4) Aspek sosial
4.5 Alokasi Optimum Unit Penangkapan Pelagis Kecil
Tujuan pembangunan perikanan di Kabupaten Maluku Tenggara adalah mengoptimalkan produksi sumber hayati perikanan mencapai potensi lestari, dan dalam pengembangannya tidak terlepas dari ketersediaan potensi sumber daya, tenaga kerja dan faktor penunjang seperti infrastruktur, institusi dan sebagainya. Namun, sulit untuk mencapai tujuan tersebut secara bersamaan karena bersifat kontradiktif satu dengan lainnya. Dibutuhkan suatu pendekatan untuk mengalokasikan unit penangkapan secara optimal dan untuk hal tersebut maka
digunakan teknik linear goal programming (LGP). LGP digunakan untuk
menentukan jumlah alokasi unit penangkapan, devisiasi tujuan pengelolaan perikanan tangkap dan pemakaian sumber daya.
LGP terdiri dari persamaan fungsi tujuan, fungsi kendala dan variabel keputusan. Persamaan fungsi tujuan mengekspresikan variabel deviasional dari kendala tujuan yang harus diminimumkan. Variabel deviasional pada fungsi tujuan bermanfaat unuk menampung penyimpangan hasil penyelesaian diatas sasaran dan variabel deviasional yang berfungsi untuk menampung penyimpangan hasil penyelesaian di bawah sasaran. Variabel deviasional tersebut akan merubah kendala menjadi sarana untuk mencapai sasaran yang dikehendaki.
Penerapan LGP pada hakekatnya akan memberikan informasi penting
dalam pengalokasian sumber daya perikanan tangkap secara optimal, yaitu: 1) berapa alokasi optimal alat tangkap yang digunakan, 2) berapa besar ketercapaian tujuan yang dikehendaki sesuai target yang ditetapkan, dan 3) berapa besar sumber daya yang dimanfaatkan dalam mencapai tujuan.
1) Mengoptimumkan ketersediaan sumber daya ikan (SDI)
Sumber daya ikan pelagis kecil yang tertangkap di perairan Kabupaten Maluku Tenggara adalah layang, kembung, lemuru, tembang, selar dan teri. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan SDI tersebut didasarkan atas nilai TAC (total allowable catch) dan kemampuan masing-masing alat tangkap untuk menangkap ikan pelagis kecil. Adapun perhitungan
nilai TAC, kemampuan menangkap alat untuk menyusun persamaan kendala
(1) Ikan layang
Potensi lestari (MSY) ikan layang 8.071,54 ton/tahun dengan TAC sebesar 6.457,2353. Ikan layang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap purse seine dan bagan. Kemampuan purse seine untuk menangkap ikan layang adalah sebesar 299,56 ton/unit/tahun dan bagan sebesar 58,04 ton/unit/tahun. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumber daya ikan layang adalah :
299.56 X1 + 58.04 X2 + DB1 - DA1 = 6457.2353 (2) Ikan kembung
Potensi lestari (MSY) ikan kembung 10.172,26 ton/tahun dengan TAC sebesar 8.137,8119. Ikan kembung ditangkap dengan menggunakan alat tangkap purse seine, bagan, jaring insang hanyut dan jaring insang lingkar. Kemampuan purse seine untuk menangkap ikan kembung adalah sebesar 96,78 ton/tahun dan bagan sebesar 140,77 ton/tahun, jaring insang hanyut sebesar 0,64 ton/tahun dan jaring insang lingkar sebesar 0,31 ton/tahun. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumber daya ikan kembung adalah :
96.78 X1 + 140,77 X2 + 0.64 X3 + 0.31 X4 + DB2 - DA2 = 8137.8119
(3) Ikan lemuru
Potensi lestari (MSY) ikan lemuru 832,20 ton/tahun dengan TAC sebesar 665,76204. Ikan lemuru ditangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring insang hanyut dan jaring insang lingkar. Kemampuan jaring insang hanyut untuk menangkap ikan lemuru adalah sebesar 1,06 ton/tahun dan jaring insang lingkar sebesar 0.7 ton/tahun. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumber daya ikan lemuru adalah : 1.06 X3 + 0.7 X4 + DB3 - DA3 = 665.76204
(4) Ikan tembang
Potensi lestari (MSY) ikan tembang 657,52 ton/tahun dengan TAC sebesar 526.01386. Ikan tembang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap
15.63 ton/tahun. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumber daya ikan tembang adalah :
15.63 X2 + DB4 - DA4 = 526.01386
(5) Ikan selar
Potensi lestari (MSY) ikan selar 1.491,11 ton/tahun dengan TAC sebesar 1192.8913. Ikan selar dengan menggunakan alat tangkap purse seine, bagan, jaring insang hanyut dan jaring insang lingkar. Kemampuan purse seine untuk menangkap ikan selar adalah sebesar 47.47 ton/tahun, bagan sebesar 5.99 ton/tahun, jaring insang hanyut sebesar 0.19 ton/tahun dan jaring insang lingkar sebesar 0.08 ton/tahun. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumber daya ikan selar adalah :
47.47 X1 + 5.99 X2 + 0.19 X3 + 0.08 X4 + DB5 - DA5 = 1003.904
(6) Ikan teri
Potensi lestari (MSY) ikan teri 1.101,16 ton/tahun dengan TAC sebesar 880.93098. Ikan teri di perairan Kabupaten Maluku Tenggara ditangkap dengan menggunakan alat tangkap bagan. Kemampuan bagan untuk menangkap ikan teri adalah sebesar 18.84 ton/tahun. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumber daya ikan teri adalah : 18.84 X2 + DB6 - DA6 = 880.93098
2) Meminimumkan penggunaan BBM
Bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan nelayan untuk menjalankan perahu atau kapal penangkap ikan di perairan Kabupaten Maluku Tenggara adalah menggunakan minyak tanah dan bensin. Persamaan kendala tujuan dari permasalahan ini adalah sebagai berikut:
(1) 11.88 X1 + 7.920 X2 + DB7 - DA7 = 70000 (bensin)
3) Memaksimumkan penyerapan tenaga kerja
Jumlah nelayan di Kabupaten Maluku Tenggara berdasarkan data statistik Kabupaten Maluku Tenggara tahun 2008 adalah sebanyak 7.069 orang nelayan yang tersebar di enam kecamatan. Kebutuhan tenaga kerja untuk masing-masing alat tangkap berbeda-beda, sesuai dengan jenis alat tangkap yang digunakan seperti purse seine membutuhkan kurang lebih 17 orang tenaga kerja, bagan membutuhkan 4 orang tenaga kerja sedangkan jaring insang hanyut dan jaring insang lingkar masing-masing membutuhkan 3 orang tenaga kerja karena hanya menggunakan perahu dalam kegiatan operasi penangkapan.
Persamaan kendala tujuan dari permasalahan ini adalah sebagai berikut: 17 X1 + 4 X2 + 3 X3 + 3 X4 + DB9 >= 2474
4) Meminimumkan biaya operasional
Biaya operasional untuk masing-masing alat tangkap berbeda-beda sesuai ukuran dan kapasitas muat alat tangkap tersebut. Untuk alat tangkap purse seine biaya operasional yang dibutuhkan adalah sebesar Rp. 500.000, untuk bagan dibutuhkan biaya sebesar Rp. 200.000 kemudian untuk jaring insang hanyut dan jaring insang lingkar masing-masing dibutuhkan biaya sebesar Rp. 50.000. Kemudian untuk kendala biaya operasional yang digunakan sebesar Rp. 14.831 juta yang diperoleh dari total biaya operasional yang aktual dari seluruh unit penangkapan pelagis kecil di Kabupaten Maluku Tenggara.
Persamaan kendala tujuan dari permasalahan ini adalah sebagai berikut: 500 X1 + 200 X2 + 50 X3 + 50 X4 - DA10 <= 14831150
Dalam penelitian ini diperlukan subjective constraint (Simbolon 2003), yaitu kendala kebijakan untuk memanfaatkan seluruh alat tangkap ikan pelagis kecil yang berbasis di perairan Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun terakhir. Untuk itu, variabel keputusannya dibuat X1 ≥ 10; X2 ≥ 33; X3 ≥ 284 dan X4 ≥ 332 (seluruh unit penangkapan yang beroperasi di perairan Kabupaten Maluku Tenggara).
Berdasarkan output dari analisis LGP yang dilakukan diperoleh jumlah alokasi alat tangkap yang optimal untuk memanfaatkan sumber daya ikan pelagis kecil di perairan Kabupaten Maluku Tenggara yaitu masing-masing untuk purse seine (X1) sebanyak 12 unit, bagan (X2) sebanyak 46 unit, jaring insang hanyut (X3) sebanyak 408 unit dan jaring insang lingkar sebanyak 332 unit.
Berdasarkan output LGP (Lampiran 3) menunjukkan bahwa tujuan-tujuan yang ingin dicapai hampir semua tercapai, hal tersebut ditunjukkan oleh hasil analisis yang dilakukan diperoleh nilai deviasional (DA dan DB) yang sama dengan nol. Kecuali untuk pemanfaatan sumber daya ikan tembang yang telah melewati nilai TAC nya sebesar 202,472 ton, hal ini ditunjukkan pada output LGP pada nilai DA4 (Lampiran 3). Namun sumber daya ikan selar menunjukkan sebaliknya, sumber daya tersebut pemanfaatannya masih dibawah nilai TAC yang diperoleh sebesar 25,904 ton, sesuai output LGP dari nilai DB5.