BAB II PENGATURAN HUKUM MENGENAI PERKAWINAN
A. Tinjauan Umum Tentang Perkawinan
1. Pengertian Perkawinan dan Dasar Hukum Perkawinan
Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan memberikan definisi bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga yang bahagia) dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Berdasarkan pengertian tersebut, terdapat 5 unsur dalam perkawinan, yaitu:
1) Ikatan lahir dan batin
2) Antara seorang pria dan seorang wanita 3) Sebagai suami dan istri
4) Membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal 5) Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.17
Perkawinan merupakan perikatan yang suci, dan salah satu janji suci antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk keluarga yang bahagia.
Perkawinan merupakan suatu peristiwa dalam kehidupan orang yang sangat mempengaruhi status hukum orang tersebut. KUHPerdata tidak memberikan definisi mengenai pengertian perkawinan. Suatu “ikatan bathin” adalah merupakan hubungan
17 Tan Kamelo dan Syarifah Lisa Andriati, Hukum Perdata: Hukum Orang Dan Keluarga, Penerbit USU Press, Medan, 2011, hlm 38.
yang tidak formil, suatu ikatan yang tidak dapat dilihat, walau tidak nyata, tapi ikatan itu harus ada. Karena tanpa adanya ikatan batin, merupakan fondasi dalam membentuk dan membina keluarga yang bahagia dan kekal.18
Perkawinan yang bertujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. Ini berarti bahwa perkawinan dilangsungkan bukan hanya untuk sementara atau untuk jangka waktu tertentu yang direncanakan, akan tetapi untuk seumur hidup atau selama-lamanya, dan tidak boleh dputuskan begitu saja.19 Digunakan kata seorang pria dan seorang wanita, menunjukan bahwasannya tidak terbuka pintu hukum bagi sesama wanita ataupun sesama lelaki atau yang memeiliki dua jenis kelamin untuk melangsungkan perkawinan. Identitas jenis kelamin harus jelas secara fisik dan biologis.20 Digunakan ungkapan “sebagai suami istri” mengandung arti bahwa perkawinan itu adalah bertemunya dua jenis kelamin yang berebeda dalam suatu rumah tangga, bukan hanya dalam istilah
“hidup bersama” dalam definisi diatas disebutkan bahwasannya tujuan perkawinan adalah membentuk rumah tangga bahagia dan kekal. Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Hal ini berarti bahwa perkawinan harus didasarkan pada agama dan kepercayaan.
Dalam agama Islam, perintah religius merupakan sunnah Rasulullah. Hal ini menunjukan bahwa perkawinan itu adalah peristiwa agama dan dilakukan untuk memenuhi perintah agama. Keberadaan unsur Ketuhanan dalam sebuah perkawinan bukan saja peristiwa itu merupakan perjanjian yang sakral melainkan sifat pertanggungjawaban kepada Tuhan sang pencipta (Allah SWT). Dengan
18Wahyono Darmabrata, Hukum Perkawinan Perdata Syarat Sahnya Perkawinan Hak dan Kewajiban Suami dan Istri Harta Benda Perkawinan, Rizkita, Jakarta, 2009, hlm 54.
19Tan Kamelo dan Syarifah Lisa Andriati, Op.cit, hlm 43.
20Ibid, hlm 40.
adanya unsur Ketuhanan, maka hilanglah pandangan yang mengatakan bahwa perkawinan adalah urusan manusia semata-mata. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa perkawinan mengandung paham teokratis.21
Menurut Pasal 26 KUHPerdata dinyatakan undang-undang memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan perdata, dan dalam Pasal 81 KUHPerdata dinyatakan bahwa tidak ada upacara keagamaan yang boleh diselenggarakan, sebelum kedua belah pihak membuktikan bahwa perkawinan dihadapan pegawai pencatat sipil telah berlangsung.22 Dalam Pasal 2 KHI dinyatakan bahwa perkawinan adalah pernikahan yang akadnya sangat kuat atau mitsaqan gholizan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah, melakukan perbuatan ibadah berarti melaksanakan perintah ajaran agama. Selanjutnya dalam Pasal 3 KHI ditegasakan bahwa perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan berumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Perkawinan itu sah apabila dlakukan menurut hukum Islam (Pasal 4 KHI).23 Perkawinan dalam bahasa arab disebut dengan al-nikah yang bermakna al-wathi dan al-dammu wa-al-jam’u, atau ibarat an al-alwath wa al-aqd yang bermakna bersetubuh, berkumpul dan akad, beranjak dari makna etimologi inilah para ulama fikih mendefinisikan perkawinan dalam konteks hubungan biologis.
Definisi perkawinan menurut para ulama-ulama fikih ialah sebagai berikut:
(a) Menurut Wahbah al-Zuhaily, perkawinan/akad adalah yang ditetapkan olehsyar’i agar seseorang laki-laki dapat mengambil manfaat untuk melakukan istimta’
21Ibid, hlm 44.
22Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1976, hlm 14.
23 Libertus Jehani, Perkawinan Apa Resiko Hukumnya, Forum Sahabat, Jakarta Barat, 2008, hlm 63.
dengan seorang wanita atau sebaliknya.
(b) Menurut Hanafiah, nikah adalah akad yang memberi faedah untuk melakukan mut’ah untuk beristimta’ dengan seorang wanita selama tidak ada faktor yang menghalangi sahnya pernikahan tersebut secara syar’i.
(c) Menurut al-Malibari mendefinisikan perkwinan sebagai akad mengundang kebolehan (ibahat) melakukan persetubuhan yang menggunakan kata nikah atau tazwij.
(d) Menurut Hanabalih nikah adalah akad yang menggunakan lafaz nikah yang bermakna tajwiz dengan maksud mengambil manfaat dengan bersenang-senang.
(e) Menurut Muhammad Abu Zahrah di dalam kitabnya al-ahwal al-syakhsiyyah, mendefinisikan nikah sebagai akad yang menimbulkan akibat hukum berupa halalnya melakukan persetubuhan antara laki laki dengan perempuan, saling tolong-menolong serta menimbulkan hak dan kewajiban diantara keduanya.24 Definisi beberapa pakar Indonesia sebagai berikut:
1) Menurut Sajuti Thalib, perkawinan adalah suatu perjanjian yang suci kuat dan kokoh untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk keluarga yang kekal, santun menyantuni, kasih mengasihi, tentram dan bahagia.25
2) Hazairin menyatakan bahwa inti dari sebuah perkawinan adalah hubungan seksual. Menurutnya tidak ada nikah (perkawinan) bila tidak ada hubungan seksual.26
24 Amir Nuruddin, dkk, Hukum Perdata Islam di Indonesia studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari fikh, UU NO 1 Tahun 1997 sampai KHI, Kencana, Jakarta, 2006, hlm. 38-39.
25 Sajuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Universitas Indonesia, Jakarta,1995, hlm 20.
26 Amir Nuruddin, dkk, Op.cit, hlm 40.
3) Mahmud Yunus mendefinisikan perkawinan sebagai hubungan seksual, sedangkan Ibrahim Husein mendefinisikan perkawinan sebagai akad yang dengannya menjadi halal hubungan kelamin antara pria dan wanita.27 b. Dasar hukum perkawinan
Dasar-dasar hukum perkawinan terdapat di dalam Pasal 28 B ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.” Berdasarkan apa yang telah diuraikan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 B ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 dapat diketahui bahwa tujuan dan cita-cita negara Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan rakyatnya untuk mempertahankan kehidupannya yang berarti mempunyai hak untuk membentuk sebuah keluarga dan hal tersebut merupakan hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi. Dasar hukum perkawinan juga terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan diatur pada Bab I tentang dasar Perkawinan yang terdiri dari 5 pasal.
Selain di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dasar hukum perkawinan juga terdapat di dalam Pasal 2 sampai dengan Pasal 10 Kompilasi Hukum Islam.
2. Syarat Perkawinan dan Tujuan Perkawinan