks.2013.
Subroto, Budiarto. Pemasaran Industri Edisi 1. Yogyakarta.2011.
Wijaya, Andi. Pengantar Riset Operasi Edisi 3. MitraWacana Media.
Jakarta.2013.
VAM dan MODI) Pada PT. Coca-Cola Bottling Indonesia. Skripsi.
Program Strata Satu Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.
Makasar. 2011.