• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN HUKUM MENGENAI PERKAWINAN

B. Tinjauan Umum Tentang Perceraian

2. Alasan Perceraian dan Akibat Hukum Perceraian

Setiap perceraian yang terjadi tentu didasari atau dilatarbelakangi dengan berbagai permasalahan yang terjadi dalam perkawinan. Perceraian yang tanpa

42 Lihat Kompilasi Hukum Islam tentang pada BAB XVI Tentang Putusnya Perkawinan, BAB XVII Tentang Akibat Putusnya Perkawinan.

alasan adalah perceraian yang hukumnya haram. Dalam fikih tidak disebutkan terperinci tentang alasan-alasan yang menyebabkan perceraian, akan tetapi dijelaskan tentang beberapa tindakan yang bisa menyebabkan perceraian dalam Islam adalah sebagai berikut :

1) Khulu’

Khulu’ secara etimologi berarti melepaskan. Sedangkan menurut terminologi berarti perceraian dengan ganti atau tebusan yang diambil dari pihak suami.Khulu’ hanya dapat dilakukan bila ada sebab-sebab yang menghendakinya, antara lain seperti suami jelek perangainya atau suami tidak memenuhi hak-hak istri dan disatu sisi istri kuatir tidak dapat melaksanakan kewajibannya. Jika tidak ada sebab-sebab yang menghendakinya khulu’ itu tidak diperbolehkan.Meskipun suami mengembalikan kepada istri apa yang telah diambilnya dari istri, dan istri menerimanya, tidak juga boleh bagi suami rujuk pada masa iddah karena istri telah lepas dari suami dengan semata-mata khulu’ itu.

Akibat Khulu' dalam Pasal 161 kompilasi diterangkan bahwa "perceraian dengan jalan khulu' mengurangi jumlah talak dan tak dapat dirujuk".Menurut jumhur ulama, bila suami mengkhulu' istrinya, maka istri menjadi bebas sehingga semua urusan terserah padanya, namun suami tidak boleh merujuknya, ini disebabkan pihak istri yang telah memberikan hartanya untuk membebaskannya dari ikatan perkawinan.

2) Syiqaq

Syiqaq yaitu perselisihan atau permusuhan. Kata syiqaqberasal dari asal kata “Asy Syiqqu” dengan arti “sisi”. Adanya perselisihan suami istri itu disebut sisi, karena masing-masing pihak yang berselisih itu berada pada sisi yang

berlainan disebabkan adanya perlawanan atau pertentangan. Apabila terjadi syiqaq antara suami istri dan boleh jadi menjadi pertengkaran dan khawatir akan terjadi perceraian sedang kehidupan suami istri dihadapkan pada ambang pintu kehancuran, maka hakim mengutus dua orang hakam untuk memeriksa masalah kepada suami istri itu. Dan kedua hakam itu melakukan hal-hal yang dianggap maslahat, demi untuk kekalnya perkawinan atau mungkin juga memutuskan perkawinan itu.

Seorang hakam yang diangkat haruslah laki-laki dan pengangkatannya tidak dibutuhkan persetujuan suami istri yang bersangkutan. Keduanya diangkat dan menetapkan apa yang dipandangnya baik antara mempertahankan perkawinan tersebut atau memisahkannya. Para fuqaha’ telah sepakat bahwa kedua orang hakam tersebut harus dari keluarga suami istri, yakni satu dari pihak suami dan satu dari pihak istri. Kecuali dari pihak keluarga tidak ada, maka diangkat orang lain. Sebagaimana dalam Surah an-Nisa’ ayat 35, yang berbunyi :

Artinya: Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Tugas dan syarat-syarat orang yang boleh diangkat menjadi hakam menurut syeikh Abdul Aziz Al Khuli ialah:

(a) Berlaku adil diantara pihak yang berperkara

(b) Dengan ikhlas berusaha untuk mendamaikan suami istri itu (c) Kedua hakam disegani oleh kedua belah pihak suami istri

(d) Hendaklah berpihak kepada yang teraniaya/dirugikan apabila pihak yang lan tidak mau berdamai.43

Kedua hakam tersebut dapat melakukan hal-hal yang dianggap maslahat, mempertahankan suatu perkawinan atau memutuskan suatu perkawinan, tanpa membutuhkan kerelaan dari pihak suami istri maupun perwakilannya. Apabila dalam melaksanakan tugasnya para hakam berbeda pendapat, maka hakim menyuruh pada kedua hakam untuk mengulang kembali pembahasannya, jika hakam masih tetap berbeda pendapat maka hakim dapat mengangkat hakam yang lain. Namun, bila kedua hakam tersebut tidak dapat mendamaikan kedua belah pihak dan kesulitan timbul dari pihak suami atau keduanya atau bahkan tidak diketahui dari siapa, maka hakam dapat menetapkan dengan talak ba’in.

3) Nusyuz

Nusyuz pada asalnya berarti “terangkat” atau “tertinggi”. Seorang perempuan yang keluar meninggalkan rumah dan tidak melakukan tugasnya terhadap suaminya, padahal menurut biasanya dia mengikuti atau mematuhi suaminya itu. Singkatnya ia telah durhaka pada suminya itu.Nusyuz berarti durhaka, maksudnya seorang istri melakukan perbuatan yang menentang suami tanpa alasan yang dapat diterima oleh syara’. Ia tidak menaati suaminya, atau menolak diajak ketempat tidur. Firman Allah SWT, Qur’an Surat An-Nisa’ 34 :

Artinya : Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.

4) Fasakh

Fasakh artinya membatalkan akad, dan melepaskan tali ikatan perkawinan

43Muhammad Syaifuddin dkk, Op Cit, hlm 130.

suami istri. Fasakh adakalanya terjadi dengan sebab cela yang terjadi dengan akad, atau dengan sebab yang datang tiba-tiba yang dapat menghalangi kekalnya suatu perkawinan.Faedah fasakh ada empat macam, yaitu :

(a) Tidak mengurangi bilangan talak. Bila memfasakh sekali lalu memperbarui akad nikah, lalu memfasakh kedua kali dan seterusnya, tidak haram atasnya seperti talak ba’in kubra walaupun sampai tiga kali atau lebih.

(b) Kalau orang memfasakh sebelum dukhul, maka tidak ada kewajiban apa-apa atasnya. Bila menalak sebelum dukhul maka wajib memberikan setengah mahar.

(c) Bila orang memfasakh karena ada cacat setelah menjima’ maka wajib atasnya mahar mitsil dan bila ia mentalak, wajib memberi mahar yang ditentukannya.

(d) Bila orang memfasakh karena ada sebab yang menyertai akad, maka wanita itu tidak berhak menerima nafkah meskipun keadaannya hamil. Apabila suami tidak mampu memberikan nafkah yang cukup, boleh bagi istri memfasakh nikahnya. Adapun berlakunya fasakh itu untuk menjaga penderitaan istri karena tidak ada nafkah, pakaian dan maharnya.Adapun hikmah fasakh menurut hukum Islam adalah refleksi dari kelemahan suami dan istri sebagai makhluk ciptaan Allah, yang tidak dapat mengetahui secara pasti tabi’at keadaan fisik sebagai kekurangan fatal yang tidak dapat diterima atau cacat/kerusakan yang tersembunyi pada istri atau suaminya dikemudian hari, yang dapat menjadikan rumah tangga mereka tidak rukun, sehingga hanya dapat bersandar pada kekuatan dan perlindungan dari Allah, yang membolehkan suami istri untuk memutuskan perkawinan diantara mereka.44

44Ibid, hlm 140.

5) Li’an

Lia’an dalam arti bahasa berasal dari kata laa’ana-yulaa’inu-li’aanan yakni masing-masing mela’nat pihak yang lain. Sedangkan menurut arti syara’

ialah kalimat-kalimat khusus dipergunakan sebagai alasan bagi pihak yang memerlukan untuk menuduh orang lain yang menodai kehormatannya atau tidak mengakui anak.

Adapun bentuk dan kaifiyat li’an, sama dengan tuduhan bisa jadi tuduhan zina atau tidak mengingkari anak. Jika tuduhan tentang zina, hendaknya hakim memanggil keduanya bersama-sama kehadapannya, kemudian pihak suami diperintahkan dulu menyatakan sumpahnya empat kali yang berbunyi “aku bersaksi kepada Allah sesungguhnya saya termasuk orang yang benar tentang zina yang saya tuduhkan”, kemudian diucapkan dengan ucapan kelima “bahwa kutukan Allah atasnya kalau ia termasuk orang yang dusta, tentang zina yang dituduhkannya”. Kemudian hakim memerintahkan pada pihak perempuan untuk menyatakan sebanyak empat kali ucapan sebagai berikut “Aku bersaksi dengan Allah sesungguhnya ia berdusta tentang zina yang dia tuduhkan kepadaku”

dandilanjutkan dengan ucapan kelima kalinya “Murka Allah atasnya kalau suaminya benar, tentang zina yang dituduhkan kepadaku”.

Jika li’an itu dalam hal mengingkari anak, menurut Al-Kurkhi bahwa pihak suami setiap kali bersumpah menyatakan tuduhan bahwa anak itu bukan hasil hubungan dengannya. Pihak istri juga harus menolak tuduhan suami bahwa anak itu bukan anaknya. Dijelaskan dalam sebuah hadits yang artinya “pada hakikatnya li’an ialah ia benar, dan pernyataan kelima bahwa kutukan Allah atasnya, jika ia berdusta. Begitu juga pihak istri bersumpah mendustakan

suaminya empat kali bahwa suaminya berdusta, dan ucapan kelima bahwa murka Allah atasnya bila suaminya benar.

Li’an baru sah jika diucapkan oleh suami yang baligh, berakal yang bebas memilih, muslim atau kafir, merdeka atau seorang hamba. Adapun diantara syarat ila’ yang mengikat keabsahannya ialah bersumpah dengan nama Allah, atau dengan sifat-sifatnya.

6). Ilaa’

Ilaa’ menurut bahasa ialah menolak dengan bersumpah, menurut syara’

yaitu menolak menolak menyetubuhi istri dengan bersumpah.

Syaikh Hassan Ayyub menjelaskan bahwa syarat-syarat ilaa’ ada 4 (empat) yaitu sebagai berikut:

(a) Bersumpah dengan nama Allah atau dengan salah satu sifat-Nya tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama bahwa sumpah dengan nama Allah atau dengan sifat Allah disebut ilaa’. Bila ia bersumpah tidak menggauli bukan dengan nama Allah, seperti bersumpah dengan bercerai, pembebasan budak, sedekah harta, haji atau zhihar, maka dua pendapat, yakni:

1) Ia tidak dianggap mu’li (orang yang melakukan ilaa’), dan ini adalah riwayat dari Ahmad dan pendapat Syafi’i dalam qaul qodim.

2) Ia dianggap mu’li, dan ini adalah riwayat kedua milik Ahmad dan qaul jadid Syafi’i.

(b) Suami bersumpah tidak menyetubuhi lebih dari 4 bulan. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa bila suami bersumpah selama 4 bulan atau lebih, maka dia disebut mu’li.

(c) Suami bersumpah tidak bersenggama pada vagina. Seandainya dia mengatakan

“Demi Allah, aku tidak menyetubuhimu di anus”, maka tidak disebut mu’li, karena ia tidak meninggalkan persetubuhan yang wajib baginya, dan ia tidak merugi lantaran suami meninggalkan persetubuhan melalui anus.

(d) Yang disumpahkan adalah istrinya berdasarkan firman Allah “Kepada orang-orang yang meng-ilaa’istrinya diberi tangguh 4 bulan lamanya”, karena selan istri tidak berhak disetubuhi, sehingga ia tidak disebut mu’li terhadapnya, sama seperti orang asing.45

7) Zhihar

Zhihar ialah prosedur talak, yang hampir sama dengan ilaa’. Arti zhihar adalah seorang suami yang bersumpah bahwa istrinya itubaginya sama dengan punggung ibunya. Ibarat seperti ini erat katannya dengan kebiasaan masyarakat Arab, apabila masyarakat Arab marah, maka ibarat/penyamaan tadi sering terucap.

Apabila ini terjadi berarti suami tidak akan menggauliistrinya.46 Manakala seorang suami menziharistrinya dan ziharnya sah, dapat mengakibatkan dua akibat hukum, yaitu : pertama: haram menggauli istri sampai ia membayar kifarat zhihar. kedua: Wajib membayar kifarat karena suami kembali pada istrinya.

Pengajuan gugatan perceraian ke pengadilan harus disertai dengan alasan-alasan yang cukup sesuai dengan alasan-alasan-alasan-alasan yang telah ditentukan dalam Undang-Undang Perkawinan juga.47 Alasan perceraian menurut Hukum Perdata, hanya dapat terjadi berdasarkan alasan-alasan yang ditentukan undang-undang dan harus dilakukan di depan pengadilan. Alasan terjadinya perceraianberdasarkan

45Muhammad Syaifuddin dkk, Ibid, hal 151.

46Ibid, hlm 153.

47 Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Liberty, Yogyakarta, 2007, hlm 129.

Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 adalah:48

(a) Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

(b) Salah satu pihak (suami istri) meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun yang sah terkait dengan kewajiban memberikan nafkah lahir dan batin.

(c) Salah satu pihak mendapat hukuman penjara selama 5 (lima) tahun atau yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

(d) Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang dapat membahayakan pihak lain.

(e) Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami istri.

(f) Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran, serta tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Di samping Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tersebut di atas,bagi yang beragama Islam sesuai dengan Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam ada penambahan sebagai berikut:

1.1 Suami melanggar taklik talak

1.2 Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.

Dalam Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan, bahwa putusnya perkawinan dapat terjadi karena salah satu pihak meninggal dunia, karena perceraian dan karena adanya putusan pengadilan.

48Muhammad Syaifuddin dkk, Op.cit, hlm 181.

Kemudian dalam Pasal 39 ayat (2) ditentukan bahwa untuk melaksanakan perceraian harus cukup alasan yaitu antara suami istri tidak akan hidup sebagai suami istri. Berdasarkan apa yang telah ditentukan dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam, maka dapat disimpulkan bahwa perceraian tidak dapat dilakukan dengan sesuka hati.

Dengan demikian perceraian hanya dapat dilakukan apabila telah memenuhi rumusan yang ditentukan dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo. Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam dengan kata lain pengaturan tersebut sesuai dengan asas dasar perkawinan yang mempersulit adanya perceraian.

Melihat ketentuan mengenai alasan-alasan perceraian seperti tersebut di atas, di samping itu adanya ketentuan bahwa perceraian itu harus dilakukan di depan sidang pengadilan, maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya pada asasnya walaupun perceraian dalam perkawinan itu tidak dilarang. Namun seseorang tidak boleh begitu saja memutuskan hubunganperkawinan tanpa alasan yang kuat.

Jadi pada dasarnya, Undang-Undang Perkawinan mempersulit terjadinya perceraian.

Hal ini sesuai dengan tujuan perkawinan yang menentukan bahwa perkawinan itu pada dasarnya adalah untuk selama-lamanya.49

b. Akibat hukum perceraian

Perceraian adalah peristiwa hukum yang akibatnya diatur oleh hukum, atau peristiwa hukum yang diberi akibat hukum. Perceraian menimbulkan akibat hukum putusnya perkawinan. Selain itu, ada beberapa akibat hukum lebih lanjut dari perceraian sebagaimana diatur dalam Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, sebagai berikut:

49 Soemiyati, Op.cit, hlm 130.

1. Baik bapak atau ibu tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya , semata mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselesihan mengenai penguasaan anak-anak, pengadilan memberi keputusannya.

2. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang dperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memberi kewajiban tersebut, pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

3. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri.

Memperhatikan substansi Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tersebut, maka dapat ditegasakan bahwa perceraian mempunyai akibat hukum terhadap anak, dan mantan suami/istri. Selain itu, perceraian juga mempunyai akibat hukum terhadap harta bersama sebagaimana diatur dalam Pasal 37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang memuat ketentuan bahwa akibat hukum terhadap harta bersama diatur menurut hukum agama, hukum adat atau hukum yang lain.

Jika dicermati esensi dari akibat hukum perceraian yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 adalah mengakui dan melindungi hak-hak anak dan hak-hak mantan suami/istri sebagai hak-hak asasi manusia (HAM).50 Selanjutnya keseluruhan akibat hukum perceraian sebagamana diurakan di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut :

50 Muhammad Syaifuddin dkk, Op.cit, hlm 349-350.

a. Akibat hukum perceraian terhadap anak

Akibat hukum perceraian terhadap anak menurut Pasal 41 huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ialah baik bapak maupun ibu tetap mempunyai kewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana terjadi perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, maka pengadilan yang memberikan keputusannya. Akibat hukum terhadap anak ini tentu saja hanya berlaku terhadap suami dan istri yang mempunyai anak dalam perkawinan.

Menurut Soemiyati, jika terjadi perceraian dimana telah diperoleh keturunan dalam perkawinan itu, maka yang hendak mengasuh anak dalam perkawinan tersebut ialah ibu atau nenek seterusnya ke atas. Akan tetapi, mengenai pembiayaan untuk penghidupan anak itu, termasuk biaya pendidikannya adalah menjadi tanggung jawab ayahnya. Berakhirnya masa asuhan adalah pada waktu anak itu sudah dapat ditanya kepada siapa dia akan terus ikut. Kalau anak tersebut memilih ibunya, maka si ibu tetap berhak mengasuh anak itu, kalau anak itu memilih ikut bapaknya, maka hak mengasuh ikut pindah pada bapak.51

Pendapat yang sama dengan pendapat Soemiyati tersebut dikemukakan oleh Hilman Hadikusuma, yang menjelaskan bahwa bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak setelah putusnya perkawinan karena perceraian.52 Jika bapak dalam kenyataannya tidak dapat melaksanakan kewajibannya membiayai pemeliharaan anak dan pendidikannya, maka pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul tanggung jawab membiayai pemeliharaan dan pendidikananak itu.

51 Soemiyati, Op.cit, hlm 126.

52Hilman Hadikusuma, Op.cit, 2007, hlm 176.

Wahyu Ernaningsih dan Putu Samawati menguraikan pendapatnya mengenai akibat hukum perceraian terhadap “nafkah anak” secara lebih rinci, sebagai berikut.

1) Kewajiban “membiayai” anak tidak hilang karena putusnya perkawinan akibat adanya perceraian.

2) Biaya pemeliharaan anak ditanggung oleh ayah (sampai anak dewasa atau berdiri sendiri, bekerja/mendapat penghasilan atau anak menikah). Kewajiban membiayai tetap menjadi tanggung jawab ayah walaupun pemeliharaan anak tidak padanya. Artinya ayah tetap mempunyai kewajiban untuk membiayai penghidupan anak walaupun hak pemeliharaan anak berada pada ibu, kakek, nenek, bibi dan sebagainya.

3) Bila ayah tidak dapat memberi biaya pemeliharaan (penghidupan), maka pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya hidup anak.

4) Bila ayah tidak melaksanakan putusan pengadilan untuk membiayai pemeliharaan anak, maka seorang (mantan) istri dapat melakukan permohonan eksekusi kepada ketua Pengadilan Negeri di mana proses perceraiannya dilakukan.

Selanjutnya, pengadilan akan memanggil (mantan) suami. Jika suami tidak memenuhi surat penggilan dari pengadilan tanpa alasan yang patut, maka ketua pengadilan akan mengeluarkan surat penetapan yang memerintahkan untuk melakukan eksekusi kepada panitera atau juru sita. Namun, apabila (mantan) suami datang memenuhi panggilan dari pengadilan, maka ketua pengadilan akan mengeluarkan peringatan pengadilan yang ditujukan kepada mantan suami agar memenuhi kewajibannya. Lama waktu peringatan tidak boleh lebih dari 8 hari. Setelah lebih dari 8 hari, mantan suami tidak

melaksanakan/memenuhi putusan pengadilan, maka akan dikeluarkan surat penetapan oleh ketua pengadilan yang memerintahkan eksekusi kepada Panitera atau juru sita.53

Baik bapak atau ibu si-anak berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anak yang mereka peroleh selama pernikahan. Ketika bercerai antara suami dan istri ada status baru, yaitu janda (bagi istri) dan duda (bagi suami) serta ada istilah mantan/bekas istri dan mantan/bekas suami, tetapi istilah ini tidak berlaku untuk anak dan orang tua. Tidak ada istilah mantan anak ataupun mantan orang tua.

Untuk itu, perceraian terjadi tidak sedikitpun mengubah status anak dengan orang tua untuk memelihara dan mendidik anak-anaknya sampa anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri.

b. Akibat hukum perceraian terhadap bekas suami/istri

Akibat hukum perceraian terhadap kedudukan, hak dan kewajiban mantan suami/istri menurut Pasal 41 huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ialah pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk dapat memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri, ketentuan normatif pada Pasal 41 huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ini mempunya kaitan dengan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang memuat ketentuan normatif bahwa seorang wanita putus perkawinan nya berlaku jangka waktu tunggu, yang kemuadian pasal ini telah dijabarkan dalam Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yang memuat ketentuan imperatif bahwa bagi seorang janda yang perkawinan nya putus karena perceraian, maka waktu tunggu bagi janda tersebut adalah 3 kali suci dengan sekurang-kurangnya 90

53Wahyu Ernaningsih dan Putu Sanmawati, Op.cit, hlm 126.

hari. Apabila perkawinan putus, sedangkan janda tersebut dalam keadaan hamil, maka waktu tunggu ditetapkan sampai ia melahirkan.

Selanjutnya akibat hukum perceraian terhadap suami/istri diatur dalam hukum Islam, telah dipositivisasi dalam Kompilasi Hukum Islam, khususnya Pasal 149 yang memuat ketentuan imperatif bahwa bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib :

1) Memberikan mut’ah yang layak kepada bekas istrinya, bak berupa uang atau benda, kecuali bekas istri tersebut qobla aldukhul.

2) Memberikan nafkah, maskawin dan kiswah kepada bekas istri selama masa iddah, kecuali bekas istri telah dijatuhin talak bain atau nuzyuz dan dalam keadaan tidak hamil.

3) Melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya, dan separuh apabila qobla aldukhul.

4) Memberikan hadhanah untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 tahun.54

Jadi mengenai hubungan suami istri adalah bahwa akibat pokok dari perceraian perkawinan adalah persetubuhan menjadi tidak boleh lagi, tetapi mereka boleh kawin kembali sepanjang ketentuan hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Dalam perceraian perkawinan itu membolehkan rujuk menurut ketentuan hukum agama islam usaha rjuk seorang suami kepada istrinya dapat dilakukan. Akan tetapi menurut Pasal 41 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan suatu kewajiban bagi bekas

54Muhammad Syaifuddin dkk, Op.cit, hlm 405.

istri. Kewajiban dan/atau menentukan sesuatu kewajiban ini tentu berdasarkan hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu.55

c. Akibat hukum perceraian terhadap harta benda

Menurut Pasal 35 Unang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 harta benda dalam perkawinan ada yang disebut harta bersama yakni harta benda yang diperoleh

Menurut Pasal 35 Unang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 harta benda dalam perkawinan ada yang disebut harta bersama yakni harta benda yang diperoleh