• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.10 Studi Kelayakan Finansial Parkir

Dalam analisis finansial ada beberapa kriteria yang digunakan dalam menentukan diterima atau tidaknya suatu usulan investasi. Dalam semua kriteria itu, baik manfaat (benefit), maupun biaya (cost) dinyatakan dalam nilai sekarang (Present Net Value), dan masing masing kriteria mempunyai keunggulan dan kelemahan (Giatman, 2006). Terdapat beberapa metode dalam mengevaluasi kelayakan investasi yang umum dipakai antara lain : Metode Net Present Value (NPV), Metode Annual Equivalent (AE), Metode Internal Rate of Return (IRR),

31 Metode Benefit Cost Ratio (BCR) dan Metode Payback Period (PBP).Pada dasarnya semua metode tersebut konsisten satu sama lain artinya jika dievaluasi dengan metode NPV dan metode lainnya akan menghasilkan rekomendasi yang sama, tetapi informasi spesifik yang dihasilkan tentu akan berbeda. Oleh karena itu dalam prakteknya masing-masing metode sering dipergunakan secara bersamaan dalam rangka mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif terhadap perilaku investasi tersebut.

Metode Payback Period pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui seberapa lama investasi akan dapat dikembalikan saat terjadinya kondisi pokok pulang (break event point). Metode Annual Equivalent konsepnya kebalikan dari NPV ( seluruh aliran cash ditarik dalam bentuk present), dimana aliran cash akan didistribusikan secara merata pada periode sepanjang umur investasi. Hasil distribusi yang merata menghasilkan pendapatan per tahun atau Annual

Equivalent (AE). Berikut ini adalah penjelasan mengenai NPV, BCR dan IRR :

2.10.1 Benefit Cost Ratio (BCR)

Metode menghitung perbandingan antara benefit terhadap cost dalam suatu proyek investasi. Metode BCR ini memberikan penekanan terhadap nilai perbandingan antara aspek manfaat (benefit) yang akan diperoleh dengan aspek biaya dan kerugian yang akan ditanggung (cost) dengan adanya investasi tersebut. Pada proyek-proyek swasta, benefit umumnya berupa pendapatan minus diluar biaya pertama. Misalnya untuk operasi dan produksi sedangkan cost adalah biaya pertama. Adapun rumus yang digunakan adalah:

BCR = PWC

PWB (2.12)

dimana:

BCR = perbandingan manfaat terhadap biaya (benefit cost ratio) PWB = Present Worth of Benefit atau nilai sekarang benefit PWC = Present Worth of Cost

Untuk mengetahui apakah suatu rencana investasi layak ekonomis atau tidak setelah melalui metode ini adalah :

Jika : BCR > 1 artinya investasi layak (feasible)

32

2.10.2 Net Present Value (NPV)

Dalam metode ini kita menggunakan faktor diskon. Semua pengeluaran dan penerimaan (dimana saat pengeluaran serta penerimaannya adalah dalam waktu yang tidak bersamaan) harus diperbandingkan dengan nilai yang sebanding dalam arti waktu. Dalam hal ini berarti kita harus mendiskonkan nilai-nilai pengeluaran dan penerimaan tersebut ke dalam penilaian yang sebanding (sama). Pengeluaran dilakukan pada saat mula-mula (sekarang), sedangkan penerimaan baru akan diperoleh di masa-masa yang akan datang, padahal nilai uang sekarang adalah tidak sama (lebih tinggi) dari nilai uang dikemudian hari. Oleh karena itu, jumlah estimasi penerimaan itu harus kita diskonkan, kita jadikan jumlah-jumlah nilai sekarang (penilaian yang sebanding dengan pengeluarannya) (Husnan, 2000).

Urutan-urutan perhitungan dalam metode ini adalah :

a. Menghitung cash flow yang diharapkan dari investasi yang akan dilaksanakan. b. Mencari nilai sekarang (present value) dari cash flow dengan mengalikan

tingkat diskon/discountrate tertentu yang ditetapkan.

c. Kemudian jumlah sekarang/present value dari cash flow selama umur investasi dikurangi dengan nilai investasi awal (Initial Outlays/IO) akan menghasilkan Net Present Value/NPV.

Net Present Value dari investasi dapat diperoleh dengan menggunakan formula sebagai berikut :

NPV = PWB - PWC (2.13)

t n n P F i n Cb PWB 0 ) , , / ( (2.14)

t n n P F i n Cc PWC 0 ) , , / ( (2.15) (P/F,i,n) = 1/ (1+ i)n (2.16) Di mana :

NPV = Net present value

PWB = Present Worth of Benefit PWC = Present Worth of Cost Cb =Cash flow benefit

33 Cc =Cash flow Cost

n = Umur investasi FPB = Faktor bunga present t = Periode waktu

Apabila didapat nilai NPV sebagai berikut: a. NPV > 0, proyek menguntungkan b. NPV < 0, proyek tidak layak diusahakan

c. NPV = 0, berarti netral atau berada pada break even point (BEP)

2.10.3 Internal Rate of Return (IRR)

Internal Rate of Return adalah tingkat diskon (discount rate) yang

menjadikan sama antara present value dari penerimaan cash dan present value dari nilai atau investasi discount rate/tingkat diskon yang menunjukkan net

present value atau sama besarnya dengan nol.

Oleh karena itu IRR adalah merupakan tingkat diskon dari persamaan:

n n i P i P i P IO ) 1 ( ... ) 1 ( ) 1 ( 2 2 1 1       (2.17) dimana :

IO = Pengeluaran mula-mula atau nilai investasi/initial outlays P = Net cash flow (proceeds) pada tahun ke-1

i = Tingkat diskon

n = Lama waktu atau periode umum investasi

Internal rate of return dapat dicari dengan sistem coba-coba (trial and error)

yaitu dengan mencari NPV pada discount rate/tingkat diskon yang kita sukai. Apabila dengan discount rate yang kita pilih dihasilkan NPV positif (+), maka IRR yang akan dicari adalah di atas discount rate/tingkat diskon tersebut, seterusnya kita cari dengan coba-coba sampai menemukan discount rate yang menghasilkan NPV = 0 (nol).

Tetapi internal rate of return dapat dicari dengan menggunakan rumus :

) (2 1 2 1 1 1 x i i NPV NPV NPV i IRR     (2.18)

34 dimana :

IRR = Internal Rate of Return yang akan dicari

i1 = Internal Rate (tingkat bunga) untuk penetapan ke-1 i2 = Internal Rate (tingkat bunga) untuk penetapan ke-2 NPV1 = Net Pesent Value dari hasil IR

NPV2 = Net Pesent Valuehasil dari IR

Kelayakan IRR dapat ditentukan dengan cara membandingkan nilai IRR dengan Minimum Atractive Rate of Return (MARR). MARR adalah tingkat suku bunga pengembalian minimum yang diinginkan dalam sebuah investasi. Apabila didapat hasil IRR sebagai berikut.

IRR ≥MARR maka suatu proyek dikatakan layak IRR < MARR maka proyek dinyatakan tidak layak

Karena nilai-nilai parameter dalam studi kelayakan biasanya diestimasikan besarnya, maka jelas nilai-nilai tersebut tidak bisa lepas dari faktor kesalahan. Artinya, nilai-nilai parameter tersebut mungkin lebih besar atau lebih kecil dari hasil estimasi yang diperoleh, atau berubah pada saat-saat tertentu. Perubahan-perubahan yang terjadi pada nilai-nilai parameter tentunya akan mengakibatkan perubahan-perubahan pula pada tingkat output atau hasil yang ditunjukkan oleh suatu alternatif investasi.

2.10.4 Metode Payback Period

Yang dimaksud dengan periode pengembalian atau jangka waktu pengembalian modal (Payback Period) adalah jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal suatu investasi, dihitung dari aliran kas bersih (net). Aliran kas bersih adalah selisih pendapatan (revenue) terhadap pengeluaran (expenses) per tahun. Periode pengembalian biasanya dinyatakan dalam jangka waktu per tahun (Soeharto,1997).

Metode ini pada dasarnya digunakan dengan mengacu pada asumsi bahwa komponen manfaat dan komponen biaya yang dihasilkan dari suatu analisis kuantitatif pada dasarnya merepresentasikan kondisi ‘cash flow’. Indeks Payback

Period, yaitu suatu indeks yang menggambarkan lamanya waktu yang dibutuhkan

35

Period’ dapat digunakan dua cara, yaitu cara grafis dan cara analisis. Cara grafis

lebih menggambarkan secara sederhana dari kondisi cash flow yang ada dibandingkan dengan cara analisis. Pada cara grafis kondisi cash flow digambarkan dalam bentuk kurva kumulatif inflow dan outflow. Dari kedua kurva yang dimaksud akan diperoleh Payback Periodnya, yaitu titik dimana kedua kurva saling berpotongan.

Kriteria kelayakan:

1. Proyek dikategorikan sebagai proyek yang layak jika masa pemulihan modal lebih pendek dari pada usia ekonomis proyek.

2. Proyek dikategorikan sebagai proyek yang tidak layak jika masa pemulihan modal lebih lama dari pada usia ekonomis proyek yang bersangkuatan.

Kriteria ini memberikan indikasi atau petunjuk bahwa proyek dengan periode pengembalian lebih cepat akan lebih disukai, dalam memakai kriteria ini perusahaan yang bersangkutan perlu menentukan batasan maksimum waktu pengembalian, berarti lewat waktu tersebut tidak dipertimbangkan.

Gambar 2.16 Grafik Payback Period Sumber: LPKM-ITB (1997)

Dokumen terkait