Beramal Tanpa Bimbingan Guru
Firman Allah surat al-A‘raaf ayat 201. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-
kesalahannya” QS.Al-A‟raaf:7/201. Yang dimaksud dengan “Thooifum minasy-
Syaithon” atau was-was dari setan dari ayat di atas, bentuk wujudnya kadang-kadang berupa bisikan di dalam hati manusia di luar bisikan hatinya sendiri. Bisikan itu terkadang bahkan dirasakan lebih dominan daripada bisikan hatinya sendiri.
Seperti orang melihat orang lain misalnya, menurut penilaiannya, orang yang dilihat itu adalah orang baik, karena secara lahir orang tersebut saat itu sedang berbuat kebajikan. Namun bisikan hati itu berkata lain. Katanya, meski secara lahir orang tersebut sedang
“RUQYAH” dampak dan bahayanya - 41
melakukan sholat dan bershodaqoh, sejatinya hatinya penuh dengan riya‘ dan kemunafikan.
Dengan bisikan seperti itu, hati orang tersebut menjadi bingung, karena akalnya berkata A sedangkan hatinya berkata B. Terjadi perang batin yang berkepanjangan di dalam isi dadanya sendiri. Semakin lama perang batin itu menjadi semakin berkecamuk sehingga orang tersebut tidak sempat memikirkan urusan yang lain. Klimaksnya, ketika kebingungan itu semakin memuncak akhirnya orang tersebut tidak sadarkan diri dan kesurupan jin. Apabila keadaan tersebut tidak segera mendapatkan pengobatan yang benar, orang yang dihantui kebingungan itu lama-lama bisa jadi menjadi gila.
Tanda-tanda awalnya, adanya perubahan yang mencolok dalam prilaku hidup orang tersebut. Seorang yang asalnya periang mendadak menjadi pendiam, tidak suka bicara dan bergaul dengan orang lain, sering mengurung diri di dalam kamar dan berbicara sendiri. Merasa benar sendiri sehingga selalu menolak setiap pendapat orang lain.
Kadang-kadang mengaku didatangi ruh para Wali, bahkan katanya mendapat ilmu langsung dari para Wali dan para Nabi. Para wali
dan para Nabi itu diakui datang sendiri ke kamarnya. Yang lebih parah lagi, diantara mereka ada yang mengaku pernah bertemu langsung dengan Allah. Mereka melaksanakan mi‘roj seperti mi‘rojnya Baginda Nabi dan mendapat wahyu dari-Nya. Ketika penyakit itu semakin parah, mereka kemudian meninggalkan seluruh pemilikan duniawinya, bahkan anak istri dan keluarganya yang dahulu sangat dicintai. Menjadi musafir selama hidupnya, berjalan sepanjang jalan tidak tentu arah dan tujuan.
Banyak kasus seperti ini kita temui di masyarakat. Anehnya kebanyakan orang yang terkena penyakit seperti itu justru dari kalangan orang yang ahli wirid-wirid khusus dan mujahadah di tempat-tempat sepi. Mengapa demikian..? Karena wirid-wirid khusus dan mujahadah yang ditekuni itu dilaksanakan tanpa mendapat bimbingan dari seorang guru ahlinya, yaitu guru- guru mursyid sejati yang dapat mentarbiyah kehidupan ruhani manusia.
Hal itu, karena wirid-wirid dan mujahadah itu hanya didasari kemauan emosional dan rasional belaka yang ujung-ujungnya duniawi sehingga kehidupan spiritual (ruhani) manusia menjadi gersang. Dengan yang demikian itu, setan jin terfasilitasi masuk ke wilayah kesadaran
“RUQYAH” dampak dan bahayanya - 43
manusia untuk menjadi pembimbing ibadah dengan memanfaatkan lemahnya perlindungan rasional kerena saat itu wilayah rasional sedang terdesak dorongan emosional.
Konkritnya, ketika rasional manusia dalam kondisi lemah akibat terdesak intensitas emosional yang sedang memuncak,—meski itu akibat konsentrasi di dalam membaca kalimat dzikir atau ayat-ayat al-Qur‘an, sehingga keadaan manusia menjadi sadar dan tidak sadar, saat-saat seperti itulah yang sangat ditunggu setan jin untuk memasukkan sulthon (tehnologi) nya di dalam jiwa manusia,—di saat wilayah rasional itu menjadi terluka akibat desakan emosional. Dengan tehnologi ghaib itu setan jin kemudian mengirimkan sinyal was-wasnya kepada manusia dari jarak jauh.
Hakikat di balik rahasia kejadian seperti itulah yang disinyalir Rasulullah dengan sabdanya yang artinya: “Barang siapa beramal tanpa guru maka gurunya adalah setan”. Perhatikan dengan seksama karena hal ini adalah urusan yang samar dan halus yang harus mendapatkan perhatian bagi orang yang tekun menjalankan mujahadah. Urusan pelik yang tidak banyak diketahui dan dimengerti oleh kalangan awam.
Kebanyakan kalangan awam itu mengira, asal sudah melaksanakan ibadah atau membaca ayat-ayat suci al-Qur‘an berarti mereka akan menjadi orang baik. Padahal sejatinya tidaklah demikian. Justru saat orang beribadah dengan tekun itu berarti mereka sedang pasang badan untuk menjadi musuh setan. Oleh karenanya, orang yang sedang beribadah itulah yang menjadi target operasi setan yang paling utama.
Dalam hal ini setan tidak harus menghalangi mereka untuk meninggalkan ibadahnya, tapi dengan ibadah itu bagaimana mereka masuk neraka. Yaitu ketika dengan ibadah itu hati orang malah menjadi sombong. Merasa benar sendiri dan paling sesuai dengan syari‘at agama Islam, sehingga pelaksanaan ruqyah yang sedang marak itu, oleh pelaksananya dinamakan “ruqyah
syar‟iyyah” sedangkan ruqyah yang dilaksanakan orang lain yang caranya tidak sama dengan cara mereka—hanya karena mereka belum mengerti ilmunya, dikatakan ruqyah yang berbau syirik atau “ruqyah syirkiyyah”. Demikianlah fenomena telah berbicara, maka setan menjadi betah tinggal bersama orang-orang sombong.
Adapun maksud ayat di atas: “Orang yang bertakwa kepada Allah apabila sedang dirimpa was-was dari setan, maka berdzikirlah (tadzakkaruu.)QS.Al-
“RUQYAH” dampak dan bahayanya - 45
A‟raaf:7/201. Yang dimaksud berdzikir itu, boleh jadi dengan sholat, dengan membaca kalimah thoyyibah atau wirid-wirid dan dengan membaca ayat-ayat suci al-Qur‘an al-Karim. Dengan dzikir dan wirid itu supaya mereka menjadi sadar sehingga mengetahui terhadap sesuatu yang terjadi pada diri mereka.
Maksudnya, dengan membaca ayat-ayat suci al-Qur‘an al-Karim itu, seharusnya orang yang jasadnya sedang terserang penyakit jin atau orang yang sedang kesurupan jin menjadi sadar, tidak malah sebaliknya. Orang yang sehat wal afiat dan sadar menjadi hilang ingatan atau gila karena sedang kesurupan jin walau sebentar, bahkan muntah-muntah dan mengotori masjid dengan air kencing yang najis. Bukankah yang demikian itu berarti memasukkan penyakit dan barang najis baik di dalam tubuh manusia maupun di tempat ibadah, bukan mengeluarkannya? Mengapa yang demikian itu dikatakan “ruqyah syar‟iyyah”?
Contoh kasus yang lain: Suatu saat datang kepada penulis seseorang yang lahirnya kelihatan segar-bugar dan sewat wal afiat, akan tetapi dia mengaku sakit. Penyakitnya itu bukan di dalam jiwanya bukan di dalam kesadarannya, akan tetapi di saat-saat tertentu di dalam dadanya didatangi tamu aneh yang tidak diundang.
Ceritanya, akhir-akhir ini dia dibuat bingung oleh bisikan yang bersumber dari dalam dadanya sendiri. Awalnya ada bisikan kalimat “Lailaha
illallah”, dzikir ghaib itu berbunyi sendiri di luar kemauannya.
Awalnya dia senang, betapa tidak, kalimat dzikir itu seakan-akan pengingat dari Allah supaya dia selalu ingat kepada-Nya, karena dia memang orang yang ahli mujahadah bahkan kadang-kadang dengan melaksanakan kholwat di tempat-tempat yang sepi seorang diri. Kehadiran dzikir ghaib di dalam dadanya itu disambut dengan positif. Akan tetapi lama-kelamaan dzikir ghaib itu ritmenya semakin meningkat bahkan akhirnya hampir-hampir mendominasi seluruh waktu hidupnya sehingga kehidupannya menjadi terganggu, bahkan yang terakhir setiap malam hampir tidak dapat tidur sama sekali.
Saat itulah dia mulai sadar bahwa yang sedang dialami itu bukan hal yang positif akan tetapi negatif. Walaupun dengan adanya bisikan dzikir ghaib itu dia banyak mendapat kelebihan yang dapat dipergunakan untuk membantu dan menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongannya. Sayangnya kesadaran itu sudah terlambat, hidupnya sudah terlanjur dikuasai oleh bisikan ghaib yang tidak diketahui asal-usulnya
“RUQYAH” dampak dan bahayanya - 47
itu. Alhamdulillah berkat kemauannya yang kuat untuk mengobati dirinya sendiri dan pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang mau bertaubat, dengan terapi latihan panjang, akhirnya dia sekarang terbebas dari bisikan kalimat dzikir yang telah menyiksa itu.
Mengapa ada kejadian seperti itu…? Penyebabnya sejatinya sama, orang tersebut senang beramal dengan amalan khusus (wirid- wirid khusus) akan tetapi dilaksanakan dengan tanpa guru ruhaniyah yang membimbing. Oleh karena itu, tidak selalu menjadi jaminan bahwa dzikir dengan kalimat “Lailaha illallah“ sekalipun atau bacaan ayat-ayat suci al-Qur‘an al-Karim, dapat menjadi obat bagi manusia manakala cara membacanya tidak benar. Seperti orang naik sepeda motor, seharusnya sepeda motor itu sebagai sarana untuk membantu mempermudah hidup manusia, manakala dikendarai oleh orang yang belum ahli dalam mengendarai sepeda motor, maka boleh jadi sepeda motor itu dapat mempercepat kematian.
Seharusnya orang-orang yang seperti contoh di atas itulah yang diruqyah supaya penyakit yang ada dalam hati mereka menjadi sembuh, dan penderitaannya menjadi sirna. Ruqyah bukan untuk melukai kesadaran orang yang sehat
menjadi kemasukan makhluk jin, menjadi hilang ingatan atau gila walau sebentar. Kalau seandainya saat itu orang yang kesurupan jin pasca di ruqyah itu tidak dapat disembuhkan, siapa yang akan bertanggungjawab dari aib yang memalukan itu….?
“RUQYAH” dampak dan bahayanya - 49