• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi dan Waktu

Penelitian ini telah dilakukan di tiga lokasi yaitu lokasi pemeliharaan dan pemotongan di Penangkaran Mamalia Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Cibinong, dan pemotretan otot dengan mikroskop bertempat di Laboratorium Biosistimatika, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi- LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor. Pengamatan sifat fisik daging landak dilakukan di Laboratorium Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Besar, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor dan pengamatan mikrostruktur otot dilakukan di Laboratorium Anatomi dan Histologi Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli 2011 hingga Februari 2012.

Materi

Landak

Penelitian ini menggunakan delapan ekor landak jawa (Hystrix javanica)

yang terdiri atas dua ekor landak jantan dan enam ekor landak betina. Kisaran bobot awal landak jantan adalah 6,20-6,60 kg sedangkan betina 5,90-6,88 kg. Umur landak yang dipelihara ± 1 tahun. Pada minggu ke-5 terdapat satu ekor betina landak jawa (P1) yang sakit sehingga dagingnya tidak digunakan untuk pengujian sifat fisik daging dan mikrostruktur otot.

Kandang

Kandang yang digunakan adalah delapan kandang individu berukuran 2,2 m x 1,9 m x 2,5 m, berdinding kawat loket dan berlantai beton. Setiap kandang diisi masing-masing satu ekor landak.

Peralatan dan Bahan

Peralatan yang digunakan untuk pemeliharaan antara lain alat kebersihan, tempat pakan, timbangan gantung, timbangan digital, termohygrometer digital, kandang untuk penimbangan, pinset, nampan, pisau, selang air, kalkulator, dan alat tulis. Peralatan yang digunakan dalam pengamatan kualitas fisik daging antara lain timbangan digital, carper press, planimeter, pH meter, Warner-Blatzer, termometer

17 bimetal, panci, kompor, kertas saring Whatman no. 41, kamera dan alat tulis serta bahan yang digunakan dalam nilai pH adalah pH buffer 4 dan 7.

Peralatan yang digunakan dalam pengamatan mikrostruktur otot meliputi

scalpel, pinset, botol kaca, satu set alat bedah, gelas piala, gelas ukur, gelas obyek, gelas penutup, kotak lembab, mikrotom, mikropipet, inkubator, blok kayu, tissue holder, pembakar bunsen, tutup pagoda, lemari es, kertas label, kuas, pisau, dan mikroskop compound yang dilengkapi dengan kamera. Bahan yang digunakan antara lain larutan paraformaldehid 4% untuk pengawetan, parafin, alkohol (70%, 80%, 90%, 95%), larutan xylol, larutan pewarna hematoksilin, akuades, perekat entellan, dan parafin.

Prosedur

Persiapan Kandang

Persiapan kandang dimulai dari pembersihan kandang dan desinfeksi seminggu sebelum pemeliharaan. Setiap kandang diberi satu tempat pakan untuk pakan perlakuan dan lampu untuk penerangan. Di bagian sisi kedua dinding kandang ditutup dengan kerai bambu sebagai pelindung dan pengaruh cekaman sinar matahari. Suhu dan kelembaban diukur dengan menggunakan termohygrometer digital yang diletakkan di areal penangkaran (Gambar 3).

Gambar 3. Kandang Individu (Sumber: Karima, 2011)

18 Pemeliharaan

Landak dipelihara selama 90 hari dan dihitung konsumsi pakannya setiap hari, sedangkan penimbangan bobot badannya setiap 2 minggu sekali. Sebelum penyembelihan, landak telah dipuasakan selama 24 jam dan ditimbang bobot badannya. Setelah penyembelihan dan pengulitan, ditimbang bobot karkasnya. Pada masing-masing kandang diberi identitas nama landak, keterangan jenis kelamin serta jenis pakan yang diberikan. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari yaitu pagi dan sore. Jumlah pemberian pakan ditimbang dengan menggunakan timbangan digital sesuai jenis perlakuan.

Pakan

Pakan yang diberikan adalah pakan kontrol (P0) dan pakan kontrol + konsentrat (P1). Pakan P0 terdiri atas daun jaat hutan (Phaseolus sp.), bengkuang

(Pachyrhizus erosus), talas belitung (Xanthosoma sagittifolium), pisang siam (Musa

sp.), tomat (Solanum lycopersicum), dan jagung manis (Zea mays), sedangkan pakan P1 yaitu berupa pelet untuk ikan koi (warna merah) (Gambar 4).

(a) (b)

Gambar 4. Pakan Landak Jawa Selama Penelitian. (a). Pakan Kontrol (P0); (b) Konsentrat Berupa Pelet Ikan Koi

(Sumber: Karima, 2011)

Setiap minggunya, landak diberikan tulang sapi rebus untuk asupan kalsium dan juga berfungsi untuk mengasah gigi. Jumlah masing-masing pakan yang diberikan dan kandungan nutrien dapat diketahui pada Tabel 1 dan Tabel 2.

19 Tabel 1. Jumlah Pemberian Pakan pada Landak Jawa Selama Penelitian

Jenis Pakan Perlakuan Pakan

P0 P1

---g/ekor/hari---

Daun Jaat Hutan 50 50

Bengkuang 300 300

Talas Belitung 200 200

Pisang Siam 150 150

Tomat 100 100

Jagung manis 300 300

Pelet Ikan Koi 0 80

Total 1100 1180

Keterangan : P0= Pakan Kontrol; P1= Pakan Kontrol + Konsentrat Tabel 2. Kandungan Nutrien Pakan Penelitian (% BK) Bahan Pakan

BK Abu PK LK SK BETN GE

(kal/g) ---(%)---

Daun Jaat Hutan 20,00 24,13 35,29 3,99 25,69 10,90 5039 Bengkuang 12,32 10,79 8,49 1,04 9,69 69,99 4527 Talas Belitung 7,88 24,49 0,00 0,90 54,37 20,24 3831 Tomat 6,93 9,60 16,98 1,59 16,08 55,74 4133 Pisang Siam 46,23 3,80 3,08 0,86 3,44 88,81 3393 Jagung Manis 35,53 3,28 15,33 7,75 1,75 71,88 4776 Pelet Ikan Koi 94,52 18,48 25,05 5,77 10,22 40,48 4745 Keterangan: Hasil analisa Laboratorium Pengujian Nutrisi, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi,

LIPI-Cibinong

Penyembelihan dan Penyimpanan Daging Landak

Setelah landak dipuasakan selama 24 jam, lalu dilakukan proses penyembelihan dengan cara landak dimasukkan ke dalam karung, kemudian lehernya disembelih menggunakan pisau yang yang tajam sesuai dengan syariat islam. Setelah itu, tubuh landak digantung dan dikuliti untuk memisahkan antara kulit duri dengan daging. Karkas pun dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian kiri dan kanan. Karkas

20 yang digunakan dalam pengamatan sifat fisik adalah karkas bagian kiri dan selanjutnya karkas disimpan di dalam ruang pelayuan.

Pengamatan Kualitas Fisik Daging Landak

Sampel daging yang digunakan untuk mengetahui sifat fisik daging adalah dari bagian paha belakang (leg) dengan jenis otot yang diuji adalah otot Biceps femoris

(BF). Sampel daging yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 5. Sifat fisik daging landak yang diamati antara lain warna daging, warna lemak, nilai pH, susut masak, tingkat keempukan, dan daya mengikat air.

A B

Gambar 5. Sampel Daging Landak Jawa yang Digunakan untuk Pengamatan Sifat Fisik Daging. A= Sampel Daging P0 (K1=♀, K2=♀, K3=♀, K4=♂); B= Sampel Daging P1 (KP1=♀, KP3=♂, KP4=♀)

(Sumber: Karima, 2011)

Warna Daging. Warna daging dilihat dari bagian paha belakang (leg) yang dibandingkan dengan Meat Colour Card Score dari AUS-MEAT dengan skala 1-7. Semakin besar angka skala maka warna daging semakin merah kegelapan. Skala 1 = merah muda pucat, skala 2 = agak merah muda, skala 3 = merah muda, skala 4= merah cerah, skala 5= merah, skala 6=merah tua, skala 7=merah tua agak gelap.

Warna Lemak. Warna lemak pada bagian daging paha belakang (leg) dibandingkan dengan Fat Colour Card Score dari AUS-MEAT yang berskala 1-7, dimulai dengan

K3 K4

K1 K2

KP4

21 skala 1 yang menandakan warna putih hingga skala 7 yang berwarna kuning. Skala 1 = putih pucat, skala 2=putih, skala 3= putih agak kekuningan, skala 4=putih krem, skala 5=kuning muda, skala 6=kuning, skala 7=kuning agak kecoklatan.

Nilai pH. Pengukuran nilai pH dilakukan dengan pH meter berdasarkan metode AOAC (1995). pH meter dikalibrasi terlebih dahulu dalam larutan buffer pH 4 dan 7. Ujung elektroda pH meter dicelupkan dalam larutan buffer pH 7, kemudian ditunggu hingga terdengar bunyi yang menunjukkan bahwa kalibrasi pada larutan buffer pH 7 konstan. Setelah itu, ujung elektroda pH meter dicelupkan ke dalam larutan buffer pH 4 hingga terdengar bunyi dan pHnya 4. Selanjutnya, pH meter ditusukkan pada sampel daging dengan syarat searah dengan serat-serat otot lalu dilihat hingga pH tersebut konstan di dalam layar pH meter.

Susut Masak. Sampel daging ditusuk dengan termometer bimetal dan direbus dalam 1 liter air sampai termometer menunjukkan suhu internal daging 80 oC. Setelah itu, daging ditiriskan hingga beratnya konstan. Perhitungan susut masak yaitu sebagai berikut :

% Susut Masak = Berat sebelum dimasak- Berat konstan setelah dimasak x 100% Berat sebelum dimasak

Tingkat Keempukan. Sampel daging ditusuk dengan termometer bimetal dan direbus dengan 1 liter air sampai suhu internal daging mencapai 80 oC lalu diangkat dan ditiriskan. Setelah itu daging dicetak seperti selongsong dengan menggunakan

correr yang searah serabut daging dan berdiameter 1,27 cm, kemudian dipotong melintang dengan menggunakan alat pemutus Warner-Blatzer untuk mengetahui tingkat keempukan daging (kg/cm2). Warner Blatzer Force Shear merupakan alat untuk mengukur tingkat keempukan dengan melihat gaya geser maksimum yang terjadi ketika pemotongan sampel daging.

Daya Mengikat Air. Daya mengikat air (Water Holding Capacity) diukur dengan menggunakan Filter Paper Press Method. Sampel daging bagian paha belakang seberat 0,3 gram diletakan pada kertas saring Whatman no. 41 dan ditekan diantara dua plat besi dan dibebani dengan pemberat 35 kg selama 5 menit. Setelah 5 menit kertas saring beserta sampel diambil. Area basah dan area sampel daging hasil

22 pengepresan digambar pada plastik transparan. Luas area basah diperoleh dari hasil pengurangan luas total area basah dengan luas area tertutup daging dengan menggunakan alat planimeter. Pengukuran air bebas diukur dengan satuan % mgH2O yaitu banyaknya persentase air bebas yang keluar dari dalam daging. Makin tinggi nilai persentase mgH2O maka nilai daya mengikat air semakin rendah. Kandungan air bebas dihitung menggunakan rumus :

Luas Area Basah (cm2) = (selisih lingkar luar – selisih lingkar dalam) 100

mg H2O = luas area basah (cm2) – 8,0 0,0948

% air bebas = mg H2O x 100%

300

Keterangan :

0,0948 = konstanta rumus mg H2O 300 = hasil konversi 0,3 g menjadi mg

Pembuatan dan Pengamatan Preparat Mikrostruktur Otot

Histologi merupakan teknik untuk mempelajari jaringan normal dan diawali dengan preparasi jaringan yang meliputi fiksasi jaringan, dehidrasi, clearing, embedding sampel, sectioning, pewarnaan, dan mounting jaringan (OIE, 2003). Sampel daging yang digunakan dalam pembuatan preparat otot berbeda dengan sampel pada pengujian sifat fisik daging. Hal ini disebabkan oleh sampel daging yang terbatas. Oleh karena itu sampel yang digunakan dalam pembuatan preparat mikrostruktur otot adalah bagian loin atau otot Longissimus dorsi sebesar 1x1x1 cm3. Proses pembuatan preparat histologi yaitu sebagai berikut :

Fiksasi Jaringan. Sampel daging kemudian difiksasi dengan paraformaldehid 4% selama 24 jam sampai proses berikutnya dilakukan. Tujuan fiksasi adalah untuk menghentikan proses metabolisme jaringan dengan cepat (pengawetan jaringan).

Dehidrasi. Dehidrasi adalah pengambilan air dalam jaringan secara perlahan-lahan menggunakan alkohol dengan konsentrasi bertingkat 70%, 80%, 90%, 95%, masing-masing dilakukan selama 24 jam. Sampel dengan tissue holder dimasukkan ke dalam alkohol 100% (absolut I, II, III) masing-masing selama 1 jam.

23 Penjernihan (Clearing). Sampel dijernihkan dalam xylol I, II, dan III. Perendaman sampel di larutan xylol I dan II yaitu selama 1 jam sedangkan sampel yang direndam pada xylol III selama 30 menit di suhu ruang. Tujuan penjernihan adalah untuk menggantikan tempat alkohol dalam jaringan yang telah mengalami proses dehidrasi sehingga jaringan akan menjadi jernih dan transparan.

Embedding. Embedding adalah proses pembuatan blok jaringan dengan menggunakan paraffin. Penanaman jaringan ke dalam paraffin cair bertingkat A, B, C, dan D masing-masing selama 30 menit di suhu inkubator (±62o C). Semua peralatan yang digunakan untuk proses embedding harus selalu dalam keadaan hangat untuk menghindari paraffin cair mengeras sebelum proses selesai. Sebanyak 4 jaringan dapat dimasukkan ke dalam 1 cetakan. Cetakan terlebih dahulu didinginkan di atas mangkuk berisi air untuk mencegah terjadinya pembekuan paraffin bagian atas. Blok jaringan kemudian dipotong dan dilekatkan pada blok kayu serta diberi tanda agar tidak tertukar, lalu disimpan di dalam lemari es sebelum pemotongan menggunakan mikrotom. Proses penanaman jaringan dalam blok paraffin bertujuan untuk mempermudah proses penyayatan dengan bantuan mikrotom.

Sectioning (Pemotongan). Blok paraffin dipotong melintang dan memanjang pada ketebalan 4-5 µm menggunakan rotary mikrotom. Setelah mendapat potongan yang paling baik, sayatan jaringan diapungkan dalam air dingin kemudian diapungkan pada air di dalam water bath dengan suhu 40oC agar jaringan yang berkerut menjadi meregang sehingga mempermudah dalam pengamatan jaringan otot di preparat menggunakan mikroskop. Sayatan lalu dilekatkan di atas gelas objek dan dipanaskan pada inkubator (±62 oC) selama 24 jam.

Pewarnaan Masson Trichrome. Pewarnaan Masson Trichrome bertujuan untuk memberikan kekontrasan warna antara jaringan ikat dan serabut otot sehingga pengenalan bagian tertentu dapat lebih cepat dibedakan dan terlihat lebih jelas. Serabut otot berwarna merah, kolagen berwarna biru, nukleus memiliki warna coklat tetapi terkadang berwarna biru, dan keratin serta eritrosit berwarna oranye. Tahapan-tahapan pewarnaan sebagai berikut :

24 Gambar 6. Tahapan Proses Pewarnaan Masson Trichrome

Pengamatan Mikroskopik

Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop cahaya yang dilengkapi eye peace berskala mikrometer. Parameter yang diukur antara lain diameter fasikulus, diameter serabut otot, dan jarak antar fasikulus (pengukuran jaringan ikat). Pengamatan dilakukan dengan mengevaluasi tiga lapang pandang yang berbeda dari setiap preparat dan kemudian dirata-ratakan hasilnya. Sediaan yang telah diamati secara mikroskopik kemudian difoto menggunakan kamera.

Diameter Serabut Otot. Pengukuran diameter serabut otot dilakukan dengan cara mengukur masing-masing lima serabut otot secara tegak lurus dalam fasikulus yang terdapat pada setiap sampel preparat. Hasil pengukuran kemudian dirata-ratakan.

Deparafinisasi

Perendaman preparat di dalam larutan Bouin (37o C selama 1 jam)

Pencucian dengan air kran dan Destilation

Water (DW)

(15 menit)

Pewarnaan Hematoksilin Pewarnaan dengan Acid

Fuchsin + Ponceau 2R (10-15 menit) Direndam dalam 1% Acetid acid Pencucian dengan DW (kontrol mikroskop) Pewarnaan Orange G+ Phosphotungistic acid (5 menit) Direndam dalam 1% Acetic acid

Pewarnaan Light Green

(15 detik) Dehidrasi dengan

alkohol absolut (5 menit)

25 Diameter Fasikulus. Diameter fasikulus diukur pada tiga lapang pandang yang berbeda secara tegak lurus pada setiap sampel preparat dan hasilnya dirata-ratakan.

Ketebalan Jaringan Ikat. Ketebalan jaringan ikat diukur secara melintang pada jaringan ikat yang tidak terurai di tiap bidang pandang yang berbeda kemudian hasilnya dirata-ratakan.

Rancangan Percobaan

Landak Jawa sebanyak delapan ekor dibagi menjadi dua kelompok secara acak dan masing-masing kelompok diberi perlakuan pakan yang berbeda yaitu pakan kontrol (P0) dan pakan kontrol dengan penambahan konsentrat (P1). Landak jantan yang digunakan pada masing-masing perlakuan hanya satu ekor karena landak tergolong satwa liar yang langka dan dilindungi, sehingga tidak mudah mendapatkan satwa tersebut. Pengumpulan data dengan menggunakan satwa liar dalam jumlah yang terbatas dalam penelitian, maka pengambilan data diperbanyak dengan waktu penelitian yang lebih panjang. Peubah yang diamati antara lain warna daging, warna lemak, nilai pH, susut masak, keempukan, daya mengikat air, diameter serabut otot, diameter fasikulus, dan ketebalan jaringan ikat.

Analisis Data

Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan cara data dideskripsikan dengan menginterpretasikan tabel hasil penelitian dalam kalimat pernyataan sehingga dapat menjelaskan dan menyimpulkan hasil penelitian.

Dokumen terkait