• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PELAKSANAAN PERCERAIAN MENURUT KETENTUAN

C. Peran Pengadilan Dalam Proses Perceraian

Pengadilan itu sendiri pada dasarnya adalah lembaga yang menciptakan rasa tenteram bagi masyarakat pencari keadilan. Pengadilan harus mampu memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya serta putusan yang seadil-adilnya sehingga meskipun pencari keadilan tersebut harus kehilangan harta ataupun hak namun merasa puas karena menyadari hal tersebut wajar diterimanya. Misalnya dalam perkara perceraian, meskipun pada awalnya salah satu pihak ngotot keberatan untuk bercerai namun setelah mendengar pertimbangan-pertimbangan dalam putusan menjadi ikhlas menerima putusan tersebut karena sadar bahwa itu adalah yang terbaik bagi dirinya.

Peran pengadilan dalam menjaga keutuhan keluarga ini juga bisa diartikan berperan dalam mencegah atau menghambat terjadinya perceraian tidak dapat dilepaskan dari proses perceraian yang sudah ditentukan dalam ketentuan hukum.

Seperti ketegasan yang ada pada pengadilan pada saat menentukan kapan saat suatu perceraian itu dapat dilakukan. Peradilan memiliki peran yang sangat strategis untuk terbuka atau tertutupnya pintu perceraian bagi suami istri yang beragama Islam maupun yang menganut agama selain Islam. Dalam UU Peradilan Agama dinyatakan bahwa “perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak”.

74Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1975.

Ketentuan ini memberikan kekuasaan sekaligus kontrol bagi peradilan agama terhadap kemungkinan dilakukannya perceraian. Pengadilan agama diberi kekuasaan dan kewenangan yang luas untuk mengusahakan agar perceraian tidak terjadi dan perdamaian terjadi diantara suami istri.75 Pengadilan agama tidak hanya sebagai badan pelaksana kekuasaan kehakiman yang bertugas menyelesaikan perkara-perkara di bidang hukum keluarga khususnya perceraian bagi yang beragama Islam tetapi juga memiliki peran dan fungsi sebagai lembaga yang berorientasi pada terselengaranya perwujudan kesejahteraan keluarga.

Pengadilan agama dituntut juga berperan aktif dalam penyelenggaraan kesejahteraan keluarga dalam pengertian sedapat mungkin pengadilan agama bisa berkonstribusi dalam mewujudkan keutuhan keluarga untuk tercapainya keluarga yang sakinah, mawadah dan rohmah. Paradigma yang dibangun ialah bahwa perkawinan bukan merupakan solusi dari persoalan-persoalan yang timbul dalam sebuah perkawinan. Perceraian merupakan jalan keluar dari persoalan-persoalan yang muncul dalam perkawinan karena tujuan dari perkawinan bukanlah pada akhirnya terjadi perceraian karena perkawinan ditujukan untuk waktu yang selama-lamanya.

Beberapa peran yang bisa dimaksimalkan oleh pengadilan agama dalam rangka untuk mengutuhkan keluarga atau menghambat terjadinya perceraian ialah melalui mekanisme bahwa perkara perceraian baru bisa digelar pada sidang pengadilan jika sudah melewati proses mediasi yang dibantu oleh mediator baik dari luar maupun hakim mediator. Kemudian juga masih terbukanya peluang yang

75 Samun Ismaya, Peran Pengadilan Agama dalam Penanganan dan Penanggulangan Perceraian, Jurnal Kajian Hukum, Vol. 2, November 2017, hlm 15.

besar untuk para suami istri yang sedang bermasalah tersebut melakukan perdamaian pada setiap proses pemeriksaan perkara di pengadilan agama.

Jika mediasi atau perdamaian ini dimaksimalkan maka kemungkinan besar akan membawa pengaruh atau dampak terhadap keberhasilan perdamaian diantara para pihak. Prinsip dasar bahwa perceraian itu dipersulit pelaksanaannya/tidak mudah pelaksanaannya harus menjadi dasar utama dalam menyelesaikan perkaradalam keluarga.Memaksimalkan peran lembaga peradilan agama termasuk memaksimalkan kemampuan sumber daya manusia yang ada di dalamnya menjadi tugas dari pada pemerintah dalam mengemban tugasnya menciptakan kesejahteraan keluarga. Ada fungsi edukasi yang sebetulnya diemban oleh pengadilan agama dalam upaya menciptakan kedamaian dalam lingkup hukum keluarga. Sehingga peran pengadilan Agama tidak hanya sebagai lembaga yang menghasilkan keputusan atau ketetapan terhadap perkara-perkara yang ditanganinya tetapi juga menjadi lembaga yang bertugas melakukan edukasi yang berkaitan dengan terwujudnya kesejahteraan keluarga.76

Pengadilan dalam penanggulangan perceraian memiliki peran dari aspek kelembagaan sebagai bagian dari kekuasaan kehakiman yang bertugas menegakkan hukum Islam dalam rangka mewujudkan kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan dengan memperhatikan nilai-nilai hukum yang berkembang dalam masyarakat. Selain itu pengadilan juga dibebani peran untuk mencarikan solusi bagi penyelesaian sengketa keluarga dengan pertimbangan kemaslahatan, dan ini ada pada proses mediasi ketika sengketa perceraian masuk ke pengadilan. Peran lainnya ialah bahwa pengadilan memiliki peran sebagai badan yang bisa

76Ibid, hlm 16.

mengedukasi masyarakat dalam kaitannya dengan persoalan keluarga untuk mewujudkan keluarga yang damai, tenteram, bahagia dan sejahtera melalui media informasi yang semakin berkembang saat ini. Peran ini akan sangat dipengaruhi oleh faktor sumber daya manusia di pengadilan, sarana dan prasarana, faktor finansial, serta dukungan kesadaran masyarakat.77

77Ibid, hlm 23.

BAB IV

TINJAUAN YURIDIS PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENOLAK GUGATAN CERAI ISTRI (STUDI PUTUSAN NOMOR :

1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr) A. Kasus Posisi

1. Para pihak yang berperkara di dalam putusan Pengadilan Agama Pekanbaru (Nomor: 1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr) adalah:

a. Azizah binti Janan,umur 38 tahun, agama Islam, pendidikan SLTA/Sederajat, pekerjaan karyawan swasta, kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal di Jalan Garuda Sakti KM 3 Perumahan Citra Garuda Mas Blok A19 RT.011 RW.009 Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru, selanjutnya disebut sebagai Penggugat.

b. Ibrahim bin Suwardi, umur 38 tahun, agama Islam, pendidikan SLTA/Sederajat, pekerjaan Wiraswasta, Kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal di Jalan Garuda Sakti KM 3 (Jalan Jala) Perumahan Mutiara Blok B.8 Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru, selanjutnya disebut sebagai Tergugat.

2. Kronologi perkara didalam Putusan Pengadilan Agama Pekanbaru (Nomor:

1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr) adalah:

Bahwa Penggugat telah mengajukan gugatan perceraian terhadap Tergugat, sebagaiamana tersebut dalam surat bertanggal 18 September 2018 yang terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Pekanbaru dengan Register

Nomor 1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr. Tanggal 18 September 2018 dengan dalil sebagai berikut:78

a) Bahwa pada hari Sabtu tanggal 13 April 2013, Penggugat dengan Tergugat melangsungkan pernikahan yang dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tampan, Kota Pekanbaru, sebagaimana buku kutipan Akta Nikah Nomor 254/37/IV/2013, tertanggal 15 April 2013;

b) Bahwa setelah akad nikah Penggugat dan Tergugat hidup bersama sebagai suami-istri selama lebih kurang lima tahun, dengan bertempat tinggal dirumah orang tua Penggugat dijalan Garuda Sakti sebagaimana pada alamat Penggugat diatas selama lebih kurang empat tahun, kemudian pindah kerumah sendiri kediaman bersama dijalan tergugat pada alamat Tergugat diatas selama lebih kurang dua tahun, kemudian pindah dan bertempat tinggal dirumah orang tua Penggugat pada alamat Penggugat diatas, dan pada tanggal 23 April 2018 Tergugat pergi dari tempat kediaman bersama dan sekarang bertempat tinggal di alamat tergugat diatas;

c) Bahwa selama menikah Penggugat dan Tergugat telah berhubungan layaknya suami istri (ba’da dukhul)dan telah dikaruniai dua orang anak yang masing-masing bernama:

(1) Fauziah Almahyra (perempuan), lahir pada tanggal 27 Juli 2016;

(2) Ahmad Al Rasyid (laki-laki), lahir pada tanggal 07 Juli 2018;

78 Putusan No. 1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr, hlm 1.

d) Bahwa keadaan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat semula berjalan rukun dan damai, akan tetapi semenjak tahun 2015 rumah tangga antara Penggugat dengan Tergugat sudah tidak harmonis dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga, yang pada intinya disebabkan antara lain oleh:

(1) Tergugat tidak memberikan nafkah sepenuhnya terhadapPenggugat dan anak-anak;

(2) Tergugat tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap dimana tergugat sangat pemalas dan selalu meilih-milih pekerjaan dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga Penggugatlah yang ikut mencari nafkah untuk kepentingan rumah tangga;

(3) Tergugat tidak memberikan perhatian dan sering kali bersikap masa bodoh terhadap rumah tangga bahkan penggugat pernah mengadu karena belum makan namun tergugat tetap tidak peduli;

(4) Tergugat sudah berpisah rumah semenjak bulan Juli 2018 dimana Penggugatlah yang meninggalkan kediaman bersama.

(5) Tergugat kasar dan selalu emosional dan tempramental dan setiap terjadi pertengkaran meskipun disebabkan oleh persoalan-persoalan kecil, dan Tergugat bahkan pernah menghardik penggugat saat hamil besar;

(6) Tergugat sangat egois serta tidak pernah bisa diajak untuk berunding untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam rumah tangga ini dengan baik dan Tergugat tidak pernah mau mendengarkan usulan, saran dan pendapat yang Penggugat sampaikan;

(7) Tergugat sering kali keluar malam dan berkumpul-kumpul dengan teman-temannya hingga larut malam dan setiap dinasehati selalu marah-marah;

e) Bahwa oleh sebab demikian antara Penggugat dengan Tergugat selalu terjadi perselisihan dan pertengkaran, yang pada awalnya masih dalam batas-batas tertentu, akan tetapi belakangan semakin parah dan susah untuk dikendalikan lagi;

f) Bahwa puncak pertengkaran terjadi pada akhir bulan juli tahun 2018 dimana antara Penggugat dengan Tergugat sudah tidak berhubungan lagi sebagaimana layaknya suami-istri serta tidak lagi tinggal serumah dimana Penggugatlah yang meninggalkan tempat kediaman bersama;

g) Bahwa keluarga Penggugat dengan Tergugat telah berusaha untuk memperbaiki masalah rumah tangga Penggugat dengan Tergugat, dengan memberikan nasehat dan saran kepada Penggugat dan Tergugat, aka tetapi tidak pernah berhasil sebab tergugat tidak pernah mau memperbaiki sikap dan tingkah lakunya yang demikian;

h) Bahwa dengan keadaan rumah tangga seperti yang dijelaskan diatas penggugat sudah tidak memiliki harapan akan dapat hidup rukun kembali bersama Tergugat untuk membina rumah tangga yang bahagia di masa yang akan datang. Dengan demikian, gugatan cerai Penggugat telah memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam perundang-undangan yang berlaku;

i) Bahwa Penggugat sanggup membayar seluruh biaya yang timbul akibat perkara ini;

3. Tuntutan/Posita didalam Putusan Pengadilan Agama Pekanbaru (Nomor:

1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr) adalah :

Berdasarkan alasan/dalil-dalil di atas, Penggugat mohon agar Ketua Pengadilan Agama Pekanbaru memeriksa dan mengadili perkara ini dengan memanggil Penggugat dan Tergugat, dan selanjutnya menjatuhkan putusan yang amarnya berbunyi sebagai berikut:79

(a). Mengabulkan gugatan Penggugat.

(b). Menjatuhkan talak satu bain sughra Tergugat (Ibrahim bin Swardi) atas Penggugat (Azizah binti Janan).

(c). Membebankan biaya perkara kepada Penggugat.

Apabila Majelis berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya.

4. Pertimbangan hakim didalam Putusan Pengadilan Agama Pekanbaru (Nomor:

1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr) adalah :

a. Bahwa untuk pemeriksaan perkara ini Majelis Hakim telah memanggil Penggugat dan Tergugat untuk hadir di persidangan, panggilan-panggilan tersebut telah disampaikan secara resmi dan patut;

b. Bahwa pada hari sidang yang telah ditentukan Penggugat dan Tergugat hadir di persidangan secara in person;

c. Bahwa oleh karena Penggugat dan Tergugat hadir di persidangan secara in person, Majelis hakim telah mengupayakan perdamaian Penggugat dengan Tergugat melalui proses mediasi dengan mediator Drs. Sayuti, M.H., yang disepakati Penggugat dan Tergugat berdasarkan Penetapan Nomor 1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr. tanggal 16 September 2018;

79Putusan No. 1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr, hlm 4.

d. Bahwa mediator telah melaporkan hasil mediasi kepada Hakim Ketua Majelis pada tanggal 03 Oktober 2018 bahwa mediasi antara Penggugat dengan Tergugat tidak berhasil mencapai kesepakatan damai. oleh karena mendamaikan Penggugat dengan Tergugat tidak berhasil, maka dibacakan gugatan Penggugat yang dalilnya tetap dipertahankan oleh Penggugat;

e. Bahwa terhadap gugatan Penggugat tersebut, Tergugat telah memberikan jawaban secara tertulis pada tanggal 24 Oktober 2018 yang pada pokoknya sebagai berikut:

1) Bahwa Tergugat membenarkan pernikahan Tergugat denganPenggugat;

2) Bahwa Tergugat membenarkan setelah menikah Tergugat dan Penggugat bertempat tinggal dirumah keluarga Penggugat karena Penggugat dan keluarga tidak memberi izin untuk tinggal ditempat yanglain;

3) Bahwa Tergugat juga membenarkan telah berhubungan layaknya sebagai suami istri dengan Penggugat dan telah dikaruniai 3 (tiga) orang anak yang sekarang bersama Penggugat;

4) Bahwa tidak harmonisnya rumah tangga Tergugatdengan Penggugat, disebabkan kurangnya komunikasi dan egoisnya antara Tergugat dengan Penggugat;

5) Bahwa tentang nafkah, Tergugat tidak pungkiri kalau itu pernah terjadi, namun tidak selalu minim dalam setiap kewajiban itu, hal ini tergantung pada rezki pekerjaan dan kondisi kesehatan Tergugat;80

80Putusan No. 1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr, hlm 5.

6) Bahwa sebelum menikah pekerjaan Tergugat sudah begini adanya dan tidak pasti penghasilan setiap bulannya, kenapa sekarang ini terucapkan oleh Penggugat? dikatakan Tergugat sangat pemalas dan memilih-milih pekerjaan, apapun pekerjaan Tergugat lakukan walaupun diluar profesionalitas Tergugat hal ini Tergugat lakukan dihadapan mata keluarga dan Penggugat sendiri, mereka belum pernah tidak makan;

7) Bahwa Tergugat jelaskan, Penggugat sudah kembali kerumah orang tuanya, Tergugat memaklumi stuasi dan kondisi ini, awalnya Tergugat menemani mereka dirumah orang tua Penggugat, untuk menghindari selisih paham dengan keluarga Penggugat, Tergugat berinisiatif untuk pulang kerumah, kemudian Pengguga dan anak-anak pulang kerumah kediaman bersama selama tiga hari;

8) Bahwa benar:

a. Tergugat kasar dari perkataan, bukanfisik;

b. Tergugat emosional, karena Penggugat terkadang tidak terima alasan dan penjelasanTergugat;

c. Tergugat tempramental, sebelum bertindak dengan ucapan dan perbuatan alhamdulillahTergugat berfikirulang;

d. Tergugat menghardik, Penggugat bisa beri contoh hardikan yang dimaksud dan ketagorikanlah bahwa jarang atau tidaknya batasan hardikan itu;

9) Jika Tergugat seorang suami beregois tinggi, dari awal pernikahan rumah tangga Tergugat dan Penggugat sudah hancur, Tergugat pernah

minta maaf kepada Penggugat, Tergugat merendahkan wibawa dan harga diri sebagai suami demi untuk utuhnya rumah tangga.

10) Tergugat keluar malam inilah cara Tergugat bersosialisasi dengan tetanggadan warga, semakin banyak yang kenal semakina dan peluang kerja Tergugat, Tergugat paling lama keluar malam sampai jam 12 malam;

11) Benar kondisi rumah tangga Tergugat dengan Penggugat makin parah belakangan ini karena semenjak anak kedua Tergugat dan Penggugat lahir, Tergugat merasa wajar-wajar saja bahkan Tergugat banyak diam dan mengalah mengingat kondisi istri yang baru melahirkan, Tergugat mengendalikan, Penggugat dan keluarga melampiaskan;

12) Semua ini adalah keinginan Penggugat, dan Penggugat menyiasati secara sepihak tanpa adanya konfirmasi kepada Tergugat, sebelumnya baik dari istri maupun keluarga besarnya tidak seorangpun yang bertanya sebelumnya, apa lagi menjelaskan;

13) Kejadian terakhir ini tidak adanya upaya dari Penggugat dan keluarga besarnya untuk berkonsultasi tentang masalah ini kepada keluaga Tergugat, bertolak belakang dengan sebelumnya, sementara Tergugat terhadap keluarga besar Penggugat dengan rasa kewajiban dan tanggung jawab, Tergugatlah yang mendatangi keluarga Penggugat, yang biasanya kalau ada pertengkaran Penggugat mengadukan hal tersebut kepada keluarga Tergugat;

14) Harapan Tergugat adanya jalan terbaik bagi Tergugat dan Penggugat dalam mencari solusinya masalah yang ada, Tergugat tidak ada niat untuk

kawin cerai dan masih mencintai Penggugat dan anak-anak, Tergugat hanya benci sikap dan watak Penggugat.

5. Terhadap jawaban Tergugat tersebut, Penggugat telah memberikan replik secara tertulis pada tanggal 07 Nopember 2018 yang pada pokoknya sebagai berikut:81

a. Benar Penggugat telah menikah dengan Tergugat sesuai aktanikah;

b. Jauh sebelum Penggugat menikah dengan Tergugat, Tergugat sudah utarakan tidak keluar dari rumah orang tua, dimana Penggugat akan menjaga orang tua yang sudah usialanjut. Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan Penggugat pulang kerumah orang tua, yang jauh hari bahkan bulan Penggugat sampaikan kepada Tergugat hal tersebut, dimana kondisi Penggugat setelah melahirkan belum kuat dan alasan lainnya agar tidak terganggunya pekerjaan Tergugat karena mengurus Penggugat dan anak-anak, dan Tergugat tidak keberatan atas keinginan Penggugattersebut;

c. Bohong besar Penggugat membatasi bermain antara ayah dan anak, Penggugat izinkan anak dibawa kekampung bersama Tergugat. Penggugat izinkan anak dibawa tidur berhari-hari ditempat kakak Tergugat, Penggugat izinkan anak dibawa tidur kerumah KPR kami, justruTergugat hanya betah semalam besoknya anak diantar tanpa Penggugat yang jemput atau meminta anakpulang;

d. Benar komunikasi kami memang kurang;

e. Nafkah yang Penggugat terima perminggu dan itu untuk keperluan rumah

81Putusan No. 1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr, hlm 7.

tangga saja, rezki bukan tergantung dari pekerjaan namun tergantung dari mau tidaknya bekerja, lain soal dengan kondisikesehatan;

f. Kenapa penghasilan Tergugat sekarang baru terucap oleh Penggugat, justru seharusnya hal tersebut 3 tahun lalu Penggugat utarakan, Penggugat masih menjaga perasaan Tergugat, Penggugat tidak mau Tergugat berpikir yang ada dipikiran Penggugat uang, uang, uang, Tergugat harus tau kebutuhan Penggugat seperti pakaian, make up dan lain-lainnya, memang Penggugat mempunyai penghasilan yang pas-pasan untuk makan, sekarang anak sudah ada kebutuhan semakin hari semakin naik;

g. Tergugat bekerja diluar profesionalnya tentu tidak seuai dengan pekerjaannya seperti buruh, seperti orang mengajaknya, Tergugat tidak datang, kadang datang sudah siang, boleh dibilang orang sudah habis dua gerobak pasir Tergugat belum datang, susu anak habis, keperluan lain perlu dibeli apakah tidak dikatakan pemalas, kalau Tergugat mau bekerja tentu ada hasilnya Rp.50.000,- atau Rp.100.000,- sehari;

h. Saat anak yang kedua sakit, Penggugat minta Tergugat untuk tidur dirumah orang tua Penggugat untuk menemani Penggugat karena anak sedang sakit dan menangis tiada henti-hentinya namun Tergugat tidak mau dan memilih tidur dirumah KPR kami;

i. Tergugat kasar dari perkataan memang bukan dari kasar fisik, justru kasar perkataan langsung tertanam dihati Penggugat, Tergugat emosi sampai melempar handphone, Penggugat dihardik saat hamil besar didepan keluarga besarnya kakak, orang tuanya dan para tamu;

j. Tergugat berego tinggi, kalau bukan Penggugat yang mempertahankan rumah tangga dari pertengkaran-pertengkaran sebelumnya memang dari awal menikah kami mungkin sudah berpisah, selama berumah tangga dengan Tergugat sudah dua kali Penggugat ditawarkan berpisah (cerai);

k. Keluar malam sampai jam 24.00 Wib kadang lewat bagi Penggugat itu sudah sangat larut, waktu hamil besar Penggugat minta kepada Tergugat jangan keluar malam, Tergugat tidak mau tau dan tetap keluar malam, katanya alasan untuk mendapat pekerjaan, waktu kebutuhan mendesak kerja ada tapi Tergugat tidak meresponnya;

l. Perubahan memang butuh proses, proses itu yang tidak Penggugat temukan hal tersebut sudah berulang-ulang Penggugat sampaikan, bahkan dampak yang terburukpun (cerai) sudah Penggugat katakan, namun Tergugat tidak peduli watak Penggugat memang keras, ego Penggugat memang tinggi itu hanya untuk suatu hal yang Penggugat minta dan Penggugat harapkan contohnya seperti shalat, sebagai kepala keluarga imam bagi Penggugat dan anak tetapi Tergugat tidak bergeming atas keinginan Penggugat tersebut;

m. 100% memang keinginan Penggugat, Penggugat yang merasakan, menjalani hidup berumah tangga bersama Tergugat, sudah yang keempat kali kami bertengkar dan didamaikan keluarga prihalnya hanya itu-itu saja, bagi Pengguggat tidak perlu ada konfirmasi-konfirmasi lagi;82

82Putusan No. 1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr, hlm 9.

n. Menurut Pengugat tidak perlu konsultasi kepada keluarga Tergugat kalau Penggugat konsultasi kepada keluarga Tergugat berarti Penggugat minta didamaikan, dicari jalan keluar atas konflik rumah tangga kami. Tapi, jauh sebelum gugatan Penggugat masukkan, Penggugat sudah memberitahu dan minta bantuan kepada kakak Tergugat tentang sikap dan kelakuan Tergugat. Kalau Penggugat tidak tahan dan lepas 40 hari Penggugat melahirkan Penggugat akan minta cerai, tolong beritahu adik kakak, kata kakaknya sudah disampaikan, akan tetapi tidak ada perubahannya, berarti Tergugat sudah siap akan hal terburuk terjadi dalam rumah tangga kami;

o. Penggugat tidak mau lagi menjalani rumah tangga bersama Tergugat, hati dan Penggugat sebagai istri sudah tidak dapat lagi melayani Tergugat;

6. Bahwa terhadap replik Penggugat tersebut, Tergugat telah memberikan duplik secara tertulis pada tanggal 14 Nopember 2018 yang pada pokoknya sebagai berikut:83

a. Memang ada keinginan dari istri untuk tidak keluar dari rumah orang tuanya walaupun secara langsung Tergugat telah memohon, baik kepada istri, orang tua atau keluarga dari istri;

b. Namun tanggapan dari Penggugat dan orang tuanya tidaklah sesuai dengan harapan Tergugat, walaupun begitu Tergugat yang mengikuti kemauan Penggugat dan keluarganya untuk tetap tinggal dirumah orang tua Penggugat mengingat orang tua Penggugat hanya berdua saja, dengan tidak mengurangi rasa hormat dan kebijakan pribadi

83Putusan No. 1450/Pdt.G/2018/PA.Pbr, hlm 10.

Tergugat walaupun sudah beberapa kali meminta untuk keluar dari rumah untuk mengajak Penggugat hidupmandiri;

c. Awal pernikahan kami kesehatan kedua orang tua Penggugat masih sangat bagus, segar bugar dan sehat namun intinya sekarang (tidak adanya rasa mandiri dari Penggugat) dan dampak dari itu segala sesuatunya adalah keluarga (bukan Penggugat);

d. Tergugat tidak membatasi Penggugat untuk pulang ke rumah kami atau kerumah orang tuanya sehabis melahirkan, bahkan Tergugat mengikuti keinginan Penggugat dan keluarganya untuk pulang ke rumah orang tua Penggugat sesudah melahirkan dan Tergugat pulang kerumah kami Penggugat tau alasannya namun adakah pengertian dari Penggugat;

e. Kalau untuk bermain dengan anak memang menurut istri tidakmembatasi, namun hatinya Penggugat yang menjawabnya, anak kami yang pertama baru diberi izin untuk ikut dengan Tergugat setelah Tergugat menyampaikan kata yang tidak pantas (perkataan Tergugat sudah mengancam siapa yang melarang atau membatasi Tergugugat dengan anak kami), semenjak itulah anak kami ada kebebasan ikut dengan Tergugat (dan ini tidak lepas dari kerasnya watak Penggugat);

f. Waktu anak Tergugat bawa menginap dirumah kami, besoknya sudah Tergugat antar kerumah Penggugat, itu di karenakan adanya aktivitas kerja Tergugat untuk membeli susu anak kami, kalau bukan alasan kerja berapa lama pun anak dengan Tergugat tak sedikitpun Tergugat bebankan untuk merawatnya kepada Penggugat (Pahamkan Penggugat dengan situasi itu?), bukankah disini untuk mencari kesalahan Tergugat

semata jawabannya?;

g. Kurangnya komunikasi kami Tergugat sematakah penyebabnya ?, Penggugat mendiamkan Tergugat berhari-hari, berminggu-minggu bahkan sampai sebulan lebih apakah Tergugat tidak berusaha untuk berkomunikasi dengan Penggugat, disini apapun usaha Tergugatuntuk

g. Kurangnya komunikasi kami Tergugat sematakah penyebabnya ?, Penggugat mendiamkan Tergugat berhari-hari, berminggu-minggu bahkan sampai sebulan lebih apakah Tergugat tidak berusaha untuk berkomunikasi dengan Penggugat, disini apapun usaha Tergugatuntuk