SUFISME DAN ISLAMISASI NUSANTARA ABAD XIII-XVI
D. Sufisme dan Sistem Ritual Masyarakat Nusantara
Menurut Durkheim agama merupakan sesuatu yang sangat bernuansa sosial.35 Memang sebagai seorang individu, setiap manusia memiliki pilihan-pilihan hidup, namun pilihan itu tetap berada dalam kerangka sosial, sesuatu yang bersifat “given” bagi seorang manusia sejak lahir. Seseorang tidak bicara dengan bahasa yang diciptakannya sendiri, seseorang tidak menggunakan alat-alat yang dirancang sendiri, seseorang menuntut hak yang juga tidak ditemukan sendiri, dan ilmu-ilmu pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi juga tidak digali oleh setiap generasi secara sendiri.36 Demikian halnya dalam beragama,
33 Amin Che Ahmat, dkk, “Islamic Weltanschauung in Bahr al-Lahut: The writingsof Syekh `Abdullah `Arif”.
34 Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf, hlm. 12.
35 Emile Durkheim, The Elementary of the Religious Life, terj. Joseph Ward Swain (New York: The Macmillan Company, 1915), hlm. 10.
36 Ibid, hlm. 212.
seseorang tidak beragama secara sendiri, sehingga ia sangat berdimensi sosial. Agama melayani masyarakat dengan menyediakan ide, ritual, dan perasaan-perasaan yang akan menuntun seseorang dalam hidup bermasyarakat.
Bertolak dari argumen Durkheim di atas, maka dapat dikatakan bahwa sufisme, sebagai bagian dari agama, pada gilirannya juga menuntun seseorang dalam hidup bermasyarakat. Berbagai ritual timbul bersamaan dengan masuknya sufisme di Nusantara. Pada sub bab ini, secara berturut-turut akan diuraikan tentang beberapa ritual dalam masyarakat nusantara, terutama yang berkaitan dengan dimesi sufisme.
1. Ziarah Makam Wali
Sebelumnya sudah pernah dijelaskan bahwa kaum sufi telah berperan besar dalam proses Islamisasi di Nusantara. Kesuksesan para sufi tersebut pada gilirannya membentuk ritual keagamaan yang baru di lingkungan Nusantara, yaitu ziarah makam wali. Kesuksesan para sufi dalam menyebarluaskan Islam di penjuru Nusantara tidak lepas dari kisah-kisah magis. Para sufi (wali) menjadi pelaku impian yang paling luar biasa dari masyakarat muslim. Para sufi sering dikisahkan telah melakukan perbuatan-perbuatan aneh di luar nalar (kesaktian). Dalam beberapa hal para sufi juga berhasil menjadi perekat masyarakat bahkan menjadi legitimator seorang raja. Pengeramatan terhadap sosok-sosok wali tersebut pada gilirannya membuat masyarakat Nusantara bergerak untuk menghormati makam-makam mereka setelah mereka wafat.
Makam para wali sering kali dianggap sebagai kutub (poros) Mekah.
Makam-makam wali juga dianggap sebagai tempat mengungkapkan dambaan hati masyarakat. Berbeda dengan masjid, yang seakan-akan mencekam karena kosong, makam-makam wali menghibur hati karena kehadiran kekeramatan. Pada dasarnya makam bukanlah rumah suci tempat orang bersembahyang kepada Allah, melainkan tempat untuk berziarah. Di makam para wali masyarakat biasanya melakukan ritus doa-doa dan merenungkan diri.37
Bentuk-bentuk secara rinci ritual ziarah wali di Nusantara pada
37 C. Guilot dan H. Chambert-Loir, “Pendahuluan” dalam C. Guilot dan H.
Chambert-Loir (ed.), Ziarah dan Wali di Dunia Islam, terj. Jean Coteau dkk (Jakarta:
Serambi, 2007), hlm. 14-15.
abad XIII-XVI memang tidak dapat dilacak, karena tidak ada data yang menjelaskannya. Hanya saja, dapat dipastikan ziarah wali merupakan ritual yang telah ada dan berlangsung pada era itu. Hal ini dibuktikan dengan temuan-temuan makam para tokoh sufi dan raja-raja di Nusantara yang disinyalir telah ada sejak abad XIII, bahkan jauh sebelumnya. Bukti-bukti sejarah masuknya Islam di Nusantara, hampir selalu dikaitkan dengan temuan makam-makam orang Islam, dalam hal ini para sufi (wali).
Melihat temuan-temuan makam tersebut, rasanya tidak berlebihan jika dikatakan pada saat itu umat Islam di Nusantara sangat menghargai makam. Mereka telah membuat makam-makam itu sedemikian bagus sehingga dapat dilacak keberadaannya hingga saat ini. Dengan demikian dapat dikatakan, pada satu sisi, masyarakat Nusantara abad XIII-XIV sebenarnya telah melakukan praktik ziarah makam, terutama makam raja-raja dan makam para wali.
2. Legitimator Raja-Raja Islam Nusantara
Ritual atau fungsi sosial lain yang juga berkaitan dengan sufisme di Nusantara Abad XIII-XIV adalah peran para sufi yang sekaligus menjadi legitimator keberadaan raja-raja di kerajaan Islam Nusantara.
Sebagaimana telah disinggung sedikit sebelumnya, menurut Hikayat Raja-raja Pasai, raja Merah Selu kemungkinan masuk agama Islam setelah bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpi itu, Nabi Muhammad menyuruh raja Merah Selu mengucapkan dua kalimat syahadat.38 Nabi meludah ke dalam mulut Merah Selu agar bisa mengucapkan syahadat.
Kemudian, Rasulullah memberikan nama Islam, Malik al-Saleh. Begitu bangun dari tidurnya, Raja ini dapat membaca al-Qur’ân dengan benar hingga akhir tanpa belajar terlebih dahulu.
Menurut cerita lain, kerajaan Samudra diislamkan oleh seorang Syekh Ismail dan Faqir Muhammad yang langsung datang dari Mekah berdasarkan perintah Sharif Mekah berupa peringatan tentang hadis Rasulullah untuk pergi mengislamkan Samudra. Saat itu, para Sharif Mekah berada di bawah kekuasaan Mesir. Syekh Ismail dan Faqir Muhammad, setelah sempat tersesat arah beberapa kali akhirnya bertemu Merah Selu dan memerintahkannya mengucapkan dua kalimat syahadat.
38 Russel Jones (penyunting), Hikayat Raja-raja Pasai (Kuala Lumpur: Fajar Bakti, 1987), 12-16.
Keesokan harinya, Syekh Ismail dan Faqir Muhammad meminta raja membaca al-Qur’an. Awalnya Merah Selu tidak bisa membaca al-Quran, namun selang beberapa hari Merah Selu langsung bisa membaca al-Quran karena diajari (diludahi mulutnya) langsung oleh Rasulullah lewat mimpi.
Seketika itu kemudian dua guru sufi tersebut mengangkat Merah Selu sebagai Raja Samudra Pasai dengan gelar Malik al-Salih.39
Selanjutnya, setelah raja Samudra-Pasai masuk Islam, maka semua para pembesar kerajaan dan penduduknya masuk Islam juga. Setelah memeluk agama Islam, Sultan Malik al-Saleh belum menikah. Para menteri dan hulubalang membicarakan perihal puteri Sultan Perlak. Tidak lama setelah itu, Malik al-Saleh menikahi Puteri Ganggang Sari (Putri Raihani), salah satu dari tiga puteri Sultan Perlak Makhdum Alauddin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat. Pernikahan ini patut diduga dilaksanakan sesuai dengan hukum Islam, karena Perlak sudah menjadi Islam, sebagaimana diberitakan oleh Marco Polo saat ia berkunjung ke Sumatra pada 1292. Adapun sumber lokal Sulalat al-Salatin menyebutkan, Perlak telah diislamkan sebelum Samudera Pasai oleh Syekh Ismail dan Faqir Muhammad.40
Bertolak dari hikayat di atas, terlepas dari kontroversi akan kemitosan dari kisah tersebut, dapat dikatakan sejatinya Samudra Pasai bisa menjadi kerajaan besar karena dukungan tokoh-tokoh sufi. Bahkan sang raja pertama diangkat sebagai raja oleh dua orang sufi yang mengislamkannya.
Dengan demikian, tidak berlebihan kiranya jika dikatakan, salah satu fungsi sosial yang dilakukan para sufi di Nusantara, dalam hal ini abad XIII-XIV, adalah sebagai legitimator raja-raja kerajaan Islam.
3. Upacara Hari-Hari Besar Keagamaan
Selain ziarah wali dan legitimator kerajaan, ritual keagamaan lain yang dilakukan masyarakat Nusantara abad XIII-XIV adalah upacara har-hari besar keagamaan. Setelah Islam menjadi agama yang dianut oleh elite kerajaan danrakyat, pihak kerajaan menyelenggarakan berbagai upacara keagamaan di tengah kehidupan rakyatnya. Dalam Sejarah Melayu
39 H.M. Zainuddin, Tarikh Aceh dan Nusantara, hlm. 97-9 9.
40 Ayang Utriza Yakin, “Islamisasi dan Syari’ahisasi Samudra Pasai Abad ke-14 Masehi” dalam ISLAMICA: Jurnal Studi Keislaman Volume 9, Nomor 2, Maret 2015, hlm. 275-276.
digambarkan tentang beberapa upacara keagamaan seperti Upacara hari ke-27 bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri, dan Idul Adha. Mengenai upacara pada hari ke-27 bulan Ramadhan digambarkan sebagai berikut:
Hatta djika pada bulan Ramadhan, malam dua puluh tudjuh, tatkala pada siangnya mengarak sadjadah kemesdjid, temenggung mengepalakan gadjah. Maka puan dan segala alat keradjaan dan gendang semuanja diarak dahulu kemesdjid, seperti adat hari rayasembahyang terawih, sudah itu berangkat kembali. Telah esok harinja, maka laksamana mengarak serban, karena adat radja Melaju berangkat kemesdjid bertengkuluk berbadju sarung, itulah pakaian jang larangan pada orang kahwin; barang siapa dikaruniai maka boleh memakai dia; dan memakai tjara Keling, itupun larangan, melainkan barang siapa sedia pakaiannja maka dapat dipakainja sembahjang atau kahwin.41
Adapun mengenai upacara hari raya Idul Fitri dan Idul Adha digambarkan sebagai berikut:
Setelah hari raya ketjil atau besar, maka bendahara dan segala orang besarmasuk berkampung kedalam; maka usunganpun diarak masuk oleh penghulu bendahari. Telah melihat usungan, maka segala orang yang duduk dibalai semuanja turun berdiri ber-saf; maka gendang seramapun dipukul oranglah, tudjuh ragam, dan pada seragam sekali nafiri berbunji. Setelah genap tudjuh kali, maka radjapun berangkatlah diatas gadjah, berarak keastaka; maka radjapun naik keastaka. Telah semua orang melihat radja, sekaliannja duduk ditanah, melainkan bendahara naik keastaka menjambut radja. Maka usunganpun terkepillah diastaka, maka radjapun naik keatas usungan lalu berangkat kemesjid, seperti perintah jang tersebut dahulu itu.42
Memang, upacara-upacara tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sufisme pada saat itu. Upacara-upacara tersebut lebih dekat dengan tradisi kerajaan-kerajaan Islam Nusantara pada abad XIII-XIV. Akan tetapi jika ditelusuri Seperti telah disebutkan dalam poin sebelumnya, salah satu fungsi sufi adalah sebagai legitimator. Dengan demikian, tidak menututp kemungkinan jika upacara hari-hari besar keagamaan tersebut juga dilakukan atas usulan dari kalangan sufi.
41 A. Teeuw (penyunting), Sedjarah Melaju (Jakarta: Jambatan, 1952), hlm. 89.
Lihat juga, Azis, “Islamisasi Nusantara Perspektif Naskah Sejarah Melayu” dalam ThaqafiyyaT Vol. 16, No. 1, Juni 2015, hlm 71.
42 Ibid.
34