BAB 1 PENDAHULUAN
E. Metode Penelitian
4. Alat Pengumpul data
Penulis melakukan pengumpulan data dengan cara pedoman wawancara dan data. Dimana saat melakukan wawancara penulis menggunakan alat perekam/kamera untuk merekam sesi tanya jawab yang dilakukan oleh penulis kepada informan guna mendapat hasil wawancara yang selanjutnya akan diolah oleh penulis.
2. Informan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data melalui informan kunci.
Informan kunci adalah orang yang memberikan informasi terkait penelitian.
Informan dari penelitian ini dari adalah kepala unit pegawai bidang pengawasan dan konsultasi di KPP Pratama Pematangsiantar.
6. Metode Pembahasan
Dalam penelitian ini metode yang digunakan penulis dalam pembahasan yaitu metode deskriptif . Dimana peneliti mendeskripsikan hasil analisis data tanpa memanipulasi.
BAB II
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
Pada bab ini penulis akan memaparkan gambaran singkat mengenai objek penelitian.
A. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematangsiantar Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar berdiri sejak tanggal 19 September 2008. Organisasi Direktorat Jenderal Pajak pada mulanya merupakan perpaduan dari beberapa unit organisasi yaitu : 1. Jawatan Pajak yang bertugas melaksanakan pemungutan pajak
berdasarkan Perundang undangan dan melakukan pemeriksaan kas bendaharawan pemerintah.
2. Jawatan lelang yang bertugas melakukan pelelangan terhadap barang- barang sitaan guna pelunasan piutang pajak negara.
3. Jawatan Akuntan Pajak yang bertugas membantu Jawatan pajak untuk melaksanakan pemeriksaan pajak terhadap pembukuan wajib pajak badan.
4. Jawatan Pajak Hasil Bumi (Direktorat Iuran Pembangunan Daerah pada Dirjen Pajak Moneter) yang bertugas melakukan pungutan pajak hasil bumi dan pajak atas tanah yang pada tahun 1963 dirubah lagi menjadi Direktorat Pajak Hasil Bumi dan kemudian pada tahun 1965 berubah
17
lagi menjadi Direktorat Iuran Pembangunan Daerah (IPEDA). Dengan Keputusan Presiden RI No. 12 Tahun 1976 tanggal 25 Maret 1976, Direktorat IPEDA diserahkan dari Direktorat Jenderal Moneter kepada Direktorat Jenderal Pajak. Pada tanggal 27 Desember 1985 melalui Undang-Undang RI No. 12 Tahun 1985 Direktorat IPEDA berganti nama menjadi Direktorat Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Demikian juga unit kantor di daerah yang semula bernama Inspeksi IPEDA diganti menjadi Inspeksi Pajak Bumi dan Bangunan, dan Kantor Dinas IPEDA diganti menjadi Kantor Dinas Luar PBB.
Untuk mengkoordinasi pelaksanaan tugas di daerah, dibentuk beberapa kantor Inspektorat Daerah Pajak (IDA) yaitu di Jakarta dan beberapa daerah seperti di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Indonesia Timur.
Inspektorat Daerah kemudian menjadi Kanwil Ditjen Pajak (Kantor Wilayah) seperti yang ada sekarang. Setelah Kanwil Ditjen Pajak terbentuk, dibentuklah beberapa unit kerja berdasarkan pembagian wilayah di seluruh Sumatera Utara Bagian II yaitu KPP Tebing Tinggi, KPP Kisaran, KPP Pematang Siantar, KPP Rantau Parapat, KPP Sibolga, KPP Sidempuan, KPP Balige, KPP Kabanjahe dan unit kerja yang bergerak khusus dibidang pemeriksaan terhadap wajib pajak yaitu Kantor Pemeriksaan dan Pendidikan Pajak (Karikpa).
Seiring dengan perubahan kinerja di Lingkungan DJP untuk menuju yang lebih baik, maka dilakukan reorganisasi di lingkungan DJP melalui sistem modernisasi. Dengan adanya reorganisasi tersebut, maka unit kerja yang dulu dikenal KPP diganti dengan KPP Pratama, Unit kerja tersebut adalah :
1. KPP Pratama Tebing Tinggi 2. KPP Pratama Kisaran
3. KPP Pratama Pematang Siantar 4. KPP Pratama Rantau Parapat 5. KPP PratamaSibolga
6. KPP Pratama Sidempuan 7. KPP Pratama Balige 8. KPP Pratama Kabanjahe
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar wilayah kerjanya meliputi kota dan kabupaten yaitu Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Simalungun. Kota Pematang Siantar memiliki luas Wilayah : 79,971 Km2 serta terbagi dalam 8 kecamatan dan 53 kelurahan.
B. Visi Dan Misi KPP Pratama Pematang Siantar 1.Visi dari KPP Pratama Pematang Siantar a) Visi dari Direktorat Jendral Pajak
Menjadi instuisi Pemerintah Penghimpun pajak negara yang terbaik di asia tenggara
b) Visi KPP Pratama Pematang Siantar
Menjadi Kantor Pelayanan Pajak yang memberikan pelayanan terbaik kepada wajib pajak dan masyarakat dengan dukungan sistem administrasi perpajakan modern serta SDM yang berintegrasi dan profesional
2.Misi dari KPP Pratama Pematang Siantar a) Misi Direktorat Jendral Pajak
Menjamin penyelengaraan negara yang berdaulat dan mandiri dengan : Mengumpulkan penerimaan berdasarkan kepatuhan pajak sukarela yang tinggi dan penegakan hukum yang adil, pelayanan berbasis teknologi modern untuk kemudahan pemenuhan kewajiban perpajakan, Aparatur pajak yang berintegritas, kompeten dan professional, Konpensasi yang kempetitif berbasis sitem manajemen kerja
b) Misi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar
Menghimpun penerimaan pajak yang optimal dari objek subjek pajak dengan cara memberikan pelayanan prima kepada wajib pajak menggali potensi wilayah dan melaksanakan proses pembelajaran secara terus menerus untuk peningkatan kapasitas
MOTTO = HORAS (HANDAL, OPTIMAL, RAMAH, AKURAT, SOPAN)
C. Lokasi Objek Penelitian KPP Pratama Pematang Siantar
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematangsiantar berlokasi di Jl. Dahlia No.12,21130, Pematangsiantar.
D. Wilayah Kerja Kantor pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar A. Kota Pematangsiantar terdiri dari berberapa kecamatan diantara lain:
a. Siantar Marihat b. Siantar Barat c. Siantar Utara d. Siantar Timur e. Siantar Martoba f. Siantar Sitalasari g. Siantar Marimbun
B. Kabupaten Simalungun terdiri dari berberapa kecamatan diantara lain:
a. Dolok Pardamean b. Sidamanik c. Girsang Sipangan Bolon d. Tanah Jawa e. Dolok Pangaribuan f. Jorlang Hataran g. Panei h. Raya i. Dolok Silau j.
Silou Kahean k. Raya Kahean l. Bolok Batu Nanggar m. Siantar n. Bandar o.
Bosar Maligas p. Ujung Padang q. Pematang Bandar r. Tapian Dolok s. Huta Bayu Raja t. Gunung Malela u. Gunung Maligas v. Panombeian Panei w.
Hatonduhan x. Haranggaol Horison y. Jawa Maraja Bah Jambi z. Bandar Huluan aa. Bandar Masilam bb. Pematang Silima Huta cc. Silimakuta dd.
Purba
Tabel 2.1 Wilayah Kerja KPP Pratama Pematang Siantar
No Nama Kecamatan Kelurahan
Jumlah Nama Kelurahan
1 Siantar Marihat 7 Kelurahan Suka maju, Sukamakur, Pardamean ,Parhorasan Nuauli, Sukaraja, Mekar Nauli, BP nauli
2 Siantar Marimbun 6 Kelurahan Simarimbun, Tong Marimbun, Nagahuta, Nagahuta Timur, Pematang Marihat, Marihat Jaya
3 Siantar Selatan 6 Kelurahan Aek nauli, Toba, Martimbang ,Karo, Kristen, Simalungun
4 Siantar Barat 8 Kelurahan Sipinggol-pinggol, Simarito, Timbang Teladan
Galung, Banjar, Banten, Dwikora, Proklamasi 5 Siantar Utara 7 Kelurahan Martoba , Bane, Melayu, Sigulang-
Gulang, Baru, Kahean, Sukadame
6 Siantar Timur 7 Kelurahan Kebun sayur,Tomuan,Pahlawan, Siopat suhu, Merdeka, Pardomuan, asuhan
7 Siantar Martoba 7 Kelurahan Sumber jaya, Nagapita, Pondok sayur, Tambun Nabolon, Nagapitu, Tanjung Pinggir, Tanjung Tongah
8 Siantar Sitalasari 5 Kelurahan Bahkapul,Gurilla,Setia negara, Bukit shofa, Bukit Sorma
Sumber : Seksi Penjamin Kulitas Data KPP Pematang Siantar
2.Kabupaten Simalungun
Luas Wilayah 4.386,60 km,
Letak Geografis Kabupaten Simalungun : 2o36`-3o18` Lintang Utara 98o32`-99o35` Bujur Timur
Letak di atas Permukaan Laut : 0- 1 400 m Wilayah Administrasi
a. Jumlah Kecamatan :31 Kecamatan
b.Jumlah Desa :386 Desa/Nagori
c. Jumlah Kelurahan Batas Wilayah
: 27 Kelurahan
a. Sebelah Utara
:Kab. Serdang Bedagai & Kab.
Batubara b.Sebelah Selatan
:Kab. Toba Samosir & Danau Toba
c. Sebelah Barat : Kab Karo
d.Sebelah Timur : Kab Asahan
E. Struktur Organisasi dan Deskripsi Tugas KPP Pratama Pematangsiantar
Struktur organisasi ialah suatu rangkaian dalam mewujudkan pola tetap dari hubungan diantara bidang kerja. Struktur organisasi berfungsi mendiskripsikan pekerjaan karyawan dan koordinasi diantara para unit, fungsi atau bagian serta pembagian tugas dan wewenang yang lebih jelas sehingga membantu pencapaian tujuan organisasi yang lebih cepat.
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematangsiantar dikepalai oleh seorang Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang terdiri atas Sub Bagian Umum dan beberapa seksi yang dipimpin oleh masing-masing seorang kepala seksi.
Gambar 2.1 Struktur Organisasi KPP Pratama Pematang Siantar
Sumber : Seksi Penjamin Kulitas Data KPP Pematang Siantar
CATATAN :
Kepala KPP PratamaPematangSiantar : Mukhammad Faisal Artjan
Kepala KP2KP Perdagangan : MaringanPantasMauliateHasugian
Pegawai Fungsional24 pegawai diganti menjadi Fungsional Pemeriksa Pajak 13 pegawai
Seksi Pelayanan sebanyak 21 pegawai
Sub bagian Umum dan Kepatuhan Internal sebanyak 12 pegawai
SeksiPemeriksaan, Penilaian, danPenagihan sebanyak 13 pegawai
Seksi Pengawasan V sebanyak 7 pegawai
Seksi Pengawasan VI sebanyak 7 pegawai
Struktur Organisasi yang digunakan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematangsiantar adalah struktur organisasi lini dan staf, yang dipimpin oleh seseorang Kepala kantor wilayah Direktorat Jendral Pajak Sumatera Utara, dimana seluruh pegawai adalah Pegawai Negeri Sipil dibawah naungan Departemen Keuangan Negara Replubik Indonesia.
a. Bagian seksi Kerja
Deskripsi Tugas KPP Pratama Pematang Siantar membawahi 1(satu) bagian dan 6 ( enam) seksi, ditambah kelompok jabatan
fungsional. Adapun bidang-bidang yang ada di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar antara lain adalah sebagai berikut:
1. Sub Bagian Umum 2. Seksi Ekstensifikasi
3. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI) 4. Seksi Pelayanan
5. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (WASKON I, II, III,IV ) 6. Seksi Pemeriksaan
7. Seksi Penagihan
8. Kelompok Jabatan Fungsional
Adapun kegunaan dari struktur organisasi tersebut adalah : a. Memudahkan pelaksanaan kerja
b. Mempermudah pengawasan oleh pimpinan c. Membagi kegiatan kerja khusus pada tiap bagian
d. Mencegah adanya penumpukan kerja pada staff bagian saja e. Mempermudah kerjasama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai dengan rencana
b. Uraian Tugas dan Fungsi Secara umum
Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) merupakan suatu kesatuan yang masing-masing saling terkait antara tugas pokok dan fungsi. Untuk mengerti apa saja yang menjadi tupoksi dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematangsiantar maka kita perlu meneliti apa aja yang dimaksud dengan tugas pokok dan fungsi. Tugas pokok menjadi hal yang paling mendasar atau pokok dalam suatu organisasi. Tugas pokok memberikan gambaran tentang ruang lingkup dari posisi suatu organisasi. Sedangkan Fungsi ialah perwujudan tugas tata kelola di bidang tertentu yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Jadi tugas pokok dan fungsi (tupoksi) merupakan tujuan utama dan/atau sasaran utama yang dibebankan kepada organisasi untuk dicapai.
F. Tugas Pokok dan Fungsi
1. Kepala Kantor Mengingat KPP Pratama merupakan penggabungan dari KPP, KP PBB, dan Karikpa maka Kepala Kantor KPP Pratama mempunyai tugas mengkoordinasi pelaksanaan penyuluhan, pelayanan dan pengawasan Wajib Pajak di bidang Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Pajak Tidak
langsung Lainnya dan Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dalam wilayah wewenangnya berdasarkan peraturan Perundang- Undangan yang berlaku.
2. Sub bagian Umum Mengingat dan menunjang kelancaran tugas Kepala Kantor dalam mengkoordinasikan tugas dan fungsi pelayanan kesekretarisan terutama dalam hal pengaturan kegiatan tata usaha dan kepegawaian, keuangan, rumah tangga serta perlengkapan.
3. Seksi Ekstensifikasi Membantu tugas Kepala Kantor mengkoordinasikan pelaksanaan & penata usahaan pengamatan potensi perpajakan, pendataan obyek dan subyek pajak, penilaian obyek pajak, dan kegiatan ekstensifikasi perpajakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
4. Seksi Pengolahan Data dan Informasi Membantu tugas Kepala Kantor dalam mengkoordinasi pengumpulan, pengolahan data, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen perpajakan, urusan tata usaha penerimaan perpajakan, pengalokasian dan piñata usahaan bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak atas tanah dan Bangunan, pelayanan dukungan Teknis Komputer, pemantauan aplikasi e-spt dan e-filling dan penyiapan laporan kinerja dengan teknologi yang ada, sehingga dapat memudahkan pekerjaan pada Seksi Pengolahan Data dan Informasi
5. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (I,II,III,IV) Membantu tugas Kepala Kantor mengkoordinasikan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak (PPh, PPN, PBB, BPHTB dan Pajak lainnya), bimbingan atau himbauan kepada Wajib Pajak dan Konsultasi teknis perpajakan, penyusunan Profil Wajib Pajak, analisis kinerja Wajib Pajak, rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka melakukan intensifikasi, dan melakukan evaluasi hasil banding berdasarkan ketentuan yang berlaku. Dalam satu KPP Pratama terdapat 3 (tiga) Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi yang pembagian tugasnya didasarkan pada cakupan wilayah (territorial) tertentu.
6. Seksi Pelayanan Membantu Tugas Kepala Kantor mengkoordinasikan penetapan dan penerbitan produk hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan, penerimaan dan pengolahan surat pemberitahuan dan surat lainnya, penyuluhan perpajakan, pelaksanaan registrasi Wajib Pajak, serta kerjasama perpajakan sesuai ketentuan yang berlaku.
7. Seksi Pemeriksaan Membantu tugas Kepala Kantor mengkoordinasikan pelaksanaan penyusunan rencana pemeriksa, pengawasan pelaksana aturan pemeriksa, penerbitan dan penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan Pajak serta administrasi pemeriksaan perpajakan lainnya.
8. Seksi Penagihan Membantu tugas Kepala Kantor mengkoordinasikan pelaksanaan dan penatausahaan penagihan aktif, piutang pajak,
penundaan dan angsuran tunggakan pajak, dan usulan penghapusan pajak serta penyimpanan dokumen-dokumen penagihan.
9. Kelompok Jabatan Fungsional Penjabatan Fungsional terdiri atas Pejabat Fungsional Pemeriksaan dan Pejabat Fungsional Penilai yang bertanggung jawab secara langsung kepada Kepala KPP Pratama. Dalam melaksanakan pekerjaan, Pejabat Fungsional Pemeriksaan berkoordinasi integerasi, sinkronisasi, dan simplifikasi dengan Seksi Pemeriksaan sedangkan Pejabat Fungsional Penilai berkoordinasi dengan Seksi Ekstensifikasi. Selain itu, teknologi informatika dan system informasi secara optimal.
BAB III
HASIL PENELITIAN
A. Jumlah Data Wajib Pajak PPh 21 yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pematang Siantar Tahun Pajak 2018 - 2020
Setelah dilakukannya Observasi dilapangan, pengumpulan data-data Statistik yang ada, termasuk diadakannya metode wawancara dengan pihak DJP, berikut ini adalah data jumlah wajib pajak PPh 21 yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pematang Siantar Tahun Pajak 2019 – 2020.
Tabel 3.1 Daftar Wajib Pajak PPh 21 yang Terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pematang Siantar
Tahun Jumlah
2018 5.803
2019 5.779
2020 5.487
Sumber : Seksi Penjamin Kulitas Data KPP Pematang Siantar
34
5803 5779 5487
0
Tahun 2018 2019 2020
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa tahun 2018 terdapat 5.703 wajib pajak terdaftar di KPP Pematang Siantar dan Pada tahun 2019 menurun menjadi 5.609 Wajib Pajak yang terdaftar dan untuk tahun 2020 berjumlah 5.487.
B. Gambaran Wajib Pajak PPh 21 yang Melaporkan SPT Tahunan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pematang Siantar
Berdasarkan observasi lapangan dan pengumpulan data yang telah dilakukan dan melakukan wawancara kepada responden, berikut data- data tentang jumlah wajib pajak PPh 21 yang melaporkan SPT Tahunan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pematang Siantar yang dibagi kedalam beberapa jenis cara dalam melaporkan SPT tahunan, seperti dengan menggunakan Espt, E-Filing, baik juga secara manual dengan datang secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pratama Pematang Siantar.
Tabel 3.3 Daftar Wajib Pajak yang Melaporkan SPT PPh 21 di KPP Pratama Pematang Siantar
Tahun Pajak Jumlah SPT
2018 5.612
2019 5.609
2020 5.487
Sumber : Seksi Penjamin Kualitas Data KPP Pematang Siantar
Berdasarkan Tabel diatas Wajib Pajak yang melaporkan SPT PPh 21 pada tahun 2018 adalah 5.702 dan pada tahun 2019 adalah 5.609 dan pada tahun 2020 adalah 5.487 SPT.
C. Batas Waktu Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi.
Menurut Undang-Undang KUP Pasal 3 Ayat (3) Nomor 16 Tahun 2009, Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan yang telah diisi dengan benar, lengkap, jelas dan ditandatangani. Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan disampaikan paling lambat 3 bulan setelah berakhirnya tahun pajak atau pada tanggal 31 maret. Bagi Wajib Pajak yang tahun bukunya tidak sama dengan tahun takwim, Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan harus disampaikan paling lambat 3 bulan setelah tahun buku berakhir.
Terdapat di dalam Pasal 7 Undang- Undang KUP Nomor 16 tahun 2009 tentang apabila Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak Penghasilan
5.612 5.609 5.487
0
Tahun Pajak 2018 2019 2020
(PPh) Tahunan Orang Pribadi tidak disampaikan atau disampaikan melampaui batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) Tahunan Orang Pribadi akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp. 100.000 (Seratus Ribu Rupiah).
D. Jumlah Surat Tagihan Pajak yang diterbitkan oleh KPP Pratama Pematang Siantar Tahun Pajak 2018 – 2020.
Berikut ini adalah contoh Surat Tagihan Pajak yang dikeluarkan oleh KPP Pratama Pematang Siantar dengan data jumlah total Produk Surat Tagihan Pajak yang sudah dikeluarkan pada tahun Pajak 2018 - 2020
Tabel 3.4 Data jumlah Produk STP yang telah dikeluarkan KPP kepada Wajib Pajak PPh 21 Pada Tahun Pajak 2018 - 2020
Jenis STP Penerbitan Produk STP pada Tahun
2018 2019 2020
STP PPh 21 286 217 38
Total 286 217 38
Sumber : Seksi Penjamin Kulitas Data KPP Pematang Siantar
Dari data pada Tabel 3.4 diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa jumlah Surat Tagihan Pajak PPh 21 mengalami penurunan dari tahun 2018 dengan total Produk PPh 21 yang dikeluarkan sebanyak 286 dan mengalami penurunan di tahun 2019 dengan total produk STP sebesar 217 Produk dan tahun 2020 sebesar 38.
D. Wawancara dengan Pihak Kpp Pratama Pematang Siantar: Narasumber : Adelberd Riotua Laurencius Pardede
Jabatan : Account Representative (AR) Seksi Pengawasan II 1. Apa saja Kendala yang dialami KPP Pratama Pematang Siantar saat penerbitan Surat Tagihan Pajak?
Narasumber :
Alamat Wajib Pajak yang terkadang tidak sesuai dengan alamat yang terdaftar dalam Surat Tagihan Pajak tersebut dan ini menyebabkan proses pencairan Surat Tagihan Pajak tersebut terhambat.
Jadwal waktu penerbitan yang tidak
Jumlah Penerbitan STP
STP PPh 21
2018 2019 2020
286 217 38
1 2 3
sesuai dengan waktu ditentukan. Keterlambatan dalam penerbitan Surat Tagihan Pajak terlihat dalam penerbitan Surat Tagihan Pajak terhadap Wajib pajak.
Menurutperaturan, pelaksanaan penerbitan Surat Tagihan Pajak untuk Wajib Pajak dikeluarkan setiap saat setelah lewat jatuh tempo pembayaran/penyetoran.
Dengan masih ditundanya pembuatan Nota.
Seksi Pengawasan yang sangat banyak menangani wajib pajak sehingga sulit menentukan Prioritas wajib pajak.
2. Apa saja yang menjadi dampak positif diterbitkannya Surat Tagihan Pajak atau efisienkah penerbitan STP dalam meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak ?
Narasumber :
Sebagai sarana dalam mengingatkan wajib pajak dan Menjadikan Pengingat bagi Wajib Pajak agar tetap memperhatikan tanggal pelaporannya terkhusus kepada wajib pajak baru. Semakin rendahnya STP diterbitkan maka tingkat kepatuhan Wajib Pajak meningkat.
3.Tingkat perbandingan dari diterbitkannya Surat Tagihan Pajak sebelum pandemi dan sesudah pandemi Covid 19 bagi wajib pajak Pph 21 ?
Narasumber :
Tingkat Perbandingannya adalah semakin menurunnya surat tagihan pajak terkhusus PPh 21 dari tahun 2019 ke tahun 2020 ini membuktikan bahwa kesadaran dan kepatuhan Wajib Pajak semakin meningkat.
4. Upaya yang dilakukan Fiskus dalam memberikan/menyerahkan STP bagi wajib Pajak PPh 21?
Narasumber :
Biasanya itu dikelola oleh pihak KPP dan seksi pelaksana akan mengirim surat tagihan pajak melalui kantor Pos hingga sampai kepada Wajib Pajak yang dituju.
5. Adakah Pengampunan, Jika Surat Tagihan Pajak sudah diterbitkan? Atau tetap harus mengikuti sanksi denda berupa bunga tersebut?
Narasumber :
Wajib Pajak diberi kesempatan untuk mengajukan Penghapusan sanksi atau pengurangan sanksi tetapi
hasil keputusan dan pertimbangan berada di Kanwil di seksi Penalaah Keberatan dan KPP hanya meneruskan STP.
6. Ketika Wajib Pajak sudah menerima Surat Tagihan Pajak PPh 21 nya, kemudian apa selanjutnya yang harus dilakukan oleh wajib pajak?
Narasumber :
Membayarkan biaya sanksi denda terlambat atau tidak menyampaikan surat tagihan pajak atau melakukan pengajuan pengurangan atau penghapusan sanksi denda.
BAB IV PEMBAHASAN A. Tata Cara Penerbitan Surat Tagihan Pajak
Pada bab ini, penulis akan menganalisis hasil data yang telah penulis dapatkan selama penelitian serta membahas mengenai masalah-masalah yang terjadi dalam Penerbitan Surat Tagihan Pajak PPh 21 di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar.
Tabel 4.1 Prosedur Penerbitan Surat Tagihan Pajak PROSEDUR PENERBITAN SURAT TAGIHAN PAJAK (STP) PPh 21 Account
Management Surat SELESAI dan dikirim melalui Kantor Pos kepada Wajib Pajak
Sumber : Seksi Penjamin Kulitas Data KPP Pematang Siantar
Penerbitan Surat Tagihan Pajak dilakukan melalui Seksi Pengawasan dan Konsultasi. Berdasarkan Standar Operating Procedures (SOP) Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Surat Tagihan Pajak diterbitkan dengan prosedur :
1. Berdasarkan data pembayaran, pelaporan, penundaan jatuh tempo, dan penundaan ditolak, sistem menghasilkan data sanksi-sanksi yang akan diterbitkan STP sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam aturan dasar penerbitan STP.
2. Selanjutnya Account Representatif (AR) membuat Lembar Perhitungan dan Nota Penghitungannya.
3. Kepala bagian Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon) meneliti sekaligus menandatangani Lembar Perhitungan dan Nota Penghitungan.
4. Account Representatif (AR) meng- input data STP dengan mengirimkannya ke Case Management (Aplikasi menginput data STP).
5. Kepala bagaian Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti dengan juga melakukan persetujuan (approve) penerbitan STP.
6. Kepala Seksi Pelayanan menugaskan Pelaksana di Seksi Pelayanan untuk mencetak Surat Tagihan Pajak (STP) yang telah disetujui oleh waskon.
7. Pelaksana Seksi Pelayanan mencetak STP dan menyampaikannya kepada Kepala Seksi Pelayanan.
8. Kepala Seksi Pelayanan meneliti serta menandatangani STP, selanjutnya menyerahkan kembali kepada Pelaksana Seksi Pelayanan untuk diproses lebih lanjut.
9. Pelaksana Seksi Pelayanan menatausahakan serta menyampaikan STP ke Wajib Pajak sesuai dengan SOP Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak dan SOP Tata Cara Penyampaian Dokumen di KPP.
10. Proses penerbitan STP selesai.
B. Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak dan Jumlah Penerbitan Surat Tagihan Pajak
Dalam rangka meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak fungsi pengawasan memiliki peran yang begitu penting, karena tanpa adanya pengawasan dalam melihat tingat kepatuhan Wajib Pajak yang masih rendah, dapat mengakibatkan sistem perpajakan yang digunakan sekarang ini yaitu self assessment system tidak berjalan dengan baik. Hal ini dapat berakibat pada sektor penerimaan pajak. Penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP) yang dapat ditagih adalah besarnya jumlah pajak yang menunggak yang masih harus dibayar oleh Wajib Pajak.
Besarnya jumlah produk Surat Tagihan Pajak yang diterbitkan merupakan tagihan Wajib Pajak yang harus segera dibayarkan dan lunasi oleh Wajib Pajak sebelum jatuh tempo yang juga merupakan penerimaan bagi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pematang Siantar.
Tingkat kepatuhan bisa dilihat dari pelaporan SPT PPh 21 yang meningkat dari tahun pajak 2018 – 2019 ini menunjukan hal positif dengan tingkat jumlah penerbitan Surat Tagihan Pajak yang menurun ini
merupakan hal positif.
C. Pengaruh Surat Tagihan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dari tabel 3.4 dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun terus terjadi penurunan Penerbitan Surat Tagihan Pajak di Kantor Pajak Pratama Pematang Siantar. Surat Tagihan Pajak PPh 21 mengalami penurunan dari tahun 2018 dengan total Produk PPh 21 yang dikeluarkan sebanyak 286 dan mengalami penurunan di tahun 2019 dengan total produk STP sebesar 217 Produk dan tahun 2020 sebesar
C. Pengaruh Surat Tagihan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dari tabel 3.4 dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun terus terjadi penurunan Penerbitan Surat Tagihan Pajak di Kantor Pajak Pratama Pematang Siantar. Surat Tagihan Pajak PPh 21 mengalami penurunan dari tahun 2018 dengan total Produk PPh 21 yang dikeluarkan sebanyak 286 dan mengalami penurunan di tahun 2019 dengan total produk STP sebesar 217 Produk dan tahun 2020 sebesar