BAB III METODE PENELITIAN
G. Instrumen Penelitian / Alat Ukur
1. Alat Pengumpul Data
G. Instrumen Penelitian/Alat Ukur
1. Alat Pengumpul Data
Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner pola asuh orang tua demokratis. Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan kerangka kuesioner yang disusun oleh Gendon Barus (1999) dan dimodifikasi Aji Prayoga Marthan untuk melakukan penelitian Hubungan Antara Persepsi Pola Asuh Orang Tua Demokratis dengan Prestasi Akademik pada Remaja. Kuesioner ini juga dikembangkan oleh peneliti bersama dengan Cicilia Oktarina Wijayanti. Kuesioner ini terdiri dari 12 indikator yang dijabarkan dalam bentuk item-item tertentu berjumlah 60 item berupa item positif dan item negatif. Adapun bentuk kuesioner pola asuh demokratis ini dapat dilihat pada lampiran 1 halaman 136.
Peneliti menggunakan kuesioner ini dikarenakan adanya beberapa alasan. Kuesioner ini digunakan karena indikator-indikator yang terdapat pada kuesioner sesuai dengan kajian pustaka yang diuraikan oleh peneliti. Selain itu, kuesioner ini juga lengkap dan sejalan dengan penelitian yang akan dilakukan.
Peneliti juga memodifikasi kuesioner yang sudah ada. Adapun landasan peneliti memodifikasi kuesioner tersebut dengan alasan bahwa kuesioner yang ada ditujukan bagi siswa Sekolah Menengah Pertama
(SMP), sedangkan penelitian yang akan dilakukan adalah bagi siswa SD. Oleh sebab itu, peneliti memodifikasi kata-kata yang terdapat pada kuesioner sebelumnya serta disesuaikan dengan bahasa yang sesuai untuk anak usia SD. Selain memodifikasi, peneliti juga melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap alat ukur tersebut sehingga alat ukur benar-benar tepat dan tetap digunakan untuk penelitian.
Kuesioner ini disusun dalam bentuk skala bertingkat yang memuat pernyataan-pernyataan mengenai pola asuh orang tua demokratis terhadap anak. Kuesioner ini disusun berdasarkan prinsip Likert’s Summated Ratings. Skala Likert disusun dalam bentuk suatu pernyataan dan diikuti oleh pilihan respons yang menujukkan suatu tingkatan. Skala ini dimodifikasi dengan empat pilihan jawaban yaitu “Selalu (SL)”, ”Sering (SR)”, “Kadang-kadang (K)”, dan “Tidak pernah (TP)”. Item positif diberi skor yang bergerak dari 4-1 untuk pilihan berturut-turut dari “Selalu” sampai “Tidak pernah”. Item negatif diberi skor yang bergerak dari 1-4 untuk pilihan dari “Selalu” sampai “Tidak pernah”.
Pengukuran alat ini dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu: a. Item-item positif, dengan pilihan jawaban dan skor yaitu :
(a)Selalu (SL) : skor 4 (b)Sering (SR) : skor 3 (c)Kadang-kadang (K) : skor 2 (d)Tidak Pernah (TP) : skor 1
(a)Selalu (SL) : skor 1 (b)Sering (SR) : skor 2 (c)Kadang-kadang (K) : skor 3 (d)Tidak Pernah (TP) : skor 4
Peneliti memodifikasi seluruh pernyataan dari kuesioner sebelumnya. Adapun pernyataan yang ada di dalam kuesioner akan dijabarkan ke dalam indikator pola asuh orang tua demokratis di bawah ini:
Tabel 3.3 Indikator Pola Asuh Orang tua Demokratis
Indikator Item Positif Item Negatif Hangat dalam melakukan
interaksi antara orang tua dan anak, serta komunikasi yang terjalin dengan baik.
Ayah dan ibu mengijinkan saya berbicara tentang banyak hal.
Ayah dan ibu senang jika saya bercerita tentang rencana liburan saya. Ayah dan ibu senang
mendengar cerita tentang kegiatan saya.
Jika saya mengalami kesulitan belajar, maka ayah dan ibu membantu.
Ayah dan ibu membiarkan saya jika saya kesulitan.
Jika saya sedih, maka ayah dan ibu membiarkan saya. Ayah dan ibu keberatan
membantu saya dalam belajar.
Mengenakan seperangkat standar untuk mengatur anak-anaknya yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan anak.
Ayah dan ibu menasehati saya agar memakai pakaian yang rapi dan sopan.
Ayah dan ibu mengingatkan saya untuk menyisir rambut jika rambut saya berantakan.
Ayah dan ibu mengingatkan saya jika saya melakukan kesalahan.
Bila saya ingin bepergian dengan teman-teman, ayah dan ibu yang sepenuhnya menentukan saya pergi atau tidak. Ayah dan ibu jarang
mengingatkan tentang pentingnya menepati janji
Menempatkan nilai yang tinggi pada perkembangan kemandirian dan
Ayah dan ibu mengajarkan sopan santun kepada saya.
Ayah dan ibu memaksa saya untuk berdoa sebelum melakukan
pengaturan diri sendiri. Ayah dan ibu menanyakan alasan kepada saya jika saya pulang sekolah lebih awal.
Setelah bangun tidur, ayah dan ibu membiasakan saya untuk merapikan tempat tidur. Ayah dan ibu
membiasakan saya untuk bersyukur dan berdoa setelah bangun tidur.
sesuatu.
Ayah dan ibu yang menentukan jam belajar saya di rumah.
Menanamkan kebiasaan-kebiasaan rasional, berorientasi pada masalah serta sering melibatkan diri dalam perbincangan dan penjelasan pada anak-anak seputar persoalan disiplin.
Ayah dan ibu mengingatkan saya untuk selalu mematuhi tata tertib.
Ayah dan ibu mengingatkan saya agar berhati-hati di jalan. Ayah dan ibu
membiasakan saya untuk segera mengerjakan PR.
Ayah dan ibu selalu curiga jika saya melakukan kegiatan di luar rumah.
Mendorong tumbuhnya interaksi saling memberi dan menerima antara orang tua dan anak.
Ayah dan ibu memberi uang saku secukupnya sesuai dengan kebutuhan.
Ayah dan ibu memahami bahwa saya berbeda dengan saudara saya. Ayah dan ibu
memberikan dukungan terhadap cita-cita saya.
Ayah dan ibu marah jika dikritik oleh anak-anaknya.
Ayah dan ibu bersikap acuh terhadap usulan-usulan saya.
Mendukung, menerima dan bertanggung jawab dalam mempertimbangkan
berbagai alternatif, akan tetapi tidak mendominasi dari sudut pandangan mereka.
Ayah dan ibu berusaha memenuhi keinginan saya setelah dibicarakan bersama.
Ayah dan ibu mendorong saya untuk mau membicarakan rencana-rencana kegiatan.
Ayah dan ibu mengabaikan
kemampuan saya dalam hal belajar.
Ayah dan ibu tidak pernah mempercayakan pekerjaan rumah pada saya.
Saya dipilihkan teman bergaul oleh ayah dan ibu.
Menggunakan wewenang akan tetapi dalam penerapannya orang tua membimbing serta mengarahkan
langkah- Ayah dan ibu mengajarkan kepada saya untuk meminta maaf jika saya berbuat salah.
Saya takut menceritakan permasalahan saya kepada ayah dan ibu. Ayah dan ibu bersikap
langkah yang harus diambil oleh anak.
Ayah dan ibu mengajarkan kepada saya untuk berterimakasih jika saya menerima sesuatu dari orang lain.
Ayah dan ibu mendorong saya untuk membicarakan segala persoalan secara terbuka.
yang saya alami.
Melibatkan atau mengijinkan anak dalam membuat keputusannya dan mengekspresikan
pendangannya sendiri serta menghargai individualitas anak, sementara orang tua ikut memberikan penjelasan yang masuk akal (bekerjasama dalam membuat keputusan).
Ayah dan ibu memberi kesempatan kepada saya untuk mengungkapkan keinginan.
Ayah dan ibu mendukung keputusan saya misalnya tentang kegiatan ekstrakurikuler. Ayah dan ibu
mengijinkan jika saya menginap di rumah teman dengan alasan yang jelas.
Ayah dan ibu enggan mengajak saya membicarakan rencana liburan bersama.
Ayah dan ibu mengubah aturan dalam keluarga sesuai keinginan mereka.
Menghargai pendapat anak dan mendorong untuk mengungkapkannya.
Ayah dan ibu memberi kebebasan kepada saya untuk memilih hadiah ulang tahun.
Jika ayah dan ibu mengajak saya bepergian, mereka menanyakan kesediaan saya. Saya terbiasa menceritakan segala permasalahan kepada ayah dan ibu.
Saya harus menuruti setiap perintah ayah dan ibu.
Ayah dan ibu sulit menerima pendapat saya tanpa menanyakan maksudnya lebih dulu.
Memberikan waktu kepada anak untuk berfikir dan merenungkan setiap kejadian serta permasalahan yang mereka hadapi.
Ayah dan ibu memberi kesempatan supaya saya belajar mandiri.
Jika saya pulang terlambat maka ayah dan ibu menanyakan alasannya.
Ayah dan ibu mengajak saya untuk memahami kekurangan dan kelebihan diri saya.
Ayah dan ibu tidak memberi saya kesempatan untuk merenungkan perbuatan saya yang merugikan orang lain.
Ayah dan ibu akan marah jika saya melakukan kesalahan tanpa mereka mendengarkan
penjelasan dari saya. Meyakinkan anak bahwa
orang tua menghargai apa
yang ingin dicobalakukan dan apa yang dihasilkan.
saya untuk melakukan kegiatan yang baik seperti menyapu, mencuci, mengepel, berkebun.
Bila saya naik kelas, ayah dan ibu menunjukkan rasa sewajarnya dan terus memberi semangat.
dalam membanggakan saya.
Bila nilai rapor saya jelek, ayah dan ibu akan memarahi saya.
Mendorong anak untuk secara berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungan terhadap peran orang tua untuk memunculkan
tanggungjawab serta kemandirian anak.
Ayah dan ibu mengajarkan kepada saya untuk bergaul dan berdamai dengan teman-teman.
Ayah dan ibu percaya bahwa saya mampu bertanggungjawab atas segala hal yang saya lakukan.
Ayah dan ibu membuat peraturan yang ketat untuk mengontrol perilaku saya.
Jika saya malas belajar, maka ayah dan ibu akan
membanding-bandingkan kemampuan saya dengan saudara saya.
Berdasarkan indikator pola asuh orang tua demokratis tersebut, maka disusun butir-butir kuesioner sebagai berikut:
Tabel 3.4 Indikator dan sebaran item pola asuh orang tua demokratis
sebelum uji coba
No Indikator No. item positif
No. item
negatif + - Total 1. Hangat dalam
melakukan interaksi antara orang tua dan anak, serta komunikasi yang terjalin dengan baik.
1,2,3,32 4,5 4 2 6 2. Mengenakan seperangkat standar untuk mengatur anak-anaknya yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan anak. 6,7,8 10,11 3 2 5 3. Menempatkan nilai yang tinggi pada perkembangan kemandirian dan pengaturan diri sendiri.
4. Menanamkan kebiasaan-kebiasaan rasional,
berorientasi pada masalah serta sering melibatkan diri dalam perbincangan dan penjelasan pada anak-anak seputar persoalan disiplin.
18,19,21 20,22 3 2 5
5. Mendorong
tumbuhnya interaksi saling memberi dan menerima antara orang tua dan anak.
25,26,31 24,27 3 2 5 6. Mendukung, menerima dan bertanggung jawab dalam mempertimbangkan berbagai alternatif, akan tetapi tidak mendominasi dari sudut pandangan mereka. 23,30 16,28,29 2 3 5 7. Menggunakan wewenang akan tetapi dalam penerapannya orang tua membimbing serta mengarahkan langkah-langkah yang harus diambil oleh anak. 33,35,37 34,36 3 2 5 8. Melibatkan atau mengijinkan anak dalam membuat keputusannya dan mengekspresikan pendangannya sendiri serta menghargai individualitas anak, sementara orang tua ikut memberikan penjelasan yang masuk akal (bekerjasama dalam membuat keputusan). 38,39,40 41,42 3 2 5
9. Menghargai
pendapat anak dan mendorong untuk mengungkapkannya.
43,44,47 45,46 3 2 5
10. Memberikan waktu kepada anak untuk berfikir dan merenungkan setiap kejadian serta permasalahan yang mereka hadapi. 48,50,51 49,52 3 2 5 11. Meyakinkan anak bahwa orang tua menghargai apa yang ingin dicobalakukan dan apa yang dihasilkan.
55,56 53,54 2 2 4
12. Mendorong anak untuk secara berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungan terhadap peran orang tua untuk memunculkan tanggungjawab serta kemandirian anak.
57,58 59,60 2 2 4
Total Item 35 25 60
Sedangkan indikator dan sebaran item pola asuh demokratis setelah uji coba dapat dilihat pada lampiran 8 halaman 160.