Fenomena penghapusan paksa (forced delisting) yang terjadi di pasar modal merupakan keharusan yang terjadi di pasar modal dalam rangka menciptakan pasar
86
Dikutip dari
modal yang harus memenuhi prinsip keterbukaan.Pentingnya prinsip keterbukaan dalam pasar modal, juga telah ditekankan oleh hasil studi International Federation of Stock Exchanges (FIBV) pada tahun 1998.Disebutkan bahwa dalam rangka menuju milenium ketiga orientasi pengembangan pasar modal dunia adalah menciptakan pasar modal-pasar modal yang likuid dan efisien. Untuk mewujudkan kondisi yang demikian, modal-pasar modal dimana-mana cenderung meningkatkan hal-hal yang antara lain dengan
keterbukaan.87
Perkembangannya suatu pasar modal sangat bergantung pada kemampuan lembaga-lembaga yang ada di pasar modal untuk memberikan keamanan investasi dan kualitas pelayanan yang tinggi.Keamanan dan kualitas jasa yang tinggi diperlukan untuk menarik sumber daya domestik agar terlibat di pasar modal dan juga merupakan tuntutan dari investor internasional. Hasil riset International Organization of Securitiess Comission (IOSCO) mengungkapkan bahwa pasar modal yang mengembangkan sistem
yang aman dan efisien terbukti lebih menarik bagi investor domestik maupun asing.88
Secara mendasar menurut peraturan perundang-undangan yang dimuat dalam pasar modal khususnya Keputusan Diresksi PT. Bursa Efek Jakarta Nomor : Kep-308/BEJ/07-2004 tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa terdapat dua alasan mendasar yang menyebabkan saham di delisting oleh otoritas bursa yaitu ;89
1. Mengalami kondisi, atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh negatif
terhadap kelangsungan usaha perusahaan tercatat, baik secara finansial atau secara
87 Bismar,Op.cit. hal 22. 88 Bismar,Op.Cit. hal 23. 89
Peraturan III.3 Keputusan Direksi PT.Bursa Efek Jakarta Nomor: Kep-308/BEJ/07/2004 tentang Penghapusan Pencatatan Kembali (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) di Bursa Saham.
hukum, atau terhadap kelangsungan status perusahaan tercatat sebagai perusahaan terbuka dan perusahaan tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai ;
2. Saham perusahaan tercatat yang akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai,
hanya diperdagangkan di pasar negoisasi sekurang-kurangnya selama 24 (dua puluh empat) bulan terakhir.
Secara umum dalam lalu lintas perdagangan saham di pasar modal terdapat juga alasan-alasan yang membuat otoritas bursa untuk menghapus secara paksa perusahaan publik yang terdaftar di pasar modal seperti yang masalah yang menimpa PT.Central Proteinaprima Tbk. (CPRO) yang sedang terbelit ancaman gagal bayar (default) atas obligasi yang diterbitkan anak usahanya yaitu Blue Ocean Resources Pte Ltd. (BOR)
senilai US$ 325 juta.90
Terdapat juga alasan seperti menurut Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartanto alasan penghapusan paksa (forced delisting) juga dapat dilakukan jika perusahaan tercatat di BEI membahayakan pemegang saham minoritas maka otoritas pasar modal harus segera mengambil tindakan. Hal ini menimpa pada perusahaan seperti PT. Davomas Tbk. (DAVO) dan PT.Katarina Utama (RINA).Sejalan dengan hal ini Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hosen menambahkan bahwa kedua perusahaan ini tidak menunjukkan going concern di pasar modal.
Sehingga masalah hutang juga merupakan permasalahan yang lazim menjadi alasan dilakukannya penghapusanpaksa (forced delisting) di pasar modal.
91
90
Veri Nurhansyah Tragistina, “Emiten Terancam Delisting, Ini Penyebab Emiten Harus Delisting
Paksa”, dikutip dari
91
Dikutip dari
Didalam prosesnya kedua emiten juga dinilai tidak memilki itikad baik dalam menjalankan usahanya sebagai perusahaan publik. PT.Davomas Tbk. (DAVO) bahkan sulit untuk dihubungi BEI untuk mengetahui kelanjutan perusahaan sedangkan seperti perusahaan PT.Katarina Utama Tbk. (RINA) bahkan perusahaan publik yang tidak jelas struktur pemegang sahamnya. Bahkan sebelumnya terdapat masalah bahwa dugaan manajemen yang seluruh ekspatriat asal Malaysia menyelewengkan perolehan dana IPO, penggelembungan aset serta manipulasi laporan keuangan auditan pada tahun 2009 yaitu ketika dilakukan IPO mendapat perolehan dana sebesar Rp.33,6 Miliar dan
manajemen perusahaan diduga menggelapkan sebesar Rp.29,6 Miliar.92
Penyampaian informasi yang merupakan yang menjadi fakta material merupakan kewajiban mendasar yang harus dipenuhi oleh masing-masing emiten dan sekaligus menjadi dasar penilaian dari Otoritas Pasar Modal dalam mengambil keputusan untuk melakukan penghapusan paksa (forced delisting). Ini merupakan menjadi hal yang merupakan pelaksanaan prinsip keterbukaan. Keterbukaan wajib terus berlangsung selama perusahaan go publik. Prinsip keterbukaan itu dilaksanakan melalui
Hal ini juga menjadi alasan untuk melakukan penghapusan paksa oleh otoritas pasar modal.
Secara mendasar kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal terhadap Bapepam untuk melakukan penghapusan paksa (forced delisting) merupakan terbatas pada peristiwa yang diduga merupakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan peraturan pelaksananya dan hal ini merupakan menjadi alasan utama dalam melakukan penghapusan paksa (forced delisting).
92
penyampaian laporan keuangan secara berkala, laporan mengenai fakta material yang baru, larangan insider trading dan laraangan manipulasi pasar merupakan hal yang
menjadi hal-hal yang tidak dapat dilanggar oleh emiten.93
Laporan keuangan secara berkala berkala penting bagi investor, mengingat laporan ini terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan saldo laba, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan dan lain-lain. Berdasarkan laporan-laporan tersebut dapat disusun evaluasi untuk cash flow yang akan datang dan selanjutnya membuat estimasi nilai saham. Laporan keuangan harus mengandung informasi yang akurat dan dapat diperkirakan (predictability) sehingga menjamin uang itu bergerak itu bergerak kepada
mereka yang bisa menggunakannya lebih efektif.94
Namun pelaksanaan laporan keuangan secara berkala di pasar modal Indonesia belum memadai sebagaimana yang diharapkan, sebab masih banyak emiten yang terlambat dan belum menyampaikan laporan secara berkala kepada Bapepam.Keterlambatan atas penyampaian laporan tersebut merupakan pelanggaran prinsip keterbukaan.Pelanggaran tersebut diancam dengan sanksi administratif yang
dapat berujung pada penghapusan paksa di pasar modal.95
Keterbukaan mengenai adanya fakta material baru merupakan bagian yang menjadi penilaian untuk otoritas pasar modal dalam melakukan penghapusan paksa (forced delisting). Peristiwa- peristiwa yang dapat mempengaruhi harga saham harus segera dilaporkan paling lambat 2 (dua) hari kerja, peristiwa-peristiwa yang dapat mempengaruhi harga saham seperti kebakaran pemogokan, dan penutupan perusahaan. Seperti PT.Inti Indorayon Utama, ditutup karena pencemaran lingkungan hidup.
93
Bismar, Op.Cit. hal 152.
94
Ibid. hal 153.
95
Peristiwa-peristiwa lainnya berkenaan dengan tender offer, merjer atau peleburan (consolidation) dan akusisi (merjer dan akusisi) perusahaan merupakan topik yang
penting dalam bisnis.96
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal bahwa merjer dan akusisi harus diinformasikan kepada investor karena tindakan tersebut merupakan termasuk fakta material. Walaupun peraturan kewajiban prinsip keterbukaan di pasar modal Indonesia telah menentukan merjer sebagai informasi material namun dalam praktek peraturan tidak dapat menjelaskan apa yang menjadi ukuran atau standar merjer dikatakan sebagai informasi material dan hal ini tergantung dari bobot
materaialitas informasi tersebut.97
Bagian lain yang menjadi larangan yang tidak dapat dilakukan oleh emiten di pasar modal yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal yaitu mengenai larangan melakukan insider trading. Insider trading bertentangan dengan prinsip keterbukaan, karena yang bersangkutan membeli atau menjual saham berdasarkan informasi dari “orang dalam” yang tidak publik sifatnya. Tindakan tersebut merugikan pihak lain yang tidak menerima informasi yang sama pada waktu yang sama, sehingga ia tidak dapat mengambil keputusan untuk membeli atau menjual saham yang dipegangnya. PT Argo Pantes merupakan peristiwa insider trading pertama yang
terjadi di Indonesia.98
Pelanggaran dalam insider tradingsecara khusus dimuat dalam Pasal 95, 96 dan Pasal 97 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang memuat tentang para pihak yang merupakan insider trading dan Pasal 98 dan Pasal 99
96 Ibid.hal 157. 97 Ibid.hal 158. 98 Ibid.hal 159.
yangmemuat kewenangan Bapepam untuk menetapkan transaksi efek yang dilarang sehingga hal ini menjadikan ketika terjadinya insider trading menjadi alasan untuk melakukan penghapusan paksa di pasar modal.
Peristiwa yang sering terjadi di dalam pasar modal yang sangat memerlukan pengawasan dalam kegiatan pasar modal yaitu terdapatnya manipulasi pasar.Peristiwa ini merupakan praktek manipulasi pasar yang ditujukan pada distorsi terhadap kekuatan bebas atas persediaan dan permintaan (supply and demand).Pada umumnya, setiap manipulasi menggunakan restriksi artifisial pada “floating supply of stock”, yang diikuti oleh beberapa faktor untuk merangsang publik pada permintaan saham dalam bentuk artifisial atau penciptaan penampilan palsu atas kegiatan perdagangan yang
sebenarnya.99
Rancana pertama dari praktek manipulasi adalah melakukan restriksi artifisial dalam persediaan saham dengan mengakuisisi saham secara substansial dalam controlled account. Kegiatan merangsang permintaan saham yang disengaja dengan pengendalian persediaan saham.Selanjutnya, melakukan penjualan atas persediaan saham.Selanjutnya, melakukan penjualan atas persediaan saham yang dibeli, sejalan
dengan harga saham yang membumbung (harga manipulasi).100
99
Ibid.hal 169.
100
Ibid. hal 169.
Di Indonesia, larangan manipulasi pasar diatur dalam Pasal 91 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal, yang menyatakan bahwa:
“Setiap pihak dilarang melakukan tindakan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek di bursa efek.
Selanjutnya di penjelasan di Pasal 91 tersebut menyatakan bahwa masyarakat pemodal sangat memerlukan informasi mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek di bursa efek yang tercermin dari kekuatan penawaran jual dan penawaran beli efek sebagai dasar untuk mengambil keputusan investasi dalam efek. Sehubungan dengan itu, ketentuan ini melarang adanya tindakan yang dapat menciptakan gambaran semu mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek yang antara lain :
1. Melakukan transaksi efek yang tidak mengakibatkan perubahan pemilikan; atau
2. Melakukan penawaran jual atau beli efek pada harga efek tertentu, dimana pihak
tersbut juga telah bersekongkol dengan pihak yang lain yang melakukan penawaran
beli atau penawaran jual efek yang sama pada harga yang kurang lebih sama.101
Manipulasi yang dilakukan emiten merupakan salah satu bentuk pelanggaran dalam pasar modal yang dapat mengakibatkan emiten akan mendapatkan sanksi dari otoritas bursa saham yang dalam hal ini dapat melakukan penghapusan paksa (forced delisting) yang dapat dilakukan oleh otoritas bursa saham.
Secara umum alasan yang dapat menyebabkan emiten dihapus secara paksa oleh otoritas bursa saham juga dapat dilakukan ketika perusahaan publik yang terdaftar di bursa saham mengalami masalah kepailitan yang ditetapkan oleh pengadilan yang dapat menjadi masalah yang dapat mempengaruhi keuputusan investor dalam melakukan inve stasi di pasar modal.
Permasalahan kepailitan yang dialami oleh perusahaan merupakan ketika terjadi sita umum atas semua kekayaan Debitur Pailit yang pengurusan dn pemberesannya
101
dilakukan oleh curator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang.102
Utang yang dilakukan oleh perusaahaan merupakan kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun tidak langsung maupun yang akan timbul di kemudian hari atau kontijen, yang akan timbul karena perjanjian atau undang-undang dan wajib dipenuhi oleh debitor dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada kreditor untuk mendapatkan pemenuhannya untuk dari harta kekayaan debitor.
Secara umum masalah kepailtan ini berhubungan dengan utang yang dilakukan oleh perusahaan publik yang tidak dapat dihindari dan merupakan bagian kegiatan yang tidak dapat dihindari oleh perusahaan.
103