• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa Suaka Perikanan di Kalimantan Selatan

Pelestarian Ikan Rawa Melalui Suaka Perikanan

6.5. Beberapa Suaka Perikanan di Kalimantan Selatan

Sungai Barito terletak di Pulau Kalimantan, membentang dari Serawak (Malaysia), melewati Kalimantan Tengah dan bermuara di Laut Jawa. Sungai Barito ini adalah sungai terpanjang dan terdalam di Kalimantan Selatan, mempunyai beberapa anak sungai dan rawa-rawa yang dipengaruhi pasang surut air laut.

Perairan Sungai Barito di Kalimantan Selatan mempunyai peranan penting bagi kehidupan masyarakat nelayan di sekitar perairan sebagai sumber lapangan kerja, mata pencaharian, transportasi, pangan, dan ikan. Menurut Prasetyo &

140 Asyari (2003), Sungai Barito ditemukan 101 jenis, tersebar 80% bagian tengah, 10% bagian hulu, dan 10% bagian hilir.

Di daerah aliran Sungai Barito, Kalimantan Selatan terdapat 9 suaka perikanan yang tersebar di beberapa wilayah, yaitu 1) Alalak Padang, 2) Rawa Muning, 3) Danau Bangkau, 4) Awang Landas, 5) Banyu Hirang, 6) Danau Panggang, 7) Danau Talan, 8) Sungai Sambujur, dan 9) Babirik (Burnawi & Subroto, 2011). Secara umum, luas perairan rawa yang dijadikan sebagai suaka perikanan adalah sekitar 1% dari luas total rawa.

Tabel 6.2. Suaka Perikanan di Kalimantan Selatan

No Desa Kecamatan Kabupaten Tipe Luas

(ha)

Luas Rawa /Kab. (ha)

1 Rawa Muning Tapin Tengah Tapin Rawa 10 16.250

2 Desa Bangkau Kandangan HSS Rawa 6 10.075

3 Mantaas Labuan Amas Utara HST Rawa 5 5.720

4 Banyu Hirang Amuntai Selatan HSU Rawa 10 19.598 5 Desa Panggang Desa Panggang HSU Rawa 40 19.598

6 Talan Banua Lawas Tabalong Rawa 15 3.587

Jumlah 86 74.828

Sumber: Sunarno et al, (2008).

Suaka perikanan tersebut berupa habitat (tempat hidup) ikan endemik yang hampir punah atau langka atau mempunyai sifat yang khas (unik) sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan keberadaan. Suaka perikanan mempunyai batas-batas yang jelas, dikelola dengan peraturan teknis tertentu sehingga berguna bagi kesejahteraan masyarakat sekitar (Hoggarth et al, 2000).

Jenis-jenis ikan di suaka-suaka perikanan daerah aliran Sungai Barito, Kalimantan Selatan terdapat 21 jenis ikan dan pengelolaan belum berjalan dengan baik (Burnawi, 2009). Sedangkan jenis ikan yang terdapat dalam suaka perikanan rawa danau Talan, ditemukan 4 famili dengan 8 jenis ikan, yaitu famili Anabantidae ada 3 jenis ikan, yakni papuyu, biawan, dan sepat; famili Claridae ada 1 jenis, yakni keli, famili Cyprinidae ada 1 jenis ikan, yakni saluang, dan famili Nandidae ada 3 jenis ikan, yakni toman, haruan, dan kapar.

141 Tabel 6.3. Jenis ikan di Suaka Perikanan Rawa Danau Talan, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan

No Jenis Ikan

Nama Lokal Nama Ilmiah Famili

1 Papuyu Anabas testudineus Anabantidae 2 Biawan Helestoma temanncki Anabantidae 3 Sepat Trichogaster pectoralis Anabantidae 4 Keli Clarias melanoderma Claridae

5 Saluang Rasbora spp Cyprinidae

6 Tauman Channa micropeltes Nandidae

7 Haruan Channa striata Nandidae

8 Kapar Pristolepis fasciata Nandidae

Sumber: Burnawi (2009).

Kelompok ikan-ikan hitaman (black fish) mempunyai habitat di perairan rawa lebak dan kelompok ikan-ikan putihan (white fish) mempunyai habitat di sungai. Jenis ikan di suaka perikanan Danau Talan, Kalimantan Selatan dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yakni kelompok ikan hitam (black fish) dan kelompok ikan putih (white fish).

Dari uraian tersebut di atas, maka untuk melakukan pelestarian ikan perairan umum secara in situ diperlukan keterlibatan banyak pihak terutama pemerintah, masyarakat, LSM, sektor pertanian, kehutanan, industri dan pertambangan. Kelihatannya faktor kerjasama dan koordinasi lebih dominan dibandingkan dengan biaya investasi.

Ringkasan

1. Plasma nutfah perikanan di perairan umum merupakan kekayaan nasional atau daerah yang sangat penting, manfaat ekonomisnya telah lama dirasakan masyarakat dan pemerintah daerah, selain sebagai konsumsi dalam negeri ikan juga merupakan komoditi ekspor dan sebagai ikan hias.

2. Untuk melestarikan, mempertahankan plasma nutfah, dan produksi ikan yang berkelanjutan dapat dilakukan dengan cara memberi perlindungan terhadap ikan dan ekosistemnya agar dapat berkembang biak dan lestari.

142 3. Upaya pengelolaan perikanan perairan umum untuk pelestarian plasma nutfah perikanan tersebut dapat dilakukan dengan pembentukan suaka perikanan (reservat), pengaturan penangkapan, pemacuan stok (stock enhancement) dengan cara penebaran (stoking, restocking, dan introduksi), dan budi daya perikanan.

4. Menurut Undang-Undang RI No 31 tahun 2004 tentang Perikanan, yang dimaksud dengan plasma nutfah adalah substansi yang terdapat dalam kelompok makhluk hidup dan merupakan sumber atau sifat keturunan yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit untuk menciptakan jenis unggul baru.

5. Pada prinsipnya pelestarian plasma nutfah dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu 1) in-situ dan 2) ex-situ. Secara in-situ diartikan bahwa kegiatan pelestarian dilakukan di tempat asalnya atau habitatnya, sedangkan ex-situ dilakukan di luar habitatnya atau tempat yang baru.

6. Dalam Undang-Undang RI No 31 tahun 2004 tentang Perikanan dan Peraturan Pemerintah No 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, yang dimaksud dengan suaka perikanan adalah kawasan perairan tertentu, baik air tawar, payau, maupun laut dengan kondisi dan ciri tertentu sebagai tempat berlindung/berkembang biak jenis sumber daya ikan tertentu, yang berfungsi sebagai daerah perlindungan.

7. Di daerah aliran Sungai Barito, Kalimantan Selatan terdapat 9 suaka perikanan yang tersebar di beberapa wilayah, yaitu 1) Alalak Padang, 2) Rawa Muning, 3) Danau Bangkau, 4) Awang Landas, 5) Banyu Hirang, 6) Danau Panggang, 7) Danau Talan, 8) Sungai Sambujur, dan 9) Babirik. Secara umum, luas perairan rawa yang dijadikan sebagai suaka perikanan adalah sekitar 1% dari luas total rawa.

144

Bab 7 Starts Up

Lebih baik mencoba, daripada berdiam diri tetapi tidak menunjukkan perubahan sama sekali

Ada 2 pendekatan dasar dalam penebaran ikan di perairan umum, yaitu 1) mengintroduksikan jenis dari luar kawasan dan 2) memindahkan jenis ikan di kawasan itu. Pada umumnya penebaran bertujuan untuk menambah jenis ikan dan untuk meningkatkan produksi suatu perairan.

Pada hakekatnya penebaran jenis ikan pada suatu perairan merupakan suatu pemasukan unsur baru pada suatu ekosistem tertentu, sehingga mengubah keseimbangan hayati ke arah yang dikehendaki, seperti lingkungan dan pakan alami yang sesuai. Beberapa ekosistem masih banyak terdapat relung yang kosong. Diharapkan dengan adanya penebaran maka dapat mengisi kekosongan relung tersebut.

Tujuan dari bab 7 ini adalah memperkenalkan dan menjelaskan tentang: 1) Pendekatan dasar dalam penebaran ikan dan tujuan penebaran ikan.

2) Penyebab kegagalan penebaran ikan.

3) Langkah-langkah perencanaan penebaran ikan. 4) Pemilihan ikan yang ditebar.

5) Introduksi ikan asing.

145

7

\ \ \ \ \ \

Tantangan

Pelestarian Ikan Rawa