IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Aliran Permukaan dan Erosi
Aliran permukaan dan erosi selama musim tanam jagung dan padi gogo pada masing-masing perlakuan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Aliran Permukaan (m3/ha) dan Erosi (ton/ha) Selama Satu Musim Tanam Jagung dan Padi Gogo
Perlakuan Musim Tanam Jagung Musim Tanam Padi Aliran Permukaan Erosi Aliran Permukaan Erosi
T0 193,27A* 1,37A* 423,09A* 24,17A*
T1 0B 0B 0B 0B T2 0B 0B 0B 0B T3 0B 0B 0B 0B T4 0B 0B 0B 0B BNT α 5% 7,45 1,36 69,09 1,73 BNT α 1% 10,85 1,97 100,52 2,51
*) Angka yang diikuti huruf besar yang berbeda dalam setiap perlakuan pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan sangat nyata pada taraf α 1% berdasarkan uji Beda Nyata Terkecil (BNT)
Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan T1, T2, T3, dan T4 sangat nyata menurunkan jumlah aliran permukaan dari 193,27 m3/ha pada musim tanam jagung dan 423,09 m3/ha pada musim tanam padi gogo menjadi 0 ton/ha terhadap T0. Aliran permukaan yang terjadi pada perlakuan T1, T2, T3, dan T4 tertampung pada setiap saluran. Air aliran permukaan yang tertampung dapat diserap dengan baik, sehingga tidak ada aliran permukaan yang keluar dari petak perlakuan T1, T2, T3, dan T4. Hasil analisis sidik ragam aliran permukaan musim tanam jagung dan padi gogo dapat dilihat pada Tabel Lampiran 1 dan Tabel Lampiran 3.
Tabel 2 menunjukkan bahwa tidak ada erosi yang keluar dari petak perlakuan teras gulud selama musim tanam jagung dan padi gogo. Sedimen yang terbawa aliran permukaan semua mengendap pada setiap saluran T1, T2, T3, dan T4, sehingga tidak ada yang hilang keluar dari petak pertanaman. Hasil analisis
sidik ragam erosi musim tanam jagung dan padi gogo dapat dilihat pada Tabel Lampiran 2 dan Tabel Lampiran 4.
Unsur hara (kg/ha) yang terangkut oleh aliran permukaan dan erosi selama musim tanam jagung dan padi gogo disajikan dalam Tabel 3.
Tabel 3. Unsur Hara (kg/ha) yang Terangkut Aliran Permukaan dan Erosi pada Petakan T0
Unsur Hara Musim Tanam Jagung Musim Tanam Padi Gogo Aliran Permukaan Erosi Aliran Permukaan Erosi
C - 51,64 - 471,73 N 23,49 2,55 51,42 35,85 P - 0,02 - 0,26 K 0,48 0,07 1,06 0,89 Ca 6,48 0,16 14,19 5,72 Mg 0,71 0,30 1,56 5,72 Na 0,31 0,04 0,67 0,68
-) Unsur hara yang tidak diukur jumlahnya
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa kehilangan unsur hara N dan Ca melalui aliran permukaan lebih tinggi dibandingkan dengan unsur hara lain untuk masing-masing musim tanam. Hal ini terjadi karena perbedaan tingkat kelarutan pada masing-masing unsur hara. Tingkat kelarutan tinggi yang dimiliki oleh unsur hara N dan Ca yang menyebabkan jumlah kehilangan unsur hara tersebut lebih tinggi dibandingkan unsur hara lain. Jumlah kehilangan unsur hara melalui aliran permukaan pada musim tanam jagung lebih kecil dibandingkan musim tanam padi gogo. Hal ini terjadi karena jumlah aliran permukaan yang keluar dari petakan T0 (Tabel 2) pada musim tanam jagung lebih kecil dibandingkan pada musim tanam padi gogo, sehingga kehilangan unsur haranya lebih sedikit.
Kehilangan unsur hara C melalui erosi merupakan kehilangan terbesar diikuti oleh unsur hara N untuk masing-masing musim tanam. Tingginya kehilangan unsur hara C disebabkan karena kandungan C dalam tanah lebih banyak dan sebagian besar bahan organik terakumulasi di lapisan atas. Bahan organik yang terdiri dari bangkai binatang maupun mikro organisme yang telah
mati dan dekomposisi sisa-sisa tanaman banyak mengandung unsur hara C. Selain sifat mobil yang dimiliki unsur hara N ketersediaanya di dalam tanah cukup tinggi pada lapisan atas tanah. Tingginya kehilangan N juga berasal dari pupuk urea yang ditambahkan yang diduga terangkut oleh erosi. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa kehilangan unsur hara melalui erosi pada musim tanam jagung lebih kecil dibandingkan pada musim tanam padi gogo. Hal ini terjadi karena jumlah erosi yang terjadi pada musim tanam jagung (Tabel 2) lebih kecil daripada padi gogo, sehingga jumlah kehilangan unsur haranya juga kecil.
Jumlah sedimen yang tertampung pada setiap saluran yang dikembalikan ke dalam petakan untuk musim tanam jagung dan padi gogo dengan tingkat kemiringan lereng 15 % disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Jumlah Sedimen (ton/ha) yang Dikembalikan ke Petakan pada Setiap Musim Tanam Jagung dan Padi Gogo
Perlakuan Musim Tanam Jagung Musim Tanam Padi
T0 0Cc* 0D* T1 9,2ABb 29,9B T2 12,9Aa 34,4B T3 11,3Aa 49,2A T4 13,8Aa 45,4A BNT α 5% 3,07 9,98 BNT α 1% 4,46 14,52
*) Angka yang diikuti huruf besar yang berbeda dalam setiap faktor perlakuan menunjukkan perbedaan sangat nyata pada taraf 1% dan angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda dalam satu kolom menunjukkan perbedaan nyata pada taraf 5% berdasarkan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).
Uji BNT pada Tabel 4 menunjukkan bahwa perlakuan T1, T2, T3, dan T4 sangat nyata meniadakan erosi dan sangat nyata dalam hal menampung sedimen yang terangkut oleh aliran permukaan terhadap T0 untuk setiap musim tanam. Pada musim tanam jagung ada perbedaan nyata antara perlakuan T1 dan T2. Adanya mulsa vertikal pada SPB (T2) diduga mampu meningkatkan kemampuan tanah untuk meresapkan air, sehingga partikel tanah seluruhnya tertampung dan tidak terbawa keluar lagi dari saluran. Mulsa vertikal yang ada pada SPB juga ikut ditimbang pada akhir penelitian, sehingga menambah jumlah sedimen yang tertampung pada saluran. Penambahan daya tampung sedimen disamping
peningkatan daya resap tanah oleh kombinasi SPB dan LRB (T4) yang menyebabkan jumlah sedimen yang dapat dikembalikan paling banyak.
Pada musim padi gogo terjadi perbedaan sangat nyata antara perlakuan T1 dan T2 dengan perlakuan T3 dan T4. Penambahan biomassa jagung pada SPB pada perlakuan T2 yang lebih dari 4 ton bahan kering per hektar (Tabel 11) memenuhi seluruh saluran. Hal ini diduga menyebabkan pengurangan daya tampung sedimen karena saluran cepat terisi penuh. Saluran teras gulud (T1) walupun tidak terisi oleh biomassa jagung tetapi jumlah sedimen yang dikembalikan paling kecil. Hal ini diduga terjadi karena aliran permukaan yang mengangkut partikel tanah yang sudah tertampung kembali keluar dari saluran yang belum sempat meresapkannya ke dalam tanah. LRB pada T3 memiliki jumlah sedimen yang dapat dikembalikan terbanyak. Hal ini diduga karena seluruh biomassa jagung (Tabel 11) dimasukkan ke dalam LRB, sehingga salurannya kosong. Kosongnya saluran pada T3 dan meningkatnya daya resap tanah oleh bantuan LRB menyebabkan daya tampungnya lebih besar jika dibandingkan dengan perlakuan lain. Kombinasi SPB dan LRB pada T4 yang saluran dan lubangnya diberi biomassa jagung, menyebabkan daya tampung sedimennya lebih kecil jika dibandingkan dengan T3. Penurunan daya tampung saluran walupun tidak ada air yang kembali keluar saluran yang menyebabkan jumlah sedimennya lebih kecil jika dibandingkan dengan T3.
Jumlah sedimen yang dikembalikan ke petakan pada musim tanam padi gogo lebih banyak dibandingkan musim tanam jagung. Hal ini terjadi karena curah hujan yang terjadi pada musim tanam padi gogo lebih banyak dibandingkan musim tanam jagung (Tabel Lampiran 17 dan Tabel Lampiran 18), sehingga lebih banyak sedimen yang tertampung dan mengendap pada saluran. Hasil analisis sidik ragam jumlah sedimen yang dikembalikan ke petakan untuk musim tanam jagun dan padi gogo dapat dilihat pada Tabel Lampiran 5 dan Tabel Lampiran 6.
Banyaknya unsur hara yang terselamatkan selama musim tanam jagung dan padi gogo disajikan pada Tabel 5. Unsur hara yang terselamatkan merupakan
unsur hara yang tidak terbawa keluar petakan oleh aliran permukaan dan erosi, tetapi tertampung dalam saluran bersama sedimen. Unsur hara dikatakan dapat terselamatkan karena pada akhir musim tanam jagung dan padi gogo sedimen yang tertampung dalam saluran tersebut dikembalikan ke petakan.
Tabel 5. Unsur Hara (kg/ha) Terselamatkan Bersama Sedimen
Perlakuan
Musim Tanam Jagung Musim Tanam Padi Gogo
C N P K Ca C N P K Ca
T0 0 E* 0 E* 0 Cc* 0 D* 0 B* 0 E* 0 Cd* 0C* 0C* 0b* T1 355.53D 13.33D 0.10Bb 0.54BC 1.60A 565.19D 48.37Bc 0.31Bb 1.17B 10.27a T2 776.82C 20.50C 0.13ABb 0.76AB 2.37A 655.55C 61.09Bb 0.37Ba 1.51A 12.61a T3 453.70B 21.11B 0.13ABb 0.62B 2.04A 1021.03B 82.76Aa 0.50A 1.77A 13.11a T4 671.84A 35.41A 0.19Aa 0.86A 2.39A 878.01A 84.75Aa 0.53A 1.66A 14.83a BNT α 5% 57,63 0,51 0,06 0,15 1,63 49,72 8,80 0,05 0,27 11,38 BNT α 1% 83,85 0,75 0,08 0,22 2,37 72,34 12,80 0,07 0,39 16,56 *) Angka yang diikuti huruf besar yang berbeda dalam setiap faktor perlakuan menunjukkan perbedaan sangat nyata pada taraf 1% dan angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda dalam satu kolom menunjukkan perbedaan nyata pada taraf 5% berdasarkan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).
Uji BNT pada Tabel 5 menunjukkan bahwa perlakuan T1, T2, T3, dan T4 sangat nyata meningkatkan jumlah unsur hara terselamatkan terhadap T0. Unsur hara yang dapat diselamatkan pada setiap perlakuan untuk masing-masing musim tanam berada pada urutan terbanyak yaitu C dan N. Tingginya jumlah unsur hara C terselamatkan pada perlakuan T1, T2, T3, dan T4 dikarenakan tingginya kandungan C dalam tanah yang terangkut bersama sedimen yang mengendap dalam saluran. Adanya penambahan mulsa vertikal pada perlakuan T2, T3, dan T4 yang banyak mengadung C, menyebabkan jumlah C terselamatkan lebih banyak dibandingkan perlakuan T1 pada setiap musim tanam.
Kandungan N dalam tanah lapisan atas cukup tinggi. Sedimen yang mengendap dalam saluran merupakan bagian tanah lapisan atas yang tererosi. Hal ini menyebabkan banyaknya kandungan N di dalam sedimen. Penambahan mulsa vertikal pada perlakuan T2, T3, dan T4 yang menyebabkan jumlah N yang terselamatkan bersama sedimen lebih tinggi dibandingkan perlakuan T1. Adanya
penambahan mulsa vertikal dan pupuk urea menyebabkan kandungan N tinggi pada sedimen.
Jumlah unsur hara yang terselamatkan bersama sedimen pada musim tanam padi gogo lebih banyak dibandingkan musim tanam jagung. Hal ini dikarenakan jumlah sedimen terselamatkan pada musim tanam padi gogo (Tabel 4) lebih banyak dibandingkan musim tanam jagung. Tingginya curah hujan pada musim tanam padi gogo menyebabkan lebih banyak unsur hara yang terangkut oleh aliran permukaan dan erosi yang mengendap dalam saluran (Tabel Lampiran 17 dan Tabel Lampiran 18). Hasil analisis sidik ragam unsur hara terselamatkan bersama sedimen dapat dilihat pada Tabel Lampiran 7 sampai dengan Tabel Lampiran 16.