• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelestarian Ikan Rawa melalui Pemacuan Stok

7.5. Dampak Introduksi Ikan Asing

Introduksi ikan asing, baik disengaja maupun tidak, dapat menimbulkan dampak negatif terhadap spesies ikan asli (indigenous species), yaitu berupa penurunan populasi atau kepunahan spesies ikan asli. Introduksi ikan predator lebih berbahaya. Ikan predator secara langsung dapat menurunkan populasi ikan yang menjadi mangsanya, yang kemudian mengakibatkan terjadinya dampak lanjutan berupa peningkatan pertumbuhan tanaman air (aquatic weed) bila ikan yang dimangsa adalah ikan herbivora. Resiko yang paling berat ialah bila spesies ikan asing dapat berkembang biak dengan sangat cepat dan mengalahkan ikan asli dalam kompetisi pakan dan habitat. Hal ini, dapat mengakibatkan penurunan populasi ikan asli. Penurunan populasi dan punahnya beberapa spesies ikan asli memberikan peluang berkembangnya populasi ikan asing tersebut. Selanjutnya ikan asing menjadi dominan dan komunitas ikan menjadi homogen.

Dampak yang ditimbulkan dapat berupa 1) penurunan kualitas lingkungan perairan, 2) gangguan terhadap komunitas ikan asli, 3) penurunan kualitas materi genetik melalui hibridisasi, 4) introduksi penyakit dan parasit ikan, serta 5) menimbulkan masalah sosial-ekonomi bagi masyarakat nelayan di sekitarnya (Welcome 1988 dalam Wargasasmita, 2005).

1) Penurunan kualitas lingkungan perairan tawar

Walaupun Ctenopharyngodon idella berhasil sebagai pengendali gulma air, tetapi dapat mengakibatkan tumbuhan air non gulma juga ikut binasa sehingga anak-anak ikan kehilangan tempat berlindung, menyebabkan erosi tanah di pinggiran perairan dan meningkatkan eutrofikasi melalui pelepasan zat nutrisi yang tersimpan dalam tumbuhan air. Introduksi Carassius auratus mengakibatkan peningkatan turbiditas di danau Mikri Prespa (Yunani) (Elvira 2001 dalam Wargasasmita, 2005).

171 2) Gangguan terhadap komunitas ikan asli

Beberapa ikan introduksi mampu memenangkan persaingan dengan ikan asli, sehingga populasi ikan asli menurun bahkan musnah sama sekali. Sejenis ikan introduksi yang disebut redbreast sunfish (Lepomis auritus) telah menggantikan ikan asli Alburnus alburnus di beberapa danau oligotrofik di Italia. Gambusia

affinis dinamakan fish destroyer, karena dengan agresif mampu menggantikan ikan

asli (Elvira 2001 dalam Wargasasmita, 2005).

Ikan mujair (Oreochromis mossambicus) dan ikan nila (O. niloticus) dianggap sebagai suatu ancaman terhadap ikan asli di sejumlah negara misalnya terhadap ikan belanak (Mugil cephalus) dan ikan bandeng (Chanos chanos) di Filipina (Bartley et al, 2004 dalam Wargasasmita, 2005).

Ikan asing telah menimbulkan dampak negatif terhadap komunitas ikan danau dan ekosistem sungai yang terisolasi. Introduksi nile perch (Lates niloticus) dari sungai Nil ke danau Victoria pada tahun 1950, mengakibatkan 60% ikan endemik dari famili Cichlidae di danau tersebut terancam punah (IUCN-UNEP-WWF 1993). Introduksi sejenis ikan pemangsa anak-anak ikan lain (piscivorous

fish), yaitu Cichla occelaris ke danau Gatun (Panama), sekitar tahun 1967, telah

mengakibatkan musnahnya 8 dari 11 ikan asli dan penurunan populasi dari tiga spesies lain sekitar 75-90%. Introduksi dua spesies ikan pemakan plankton ke danau Michigan (Amerika Serikat) telah menyebabkan penurunan populasi dari tujuh spesies ikan yang memerlukan pakan serupa dengan pakan ikan yang diintroduksi. Populasi New Zealand grayling (Protoctes oxyrhynchus), salah satu ikan endemik New Zealand, menurun setelah introduksi brown trout (Salmo trutta) dan ikan tersebut sekarang sudah dianggap punah (Allan & Flecker 1993 dalam Wargasasmita, 2005).

Introduksi ikan mujair pada tahun 1951 mengakibatkan punahnya ikan endemik seperti ikan moncong bebek (Adrianichthys kruyti) dan (Xenopoecilus

poptae) dari Danau Poso, serta X. sarasinorum dari Danau Lindu (Whitten et al,

172 mengancam eksistensi ikan endemik Papua, yaitu ikan pelangi (Melatonia

ayamaruensis).

3) Penurunan kualitas materi genetik melalui hibridisasi

Umumnya hibridisasi menghasilkan keturunan yang steril, tetapi ikan memiliki potensi yang besar untuk menghasilkan hibrid yang tidak steril. Ikan introduksi mampu melakukan perkawinan silang (interbreeding) baik dengan ikan asli maupun dengan ikan introduksi yang lain. Hibridisasi antara ikan asing dengan ikan asli mempunyai resiko genetik dan berpotensi terjadinya introgression, yaitu introduksi suatu gen dari satu gen pool ke gen pool yang lain. Dampaknya antara lain dapat berupa lenyapnya bentuk-bentuk yang asli (menurunnya keanekaragaman), menghasilkan stok yang kurang fit karena lenyapnya gen-gen yang mampu beradaptasi dan berubahnya perilaku (Elvira, 2001 dalam Wargasasmita, 2005). Hibridisasi telah terjadi antara ikan introduksi Salmo trutta dengan Salmo marmoratus ikan endemik di beberapa sungai yang termasuk DAS Adriatik. Hampir satu abad setelah introduksi S. trutta pada tahun 1906, ikan endemik dapat hidup bersama (koeksistensi) dengan ikan hibrid dan ikan introduksi, tetapi populasi ikan endemik jauh berkurang, bahkan ada yang punah (Elvira 2001 dalam Wargasasmita, 2005).

4) Introduksi penyakit dan parasit ikan

Penyakit dan parasit ikan sering terbawa bersama ikan asing dan menulari ikan asli. Sejenis ikan trout (Oncorhynchus mykiss) dari Amerika Utara telah membawa penyakit furunculosis ke Eropa. Spesies ikan lain dari Amerika Utara (Pimephales promelas) terbukti membawa Yersinia ruckeri yang merupakan agen penyebar penyakit redmouth ke Eropa Utara (Elvira 2001 dalam Wargasasmita, 2005).

173 5) Masalah sosial ekonomi bagi masyarakat nelayan

Introduksi Lates niloticus ke danau Victoria pada tahun 1950 telah berhasil meningkatkan pendapatan industri perikanan, tetapi juga telah menimbulkan biaya lingkungan yang tidak sedikit. Banyak penduduk setempat yang kehilangan sumber protein dan pendapatan, dan kepunahan beberapa ratus spesies ikan asli (Wargasasmita, 2005).

Ringkasan

1. Pemacuan stok ikan (fish stock enhancement) atau pemacuan sumber daya ikan (fisheries enhancement) adalah aktivitas yang ditujukan untuk menambah atau melestarikan rekruitmen satu atau lebih organisme perairan dan meningkatkan total produksi atau unsur produksi yang dipilih dari suatu perikanan yang berada di bawah tingkat lestari dari proses alami.

2. Kegiatan pengkayaan stok dapat berupa 1) stocking (penebaran ikan), 2) restocking (penebaran ulang), dan 3) introduksi.

3. Persyaratan perairan umum untuk penebaran ikan, yaitu: a) Kesuburan perairan harus tinggi.

b) Perairan tidak tercemar.

c) Kualitas air memenuhi baku mutu air golongan C. d) Kondisi perairan layak bagi kehidupan biota akuatik. e) Sifat perairan permanen (mengandung air sepanjang tahun). f) Dekat dengan sumber benih.

4. Langkah-langkah perencanaan penebaran ikan meliputi: a) Pengenalan terhadap jenis dan morfologi perairan. b) Pengenalan terhadap sifat fisik-kimia dasar perairan.

c) Pengenalan terhadap sumber daya pakan potensial, kaitannya dengan dukungan optimal bagi proses pemijahan serta dinamika sistem produksi perairan tersebut.

5. Dua pendekatan dasar penebaran ikan, yaitu mengintroduksikan jenis dari luar kawasan dan memindahkan jenis ikan di kawasan itu.

174 6. Berbagai pertimbangan sebelum penebaran ikan dilakukan, yaitu:

a) Jenis tebaran mempunyai karakteristik biologi yang sama dengan jenis yang ada di perairan yang akan ditebari.

b) Jenis yang berasal dari alam mempunyai karakteristik lingkungan yang hampir sama.

c) Benih yang berasal dari panti benih (hatchery), induknya cukup memadai sehingga menghindari variabilitas genetik.

d) Benih tebaran bebas penyakit dan parasit serta bersertifikat.

e) Jenis tebaran tidak menimbulkan masalah ekologis seperti penebaran dengan jenis ikan predator.

7. Jenis ikan yang dipilih untuk ditebar ialah jenis ikan yang mempunyai rantai makanan yang pendek, yakni jenis ikan pemakan tumbuhan, pemakan plankton, perifiton, dan detritus.

8. Tiga mekanisme penebaran sebagai berikut:

a) Penebaran di satu titik (spot planting), penebaran seluruh ikan dilakukan pada satu daerah tertentu.

b) Penebaran secara menyebar (scatter planting), penebaran ikan dilakukan pada beberapa lokasi dalam satu wilayah.

c) Penebaran secara bertahap (trickle planting), penebaran dilakukan dalam satu wilayah selama periode waktu tertentu.

9. Introduksi ikan asing (exotic fish, introduced species, allochtonous species,

non-indegenous species, alien species) adalah kegiatan menebarkan jenis ikan

baru yang belum pernah ada di perairan tersebut.

10. Dampak dari introduksi ikan asing dapat berupa 1) penurunan kualitas lingkungan perairan, 2) gangguan terhadap komunitas ikan asli, 3) penurunan kualitas materi genetik melalui hibridisasi, 4) introduksi penyakit dan parasit ikan, serta 5) menimbulkan masalah sosial-ekonomi bagi masyarakat nelayan di sekitarnya.

175

Bab 8 Starts Up

Pikiran orang Kecil (orang-orang kelas bawah) membicarakan ORANG, Pikiran Sedang membicarakan PERISTIWA,

Pikiran Besar (orang-orang kelas atas) membicarakan GAGASAN.

Akibatnya:

Pikiran kecil menghasilkan GOSIP, Pikiran Sedang menghasilkan PENGETAHUAN,

Pikiran Besar menghasilkan SOLUSI

Jenis-jenis ikan lokal, terutama ikan rawa mempunyai nilai ekonomis penting di Kalimantan Selatan. Walaupun demikian, ketersediaannya cenderung menurun sebagai akibat penangkapan yang semakin intensif guna memenuhi kebutuhan yang semakin besar seiring dengan pertambahan penduduk. Untuk mengatasi hal tersebut salah satu upaya adalah dengan pengembangan budi daya perairan.

Tujuan dari bab 8 ini adalah memperkenalkan dan menjelaskan tentang: 1) Visi, misi, dan tujuan pembangunan budi daya perikanan.

2) Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan budi daya perairan. 3) Tingkat penerapan teknologi budi daya perairan.

4) Teknologi budi daya ikan rawa (kolam, karamba, jaring tancap, dan fish pen atau hampang).

5) Pengendalian hama dan penyakit ikan. 6) Panen dan pasca panen.

176

8

\ \ \ \ \ \

Tantangan

Pelestarian Ikan Rawa