Pengembangan menurut DEPDIKBUD (1990) dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti pengertian proses, cara atau perbuatan mengembangkan. Pengembangan merupakan usaha perubahan dari suatu kondisi yang kurang
kepada suatu yang dinilai lebih baik. Manurung et al. (1998), memberikan
pengertian tentang pengembangan sebagai suatu proses yang membawa peningkatan kemampuan penduduk dalam mengelola lingkungan sosial yang disertai dengan meningkatkan taraf hidup mereka. Dengan demikian pengembangan adalah suatu proses yang menuju pada suatu kemajuan.
Pengembangan usaha perikanan merupakan suatu proses atau kegiatan manusia untuk meningkatkan produksi dibidang perikanan dan sekaligus
meningkatkan pendapatan nelayan melalui penerapan teknologi yang lebih baik (Bahari 1989).
Monintja (1987) mengemukakan bahwa pengembangan usaha perikanan tangkap secara umum dilakukan melalui peningkatan produksi dan produktivitas usaha perikanan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pendapatan petani dan nelayan, produk domestik bruto (PDB), devisa negara, gizi masyarakat dan penyerapan tenaga kerja, tanpa mengganggu atau merusak kelestarian sumber daya perikanan. Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan usaha perikanan yakni aspek biologi, teknis (teknologi), ekonomis dan sosial budaya. Aspek-aspek yang berpengaruh dalam pengembangan kegiatan perikanan tangkap di suatu kawasan konservasi antara lain:
1) Aspek biologi, berhubungan dengan sediaan SDI, penyebarannya, komposisi,
ukuran hasil tangkapan dan jenis spesies.
2) Aspek teknis, berhubungan dengan unit penangkapan, jumlah kapal, fasilitas pendaratan dan fasilitas penanganan ikan di darat.
3) Aspek sosial, berkaitan dengan kelembagaan dan tenaga kerja serta dampak
terhadap nelayan.
4) Aspek ekonomi, berkaitan dengan hasil produksi dan pemasaran serta
efisiensi biaya operasional yang berdampak terhadap pendapatan bagi
stakeholders
Apabila pengembangan perikanan di suatu wilayah perairan ditekankan pada perluasan kesempatan kerja, maka menurut Moninjta (1987), teknologi yang perlu dikembangkan adalah jenis unit penangkapan ikan yang relatif dapat menyerap banyak tenaga kerja, dengan pendapatan setiap nelayan memadai. Selanjutnya menurut Monintja (1987), dalam kaitannya dengan penyediaan protein untuk masyarakat Indonesia, maka dipilih unit penangkapan ikan yang memiliki produktivitas nelayan per tahun yang tinggi, namun masih dapat dipertanggungjawabkan secara biologis dan ekonomis.
Upaya pengelolaan dan pengembangan perikanan laut di masa mendatang memang akan terasa lebih berat sejalan dengan perkembangan IPTEK. Pemanfaatan IPTEK kita diharapkan akan mampu mengatasi keterbatasan sumber daya melalui suatu langkah yang rasional untuk manfaat yang optimal dan
berkelanjutan. Langkah pengelolaan dan pengembangan tersebut juga harus mempertimbangkan aspek biologi, teknis, sosial budaya dan ekonomi (Barus et al. 1991).
Seleksi teknologi menurut Haluan dan Nurani (1988), dapat dilakukan melalui pengkajian pada aspek bio-technico-socio-economi-approach, oleh karena itu ada empat aspek yang harus dipenuhi oleh suatu jenis teknologi penangkapan ikan yang dikembangkan, yaitu: 1) jika ditinjau dari segi biologi tidak merusak dan mengganggu kelestarian sumber daya, 2) secara teknis efektif digunakan, 3) secara sosial dapat diterima masyarakat nelayan, dan 4) secara ekonomi teknologi tersebut bersifat menguntungkan. Selanjutnya dikatakan bahwa satu aspek yang tidak dapat diabaikan adalah kebijakan-kebijakan dan peraturan pemerintah. Pengembangan jenis-jenis teknologi penangkapan ikan di Indonesia perlu diarahkan agar dapat menunjang tujuan-tujuan pembangunan umum perikanan, apabila hal ini dapat disepakati, maka syarat-syarat pengembangan teknologi penangkapan Indonesia haruslah dapat:
1) Menyediakan kesempatan kerja yang banyak
2) Menjamin pendapatan yang memadai bagi para tenaga kerja atau nelayan
3) Menjamin jumlah produksi yang tinggi
4) Mendapatkan jenis ikan komoditi ekspor atau jenis ikan yang biasa diekspor
5) Tidak merusak kelestarian SDI
Beberapa strategi perencanaan pengelolaan perikanan tangkap menurut Monintja dan Yusfiandayani (2001), antara lain:
1) Pengikutsertaan nelayan dalam proses perencanaan merupakan suatu hal yang
mutlak untuk mendapatkan dukungan yang kuat terhadap perencanaan
pengembangan perikanan tangkap. Hal ini akan mempermudah proses law
inforcement setiap kebijakan pengelolaan.
2) Implementasi monitoring, controlling dan surveillance (MCS), guna
pembentukan sistem informasi yang efektif dan akurat, untuk perencanaan pengelolaan SDI, serta untuk menjamin usaha penangkapan ikan yang berkelanjutan.
3) Code of conduct for responsible fisheries (FAO 1995) dalam artikel 10 tentang “Integrasi Perikanan ke dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir” terutama pada artikel 10.1:
(1) Negara harus menjamin pemberlakuan suatu kebijakan, hukum dan
kerangka kelembagaan yang tepat, guna mencapai pemanfaatan sumber daya secara terpadu dan lestari, dengan memperhatikan kerawanan dari ekosistem pantai dan sifat sumber daya alam (SDA) yang terbatas dan kebutuhan dari masyarakat pesisir.
(2) Mengingat penggunaan ganda dari wilayah pesisir, negara harus
menjamin bahwa wakil dari sektor perikanan dan masyarakat penangkap ikan harus dilibatkan dalam perencanaan pengelolaan dan pembangunan wilayah pantai.
(3) Negara harus membentuk sebagaimana layaknya, kelembagaan dan
kerangka hukum untuk menentukan kemungkinan pemanfaatan sumber daya pesisir dan untuk mengatur akses terhadapnya, dengan memperhatikan hak-hak masyarakat nelayan pesisir dan praktek-praktek kebiasaan untuk keselarasan terhadap pembangunan berkelanjutan.
(4) Negara harus menfasilitasi pemberlakukan praktek-praktek perikanan
yang dapat menghindari konflik antar pengguna sumber daya perikanan dan antara mereka dengan pengguna wilayah pesisir lainnya.
(5) Negara harus mengusahakan penetapan prosedur dan mekanisme pada
tingkat administrasi yang sesuai, guna menyelesaikan konflik di dalam sektor perikanan dan antara sumber daya perikanan dengan para pengguna wilayah pesisir lainnya.
Berbagai masalah dan kendala yang dihadapi dalam pengembangan di bidang perikanan tangkap antara lain: 1) usaha perikanan tangkap masih didominasi oleh usaha perikanan tangkap skala kecil, 2) tidak ada kepastian dalam hal produktivitas dan ketersediaan bahan baku, 3) maraknya IUU fishing baik oleh nelayan asing maupun nelayan domestik, sehingga beberapa jenis alat tangkap produktivitasnya menurun, 4) rendahnya kepastian hukum, 5) kurangnya insentif investasi, 6) keamanan kegiatan penangkapan di berbagai wilayah kurang kondusif, 7) banyaknya pungutan terhadap pelaku usaha, baik yang resmi maupun
tidak resmi (unpredictable), 8) bidang perikanan tangkap dipandang tidak
bankable, 9) rendahnya kualitas SDM, 10) sarana dan prasarana daerah tertentu belum memadai, dan 11) tumpang tindihnya peraturan pusat dan daerah, terutama terkait dengan pungutan, restribusi, dan pajak pengusahaan perikanan (DJPT 2005).
Sasaran pembangunan sub-sektor pembangunan perikanan tangkap yang ingin dicapai menurut DJPT (2004) pada akhir tahun 2009 adalah:
1) tercapainya produksi perikanan tangkap sebesar 5,47 juta ton;
2) meningkatnya pendapatan nelayan rata-rata menjadi Rp. 1,5 juta/bulan; 3) meningkatnya nilai ekspor hasil perikanan menjadi US$ 5,5 milyar;
4) meningkatnya konsumsi dalam negeri menjadi 30 kg/kapita/tahun; dan
5) penyerapan tenaga kerja perikanan tangkap (termasuk nelayan) sekitar 4 juta orang.
Perikanan tangkap merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan atau berhubungan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Komponen-komponen perikanan tangkap, yakni: 1) masyarakat atau sumber daya manusia (SDM); 2) sarana produksi; 3) usaha penangkapan; 4) prasarana pelabuhan; 5) unit pengolahan; dan 6) unit pemasaran (Monintja dan Yusfiandani 2001).
Pembangunan perikanan tangkap ke depan dinilai cerah karena potensi dan prospek yang dimiliki bangsa Indonesia, yaitu : 1) luasnya perairan yang dimilki (laut teritorial, laut nusantara dan ZEE), dan perairan umum (danau, waduk, rawa dan genangan air lainnya); 2) potensi lestari ikan laut yang belum dikelola secara optimal; 3) potensi SDM yang melimpah yang belum dioptimalkan; 4) prospek pasar dalam dan luar yang cerah untuk produk-produk perikanan laut; 5) permintaan untuk konsumsi dalam dan luar negeri sangat tinggi seiring meningkatnya jumlah penduduk; dan 6) kesadaran masyarakat akan pentingnya ikan sebagai bahan pangan yang aman, sehat dan bebas kolestrol sehingga
masyarakat beralih dari mengkonsumsi red-meat menjadi white-meat (DJPT
2005).
Pemanfaatan peluang pengembangan tersebut didukung dengan jumlah tenaga kerja di bidang perikanan yang sampai tahun 2004 mencapai kurang lebih
6,0 juta orang. Dari sisi keterkaitan antar sektor, keberhasilan pembangunan sektor perikanan masih tergantung pada kebijakan yang dikeluarkan sektor lain. Saat ini dukungan sektor terkait belum sepenuhnya menunjukkan keberpihakan, seperti dukungan permodalan, jaminan keamanan dan kepastian hukum, penataan ruang, pengendalian pencemaran, pembangunan infrastruktur, serta urusan kepelabuhanan (RPPK 2005).
Kebijakan pembangunan perikanan tangkap menurut DJPT (2005) adalah 1) menjadikan perikanan tangkap sebagai salah satu andalan perekonomian dengan membangkitkan industri dalam negeri mulai dari penangkapan sampai ke pengolahan dan pemasaran, 2) rasionalisasi, nasionalisasi dan modernisasi armada perikanan tangkap secara bertahap dalam rangka menghidupkan industri dalam negeri dan nelayan lokal, dan 3) penerapan pengelolaan perikanan (fisheries management) secara bertahap berorientasi kepada kelestarian lingkungan dan terwujudnya keadilan.
2.3 Sistem
Wilson (1990) mendefinisikan sistem sebagai satu set elemen yang saling
berkaitan dan terorganisir menghasilkan satu set tujuan. Proses analisa sistem mencakup 6 tahap kegiatan, yaitu:
1) Definisi masalah : definisi kebutuhan, penentuan input, output dan hubungan antar elemen sistem serta definisi batasan sistem.
2) Penentuan tujuan sistem
3) Sintesa sistem : penentuan alternatif dan fungsi sistem, perencanaan sub
sistem dan penggunaan kreatifitas
4) Analisa sistem : penentuan cara dan metode analisis sistem yang digunakan 5) Seleksi sistem optimum : pendefinisian kriteria keputusan, evaluasi akibat
dan merangking sistem
6) Penerapan sistem
Djojonegoro (1993) diacu dalam Nurani (1996) mengemukakan, pada umumnya suatu sistem terdiri dari berbagai elemen yang sangat kompleks, sehingga untuk analisis perlu disederhanakan dengan jalan menuangkannya
dalam bentuk fungsi matematik atau abstraksi lain yang disebut model. Penggunaan model menguntungkan dalam analisis sebab:
1) Dengan model dapat dilakukan analisis dan percobaan dalam situasi yang
kompleks dengan mengubah-ngubah nilai atau bentuk relasi antar variabel yang tidak mungkin dilakukan pada sistem nyata.
2) Model memberikan penghematan dalam mendiskripsikan suatu keadaan
nyata.
3) Menghemat waktu, tenaga dan sumber daya lainnya
4) Dapat memfokuskan perhatian lebih banyak pada karakteristik yang penting
dari masalah.
Penyelesaian masalah pada sistem-sistem yang kompleks yang sulit ditetapkan model matematiknya, dapat diatasi dengan menggunakan simulasi. Simulasi diartikan sebagai penyelidikan satu sistem atau proses dengan bantuan suatu sistem.
2.4 Alat Tangkap Ikan Pelagis Kecil