• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Tinjauan Umum Tentang Pembuktian

3.3. Alat Bukti dalam KUHAP

Bukti yaitu sesuatu untuk meyakinkan kebenaran suatu dalil atau pendirian atau dakwaan. Alat-alat yang diperkenankan untuk dipakai membuktikan dalil-dalil atau dalam perkara pidana disebut dakwaan di sidang pengadilan misalnya : keterangan terdakwa, keterangan saksi, keterangan ahli, surat dan petunjuk29.

Alat bukti dapat didefinisikan sebagai segala hal yang dapat digunakan untuk membuktikan perihal kebenaran suatu peristiwa di pengadilan. Pada Pasal 184 KUHAP alat bukti yang dapat diajukan di sidang peradilan terdiri dari :

1. Keterangan saksi

Pada umumnya alat bukti keterangan saksi merupakan alat bukti yang paling utama dalam perkara pidana. Boleh dikatakan, tidak ada suatu perkara pidana yang luput dari pembuktian alat-alat bukti keterangan saksi.

Ditinjau dari segi dan nilai kekuatan pembuktian keterangan saksi, agar keterangan saksi atau kesaksian mempunyai nilai serta kekuatan pembuktian, perlu diperhatikan beberapa pokok ketentuan yang harus

28Martiman Prodjohamidjojo. 1982. Pembahasan Hukum Acara Pidana Dalam Teori dan Praktek.

Jakarta: Pradnya Paramita, hal. 19

29 Andi Hamzah. Op.cit, hal. 254

38 dipenuhi oleh seorang saksi. Artinya, agar keterangan saksi dapat dianggap sah sebagai alat bukti yang memiliki nilai kekuatan pembuktian harus dipenuhi aturan ketentuan sebagai berikut:

a. Harus mengucapkan sumpah atau janji;

b. Keterangan saksi yang bernilai sebagai bukti;

c. Keterangan saksi saja dianggap tidak cukup;

d. Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri.

2. Keterangan ahli

Berdasarkan Pasal 186 KUHAP, pengertian keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Keterangan ahli ini daspat juga diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang disuratkan dalam bentuk laporan dalam dibuat dengan mengingat sumpah diwaktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.

Dengan demikian nilai kekuatan pembuktian keterangan ahli sama halnya dengan nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti keterangan saksi. Oleh karena itu nilai kekuatan pembuktian yang melekat pada alat bukti keterangan ahli adalah :

a. Mempunyai nilai kekuatan pembuktian bebas

b. Keterangan ahli yang berdiri saja tanpa didukung oleh salah satu alat bukti yang lain.

Keterangan ahli sebagai alat bukti pada umumnya, tidak menyangkut pokok perkara pidana yang diperiksa. Sifatnya lebih ditujukan untuk

39 menjelaskan sesuatu hal yang masih kurang terang tentang suatu hal atau keadaan. Jadi tanpa mengurangi kekuatan pembuktiannya maka keterangan beberapa orang ahli dapat dinilai sebagai dua atau beberapa alat bukti yang dapat dianggap telah memenuhi prinsip minimum pembuktian yang ditentukan Pasal 183 KUHAP. Oleh karena itu, dua atau lebih alat bukti keterangan ahli, dapat dinilai merupakan dua atau beberapa alat bukti, yang harus dinilai telah cukup membuktikan kesalahan terdakwa.

3. Surat

Yang dimaksud dengan alat bukti surat adalah surat yang dibuat atas kekuatan sumpah jabatan atau yang dikuatkan dengan sumpah. Dalam Pasal 187 KUHAP, yang dimaksud surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c KUHAP, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah :

a) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;

b) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tatalaksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;

40 c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;

d) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.

Pemeriksaan surat di persidangan langsung dikaitkan dengan pemeriksaan saksi-saksi dan pemeriksaan terdakwa. Pada saat pemeriksaan saksi, dinyatakan mengenai surat-surat yang ada keterkaitan dengan saksi yang bersangkutan kepada terdakwa pada saat memeriksa terdakwa30.

4. Petunjuk

Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana. Alat bukti petunjuk hanya dapat diperoleh dari :

1. Keterangan saksi 2. Surat

3. Keterangan terdakwa

Penilaian atas kekuatan pembuktian dari sesuatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati nuraninya (Pasal 188 ayat (1), (2), dan ayat (3) KUHAP).

30Leden Marpaung, 1992, Tindak Pidana Korupsi : Masalah dan Pemecahannya, Jakarta : Sinar Grafika, hal. 395

41 5. Keterangan terdakwa

Keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan disidang pengadilan tentang perbuatan yang ia lakukan atau ia ketahui sendiri atau alami sendiri (Pasal 189 KUHAP).

Penilaian atas kekuatan pembuktian alat bukti dari suatu keterangan atau pengakuan terdakwa adalah sebagai berikut :

1. Sifat nilai kekuatan pembuktiannya adalah bebas

Hakim tidak terikat pada nilai kekuatan yang terdapat pada alat bukti keterangan terdakwa. Dia bebas untuk menilai kebenaran yang terkandung didalamnya. Hakim dapat menerima atau menyingkirkannya sebagai alat bukti dengan jalan mengemukakan alasan-alasannya.

2. Harus memenuhi batas minimum pembuktian

Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain.

Sekalipun kesalahan terdakwa terbukti sesuai dengan asas batas minimum pembuktian masih harus lagi di barengi dengan keyakinan hakim, bahwa memang terdakwa yang bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Asas keyakinan hakim harus melekat pada putusan yang diambil sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut dalam pasal 183 KUHAP.

D. Kerangka Pemikiran

Audit dalam rangka Penghitungan Kerugian Keuangan Negara adalah audit dengan tujuan tertentu yang dimaksudkan untuk menyatakan pendapat mengenai

42 nilai kerugian keuangan negara yang timbul dari suatu kasus penyimpangan dan digunakan untuk mendukung tindakan litigasi.

Dalam Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menyatakan keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Pasal 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyatakan keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka (1), meliputi antara lain kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah.

Kerugian Keuangan Negara adalah berkurangnya kekayaan negara atau bertambahnya kewajiban negara tanpa diimbangi dengan prestasi yang setara, yang disebabkan oleh suatu tindakan melawan hukum, penyalahgunaan wewenang/kesempatan atau sarana yang ada pada seseorang karena jabatan atau kedudukan, kelalaian seseorang, dan atau disebabkan oleh keadaan di luar kemampuan manusia (force majeure). Dalam konteks pasal 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, kerugian keuangan negara yang dimaksud adalah yang disebabkan perbuatan melawan hukum (pasal 2), tindakan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada pada seseorang karena jabatan atau kedudukannya (pasal 3).

43 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara, Pasal 1 ayat (22) “kerugian keuangan negara/daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai”. Oleh karena itu kerugian keuangan negara itu harus pasti tidak menerka-nerka dan harus dilakukan penghitungan kerugian keuangan negara.

Dalam penerapan Penghitungan Kerugian Keuangan Negara tersebut ada lembaga yang berwenang mengaudit yaitu lembaga yang diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk melakukan audit dalam rangka penghitungan kerugian keuangan negara yaitu Badan Pemeriksa Keuangan dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi penyimpangan yang terjadi b. Mengidentifikasi Transaksi

c. Mengidentifikasi, mengumpulkan, verifikasi dan analisis bukti d. Menghitung jumlah kerugian keuangan negara

Metode yang digunakan dalam menghitung kerugian keuangan negara adalah sebagai berikut:

a. Keruian total Kerugian Total (Total Loss) b. Kerugian Total dengan Penyesuaian c. Kerugian Bersih (Net Loss)

d. Harga wajar

e. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost) f. Bunga (Interest)

44 Kekuatan pembuktian Audit Penghitungan Kerugian Keuangan Negara adalah sebagai berikut:

1. Audit Penghitungan Kerugian Keuangan Negara sebagai alat bukti surat apabila laporan ahli yang diberikan pada saat penyidikan dan dilakukan dibawah sumpah tidak dihadirkan di persidangan.

2. Audit Penghitungan Kerugian Keuangan Negara sebagai alat bukti keterangan ahli apabila memberikan keterangan di persidangan. Dengan demikian, Audit Penghitungan Kerugian Keuangan Negara dapat menentukan/mengungkap ada atau tidak kerugian keuangan negara.

E. Bagan Kerangka Pikir

PENERAPAN

AUDIT PENGHITUNGAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA

Pembuktian Audit

Penghitungan Kerugian Keuangan Negara (X2) :

1. Alat bukti keterangan Ahli 2. Alat bukti surat

TERUNGKAP KERUGIAN KEUANGAN NEGARA

Dasar Hukum:

1. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) 2. Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 3. Undang-Undang Keuangan Negara

4. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Tindak Pidana oleh Korporasi

Penerapan Audit Penghitungan Kerugian Keuangan Negara dalam penanganan tindak pidana korupsi (X1):

1. Lembaga yang berwenang mengaudit

2. Langkah-Langkah dalam menghitung kerugian keuangan negara

3. Metode dalam Menghitung Kerugian Keuangan Negara

45 F. Definisi Operasional

1. Penerapan Audit Penghitungan Kerugian Keuangan Negara adalah penerapan audit dengan tujuan tertentu yang dimaksudkan untuk menyatakan pendapat mengenai nilai kerugian keuangan negara yang timbul dari suatu kasus penyimpangan dan digunakan untuk mendukung tindakan litigasi.

2. Dasar Hukum:

2.1. Kitab Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

2.2. Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

2.3. Undang-Undang Keuangan Negara adalah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.

2.4. Peraturan Mahkamah Agung adalah Peraturan Mahkamah Agung Nomor 13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana Oleh Korporasi

3. Penerapan Audit Penghitungan Kerugian Keuangan Negara adalah sebagai berikut :

3.1. Lembaga yang berwenang mengaudit adalah lembaga yang diberikan kewenangan oleh undang-undang untuk melakukan audit dalam rangka penghitungan kerugian keuangan negara yaitu Badan Pemeriksa Keuangan dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan.

Dokumen terkait