• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Teknik Analisis Data

7. Amanat

Setiap orang yang melakukan kegiatan pasti mempunyai tujuan tertentu. Begitu juga dengan pengarang yang mencurahkan ide, perasaan, pikiran, dan emosinya dalam membuat suatu karya sastra. Pengarang membuat cerita biasanya karena dia mempunyai sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sesuatu itu ada yang disampaikan secara langsung (tersurat) atau secara eksplisit, dan ada yang secara tidak langssung (tersirat) atau secara implicit. Sesuatu itu yakni pesan yang dinamakan amanat.57

Dalam hal ini Rusyana dalam Jauhari berpendapat bahwa amanat merupakan endapan renungan yang disajikan kembali oleh pembaca. Endapan renungan tersebut merupakan hasil pikiran pengarang tentang hidup dan kehidupan yang dituangkan dalam bentuk karya sastra.58 Menurut Harimurti dalam Jauhari bahwa amanat adalah keseluruhan makna atau isi wacana, konsep, dan perasaan yang hendak disampaikan pembicara untuk dimengerti dan diterima pendengar. 59

Amanat yang disampaikan oleh pengarang lewat karyanya bergantung pada pandangan hidup, filsafat, pekerjaan, dan cita-cita pengarang tersebut. Karena menurut Sumardjo dan Saini karya sastra adalah sebuah usaha merekam isi jiwa sastrawannya. Rekaman ini menggunakan alat bahasa. Sastra adalah bentuk rekaman dengan bahasa yang akan disampaikan kepada orang lain.60

Dengan demikian amanat dapat disimpulkan sebagai makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra yang dapat memberikan

57

Hari Jauhari, op. cit., h. 55. 58

Ibid. 59

Ibid. 60

tambahan pengetahuan, pendidikan, dan sesuatu yang bermakna dalam hidup.

C. Hakikat Pembelajaran Sastra

Pembelajaran adalah penguasaan atau pemerolehan pengetahuan tentang suatu objek atau sebuah keterampilan dengan belajar, pengalaman, atau instruksi. Pengajaran tidak bisa didefinisikan terpisah dari pembelajaran. Pengajaran adalah memandu dan memfasilitasi pembelajaran, memungkinkan pembelajar untuk belajar, menetapkan kondisi-kondisi pembelajaran. Dengan adanya pengajaran sastra diharapkan dapat membantu pendidikan secara utuh yang meliputi empat manfaat, yaitu membantu dalam keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya,mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan watak.61

Dalam kurikulum 2004, tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia bidang sastra terbagi menjadi dua, yaitu: (1) agar peserta didik mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadiannya, memperluas wawasan di dalam kehidupan, serta untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; (2) agar peserta didik dapat menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Pembelajaran sastra yang dilaksanakan dengan baik, niscaya akan memberikan kontribusi yang bermakna bagi proses pendidikan dalam keseluruhannya, yang juga dapat berarti bahwa dalam bahasa positivisme, terdapat korelasi positif antara pembelajaran sastra dan pembelajaran bidang studi lainnya.

Ada sejumlah hal yang dapat diidentifikasikan agar pembelajaran sastra benar-benar dapat membuktikan ―korelasi positif‖-nya dengan bidang studi lain.62 Pertama, pembelajaran sastra harus dilaksanakan secara kreatif.

Kedua, bahan-bahan yang diberikan kepada siswa hendaknya merupakan

61

B. Rahmanto, Metode Pengajaran Sastra, (Yogyakarta: Kanisius, 1988), h. 16. 62

Riris K. Toha Sarumpaet (ed.), Sastra Masuk Sekolah, (Magelang: Indonesia Tera, 2002), h. 46-47.

karya-karya yang dipradugakan dapat membuat mereka menjadi lebih kritis, menjadi lebih peka terhadap beragam situasi kehidupan. Di samping kedua hal tersebut, guru hendaknya selalu menyadari bahwa sastra sebagai bahan pembelajaran hanyalah sekadar sarana untuk mengantarkan para siswa meniti jenjang kedewasaan.

Pembelajaran sastra ditujukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menikmati, menghayati, dan memahami karya sastra serta mengambil hikmat atas nilai-nilai luhur yang terselubung di dalamnya. Pengetahuan tentang sastra hanyalah sebagai penunjang dalam mengapresiasi karya sastra. Kalau pembelajaran sastra sudah dilakukan sesuai dengan pedoman yang ada dalam kurikulum, diharapkan keluhan-keluhan tentang kurang berhasilnya pembelajaran sastra di sekolah dapat berkurang. Namun demikian, walaupun telah beberapa kali berganti kurikulum baru, pembelajaran sastra di sekolah menengah sampai sekarang masih belum dapat dilaksanakan secara maksimal sehingga lulusan yang dihasilkan belum sepenuhnya mencerminkan tujuan pembelajaran tersebut.

Pembelajaran sastra yang dilakukan di sekolah-sekolah kita saat ini sebagian besar baru pada pengembangan pengetahuan tentang sastra, belum sampai pada pentransferan nilai-nilai yang ada dalam karya sastra. Karya sastra belum dibaca dan dibahas secara tuntas, belum menjadi bahan diskusi dan pembahasan bagi siswa dan guru sehingga belum terjadi pentransferan nilai-nilai yang ada dalam karya sastra tersebut.

Oleh karena itu, perlu dicari cara mengatasi dan mereaktualisasikan pembelajaran sastra di sekolah menengah agar tercapai tujuan yang diinginkan, yaitu dengan memposisikan pembelajaran sastra secara proporsional. Paling tidak, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mereaktualisasikan dan mengoptimalkan, serta memperbaiki pembelajaran sastra di sekolah menengah, yaitu: (1) peningkatan peran dan kreativitas guru sastra dalam pembelajaran sastra di sekolah, dan (2) perubahan orientasi pembelajaran, dari pembelajaran sastra yang berorientasi kepada materi

menuju pembelajaran sastra yang berorientasi kepada siswa atau peserta didik.

D. Penelitian yang Relevan

Adapun novel Opera Van Gontor ini sudah pernah diteliti sebelumnya oleh Imron Sukanto mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto pada

tahun 2012 dengan judul ―Nilai-Nilai Edukatif dalam Novel Opera Van

Gontor Karya Amroeh Adiwijaya‖ yang mengambil fokus nilai edukatif dalam novel Opera Van Gontor karya Amroeh Adiwijaya. Imron Sukanto lebih menekankan kepada nilai-nilai edukatif yang tergambar dalam novel Opera Van Gontor ini meliputi nilai kejujuran, disiplin, suka menolong, bekerja keras tanggung jawab, optimis, berbakti pada orang tua, suka memberi nasihat dan dermawan.

Selain itu, penelitian yang sesuai dengan penelitian sebelumnya yakni penelitian yang ditulis oleh Helliyatun mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta pada tahun 2009 dengan judul ―Nilai-Nilai Religius dalam Novel

Hafalan Sholat Delisa Karya Tere-Liye dan Relevansinya terhadap

Pendidikan Agama Islam”. Dalam hal ini peneliti mengungkapkan tentang isi atau nilai-nilai religius yang ada dalam novel Hafalan Shalat Delisa, kemudian menafsirkan relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam. Hasil penelitiannya menunjukkan: Nilai-nilai religius yang terkandung dalam novel

Hafalan Shalat Delisa adalah nilai pendidikan aqidah (keimanan) yang meliputi iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab, iman kepada rosul, dan iman kepada takdir. Pendidikan syariah (ibadah) yang meliputi perintah shalat, menuntut ilmu, beramal dengan tulus ikhlas, berdzikir dan berdoa kepada Allah. Pendidikan akhlak (budi pekerti) meliputi akhlak terhadap diri sendiri (sabar, taubat, optimis, bersyukur, menerima hidayah dan menghindarkan diri dari sikap marah), akhlak terhadap orang tua (larangan durhaka terhadap kedua orang tua dan berbakti kepada kedua orang), akhlak terhadap keluarga, akhlak terhadap saudara, akhlak terhadap

sesama (memberi salam dan saling tolong menolong) dan akhlak terhadap anak yatim.

Penelitian selanjutnya, penelitian yang ditulis oleh Hildawati mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2012 dengan judul ―Nilai Religiusitas Islam dalam Novel Atheis Karya Achdiat Karta Mihardja

dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra‖. Penelitian ini bertujuan

mengungkapkan tentang isi atau nilai-nilai religiusitas yang ada dalam novel

Atheis, kemudian menafsirkan implikasinya terhadap pembelajaran sastra. Nilai-nilai religiusitas yang terkandung dalam novel Atheis, terdiri dari aspek aqidah (tauhid), aspek ibadah (ritual), aspek ihsan (penghayatan), aspek ilmu (pengetahuan), dan aspek amal (akhlak).

Dari ketiga penelitian di atas pada dasarnya meneliti nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah novel, khusus untuk novel Opera Van Gontor ini penulis mencoba mengkaji nilai religius yang terdapat dalam novel Opera Van Gontor, tidak hanya nilai religius saja, penelitian ini lebih mengarah kepada bagaimana nilai religius yang terdapat dalam novel Opera Van Gontor berimplikasi terhadap pembelajaran sastra di sekolah.

32

A. Metode Penelitian

Metode manyangkut masalah atau cara kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.1 Dalam penelitian, objeklah yang menentukan metode yang akan digunakan. Sebuah metode dipilih dengan mempertimbangkan kesesuaiannya dengan objek studi.2 Sukmadinata menyebutkan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.3 Penelitian ini berusaha menggambarkan data dengan kata-kata atau kalimat yang dibedakan menurut unsur-unsur/ bagian-bagian tertentu untuk memperoleh simpulan.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis isi (content analysis). Metode ini merupakan salah satu metode dalam ilmu sosial yang digunakan untuk mempelajari dan mengungkapkan arti yang lebih dalam sertaproses-proses dinamis di belakang komponen isi suatu karya sastra atau naskah tertentu. Dengan menggunakan metode ini, peneliti menginterpretasikan dan berusaha memahami isi pesan maupun gagasan utama yang terkandung di dalamnovel yang dikaji.

Kaitannya dengan kajian religius, Ratna mengemukakan beberapa tahapan model analisis isi (content analysis) sebagai berikut.4 Pertama, tentukan objek yang akan dianalisis. Dalam hal ini, objek dalam penelitian ini adalah mengenai nilai-nilai religius yang ada dalam novel Opera Van Gontor

karya Amroeh Adiwijaya. Kedua, objek dianalisis secara sistematis. Untuk mencapai sistematika yang memadai, penelitian ini dilakukan melalui

1

Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1977), h. 16.

2 Ibid. 3

Nana S. Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja, 2010), h. 60. 4

Nyoman Kutha Ratna, Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 360-362.

beberapa tahapan yang terukur. Ketiga, analisis dilakukan dengan menggunakan relevansi teori-teori tersebut. Dalam penelitian ini, terdapat saling keterkaitan antara teori-teori religius, sastra, dan teori-teori pembelajaran. Keempat, keseluruhan data perlu dikaitkan dan dicarikan konteksnya dengan berbagai disiplin yang relevan. Kelima, menemukan ‗temuan’, baik berupa sesuatu yang belum ada sebelumnya maupun berupa teori.

Dalam mengkaji sebuah karya sastra digunakan beberapa pendekatan diantaranya pendekatan objektif, pendekatan mimetik, pendekatan ekspresif, dan pendekatan pragmatik. Diantara keempat pendekatan di atas, penulis menggunakan pendekatan objektif untuk menganalisis novel Opera Van Gontor ini. Pendekatan objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan kepada teks karya sastra itu sendiri.

B. Objek Penelitian

Skripsi ini menggunakan objek penelitian berupa novel Opera Van Gontor karya Amroeh Adiwijaya dengan mengkaji aspek religius yang ada dalam novel tersebut.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi atau kajian kepustakaan (library research), dalam hal ini kajian terhadap teks novel Opera Van Gontor karya Amroeh Adiwijaya. Novel ini menjadi sumber data utama atau sumber primer dalam penelitian ini. Secara hermeneutis, kajian kepustakaan ini dilakukan dengan penghayatan secara langsung dan pemahaman arti secara rasional. Untuk melaksanakan hal tersebut, dikembangkan rambu-rambu studi dokumentasi yang berfungsi sebagai instrument penelitian. Teknik studi dokumentasi direalisasikan atau diterapkan dengan tiga langkah berikut ini.

1. Peneliti membaca secara kritis sumber data dalam novel Opera Van Gontor karya Amroeh Adiwijaya. Pembacaan secara hermeneutis ini

dimaksudkan untuk memahami dan memiliki kembali makna yang terdapat di dalam sumber data.

2. Peneliti membaca secara berkesinambungan dan berulang-ulang sumber data dalam novel Opera Van Gontor karya Amroeh Adiwijaya.

3. Peneliti membaca sekali lagi sumber data untuk memberi tanda bagian-bagian teks novel Opera Van Gontor karya Amroeh Adiwijaya yang diangkat menjadi data dan dianalisis lebih lanjut. Penandaan ini disesuaikan dengan sumber data.

D. Langkah-langkah Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan teknik pembacaan secara holistik atau terpadu dan menyeluruh terhadap sumber data yang berbentuk novel. Disamping itu pula dilakukan melalui teknik pembacaan retroaktif atau hermeneutik, yaitu pembacaan bolak-balik sebagaimana yang terjadi pada metode hermeneutik untuk menangkap maknanya (setelah sumber data yang berbentuk novel/teks novel tersebut dibaca, kemudian hasil pembacaan tersebut dijadikan dasar untuk pengklasifikasian dan pengelompokkan data berdasarkan unsur-unsur/ bagian-bagian tertentu sesuai tujuan penelitian.

Adapun teknik/ langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Memilih dan menentukan novel yang akan diteliti. Dalam penelitian ini adalah novel Opera Van Gontor karya Amroeh Adiwijaya.

2. Membaca, menelaah dan memahami struktur novel dan nilai-nilai religius yang terdapat dalam novel.

3. Mencatat data berupa kata, frasa, kalimat, ungkapan, pernyataan, dan lain-lain yang berkaitan dengan struktur dan nilai-nilai religius yang terdapat dalam novel.

4. Mengelompokkan data atau mengklasifikasikan data berdasarkan struktur dan nilai-nilai religius yang terdapat dalam novel.

5. Mendeskripsikan data berdasarkan struktur dan nilai-nilai religius yang terdapat dalam novel.

6. Menganalisis data berdasarkan struktur dan nilai-nilai religius yang terdapat dalam novel.

7. Memahami teks berdasarkan nilai-nilai religius dalam Opera Van Gontor

karya Amroeh Adiwijaya.

8. Menyimpulkan hasil analisis struktur dan nilai-nilai religius yang terdapat dalam novel.

9. Melaporkan hasil penelitian.

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data bertujuan untuk mengungkapkan proses pengorganisasian dan pengurutan data tentang struktur dan nilai-nilai religius yang terdapat dalam novel yang berjudul Opera Van Gontor karya Amroeh Adiwijaya ke dalam pola kategori dan satuan uraian sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan tentang struktur dan nilai-nilai religius yang dilengkapi dengan data pendukung.

Setelah data terkumpul secara keseluruhan, kemudian data diklasifikasikan, dideskripsikan, dianalisis berdasarkan masalah penelitian. Secara rinci teknik analisis data adalah seperti berikut ini.

1. Membaca secara kritis dan mendalam novel yang dijadikan sampel.

2. Data dikelompokkan atau diklasifikasi berdasarkan masalah penelitian, yaitu berdasarkan struktur novel (tema, cerita, plot, latar, tokoh/ penokohan, sudut pandang, bahasa, dan gaya bahasa), nilai-nilai religius yang terdapat dalam karya sastra, dalam hal ini novel.

3. Mendeskripsikan struktur novel, dan nilai-nilai religius yang terdapat dalam novel.

4. Menganalisis struktur novel, menganalisis nilai-nilai religius yang terdapat dalam novel.

5. Membuat simpulan tentang hasil analisis terhadap karya sastra (novel). 6. Menyusun hasil analisis atau hasil pengkajian.

36

A. Biografi Amroeh Adiwijaya

H. Amroeh Adiwijaya dilahirkan di Gresik, 6 Juni 1958, dari orang tua, Hj. Mafazah (ibu) dan H. Rifai Malik (ayah). Beristrikan Hj. Ika Ariroza, S.E. (ibu rumah tangga, mantan karyawati Bank Lippo) dan dikaruniai dua putri: Rana Amira dan Adila Haira. Pekerjaannya adalah pengusaha kulit di Gresik sejak 1995.

Menempuh Sekolah Dasar di MI Maskumambang, Dukun Gresik, tamat tahun 1969. KMI (setingkat SLTP-SLTA) di Pondok Modern Gontor, tamat tahun 1975. Mengikuti Jambore Nasional Gerakan Pramuka di Sibolangit Medan tahun 1977. Setelah itu, ia melanjutkan perguruan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tamat tahun 1985.

Pengalaman organisasinya begitu luas. Semasa mahasiswa, ia pernah menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (BPM-FHUI) tahun 1982-1983, Ketua Umum Senat Mahasiswa (SM) FHUI. Tahun 1983-1985, menjabat Koordinator Senat Mahasiswa se-UI tahun 1984 dan mewakili organisasi kemahasiswaan se-UI mengunjungi Universitas Negeri di ASEAN (1982).

Di luar kampus pun H. Amroeh juga aktif berorganisasi, seperti menjabat sebagai Ketua Umum Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta (1980-1982), Ketua Departemen Luar Negeri Pengurus Besar (PB) HMI 1983 (Ketua Umum: Harry Azhar Aziz), serta Anggota Leo Club Jayaparama Jakarta, tahun 1984-1985 (Ketua: Victor Fungkong, S.H., L.L.M.). Semasa di tengah-tengah masyarakat ia menjadi anggota "Forum Rembug Nasional" (FRN), suatu pertemuan tingkat nasional di Bali, forum yang menanggapi kemelut politik semasa pemerintahan (dan dihadiri) Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur)---mewakili masyarakat Jawa Timur (2001). Ia pun diminta oleh pengurus pusatnya di Jakarta sebagai pelaksana "Police Watch" Jawa Timur,

sebuah LSM berjaringan internasional (2005). Sejumlah karya tulisnya telah terbit menjadi buku di antaranya Demokrasi Indonesia?, Gerakan Wali Murid "Mendobrak Mafia Pendidikan", dan kumpulan cerpen Komedi Nurani.

B. Sinopsis Novel Opera Van Gontor

Novel ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama, Amroeh menceritakan pandangan pertamanya sewaktu mondok di Gontor. Bagian kedua, Amroeh menceritakan fase kehidupan Gontor dengan cerita unik. Bagian ketiga dan keempat, Amroeh lebih panjang lebar memperbincangkan pengalaman pribadinya setelah sekian tahun hidup di pesantren.

Amroeh merupakan sosok anak yang mempunyai kebulatan tekad dan tanggung jawab terhadap apa yang telah dipercayakan kepadanya. Amroeh yang baru menyelesaikan pendidikan dasarnya dituntut oleh ayahnya untuk melanjutkan pendidikan di Pesantren Gontor. Tuntutan yang dilakukan oleh ayahnya tidak semata-mata atas keinginan ayahnya sendiri, melainkan berkat lobi sang Ayah kepada Dik Muhdi (alumnus Gontor), sekaligus juga hasil lobi dengan Pak H. Achwan. Seperti kebanyakan santri yang baru memasuki jenjang pendidikan, Amroeh juga merasakan hal yang sama. Pikirannya berkecamuk antara suka, takut, dan sedih, karena hidup jauh dari orang tua merupakan hal yang menyedihkan, apalagi usia Amroeh ketika itu masih berusia 11 tahun. Ia dituntut untuk mandiri dan berpikiran dewasa. Terpisah dari orang tua, bukan menjadikannya ia lemah dan manja. Akan tetapi itu semua ia jadikan motivasi untuk melangkah.

Pendidikan yang diberikan di Gontor sangat mengutamakan kedisiplinan, kemandirian, dan yang terpenting rasa kecintaan terhadap sang pencipta. Pondok pesantren Gontor sangat maju, tergambar dari terbentuknya karakter siswa-siswa yang ada di sana misalnya saja Amroeh. Kesemua ini tak terlepas dari peran para pendidik yang sangat berdedikasi tinggi untuk menciptakan karakter manusia yang berakhlakul karimah. Pak Zar, dan Pak Sahal adalah contoh sosok guru yang baik. Mereka selalu memberikan pesan kepada para muridnya untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan tak lupa

pengajar di Gontor ini juga memberikan motivasi dan semangat dalam menuntut ilmu, yang berefek pada terpecutnya semangat belajar para siswa yang menjadikan pondok pesantren Gontor ditumbuhi oleh tunas bangsa yang siap membangun negara dan selalu menjaga agar negara dalam lindungan Tuhan.

Di akhir cerita, Amroeh akhirnya berhasil mengenyam pendidikannya selama enam tahun. Keberhasilannya tidak dicapai dengan mudah, tetapi melalui proses yang sangat panjang, berkat kesungguhan dan keikhlasannya dalam menjalankan kehidupannya di Pesantren Gontor.

C. Unsur Intrinsik Novel Opera Van Gontor 1. Tema

Tema merupakan gagasan yang mendasari suatu cerita. Nurgiyantoro memandang tema sebagai dasar cerita, gagasan dasar umum sebuah karya novel.1 Menurutnya gagasan dasar umum inilah yang tentunya telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang yang dipergunakan untuk mengembangkan cerita.

Dalam cerita ini, gagasan dasarnya adalah mengenai keikhlasan dan kesungguhan hidup dalam meraih cita-cita. Amroeh seorang anak kecil yang baru berusia 11 tahun diminta oleh ayahnya untuk meneruskan pendidikan di pesantren Gontor, sebagai anak yang berbakti tidak ada sepatah kata pun untuk menolak keinginan ayahnya. Baginya keinginan bapaknya semata-mata demi kepentingan dirinya sendiri.

Penggambaran tema dalam novel ini dapat dilihat dari sikap Amroeh yang ikhlas dalam menunggu keputusan apakah ia akan diterima di pondok modern Gontor. Hal ini dapat dilihat dari kutipan dalam novel

Opera Van Gontor sebagai berikut:

Ya, mau apa lagi. Belajar sudah, ujian sudah, hasilnya sudah ada di catatan panitia ujian, doa pun sudah aku lakukan!

1

Mau tidak mau harus bersikap demikian meski batinku tetap

merintih agar aku diterima.2

Kutipan di atas menggambarkan bagaimana sikap Amroeh yang ikhlas dalam menerima keputusan hasil seleksi, segala upaya telah ia lakukan, usaha, doa, dan selalu optimis akan hasil yang diterima nanti. penantian pun tidak sia-sia, sekian lama menunggu akhirnya Amroeh berhasil lulus seleksi. Bahwasanya segala sesuatu jika kita ikhlas dalam menjalankannya maka akan memperoleh hasil yang optimal.

Kami semua sangat bersyukur pada Allah Swt. Air mata kegembiraan sempat mengalir sejenak di pipi, aku termenung, tertegun sambil bermunajat pada Tuhan, ―Ya, Tuhan! Engkau sendiri telah menolongku keluar dari masalah-masalahku. Siapa yang sanggup membandingkan keadaan kami kemarin ketika kami masih meraba-raba di dalam kegelapan, dengan kami sekarang yang penuh harapan dan keyakinan, tanpa mengajui keadilan dan belas kasih-Mu dengan sepenuh hati... untuk pertama kali dalam kehidupan aku merasa puas dan bahagia. Aku mengalami dilema kehidupan dalam beberapa hari terakhir, sekarang muncul lingkaran kebanggaan yang membahagiakan, seolah-olah ini bukan lagi sekadar kernyitan di dahi takdir

kemurahan hati yang dipaksakan.‖3

Sedangkan penggambaran kesungguhan Amroeh dalam menggapai cita-citanya, dapat dilihat ketika ia sedang melamun dan terbesit kampung halaman serta sanak keluarganya.

Aku berharap dan berdoa, ―Semoga Ibu, Bapak, dan saudara-saudaraku terkasih selalu dalam keadaan selamat, sehat,

dan sejahtera semua...!‖ Pipiku tiba-tiba dibasahi tetesan air mata.

Segera aku menetralkan emosi dengan mengatakan pada diri

sendiri, ―Kepergianku ke Gontor ini untuk berjuang mencari ilmu,

memenuhi tuntutan agama, berjuang di jalan suci Allah, jadi aku

harus tegar tidak boleh cengeng!‖4

Kutipan di atas menggambarkan bagaimana tekad Amroeh dalam menjalani masa-masa di Gontor, meskipun ia harus berpisah dengan

2

Amroeh Adiwijaya, Opera Van Gontor, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), h. 29.

3

Ibid., h. 30-31. 4

keluarga, ia harus menjalani hidupnya agar kelak menjadi manusia yang berguna sesuai yang ia citakan.

Pada intinya tema yang ingin disampaikan dalam novel ini adalah segala niat yang baik dalam menggapai sesuatu apabila dijalankan dengan penuh keihlasan dan kesungguhan pasti akan memperoleh hasil yang maksimal, meskipun hambatan itu pasti ada, niscaya semua itu hanya jalan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

2. Alur

Secara umum alur merupakan rangkaian peristiwa dalam sebuah cerita.5 Artinya, peristiwa pertama menyebabkan peristiwa kedua, peristiwa kedua menyebabkan terjadinya peristiwa ketiga, dan demikian

Dokumen terkait