BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Alat Pengukur Parkir (Terminal Parkir Elektronik)
2.8 Alat Pengukur Parkir (Terminal Parkir Elektronik)
Terminal Parkir Elektronik (TPE) juga dapat disebut parkir meter. Parkir meter adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur waktu lamanya suatu kendaraan parkir disuatu lokasi. Alat ini biasanya dipasang pada lokasi parkir di pinggir jalan. Pemilik kendaraan diwajibkan untuk menekan tombol kapan waktu dimulainya parkir. Setelah parkir maka pemilik kendaraan wajib menekan kembali tombol berakhirnya waktu parkir.
Gambar 2.13 Terminal Parkir Elektronik Sumber: Safitri (2012)
Alat ini akan menunjukkan besarnya biaya parkir yang harus dibayar oleh pemilik kendaraan yang langsung dimasukkan kedalam alat Terminal Parkir Elektronik (TPE) tersebut, biaya parkir dengan terminal parkir umumnya dikenakan per-jam. Alat ini sangat membutuhkan kesadaran dan penegakan hukum yang tegas bagi pelanggarnya. Jenis lain dari alat ini, mengharuskan pemilik kendaraan menentukan lamanya waktu parkir dengan memasukkan koin kedalam alat. Pada jam yang ditentukan alat akan membunyikan alarm otomatis menandakan waktu parkir telah habis. Apabila alarm berbunyi dan pemilik kendaraan belum memindahkan kendaraanya atau memasukkan koin baru, maka bila ada patroli petugas si pemilik kendaraan akan dikenakan sanksi tilang.
Tujuan alat Terminal Parkir Elektronik (TPE) adalah menghasilkan pendapatan bagi pemerintah kota dan dapat mengurangi lalu lintas dan membantu lingkungan dengan menghemat bahan bakar akan tetapi tergantung pada seberapa
23 tinggi biaya parkir yang ditetapkan. Biaya parkir yang tinggi diharapkan dapat menekan kendaraan pribadi dan berpindah menggunakan angkutan umum.
2.8.1 Kelebihan dan Kekurangan Terminal Parkir Elektronik (TPE)
Terminal Parkir Elektronik (TPE) memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan yaitu :
Kelebihan Terminal Parkir Elektronik (TPE) adalah
1. Aspek keuangan : penggunaan alat parkir meter secara efektif dapat mengurangi kebocoran pendapatan retribusi parkir sehingga dapat meningkatkan PAD retribusi parkir On Street.
2. Aspek kelembagaan : dapat memperbaiki kualitas operasional pelayanan perparkiran serta kualitas pengawasan jalannya operasional parkir On Street 3. Aspek lingkungan : dapat mengurangi parkir liar sehingga dapat mengurangi
kemacetan lalu lintas.
Kekurangan Terminal Parkir Elektronik (TPE) adalah
1. Jika alat pembayaran Terminal Parkir Elektronik (TPE) yang digunakan hanya dengan koin akan membutuhkan banyak uang koin. Seorang pengendara belum tentu memiliki banyak uang receh yang akan dimasukkan ke Terminal Parkir Elektronik (TPE), sehingga pengendara akan membutuhkan banyak koin.
2. Terminal Parkir Elektronik (TPE) ini rawan akan pemarkir yang dapat mengelabui petugas. Sebab, struk parkir yang dikeluarkan mesin parkir meter itu tidak di tempel di kendaraan yang terparkir. Struk parkir dibawa oleh pengendara sehingga tidak akan diketahui berapa lama pengendara tersebut parkir. Hal ini akan terjadi jika tidak terpasangnya CCTV pada Terminal Parkir Elektronik (TPE).
2.8.2 Penerapan Sistem Terminal Parkir Elektronik (TPE)
Penerapan parkir sudah dilakukan sejak tahun 1935 oleh Holger George Thuesen dan Gerald A. Hale, menemukan terminal parkir yang dapat bekerja dengan baik.Saat pertama kali ditemukan terminal parkir belum menggunakan elektronik, akan tetapi digunakan secara mekanik tanpa listrik dan menggunakan
24 baterai. Cara pembayaran terminal parkir yang pertama kali ditemukan ini dilakukan dengan memasukkan koin ke dalam slot yang disediakan. Koin akan diambil oleh petugas setelah tidak ada pengendara yang parkir. Pemasangan Terminal Parkir pertama yang resmi dilakukan pada 16 Juli 1935 di Kota Oklahoma. Setelah itu, penerapan meluas ke kota-kota besar di Amerika.
Pertengahan 1980 terminal parkir terdapat dalam bentuk digital, dengan mengganti bagian mekanik dengan komponen elektronik. Pembayaran alat terminal parkir yang biasanya dengan memasukkan koin ke slot, atau dengan menekan tombol dan dengan adanya pencatat waktu di semua terminal parkir. Dengan berkembangnya teknologi, pembayaran ke terminal parkir dapat menggunakan kartu kredit ataupun kartu yang dibuat khusus untuk membayar parkir. Sehingga pengendara tidak perlu menyiapkan banyak koin dan hanya menyiapkan kartu. Dengan adanya teknologi elektronik, tombol atau layar pada terminal parkir akanmenunjukkan waktu yang tersisa, sehingga pengendara dapat memperkirakan kapan harus kembali ke terminal parkir atau menambah biaya jika ingin memperpanjang waktu parkir. Beberapa terminal parkir dapat melakukan pembayaran penambahan waktu dengan telepon genggam dan memberitahu pengendara waktu parkir yang tersisa. Terminal parkir saat ini juga sudah nirkabel atau wireless dan dapat melaporkan masalah ke staff pemeliharaan, yang dapat memperbaiki terminal sehingga dapat dipakai segera.
Penerapan Terminal Parkir Elektronik (TPE) di Indonesia pertama kali dilakukan di kota Bandung sebagai uji coba dan diikuti oleh kota-kota lainnya seperti Jakarta, Surakarta dan Tangerang Selatan. Alat ini dilengkapi dengan CCTV untuk mengontrol operasional lapangan. Selain itu, alat ini didesain tahan terhadap berbagai macam cuaca atau bentuk vandalisme. Pembayaran Terminal Parkir Elektronik (TPE) awalnya menggunakan koin sebagai alat pembayaran. Untuk mempermudah pembayaran, kartu kredit atau e-money dapat digunakan sebagai alat pembayaran. Pendapatan yang diterima pada terminal parkir akan terdata secara real time oleh server pada kantor pusat. Penerapan Terminal Parkir Elektronik (TPE) di Indonesia dilakukan sebagai bentuk upaya pembenahan manajemen pengelolaan parkir On Street dan untuk mengurangi kebocoran pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan adanya Terminal Parkir Elektronik
25 (TPE) yang menggunakan alat elektronik sehingga tidak memerlukan juru parkir atau sumber daya manusia. Pendapatan juga akan langsung diterima ke kantor pusat sehingga kebocoran akan diminimalisir. Harga Terminal Parkir Elektronik (TPE) yang telah digunakan di Indonesia sebesar Rp. 125.000.000,00 (menurut
e-katalog LPPM), walaupun harga Terminal Parkir Elektronik (TPE) terbilang
mahal akan tetapi akan lebih efektif untuk memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sistem kerja Terminal Parkir Elektronik (TPE) adalah pengguna/pengendara hanya perlu memasukkan tipe kendaraan, lalu memasukkan nomor polisi kendaraan dan memperkiraan lama parkir. Terminal Parkir Elektronik (TPE) akan memunculkan konfirmasi harga, dan pengguna perlu meletakkan kartu elektroniknya di layar untuk pembayaran. Struk akan keluar dari Terminal Parkir Elektronik (TPE) dan sebaiknya disimpan sebagai bukti pembayaran. Mengenai tarif, tarif yang dipungut Terminal Parkir Elektronik (TPE) berbeda berdasarkan jenis kendaraan. Untuk motor, per jamnya akan dikenakan Rp 2.000, sedangkan untuk mobil sebesar Rp 5.000 per jam. Kendaraan jenis truk dikenakan Rp 8.000 setiap jamnya. Khusus untuk pemilik dan karyawan toko yang sudah terdaftar, mereka bisa mendapatkan harga khusus seperti Rp 5.000 per hari untuk motor, dan Rp 20.000 per hari untuk mobil.
Skema Operasional ditunjukkan pada gambar berikut :
Gambar 2.14 Skema Operasional Terminal Parkir Elektronik Sumber: Safitri (2012)
26 Skema Penyetoran ditunjukkan pada gambar berikut :
Gambar 2.15 Skema Penyetoran Terminal Parkir Elektronik Sumber: Safitri (2012)
Menurut Unit Pengelola (UP) Parkir Jakarta, alur penyetoran setelah melakukan pembayaran di mesin TPE adalah sebagai berikut :
1. Setelah Pengguna Jasa Parkir (PJP) melakukan pembayaran di mesin TPE, uang elektronik akan masuk ke rekening penampungan sementara, rekening penampungan dimiliki oleh petugas yang disebut integrator.
2. Tugas integrator adalah menampung uang elektronik lalu mengurus pembagian pendapatan parkir dengan mesin TPE. Pembagiannya adalah 1% dari total pendapatan diberikan ke pihak bank yang bekerja sama dengan UP Parkir, lalu sebanyak 2% dari total pendapatan diberikan kepada pihak integrator. Sebanyak 97% dari total pendapatan diberikan ke UP Parkir yang bertugas sebagai pengelola pendapatan dari pendapatan mesin TPE itu sendiri. Namun menurut UP Parkir Jakarta, swakelola pendapatan TPE juga dapat bekerja sama dengan pihak lain atau diserahkan ke pihak ketiga. Pembagian total pendapatannya adalah 30% untuk UP Parkir dan 70% sisanya untuk pihak lain. Penerapan Terminal Parkir Elektronik (TPE) di Indonesia dilakukan Sebagai bentuk upaya pembenahan manajemen pengelolaan parkir On Street dan untuk mengurangi kebocoran pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan adanya Terminal Parkir Elektronik (TPE) yang menggunakan alat elektronik sehingga tidak memerlukan juru parkir atau sumber daya manusia. Pendapatan juga akan langsung diterima ke kantor pusat sehingga kebocoran akan diminimalisir.