• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II HAK DAN KEWAJIBAN PARA PIHAK DALAM

B. Alasan-Alasan Keterlambatan Pembayaran Dalam

Alasan-alasan keterlambatan pembayaran dalam perjanjian jual beli tandan buah segar adalah alasan-alasan yang diberikan oleh pembeli TBS kelapa sawit untuk melakukan pembayaran tidak sesuai dengan yang diperjanjikan sebelumnya. Pembayaran menurut perjanjian jual beli tandan buah segar dilakukan per periode sekali seminggu. Kenyataan yang ditemukan pembayaran tidak dilakukan sesuai dengan yang diperjanjikan bahkan terkadang ditemukan keadaan pembayaran dilakukan setelah periode penjualan TBS kelapa sawit berlangsung empat kali.

Kondisi dari keterlambatan pembayaran tersebut memberikan akibat kurang mendukung bagi usahawan yang bergerak di bidang pemasok TBS kelapa sawit karena dana yang harus diputarkan dalam mengumpulkan TBS kelapa sawit hasil panen masyarakat menjadi sangat terbatas.

62

“PengertianCriteriaSupplier-Selection”.http://id.shvoong.com/writing-and

speaking/presenting/2131795-pengertian-criteria-supplier-selection/. Diakses tanggal 15 Desember 2013.

Ada beberapa alasan yang ditemukan dalam praktek perjanjian jual beli TBS kelapa sawit yang menjadi alasan keterlambatan pembayaran di PTPN II Kwala Sawit. Adapun alasan-alasan tersebut meliputi:

1. Prosedur dari tahap pembayaran yang dilakukan di PTPN II Kwala Sawit kepada para pemasok yang sedemikian panjang. Adapun proses yang dilewati dalam pencairan dana pemasok di PTPN II Kwala Sawit dimulai dari tutup buku yang dilakuan pada setiap hari Sabtu jam 5 sore. Kemudian pada Senin krani (tata usaha) pabrik membuat rekapan. Pada hari Selasa dilakukan kroscek jumlah surat pengantar (SP) TBS dalam 1 minggu yang kemudian ditanda tangani para pihak. Setelah dilakukan kroscek kebenaran dan jumlah SP 1 minggu. Kroscek kebenaran dilakukan oleh pemasok, Kepala DinasTata Usaha/KDTU, Asisten Laboratorium, serta Manager Pabrik. Kemudian pada hari Rabu dibuat surat pengantar untuk penagihan yang dibuat oleh manager pabrik. Pada hari Kamis diantar ke kantor Direksi PTPN II Tanjung Morawa. Di Kantor Direksi ada beberapa bagian yang harus dilalui untuk proses pembayaran. Pada hari Jumat berkas penagihan diantar dan diperiksa ke kepala bagian pembelian, akuntansi, dan keuangan Kantor Direksi. Pemeriksaan berkas tidak hanya meliputi satu PKS saja tetapi meliputi semua PKS yang bernaung di bawah PTPN II Tanjung Morawa. Setelah beberapa hari diperiksa berkas kemudian diserahkan ke Direksi PTPN II,kemudian disetujui untuk dilakukannya pembayaran. Pembayaran dilakukan oleh Direktur Keuangan secara serentak kepada rekanan / pemasok disetiap wilayah PKS PTPN II.

Proses ini sudah memakan waktu sekitar 2 minggu lebih, belum lagi keadaan tersebut ditopang pula oleh keadaan bahwa direksi tidak berada di tempat, sehingga berkas yang akan diperiksa kembali mengendap63.

2. PTPN II Kebun Kwala Sawit ketiadaan uang kas.

Ketiadaan uang kas juga merupakan alasan yang diajukan PTPN II Kebun Kwala Sawit dalam kaitannya dengan pelaksanaan keterlambatan pembayaran jual beli TBS kelapa sawit.64

Selain proses pemberkasan yang sedemikian panjang serta ketiadaan uang kas, maka alasan lainnya penyebab tidak dapat dilaksanakannya pembayaran TBS kelapa sawit oleh pembeli kepada pihak penjualan adalah kerugian yang dialami pembeli.

Dalam hal keterlambatan pembayaran yang dilakukan oleh pihak pembeli yakni pihak PTPN-II, pihak pertama ( penjual ) CV. Bina Mandiri dapat melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri, sebagai perbandingan ataupun contoh kasus pada Putusan Mahkamah Agung No. 413 K/Pdt/2012 adalah suatu putusan tentang tidak dilaksanakannya pembayaran oleh PKS kepada para pemasok di lingkungan Pengadilan Negeri Rantau Prapat. Putusan Mahkamah Agung No. 413 K/Pdt/2012 berawal dari terjadinya wanprestasi yang dilakukan oleh H. Bangkit Dalimunthe, Direktur CV. Sawit Inti Jaya terhadap Irwan Nainggolan yang disebut juga NGL yang terjadi di Damuli, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara.

63Hasil Wawancara dengan Albert M. Tarigan selaku Direktur CV. Bina Mandiri selaku Supplier pada PKS Kwala Sawit PTPN II (Persero), tanggal 11 Desember 2013.

64 Hasil Wawancara dengan XX, selaku Kepala Dinas Tata Usaha (KDTU) PKS Kwala Sawit PTPN II (Persero), tanggal 11 Desember 2013.

Kasus ini bermula ketika pada tahun 2008 yang lalu H. Bangkit Dalimunthe telah datang menemui Irwan Nainggolan untuk meminta bantuan serta kerjasama agar dapat menjadi Pemasok (Supplier) Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit ke Pabrik Mini Kelapa Sawit (PMKS) CV. Sawit Inti Jaya di Damuli milik H. Dalimunthe yang juga menjabat sebagai Direktur Utama. Pada akhirnya Irwan Nainggolan telah beberapa kali memasok TBS Kelapa Sawit ke PMKS CV. Sawit Inti Jaya tanpa adanya keterlambatan ataupun terhambat apalagi macet. Namun setelah beberapa bulan berjalan, ternyata H. Bangkit Dalimunthe tidak melakukan pembayaran atas TBS yang telah dipasok oleh Irwan Nainggolan, sehingga setelah beberapa kali melakukan penagihan atas janji-janji untuk melakukan pembayaran, dan tidak pernah mendapat respon yang baik dan positif dari H. Bangkit Dalimunthe serta prosedur negoisasi yang tetap menemui jalan buntu, maka untuk menghindari kerugian yang dialami oleh pemasok, sengketa tersebut didaftarkan pada Pengadilan Negeri Rantau Prapat. Terhadap gugatan tersebut Pengadilan Negeri Rantauprapat telah mengambil putusan, yaitu putusan No. 36/Pdt.G/2009/PN-RAP tanggal 27 Agustus 2010 yang amarnya sebagai berikut:

I. DALAM KONPENSI

• Menolak seluruh gugatan Penggugat; II. DALAM REKONPENSI

1. Mengabulkan gugatan Rekonpensi Penggugat untuk sebahagian.

diletakkan dalam perkara ini.

3. Menyatakan Tergugat telah Ingkar Janji/Cidera Janji (Wan Prestasi) atas kesepakatan antara Penggugat dan Terguat dengan cara tidak memenuhi kewajibannya untuk membayar pelunasan pasokan TBS sawit sebagaimana dalam surat pernyataan Tergugat tanggal 20 April 2009.

4. Menghukum Tergugat untuk membayar kepada Penggugat secara tunai harga pembelian TBS Sawit yang telah dipasok oleh Penggugat ke PMKS CV. Sawit Inti Jaya di Damuli, sebagaimana tertuang di dalam Surat Pernyataan Tergugat tanggal 20 April 2009 yang jumlahnya sebesar Rp. 826.436.825,- (delapan ratus dua puluh enam juta empat ratus tiga puluh enam ribu delapan ratus dua puluh lima Rupiah) paling lambat 8 (delapan) hari setelah Putusan dalam perkara ini mempunyai kekuatan hukum tetap.

5. Menghukum Tergugat untuk membayar denda kepada Penggugat secara tunai atas Ingkar Janji/Cidera Janji (Wan Prestasi) sebesar 1 % setiap bulannya dari jumlah Nominal yang seharusnya dibayarkan oleh Tergugat terhitung sejak tanggal 20 April 2009 hingga Putusan dalam perkara ini Berkekuatan Hukum Tetap, paling lambat 8 (delapan) hari setelah Putusan dalam perkara ini Berkekuatan Hukum Tetap.

6. Menolak gugatan Rekonpensi Penggugat untuk selain dan selebihnya; III. DALAM KONPENSI DAN REKONPENSI

Menghukum Penggugat d.k/Tergugat untuk membayar seluruh biaya-biaya perkara yang ditimbulkan dalam perkara ini yang hingga kini ditentukan sebesar

Rp. 2.326.000,- (dua juta tiga ratus dua puluh enam ribu rupiah);

Dalam tingkat banding atas permohonan Penggugat/Pembanding putusan Pengadilan Negeri tersebut telah dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Medan dengan putusan No. 138/PDT/2011/PT-MDN tanggal 07 Juni 2011.

Oleh karena pihak tergugat H. Dalimunthe merasa tidak puas atas putusan pengadilan negeri rantau parapat yang diperkuat dengan putusan pengadilan tinggi medan, maka diajukannya keberatan dengan alasan-alasan bahwsanya Pabrik Mini Kelapa Sawit (PMKS) sedang mengalami kerugian sehingga mengalami kesulitan dalam menjalankan kegiatan operasional maupun pembayaran terhadap pemasok yaitu Irwan Nainggolan pada tingkat kasasi di Mahkamah Agung, namun pada akhirnya dalam putusan No. 413 K/Pdt/2012, Mahkamah Agung memutuskan:

1. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: H. Bangkit Dalimunthe tersebut;

2. Menghukum Para Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah);

C. Perlindungan Terhadap Rekanan Pemasok TBS Akibat Keterlambatan