Pengaturan Penangkapan
6. Pancing pair (Hand line)
5.5.2. Alat Tangkap Ikan Pasif
Gambar 5.6. Pancing pair ( Hand line) Keterangan :
a. Joran b. Tali pancing c. Mata pancing
Pengoperasian pancing pair ini dimulai dari pelemparan mata pancing yang telah diberi umpan, umumnya berupa anak kodok (Rana,sp) yang kemudian ditarik perlahan-lahan dengan mata pancing yang telah diberi umpan tadi tidak dibiarkan tenggelam tetapi selalu di permukaan air seolah-olah umpan tadi masih hidup. Jadi tujuan penangkapan ikan dengan pancing pair ini adalah jenis ikan karnivora. Ukuran joran berkisar antara 3-5 m dan mata pancing yang digunakan adalah no 7-10 serta mengunakan nylon monofilamen no 100-200 yang panjangnya berkisar antara 3-4 m.
Jenis ikan yang tertangkap adalah ikan gabus (Channa striata) dan ikan toman (Channa micropeltes).
5.5.2. Alat Tangkap Ikan Pasif
1. Lukah (Fish pots)
Lukah (Fish pots) merupakan perangkap ikan berbentuk torpedo yang terbuat dari bilah bambu. Alat tangkap ini terbuat dari bambu yang dijalin dengan rotan. Jarak antara bilah bambu adalah 1-2 cm dan jarak antara tali penjalin yang satu dengan yang lain antara 10-20 cm. Pada bagian mulut dan bagian tengah terdapat suatu alat yang diraut halus berbentuk seperti kerucut yang disebut dengan hinjap berfungsi untuk menghalangi ikan yang masuk agar tidak keluar
119 lagi. Pada bagian belakang dibuatkan lubang untuk mengeluarkan ikan yang tertangkap, biasanya ditutup dengan suatu alat yang disebut dengan sumpal (sumbat) yang terbuat dari bambu atau bahan gabus.
Gambar 5.7. Lukah (Fish pot) Keterangan :
a. Mulut lukah b. Hinjap c. Bilah bambu d. Sumbat e. Bunuhan mati f. Anyaman rotan
Biasanya lukah dipasang di pinggiran sungai, rawa, sawah, maupun pada perairan yang kedalamannya relatif dangkal. Di persawahan, lukah dipasang disela-sela tanaman air yang sedikit diberi rumput untuk memudahkan jalan masuk ikan. Biasanya lukah dipasang pada pagi hari dan diangkat pada keesokan harinya. Alat tangkap lukah bersifat pasif dalam cara pengoperasiannya karena menunggu ikan yang masuk ke dalam alat hingga terkurung. Cara pemasangan lukah, yaitu mulut lukah diletakkan menghadap (berlawanan) arus bila perairan sedikit mengalir, mulut ditenggelamkan seluruhnya dalam air dan pintu pengeluaran ditonjolkan ke permukaan sehingga membentuk sudut 150. Di dalam lukah bisa diletakkan umpan untuk menarik ikan agar memasuki alat ini.
Jenis-jenis ikan yang tertangkap dengan alat ini adalah ikan betok (Anabas
testudineus), ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis), ikan sepat rawa
(Trichogaster trichopterus), dan ikan gabus (Channa striata).
2. Hancau (Life net)
Hancau (Life net) merupakan alat tangkap yang terbuat dari jaring atau net dari bahan nilon yang dibentuk segi empat bujur sangkar dan sudut-sudutnya
120 diikat dengan tali yang disambungkan pada kayu atau bambu untuk mengangkat jaring dari perairan. Jaring dibuat segi empat bujur sangkar dengan ukuran 1 x 1 m sampai dengan ukuran 2 x 2 m untuk ukuran yang lebih besar. Pada sudut-sudut jaring disambungkan pada tongkat untuk mengangkat dari bahan kayu ringan atau bambu dengan panjang 4-5 m (Nedelec, 1989).
Gambar 5.8. Hancau (Life net). Keterangan :
a. Joran b. Tali penggantung c. Bilah bambu d. Tubuh jaring
Alat ini tergolong pasif. Cara pengoperasiannya dengan cara dimasukan ke dalam perairan, kemudian dibiarkan untuk beberapa waktu selanjutnya diangkat ke permukaan air.
Jenis ikan yang tertangkap dengan alat ini adalah ikan betok (Anabas
testudineus), ikan gabus (Channa striata), ikan lundu (Mystus gulio), dan ikan
seluang (Rasbora sp).
3. Tempirai (Stage Trap) dan Hampang (Bamboo’s Split)
Tempirai (Stage trap) adalah alat penangkap berbentuk seperti amor, di bagian atasnya diberi lubang yang berfungsi untuk mengambil hasil tangkapan dan di bagian depan terdapat mulut jalan masuknya ikan yang dibuat melekuk ke dalam. Alat tangkap ini terbuat dari bilah bambu dengan lebar ± 0,3 cm dan sebagai penjalin atau pengikat antara bilahan bambu tersebut digunakan rotan yang telah dihaluskan. Tinggi bilahan bambu tersebut digunakan rotan yang telah
121 dihaluskan. Tinggi bilahan bambu berkisar antara 1-1,5 m dan jarak antara bilahan bambu antara 0,5-1,0 cm (Hasymi, 1989).
Gambar 5.9. Tempirai dan Hampang (Stage Trap and Bamboo’s Split) Keterangan :
a. Bilah bambu b. Mulut tempirai c. Lubang pengeluaran d. Hampang e. Anyaman rotan
Tempirai merupakan alat penangkap ikan yang bersifat pasif. Cara pengoperasiannya adalah tempirai dipasang menghadang arah renang ikan dan hampang (bamboo’s split) dipasang di kiri dan kanan tempirai, sehingga membentuk seperti sayap. Hampang berfungsi untuk menghadang dan menggiring ikan menuju mulut tempirai (Zein, 1994).
Jenis ikan yang tertangkap dengan menggunakan alat ini antara lain ikan betok (Anabas testudineus), ikan sepat rawa (Trichogaster trichopterus), ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis), dan ikan seluang (Rasbora sp).
4. Rengge (Gill net)
Rengge (Gill net) adalah alat tangkap yang terbuat dari jaring apung yang berbentuk empat persegi panjang dan terbuat dari benang nylon monofilamen. Bagian alat ini terdiri dari tubuh jaring, tali, ris bawah, besi pemberat, dan tiang penancap. Ukuran tubuh jaring berkisar antara 10-16 m dengan tinggi 70-90 cm. Dengan ukuran mata jaring 2-3 cm, atau tergantung ukuran ikan yang ingin ditangkap (Hasymi, 1989).
122 Alat tangkap rengge biasanya digunakan satu payah dengan panjang 10-16 m. Hal ini, disebabkan daerah penangkapan tidak memungkinkan penggunaan dalam beberapa payah.
Gambar 5.10. Rengge (Gill net) Keterangan :
a. Tubuh jaring b. Tal iris bawah c. Tal iris atas d. Pemberat e. Tiang tancap
Cara pengoperasian alat ini dimulai dengan menurunkan jaring secara perlahan-lahan, hingga tenggelam. Pada pertengahan jaring diberi tanda, kemudian alat dioperasikan selama 4-5 jam.
Jenis-jenis ikan yang tertangkap dengan alat tangkap rengge ini adalah ikan lundu (Mystus gulio), ikan nilem (Osteochillus hasseltii), ikan senggirangan (Mystus nigriceps), dan ikan patin (Pangasius sp).
Ringkasan
1. Perairan rawa sebagai sumber plasma nutfah alami mulai menunjukkan gejala penurunan, baik itu terhadap kualitas lingkungan maupun sumber daya plasma nutfah ikan yang ada didalamnya. Banyak cara untuk mencegah kepunahan ikan-ikan rawa diantaranya melalui 1) pengaturan penangkapan, 2) pendirian suaka perikanan, 3) domestikasi, 4) penebaran kembali, dan 5) pengembangan budi daya menjadi alternatif tindakan pelestarian ikan-ikan rawa.
2. Pengaturan penangkapan ikan di perairan umum (rawa) merupakan salah satu aspek pelestarian sumber daya plasma nutfah perikanan. Beberapa aspek
123 penangkapan yang sangat penting untuk diperhatikan, yaitu 1) pengaturan penangkapan yang berhubungan dengan ukuran alat tangkap, 2) operasional alat tangkap, 3) daerah penangkapan, 4) penangkapan dengan alat atau bahan terlarang, dan 5) pengaturan terhadap jumlah upaya penangkapan.
3. Nelayan rawa di Kalimantan Selatan, mengenal 2 musim penangkapan ikan, yaitu musim rintak dan musim layap. Rintak mengandung pengertian penurunan permukaan air setelah terjadi penggenangan dan biasanya terjadi antara bulai Mei-September. Layap mengandung pengertian melimpahnya massa air hingga menggenangi daratan yang semula kering pada musim kemarau dan biasanya terjadi pada bulan Januari-April.
4. Alat tangkap ikan berdasarkan cara operasionalnya, dikelompokkan menjadi alat aktif dan fasif. Alat tangkap ikan aktif adalah tangguk (scoop), lunta (cast
net), sesuduk (scoop net), serapang (spear), pancing biasa (hand line), dan
pancing pair (hand line). Alat tangkap ikan pasif adalah lukah (fish pots), hancau (lift net), tempirai (stage trap) dan hampang (bamboo’s split), dan rengge (gill net).
124
Bab 6 Starts Up
Sebuah start dimulai dari sebuah langkah, bukan berdiam diri
Suaka perikanan, khususnya daerah pemijahan, menjadi penting dalam tindakan mencegah kepunahan ikan-ikan rawa. Suaka perikanan tersebut akan memberikan peluang kepada ikan-ikan rawa untuk melakukan proses reproduksinya secara normal. Pendirian suaka di beberapa tempat di perairan rawa sangat dibutuhkan untuk mempertahankan kelestarian sumber daya perikanan.
Tujuan dari bab 6 ini adalah memperkenalkan dan menjelaskan tentang: 1) Fungsi suaka perikanan.
2) Pelestarian plasma nutfah (in situ, ex situ). 3) Program pelestarian ikan-ikan perairan rawa.
125