• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM HAK CIPTA DALAM DUNIA DIGITAL

C. HAK CIPTA DALAM DUNIA DIGITAL

2. BEBERAPA ALASAN MASYARAKAT UNTUK

Terlepas dari fakta bahwa aturan hak cipta bertujuan untuk melindungi kepentingan seniman dan memberikan kontribusi terhadap ekspresi kreatif, aturan hak cipta tidak populer dalam konteks praktek saling berbagi berkas

64Freeware, <http://en.wikipedia.org/wiki/Freeware>, paragraf 1, diakses tanggal 22 Juni 2008.

digital. Terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa masyarakat umum memandang praktek berbagi berkas secara ilegal untuk kepentingan pribadi adalah sesuatu yang dapat diterima secara moral. Penerimaan ini terutama sangat terlihat pada masyarakat muda.

Penerimaan terhadap sebuah aksi pelanggaran hukum seperti ini tentu tidak akan terjadi tanpa adanya suatu penyebab. Setidaknya pastilah terdapat suatu pemicu atau alasan yang melatarbelakangi justifikasi dan penerimaan atas pelanggaran hukum tesebut.

Berikut adalah beberapa alasan yang menjustifikasi tindakan pelanggaran hak cipta di dunia digital tersebut:65

1. Intangible as Free. banyak orang sulit melihat hal yang salah dari ‘pencurian’ tehadap aset yang tidak terlihat (intangible assets). Benda-benda yang dilindungi oleh hak cipta umumnya merupakan benda tidak berwujud. Bahkan berdasarkan survei yang dilakukan pada tahun 2000 oleh polling Pew Internet and American Life Project, 78% dari seluruh pengguna internet menganggap kegiatan mengunduh lagu bukan

65Yuval Feldman and Janice Nadler, op. cit., hlm. 585.

merupakan kegiatan pencurian.66 Opini masyarakat umum bahkan terbagi menjadi dua, setengah menganggap kegiatan pengunduhan secara moral dibolehkan dan setengahnya lagi menganggap sebaliknya berdasarkan survey yang dilakukan oleh Edison Media Research pada tahun 2002.67 Kemudahan berkas digital untuk dipindahtangankan mungkin telah membuat masyarakat lupa bahwa berkas digital dapat dilindungi juga hak ciptanya.

2. The Internet as Free. internet muncul dari budaya penelitian dimana segala informasi bebas untuk dibagi-bagikan.68 Cara pandang tersebut masih dapat ditemukan pada jutaan pengguna internet yang secara rutin mengunduh musik ke dalam komputer mereka.

Berdasarkan sejarah, internet merepresentasikan teknologi yang bersifat distributif. Internet

66Lior Jacob Strahilevitz, Charismatic Code, Social Norms, and the Emergence of Cooperation on the File-Swapping Networks, 89 Virginia Law Review, 505, 542-43 (2003), sebagaimana dikutip oleh Ibid.

67Ibid.

68Steve Lohr, Ideas & Trends: The Sharing Society; In the Age of the Internet, Whatever Will Be Will Be Free, N.Y. Times, Sept. 14, 2003, § 4, at 1, sebagaimana dikutip oleh Ibid.

memungkinkan setiap penggunanya menjadi distributor massal dari hampir apapun yang dapat diubah formatnya menjadi format digital dari film, fotografi dan tentu saja musik. Kaum muda terutama mahasiswa, yang paling banyak bersentuhan dengan internet tumbuh dengan perspektif internet sebagai cara untuk mengakses apa saja secara cuma-cuma.

3. Privacy, Convenience, and Lack of Alternatives.

Bagi banyak orang, internet merupakan sumber termudah dan ternyaman untuk mendapatkan musik dan produk media lainnya seperti film dan video. Hanya dengan duduk di depan komputer seseorang dapat dengan mudah mendengarkan musik dan film rilisan terbaru. Namun mereka seringkali tidak terpuaskan dengan musik yang ditawarkan secara online oleh industri musik. Mereka melihat bahwa musik yang ditawarkan secara online oleh industri musik sangat terbatas, terutama jika dibandingkan dengan banyaknya jenis musik yang bisa didapatkan dengan berbagi berkas musik melalui internet (file sharing).

4. Experimentation. Banyak konsumen menganggap dengan mengunduh dan bertukar musik melalui internet merupakan cara yang lebih bijak dalam membuat keputusan dalam membeli sebuah album. Daripada setelah membeli ternyata mereka kecewa karena album yang mereka beli tidak memuaskan, maka mereka lebih baik memilih untuk mendengarkannya terlebih dahulu sebelum membelinya.

5. Perceptions of Legality. Di Amerika Serikat survey menunjukkan bahwa masyarakat menganggap bahwa aktivitas berbagi berkas digital melalui internet bukanlah merupakan pelanggaran hukum. Hal ini disebabkan oleh pandangan masyarakat yang masih terpaku pada kasus situs Napster, kasus pelanggaran hak cipta di internet dengan skala besar yang pertama kali terjadi. Masyarakat melihat bahwa situs Napster memang melanggar hak cipta dan akhirnya ditutup karena pelanggarannya tersebut. Jika benar begitu, maka situs lainnya yang tidak ditutup berarti tidak bersalah. Karena masyarakat awam salah

persepsi mengira bahwa jika situs lainnya bersalah maka pasti akan ditutup juga.

6. Perceptions of Recording Industry Greed, satu argumen populer untuk menjustifikasi aksi saling bertukar berkas di internet adalah persepsi bahwa industri rekaman menghargai produk jualan mereka dengan harga yang terlampau tinggi. Persepsi ini semakin diperparah lagi dengan kepercayaan bahwa industri rekaman mengekspoitasi para musisi dan musisi tersebut tidak mendapat keuntungan yang seimbang dengan yang didapatkan oleh industri rekaman. Jika labanya ditujukan untuk musisi, mungkin para pengguna internet akan lebih berpikir panjang untuk melakukan pelanggaran.69

Jika diperhatikan, alasan-alasan tersebut di atas lebih banyak terkait dengan pelanggaran hak cipta atas musik dan produk audiovisual. Hal ini karena memang kedua hal tersebutlah yang paling dekat dengan kaum muda sebagai mayoritas pengguna internet.

69John Leland, Praise God and Pass the Music Files, N.Y. Times, Apr. 25, 2004, § 4, at 4., sebagaimana dikutip oleh Ibid.

Alasan-alasan tersebut di atas tentu tidak sepenuhnya sahih dan tidak didasarkan pada alasan yuridis. Beberapa di antaranya bahkan hanyalah merupakan persepsi-persepsi masyarakat umum yang belum tentu benar, sehingga tidak dapat dijadikan justifikasi yang tepat.

Namun menurut hemat penulis alasan-alasan tersebut penting untuk ditampilkan sekedar untuk mengetahui apa sebenarnya yang dipikirkan oleh orang-orang tersebut ketika mereka melanggar hak cipta. Dengan demikian kita dapat melihat sisi lain dari fenomena pelanggaran hak cipta di dunia digital, yaitu dari sisi pelanggarnya sendiri dan membuat kita dapat memandang fenomena ini dengan perspektif yang lebih obyektif.

BAB III

INSTRUMEN HUKUM INTERNASIONAL YANG MENJADI DASAR PERLINDUNGAN RIGHTS OF REPRODUCTION DAN RIGHTS OF

DISTRIBUTION DALAM DUNIA DIGITAL

Mengingat bahwa permasalahan pelanggaran hak cipta di dunia digital ini telah menjadi masalah yang berskala internasional, maka hukum internasional berperan besar dalam perlindungan hak cipta. Hukum internasional menjadi sumber hukum bagi negara-negara di dunia dalam pengaturan perlindungan hak cipta di tingkat nasional masing-masing negara.

Instrumen hukum internasional yang menjadi rujukan pengaturan hak cipta di dunia internasional adalah berbagai konvensi dan traktat internasional seperti Berne

Convention, Universal Copyright Convention, TRIPs, dan WIPO Copyright Treaty.

A. BERNE CONVENTION FOR THE PROTECTION OF LITERARY AND ARTISTIC WORKS

Berne Convention lahir pada tanggal 9 September 1886, dilengkapi di Paris, 4 Mei 1896, direvisi lagi di Berlin 13 November 1908, dilengkapi di Berne 20 Maret 1914, serta direvisi berturut-turut di Roma (2 Juni 1928), Brussels (26 Juni 1948), Stockholm (14 Juli 1967) dan Paris (29 Juli 1971), serta diubah 28 September 1979.70

Berne Convention merupakan perjanjian internasional yang tertua dan konvensi utama internasional berkenaan dengan perlindungan hak cipta dan masih merupakan dasar dari sistem hak cipta internasional yang mengemukakan standar-standar minimum bagi perlindungan hak cipta yang harus diberikan oleh masing-masing negara anggota dalam peraturan nasional negara masing-masing.71 Konvensi ini

70Achmad Zen Umar Purba, Hak Kekayaan Intelektual Pasca TRIPs, (Bandung: Alumni, 2005), hlm. 44.

71Alhaji tejan-Cole, From Berne to Belize: the Berne Convention as the Most Effective Tool for Protecting Copyright in the Carribbean, artikel yang dimuat dalam Copyright World, Edisi 131 June (London:

merupakan perjanjian multinasional pertama yang memberikan perlindungan hak cipta kepada semua negara pesertanya selama penciptanya memiliki hubungan personal dengan negara peserta konvensi atau karya tersebut pertama kali diterbitkan di salah satu negara peserta kovensi.72

Berne Convention diadopsi untuk membantu terciptanya keseragaman traktat bilateral yang berbeda yang ada pada abad kesembilan belas.73 Dalam preamblenya dinyatakan bahwa tujuan konvensi ini adalah:

“...to protect, in as effective and uniform a manner as possible, the rights of authors in their literary and artistic works”.

Adapun dalam Berne Convention telah disepakati untuk membentuk sebuah biro untuk mengatur hal-hal administrastif dalam pelaksanaan konvensi tersebut. Biro tersebut digabungkan dengan biro lainnya yang juga dibentuk oleh

Informa Law Publishing, 2003), hal 17. Lihat juga Paul Torremans dan Jon Holyoak, Intellectual Property Law, Edisi 2 (London: Butterworth), hal. 29. Lihat juga Coenraad Visser dan Tana Pistorius, Essential Copyright Law, University of South Africa/WIPO Worldwide Academy, hal.

1, 2 dan 4, sebagaimana dikutip oleh Cita Citrawinda Priapantja (a), Hak Kekayaan Intelektual: Tantangan Masa Depan, (Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum, 2003), hlm 11.

72Michael Edenborough, op.cit., hlm. 14.

73Cita Citrawinda Priapantja (a), op. cit., hlm. 11.

Paris Convention for the Protection of Industrial Property dan kemudian gabungan dari keduanya dinamakan United International Bureaux for the Protection of Intellectual Property atau yang biasa disebut BIRPI.

Hingga kini jumlah pesertanya telah mencapai 163 negara dengan Brunei Darussalam sebagai negara terakhir yang memberlakukan konvensi ini pada tanggal 30 Agustus 2006.74

Konsepsi perlindungan hukum terhadap hak cipta yang digunakan oleh Berne Convention adalah konsepsi hukum alam, dimana Perancis saat itu memberi perlindungan terhadap hak cipta kepada karya cipta dengan berangkat dari pemikiran bahwa hak cipta merupakan hak alamiah yang dimiliki pencipta terhadap karyanya.75

Tiga prinsip utama dari Berne Convention adalah:76

74WIPO (a), “Contracting Parties”, <http://www.wipo.int/treaties/

en/ShowResults.jsp?treaty_id=15> , diakses tanggal 1 Desember 2007.

75Roberto Garza Barbosa, “Revisiting International Copyright Law”, Barry Law Review, vol. 8, 2007, hlm. 46.

76WIPO (b), “Summary of the Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works (1886)”, <http://www.wipo.int/treaties/

en/ip/berne/su mmary_berne.html>, diakses tanggal 1 Desember 2007.

1. Prinsip National Treatment, artinya perlindungan yang diberikan oleh suatu negara haruslah sama antara suatu karya yang berasal dari negaranya sendiri dengan karya yang berasal dari negara lain.

2. Prinsip pemberian perlindungan secara otomatis, artinya perlindungan diberikan tanpa ada prosedur tertentu. Tidak seperti paten dan merek yang harus didaftarkan terlebih dahulu, hak cipta langsung timbul seketika atas suatu karya.

3. Prinsip independensi perlindungan, artinya perlindungan yang diberikan di satu negara peserta konvensi tidak serta merta membuat negara peseta konvensi lainnya harus memberikan perlindungan yang sama juga. Dalam konteks hak cipta, misalnya suatu karya diterbitkan di negara A dan hukum dari negara A tersebut memberikan perlindungan hingga selama 70 tahun setelah penciptanya meninggal, maka negara B yang menganut perlindungan hingga selama 50 tahun setelah penciptanya meninggal (batas

minimum yang ditetapkan oleh Berne Convention)77 tidak diwajibkan untuk memberikan perlindungan hingga 70 tahun setelah penciptanya meninggal.

Perbedaan durasi perlindungan ini dimungkinkan oleh adanya aturan bagi negara peserta konvensi untuk memberikan durasi perlindungan yang lebih lama dari yang diatur di dalam konvensi.78

Berne Convention melindungi semua jenis karya ekspresi baik di bidang literatur, ilmiah dan seni.79 Begitu juga halnya dengan karya terjemahan, adaptasi, aransemen musik dan perubahan lainnya dari sebuah karya yang sudah ada shall not preclude the making of a claim to the benefit of any greater protection which may be granted by legislation in a country of the Union.”

79Pasal 2 (1) Berne Convention, “The expression “literary and artistic works” shall include every production in the literary, scientific and artistic domain, whatever may be the mode or form of its expression, such as books, pamphlets and other writings; lectures, addresses, sermons and other works of the same nature; dramatic or dramatico-musical works; choreographic works and entertainments in dumb show; musical compositions with or without words; cinematographic works to which are assimilated works expressed by a process analogous to cinematography; works of drawing, painting, architecture, sculpture, engraving and lithography; photographic works to which are assimilated works expressed by a process analogous to photography; works of applied art; illustrations, maps, plans, sketches and three-dimensional works relative to geography, topography, architecture or science.”

sebelumnya80 serta koleksi, ensiklopedi dan antologi.81 Untuk tiga bentuk yang terakhir ini dengan catatan bahwa jika isinya mengandung kekayaan intelelektual karya pencipta lain maka hak pencipta lain tersebut tidak boleh dilanggar, artinya pemuatan karya dari pencipta lainnya tersebut harus dengan seizin penciptanya.

Dalam kaitannya dengan pembahasan skripsi ini, tidak semua benda yang dilindungi oleh Berne Convention dapat diubah formatnya menjadi bentuk digital. Karya-karya yang bersifat tiga dimensi tentu tidak diubah ke dalam bentuk digital. Kecuali jika masih berbentuk karya dua dimensi seperti sketsa dan ilustrasi sehingga dapat dipindai dan disimpan dalam bentuk digital. Begitu juga halnya dengan lukisan, pamflet, brosur, foto dan karya literatur seperti buku dan notasi musik.

Untuk karya musik, drama dan koreografi, hanya jika telah direkam saja dalam bentuk rekaman audio dan

80Pasal 2 (3) Berne Convention, “Translations, adaptations, arrangements of music and other alterations of a literary or artistic work shall be protected as original works without prejudice to the copyright in the original work.”

81Pasal 2 (5) Berne Convention, “Collections of literary or artistic works such as encyclopaedias and anthologies which, by reason of the selection and arrangement of their contents, constitute intellectual creations shall be protected as such, without prejudice to the copyright in each of the works forming part of such collections.”

audiovisual maka karya-karya tersebut dapat diubah ke bentuk digital. Misalnya direkam ke dalam cakram padat.

Mengenai bentuk dari karya ciptaan ini terdapat ketentuan yang menyerahkan pilihan pada negara peserta konvensi apakah karya yang dilindungi tersebut harus sudah memiliki bentuk (fixed in some material form) atau tidak.82 Umumnya, hak cipta atas suatu karya baru muncul setelah dapat dikenali bentuk dari karya tersebut. Misalnya, sebuah lagu baru akan dilindungi hak ciptanya jika telah direkam atau dituliskan notasi nadanya. Negara peserta konvensi dibebaskan untuk menerapkan atau tidak menerapkan keharusan untuk memiliki bentuk ini.

1. RIGHTS OF REPRODUCTION DALAM BERNE CONVENTION FOR THE PROTECTION OF LITERARY AND ARTISTIC WORKS

Mengenai pengaturan Rights of Reproduction, Pasal 9 mengatur bahwa pemegang hak cipta atas suatu karya memiliki Rights of Reproduction yang eksklusif terhadap karya-karya

82Pasal 2 (2) Berne Convention, “It shall, however, be a matter for legislation in the countries of the Union to prescribe that works in general or any specified categories of works shall not be protected unless they have been fixed in some material form.”

mereka dalam bentuk apapun.83 Ini artinya termasuk di dalamnya adalah reproduksi sebuah karya dalam bentuk digital meskipun karya aslinya bukan dalam bentuk digital (dalam bentuk fisik).

Misalnya seorang pembeli buku membuat bentuk digital dari buku yang dibelinya dengan menggunakan scanner, ini berarti orang tersebut telah melakukan kegiatan reproduction atas suatu karya yang bukan karyanya.

Pada pasal 9 (3) disebutkan lebih jauh bahwa segala jenis rekaman suara atau gambar dapat dikategorikan sebagai hasil penggandaan (reproduksi) dari sebuah karya.84 Ini berarti bahwa sekecil apapun perekaman yang dilakukan, kegiatan tersebut tetap dapat dikategorikan sebagai kegiatan reproduction.

Selanjutnya diatur bahwa hasil penggandaan suatu karya cipta yang secara tidak sah atau tidak atas izin pemilik hak cipta harus selalu dapat disita oleh pihak yang

83Pasal 9 (1) Berne Convention, “Authors of literary and artistic works protected by this Convention shall have the exclusive right of authorizing the reproduction of these works, in any manner or form.”

84Pasal 9 (3) Berne Convention, “Any sound or visual recording shall be considered as a reproduction for the purposes of this Convention.”

berwajib.85 Aturan ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyita hasil penggandaan tanpa hak, termasuk di dalamnya adalah penggandaan dengan menggunakan teknologi digital.

Mengenai prosedurnya ditentukan sendiri oleh tiap-tiap otoritas yang terdapat di negara masing-masing.86

Namun pada pelaksanaannya di dunia digital, sangat sulit untuk menyita setiap hasil penggandaan yang tidak berhak. Akan sangat tidak realistis untuk memeriksa isi komputer seluruh warga di suatu negara dan mencari serta menyita karya seperti misalnya lagu atau gambar yang disimpan dalam bentuk digital dan merupakan hasil dari penggandaan tanpa hak.

2. RIGHTS OF DISTRIBUTION DALAM BERNE CONVENTION FOR THE PROTECTION OF LITERARY AND ARTISTIC WORKS

Mengenai Rights of Distribution pada dasarnya tidak diatur secara khusus dalam konvensi ini. Namun disebutkan dalam pasal 17 bahwa negara peserta konvensi berhak untuk

85Pasal 16 (1) Berne Convention, “Infringing copies of a work shall be liable to seizure in any country of the Union where the work enjoys legal protection.”

86Pasal 16 (3) Berne Convention, “The seizure shall take place in accordance with the legislation of each country.”

melarang atau membolehkan sirkulasi karya cipta sepanjang pihak yang berwajib merasa perlu.87 Ini merupakan dasar bagi larangan distribusi dari karya ciptaan yang melanggar hak.

Distribusi karya ciptaan yang merupakan hasil penggandaan tanpa hak tentu dapat menjadi alasan bagi pihak yang berwajib untuk merasa perlu melarangnya.

B. UNIVERSAL COPYRIGHT CONVENTION

Universal Copyright Convention (UCC) adalah perjanjian internasional mengenai perlindungan hak cipta di antara negara-negara yang tidak setuju dengan aturan-aturan dalam Berne Convention. Konvensi ini diadopsi di Jenewa pada tanggal 6 September 1952 dan direvisi di Paris pada tanggal 24 Juli 1971.

Pembentukan UCC memang dibuat dengan tujuan awal sebagai konvensi alternatif selain dari Berne Convention.88 Pembentukan konvensi ini diprakarsai terutama oleh Amerika

87Pasal 17 Berne Convention, “The provisions of this Convention cannot in any way affect the right of the Government of each country of the Union to permit, to control, or to prohibit, by legislation or regulation, the circulation, presentation, or exhibition of any work or production in regard to which the competent authority may find it necessary to exercise that right.”

88Timm Neu, “Bollywood is Coming! Copyright and Film Industry Issues Regarding International Film Co-Productions Involving India”, San Diego International Law Journal, vol. 8, 2006, hlm. 135.

Serikat yang saat itu belum menjadi anggota dari Berne Convention.

Peraturan hak cipta di Amerika Serikat saat itu memang tidak memberikan perlindungan kepada karya-karya dari luar negeri, sehingga ketika sejumlah negara membentuk Berne Convention di tahun 1886 Amerika Serikat tidak ikut berpartisipasi di dalamnya.89 Berne Convention menganut prinsip National Treatment sehingga hak cipta atas karya dari luar negeri haruslah juga dilindungi sama halnya dengan karya cipta yang berasal dari dalam negeri.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak dapat bergabung dengan Berne Convention karena terdapat beberapa aturan lainnya dalam lingkup hak cipta yang tidak sesuai dengan ketentuan Berne Convention.

Namun begitu akhirnya dirasakan oleh Amerika Serikat tuntutan kebutuhan akan adanya suatu sistem perlindungan hak cipta yang bersifat global. Perjanjian-perjanjian bilateral yang dibuat tersebut tadi dianggap sudah tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan perlindungan atas hak cipta.

89Seth M. Goldstein, “Hitchcock’s "Rear Window" & International Copyright Law: An Examination of Stewart V. Abend & Its Affect on International Copyright Renewal and Exploitation”, Cardozo Journal of International and Comparative Law, vol. 14, 2006, hlm. 258

Karena Amerika Serikat tidak dapat bergabung dengan Berne Convention, akhirnya atas dukungan dari UNESCO, dibetuklah UCC yang menetapkan standar lebih rendah dari Berne Convention.

Tujuan utama dari UCC adalah untuk menciptakan suatu sistem perlindungan hak cipta secara internasional di antara negara-negara yang belum meratifikasi Berne Convention, yaitu negara-negara yang menganggap Berne Convention memiliki ketentuan standar minimum yang terlalu ketat.90

Pembeda utama konvensi ini dengan pesaingnya, Berne Convention, adalah tentu saja aturan yang lebih lebih longgar. Hal ini dapat kita lihat dari ketentuan yang menyatakan bahwa negara peserta konvensi hanya diwajibkan untuk menyediakan perlindungan hak cipta yang adequate and effective.91 Sedangkan tidak ada penjelasan mengenai seperti apakah perlindungan yang adequate dan effective itu.

90Roberto Garza Barbosa, op. cit., 2007, hlm. 43.

91Pasal 1 UCC, “Each Contracting State undertakes to provide for the adequate and effective protection of the rights of authors and other copyright proprietors in literary, scientific and artistic works, including writings, musical, dramatic and cinematographic works, and paintings, engravings and sculpture.”

Hal ini dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda di antara negara peserta konvensi. Oleh karena itu bisa saja terjadi perlindungan di satu negara lebih rendah dibandingkan di negara lainnya.

Mengenai jenis karya yang dilindungi oleh konvensi ini adalah karya literatur, musik, karya drama dan sinematografi, lukisan, pahatan dan patung.92 Tentu saja tidak semua dari jenis karya tersebut dapat diubah formatnya menjadi digital, seperti pahatan dan patung misalnya.

1. RIGHTS OF REPRODUCTION DALAM UNIVERSAL COPYRIGHT CONVENTION

1. RIGHTS OF REPRODUCTION DALAM UNIVERSAL COPYRIGHT CONVENTION

Dokumen terkait