• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aliran Tarekat Syattatiyah

Dalam dokumen Lingkup Hak Cipta Ketentuan Pidana (Halaman 48-52)

PERKEMBANGAN SUFISME- SUFISME-TAREKAT DI NUSANTARA

A. Aliran-aliran Tarekat

2. Aliran Tarekat Syattatiyah

Tarekat Syatariyah adalah tarekat muktabarah yang dinisbahkan kepada Abdullah al-Syattar (W.890H/1485M). Tarekat ini berakar ke tarekat Isyqiyyah di Iran atau Bistamiyyah (berasosiasi dengan Yazib al-Bisthami) di Turki Usmani yang didirikan oleh Syihabuddin Abu Hafs al-Suhrawardi (W. 632 H/1234 M). Sebutan Syattariyyah muncul ketika Abdullah al Syattar mengembangkannya di wilayah India. Penyebaran Syattariyyah lebih lanjut mendapatkan momentumnya pada diri Muhammad Ghauts, yang memasukkan elemen-elemen yoga dalam formulasi dzikir Syattariyyah dan menghasilkan berbagai karya penting.

Pengembangan Syattariyyah keluar dari India dilakukan oleh Sibghatullah bin Ruhillah Jamal al-Barwaji (W. 1015 H/1606 M). Sibghatullah juga merupakan teman karib Fadlullah Burhanpuri (W. 1029 H/1620 M), penulis kitab Tuḥfah.9

Ajaran paling khas atau utama dari tarekat ini adalah martabat tujuh.10 Ajaran martabat tujuh adalah gagasan mengenai manifestasi Tuhan ke dalam berbagai tingkatan. Bibit awal teori manifestasi Tuhan

7 Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, Kondisi, Jalan Peristiwa dan Kelanjutannya: Sebuah Studi Kasus mengenai Gerakan Sosial di Indonesia, terj. Hasan Basari dan Bur Rasuanto. (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984), hlm. 212.

8 Ibid.

9 Oman Fathurrahman, “Tarekat Syatariyyah: Memperkuat Ajaran Neosufisme.”

dalam Sri Mulyati et.al., Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), hlm. 153-158.

10 A.H. John, The Gift Addressed to The Spirit of The Prophet (Canberra: The Australian National University, 1965), hlm 8-9.

tersebut dikembangkan oleh Ibnu Arabi yang memperkenalkan emanasi wujud Allah, melalui filsafat Neo-Platonisme. Ajaran Ibnu Arabi dikenal dengan waḥdah alwujud (kesatuan wujud).11 Gagasan IbnuArabi tersebut dielaborasi lebih lanjut oleh Fadlullah Burhanpuri dalam kitab Tuḥfah ke dalam teori martabat tujuh. Martabat tujuh adalah ilmu mengenai ma‘rifatullah. Martabat tujuh menjelaskan bagaimana Allah menyingkapkan Diri kepada makhluk. Tujuh tingkatan penyingkapan tersebut adalah martabat Aḥadiyah, martabah Wahdah, martabat Wahidiyyah, martabat alam arwah, martabat alam mitsal, martabat alam ajsam, dan martabat alam insan. Martabat pertama adalah ma‘rifat tanzih (pensucian), sedangkan martabat kedua sampai ketujuh adalah martabat tashbih (nyata).12

Tarekat Syatariyah dikenal oleh orang-orang nusantara melalui dua syekh di tanah Arab, yaitu Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani.

Kala itu, sebagaimana telah dijelaskan di atas, orang-orang Jawi banyak berguru pada Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani. Kedua syekh tersebut mewakili sintesis antara tradisi intelektual sufi India dan Mesir.

Di satu sisi mereka adalah pewaris keulamaan Zakariya al-Anshari dan

‘Abd al-Wahhab al-Sya’rani dalam bidang fiqh dan tasawuf, di sisi lain mereka berbai’at menjadi pengikut sejumlah tarekat India dan yang paling berpengaruh di antaranya tarekat Syattariyah dan Naqsyabandiyah.

Kedua tarekat ini pada mulanya diperkenalkan di Madinah oleh seorang Syekh India, Sibghatullah, yang menetap di sana sejak tahun 1605. Al-Kurani, seorang Qurdi, barangkali mengenal kepustakan Islam berbahasa Persia dari India; disamping itu dia adalah seorang ahli hadis dan sangat berminat dengan metafisika. Dalam beberapa kontroversi sengit, para ulama India menjadikannya tempat rujukan. Begitu juga dengan orang-orang nusantara; atas permintaan mereka dia menulis sebuah syarah atas kitab Tuhfah-nya Burhanpuri, dengan menginterpretasikannya menurut cara pandang ortodoks.13

Di antara berbagai tarekat yang diajarkan al-Qusyasyi dan al-Kurani,

11 Kautsar Azhari Noer, Ib al-Arabi: Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan (Jakarta:

Paramadina, 1995).

12 Sangidu, Wachdatul Wujud: Polemik Pemikiran Sufistik antara Hamzah Fansuri dan Syamsuddinas-Sumaterani dengan Nuruddin ar-Raniri (Yogyakarta: Gama Media, 2003), h. 54-71.

13 Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, hlm. 233.

Syattariyah merupakan tarekat yang jauh lebih disukai murid-murid nusantara, mungkin karena berbagai gagasan menarik dari kitab Tuhfah menyatu dengan tarekat ini. Di Timur Tengah, di sisi lain, kedua syekh ini dikenal terutama sebagai penganut tarekat Naqsyabandiyah. ‘Abdurra’uf Singkil, salah seorang ulama nusantara yang belajar kepada keduanya dan dikirim ke Sumatra sebagai khalifah, merupakan ulama paling terkenal di kalangan murid mereka berdua, tetapi pasti banyak murid-murid lain yang juga berasal dari nusantara.14

‘Abdurra’uf Singkildianggap sebagai pembawa pertama tarekat Syattariyah ke wilayah Nusantara.Sebetulnya ‘Abdurra’uf Singkil memperoleh ijazah dalam dua tarekat, yaitu Syattariyah dan Naqsyabandiyah. Namun, di nusantara ia dikenal sebagai penyebar aliran tarekat Syattariyah daripada penyebar tarekat Naqsyabandiyah.

Alasanya, menurut ‘Abdurra’uf Singkil tarekat Syattariyah lebih mudah dan lebih tinggi, dasar amalannya dari Qur’an dan hadis serta dikerjakan oleh sekalian sahabat.15 Atas dasar itu ‘Abdurra’uf Singkil kemudian lebih memilih untuk menyebarkan tarekat di Nusantara.

‘Abdurra’uf Singkil cukup menonjol peranannya sebagai tokoh agama di Daulah Aceh Darussalam. Keadaan selain kealimannya juga perolehan kedudukan yang mulia dari Sultanah Ratu Shafiatuddin (1641-1675 M).16 Selain itu, posisi ‘Abdurra’uf Singkil yang berada di Beranda Mekah tersebut, pada gilirannya juga memberi keuntungan tersendiri bagi persebaran tarekat Syattariyah ke penjuru Nusantara, karena saat itu orang-orang Nusantara yang hendak berhaji umumnya bermukim dulu di Aceh. Tidak ayal ‘Abdurra’uf Singkil yang waktu itu menjadi ulama besar di Aceh, semakin mudah menyebarkan tarekat yang dia anut.

Perkembangan Tarekat Syattariyah secara signifikan di luar Aceh, khususnya di Sumatera Barat melalui upaya dakwah Syekh Burhanuddin Ulakan (W. 1111 H/1691 M). Murid ‘Abdurra’uf Singkil ini memperoleh

14 Anthony H. Johns, “Friends in Guice: Ibrahim Kurani and ‘Abdurra’uf al-Singkeli”, dalam: S. Udin (ed.), Specktrum Essays Presented to Sultan Takdir Alisjahbana (Jakarta: Dian Rakyat, 1978), hlm. 469-485.

15 ‘Abdurra’uf Singkil. tt. ‘Umdah al-Muhtājīn Ila Suluk Maslak al-Mufradin, hlm 6.

16 Hasan Muarif Ambary, Kedudukan dan Peran Tokoh Abdurrauf Singkil dalam Birokrasi dan Keagamaan Kesultanan Aceh, Panitia Pelaksana Syekh Abdurrauf Syiah Kuala (Banda Aceh: Unsyiah, 1994), hlm. 1.

banyak pengikut dan pengamalnya di kawasan Pariaman, Sumatera Barat dan sekitarnya.17 Menurut Martin van Bruinesen, hingga menjelang tahun 1995, Tarekat Syattariyah di daerah ini masih tetap eksis. Ia menyebutkan daftar pusat tarekat di Sumatera Barat itu: Pasaman 7 buah, Agam 18 buah, Tanah Datar 25 buah, Solok 11 buah, Padang Pariaman 24 buah, Pesisir Selatan 4 buah, dan Sawah Lunto 8 buah.18

Di luar itu, tarekat Syattariyah berkembang ke Sulawesi dibawa oleh salah seorang murid ‘Abdurra’uf Singkil bernama Syekh Yusuf Tajul Khalwati Makassar. Di Jawa, khususnya Jawa Barat, tarekat ini telah tersebar dan memperoleh pengikut dari pengajaran dakwah Syekh Abdul Muhyi. Menurut riwayatnya, Abdul Muhyi belajar tarekat Syattariyah dari Syekh ‘Abdurra’uf Singkil ketika singgah di Aceh dalam perjalannya ke Mekah menunaikan ibadah haji.19 Syekh Abdul Muhyi (W. 1689 M), dalam perjalanan hajinya, juga menyempatkan berkunjung ke Baghdad untuk berziarah ke pusara Syekh Abdul Qadir al-Jailani.20 Riwayat ini mengindikasi Abdul Muhyi sebagai pengikut Tarekat Qadiriyah. Ia mengajarkan agama Islam hingga wafatnya di kampung Pamijahan desa Karangnunggal, sekitar 65 km arah selatan kota Tasikmalaya.21 Makamnya sampai sekarang dikeramatkan dan menjadi tempat ziarah orang dengan berbagai niat dan kepentingan, meski Pamijahan sekarang merupakan salah satu pusat Tarekat Qadiriyah di Priangan Timur.22

17 Martin Van Bruinesen, Tarikat Naqsyabandiyah di Indonesia (Bandung: Mizan, 1994), 133.

18 Ibid.

19 Damanhuri, ‘Umdah al-Muhtajin: Rujukan Tarekat Syattariyah Nusantara dalam Ulumuna Jurnal Studi Keislaman, Volume 17 Nomor 2 (Desember) 2013, hlm. 312.

20 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam diIndonesia (Bandung:

Mizan. 1984), hlm. 210.

21 Desa Pamijahan ini pernah mendapat pengakuan Pemerintah Belanda sebagai Desa Khusus. Berdasarkan surat keputusan Residen Priangan bernomor 631/2, 15 Juni 1899, disusul dengan ketetapan Aisisten Residen Soekapoera bernomor 981/2, 22 Juni 1899, bahwa Desa Pamijahan dibebaskan dari sektor pajak penghasilan apapun. Aliefya M. Santrie, “Martabat Alam Tujuh Karya Syekh Abdul Muhyi,” dalam Ahmad Rifai Hasan (peny.), Warisan Intelektual Islam Indonesia (Bandung: Mizan, 1984), hlm. 110-113., hlm. 108.

22 Unang Sunardjo, Pesantren Suryalaya dalam Perjalanan Sejarahnya.

(Tasikmalaya: Yayasan Seraba Bhakti, 1985), hlm.9.

Dalam dokumen Lingkup Hak Cipta Ketentuan Pidana (Halaman 48-52)