SUFISME DAN ISLAMISASI NUSANTARA ABAD XIII-XVI
B. Para Sufi Nusantara
Sebagai tindak lanjut dari upaya pengokohan tesis bahwa para sufi memiliki peran penting dalam islamisasi di Nusantara, dalam hal ini pada abad XIII-XVI, peneliti akan mencoba menyajikan beberapa sufi yang ada di Nusantara pada era tersebut. Namun, mengingat pada era ini masih belum banyak data yang cukup valid—dalam arti, pada saat itu masih belum ada karya bersifat ilmiah dan hanya ada hikayat-hikayat—maka peneliti hanya akan mengenalkan beberapa nama sufi serta sekelumit kisah-kisah yang mengitarinya. Beberapa di antaranya mungkin dianggap sebagai mitos belaka, karena tidak disertai bukti-bukti ilmiah. Namun, betapapun demikian keberadaan para sufi sebagaimana dijelaskan dalam hikayat-hikayat Nusantara tetap patut untuk dipertimbangkan. Berikut
14 Ibid, hlm. 130.
15 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia, hlm. 36.
ini beberapa tokoh sufi yang hidup dan berperan aktif dalam penyebaran Islam di Nusantara:
1. Syekh Abdullah Arif
Syekh Abdullah Arif, merupakan tokoh sufi yang tercatat sebagai salah satu tokoh sufi penyebar Islam pertama di Aceh. Syekh Abdullah Arif merupakan seorang pendatang bukan penduduk pribumi Aceh. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tokoh sufi ini berasal dari Arab (Yaman). Ia datang ke Aceh bersama dengan mubalig-mubalig lain, diantaranya Syekh Ismail Zaffi. Dalam beberapa catatan, dinyatakan bahwa ia tiba di Aceh dan menyebarkan agama Islam di sana pada 1177.16
Ada yang menduga bahwa Syekh Abdullah Arif ini merupakan murid Syekh Abdul Qadir Jailani.17 Dugaan ini dilatarbelakangi dari pertautan usia keduanya yang tidak terlampau jauh. Selain itu, berdasarkan catatan H.M. Zainuddin, Syekh pendiri tarekat Qadiriyah tersebut juga dikatakan pernah datang ke Aceh untuk mengembangkan tarekatnya di Aceh.18 Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan jika Syekh Abdullah Arif juga merupakan murid Syekh Abdul Qadir Jailani yang diutus untuk meneruskan dakwah gurunya di wilayah Aceh.
Dalam hikayat, Syekh Abdullah Arif juga dikisahkan memiliki seorang murid sekaligus sahabat yang terkenal yaitu Syekh Burhanuddin. Seusai menimba ilmu pada Syekh Abdullah Arif, Syekh Burhanuddin kemudian dianjurkan untuk mengembara ke Sumatra Barat daerah Pariaman. Di sana Syekh Burhanuddin berhasil menjalankan tugas yang diembannya.
Ini setidaknya terlihat dari cerita-cerita tentang sosok Syekh Burhanuddin yang dikenal sebagai seorang ulama yang berhasil mengislamkan Minangkabau.19
Meskipun keterangan-keterangan tentang Syekh Abdullah Arif hanya sedikit dan hanya berasal dari hikayat-hikayat, tetapi bukan berarti keberadaannya hanya mitos belaka. Setidaknya ada dua bukti kuat bahwa
16 Hawash Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-Tokohnya di Nusantara (Surabaya: Al-Ikhlas, 1980), hlm. 11.
17 Ibid.
18 H.M. Zainuddin, Tarikh Aceh dan Nusantara (Medan: Pustaka Iskandar Muda, 1961), hlm. 40.
19 Ibid, hlm. 11.
Syekh Abdullah Arif adalah benar-benar ada dan merupakan seorang sufi.
Pertama, adanya kuburan Syekh Abdullah Arif. Memang tidak diketahui pasti kapan meninggalnya sang sufi, tetapi di Aceh ada salah satu makam yang dikaitkan dengan Sufi asal Yaman ini. Berdasarkan catatan H. M Zainuddin, di Indrapuri terdapat banyak kuburan orang-orang Islam yang berukir tulisan Arab. Salah satu kompleks pemakaman di sana dikenal dengan nama Jeurut Kling (kuburan Keling). Berdasarkan riwayat di kompleks tersebut ada salah satu makam yang dikenal sebagai makam Syekh Abdullah Arif.20
Kedua, adanya manuskrip kitab yang dikenal sebagai kitab yang ditulis oleh Syekh Abdullah Arif. Kitab itu berjudul Bahrul Lahut. Manuskrip kitab ini ditemukan dalam koleksi-koleksi kitab milik Syekh Yusuf al-Makasari.
Menurut keterangan, kitab tersebut diperoleh Syekh Yusuf dari gurunya yang berasal dari Aceh.21 Melihat konten dari manuskrip kitab ini22 sarat dengan ajaran-ajaran sufistik, sehingga tidak terlalu berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Syekh Abdullah Arif adalah seorang tokoh sufi dan ia merupakan satu-satunya tokoh sufi abad XII-XIII yang tulisannya dapat ditemukan. Ada kemungkinan ia sudah banyak menuliskan kitab tentang kajian sufi, hanya saja saat ini yang dapat ditemukan baru kitab Bahrul Lahut.
2. Syekh Ismail dan Faqir Muhammad
Selain Syekh Abdullah Arif, ada dua tokoh sufi lain yang juga disebutkan dalam Hikayat Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-Raja Pasai, yaitu Syekh Ismail dan Faqir Muhammad. Kebanyakan peneliti Barat, menganggap cerita tentang kedua tokoh sufi ini hanya mitos belaka. Hanya saja, beberapa peneliti pribumi kontemporer masih memberi tempat terhadap dua ulama sufi ini dalam penelitian mereka, seperti H.M. Zainuddin, Hamka, Hawash Abdullah, dll. Peneliti sendiri cenderung tertarik untuk tetap memasukkan kedua ulama sufi tersebut dalam tulisan ini, karena untuk mengkaji sejarah Islam pada abad itu, memang hanya dua hikayat tersebut yang jadi sumber utama, dan karena keduanya menyebut dua
20 H.M. Zainuddin, Tarikh Aceh dan Nusantara, hlm. 50.
21 Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf, hlm. 12.
22 Penjelasan lebih lanjut tentang konten kitab bahrul lahut akan menjadi pokok bahasan sub bab berikutnya.
tokoh sufi itu, maka penting untuk juga menyebutkan mereka di sini.
Berdasarkan kisah dalam hikayat sejarah Melayu, pada pertengahan abad XIII, telah datang sebuah kapal dari tanah Arab yang di dalamnya terdapat dua orang ulama, yaitu Syekh Ismail dan Faqir Muhammad.
Syekh Ismail berasal dari Mekkah dan Faqir Muhammad berasal dari Muktabar (Malabar). Keduanya datang ke Samudra (Aceh), karena diutus oleh Syarif Mekah untuk menyebarkan Islam di daerah tersebut. Kapal yang mereka tumpangi pada awalnya merapat di daerah Fansur (antara Aru dan Perlak). Mereka sempat tinggal beberapa hari di Fansur, tetapi tidak pernah bertemu dengan orang yang bisa membaca al-Quran, padahal oleh Syarif Mekah dikatakan bahwa daerah Samudra adalah daerah Islam.
Tidak ayal, mereka berdua pun berlayar kembali untuk mencari daerah Samudra, tapi karena tidak tahu arah, mereka pada akhirnya berlabuh di daerah Perlak dan di sana lagi-lagi mereka tidak dapat berjumpa dengan orang yang bisa membaca al-Quran. Mereka pun kembali memutuskan untuk berlayar, dan lagi-lagi nyasar ke daerah Aru. Di daerah Aru mereka kemudian mendapatkan petunjuk dari masyarakat setempat tentang arah Samudra. Kemudian mereka berlayar kembali dan sampailah di daerah Samudra.
Konon, di Samudra mereka berkenalan dengan seseorang yang bernama Merah Selu. Awalnya Merah Selu tidak bisa membaca al-Quran, namun selang beberapa hari Merah Selu langsung bisa membaca al-Quran karena diajari (diludahi mulutnya) langsung oleh Rasulullah lewat mimpi.
Seketika itu kemudian dua guru sufi tersebut mengangkat Merah Selu sebagai Raja Samudra Pasai dengan gelar Malik al-Salih.23 Sejak saat itulah Samudra Pasai menjadi Kerajaan Islam, yang pada giliranya dari Pasai inilah bermula agama Islam berkembang ke seluruh bagian Nusantara dan Asia Tenggara.24
Sejauh diamati, memang kedua ulama tersebut tidak memiliki karya—setidaknya sampai saat ini masih belum ditemukan karya sufistik milik keduanya—namun, dalam beberapa hal keduanya dapat diduga adalah seorang ulama sufi. Dalam khazanah Islam, cerita-cerita
keajaiban-23 H.M. Zainuddin, Tarikh Aceh dan Nusantara, hlm. 97-99.
24 Muliadi Kurdi, Aceh di Mata Sejarawan: Rekonstruksi Sejarah Sosial Budaya (Banda Aceh: NASA, 2016), hlm. 189.
keajaiban mistik biasanya hanya ada dalam tradisi sufisme. Cerita tentang pengislaman dan pengangkatan Merah Selu sebagai raja tersebut sarat dengan warna-warna sufistik. Dengan demikian, tidak berlebih jika dikatakan bahwa kedua tokoh tersebut adalah sufi.
3. Syekh Abdullah Mas’ud bin Abdullah al-Jawi
Tokoh sufi terakhir yang hidup pada kisaran abad XIII-XIV adalah Syekh Abdullah Mas’ud bin Abdullah al-Jawi. Tidak banyak data tentang guru sufi yang satu ini. Hanya saja, Syekh Yusuf An-Nabhani pernah menyinggung perihal Syekh Abdullah Mas’ud bin Abdullah al-Jawi dalam kitab Jami’ Kiramatil Awliya. Dalam kitab itu disebutkan bahwa Syekh Abdullah Mas’ud bin Abdullah al-Jawi adalah seorang ulama sufi yang memiliki banyak murid di Aden/Arab Selatan. Salah seorang di antara muridnya yang terkenal adalah Syekh Abdullah al-Yafi’i.25
Syekh Yusuf An-Nabhani juga menjelaskan bahwa Syekh Abdullah Mas’ud bin Abdullah al-Jawi adalah murid dari al-Faqihul Kabir Syekh Ismail al-Hadrami. Namun, belum jelas dari mana sebenarnya dan kapan masa hidupnya Syekh Abdullah Mas’ud bin Abdullah al-Jawi ini. Meski demikian, jika ditelurusi dari namanya, al-Jawi, maka tidak menutup kemungkinan syekh ini berasal dari Nusantara, karena pada saat itu umumnya ulama asal Nusantara diberi tambahan al-Jawi di belakang.
Sementara tentang masa hidupnya, ada kemungkinan ia hidup antara abad XIII sampai abad XIV, karena muridnya, Syekh Abdullah al-Yafi’i, tercatat meninggal dunia pada tahun 1367.26