• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ampelocissus filipes Planch. ― Gambar 34

Dalam dokumen Revisi Ampelocissus (Vitaceae) Di Sumatera (Halaman 61-66)

Ampelocissus filipes Planch., Monogr. Phan. 5 (1887) 407. Tipe: India 1861, Helfer 1315 (Holotipe: P! foto).

Gambar 34 Ampelocissus filipes (JA Lorzing 4638). A. spesimen herbarium, B. kuncup bunga berindumentum, C. bagian-bagian bunga

Habitus terna merambat. Indumentum wol menutupi seluruh permukaan, berwarna putih, kekuningan, cokelat hingga kemerahan. Batang tua memipih, diameter 0.05-0.4 cm. Sulur tunggal berhadapan daun, panjang 5-16.5 cm. Daun penumpu membulat, ujung menyegitiga, panjang 0.3-0.4 cm. Daun dimorfis, panjang tangkai 5-9 cm, tunggal-majemuk menjari; tangkai anak daun tunggal absen-majemuk 1.5-2.5 cm, anak daun 1-3, bundar telur sungsang-asimetri 9.5-13x6.5-11 cm, membundar 8.5-11.5x5.5 cm, pangkal menjantung-menirus-asimetri, tepi bergigi-menggergaji ganda, sinus rata-tumpul, panjang 0.1-0.2 cm, ujung melancip-bertaring, pertulangan daun tunggal dengan tiga tulang utama dengan sudut 45-65°, pertulangan majemuk menyirip 40-60°, permukaan adaksial berindumentum wol cokelat kemerahan pada venasi, seluruh permukaan abaksial berindumentum wol cokelat kemerahan. Daun pelindung tidak ada. Perbungaan tirsus memanjang, panjang 6.5-20.5 cm; cabang 16-18 pasang, panjang 0.6-2 cm, jarak ruas 0.4-0.5 cm; sulur pada pangkal perbungaan, panjang 10-12 cm. Kuncup bunga membulat 1.1x1.1 mm, duduk, kedudukan bulir berhadapan, indumentum wol, 6-10 bulir per cabang, jarak bulir 0.1 cm. Bunga berbilangan 4; kelopak seperti mangkok; mahkota melonjong, panjang 1 mm, ujung runcing, pangkal menyegi, hijau kekuningan; tangkai sari tipis, panjang 0.9 mm; kepala sari membulat, pelekatan dorsifixed, ukuran 0.5x0.4 mm; putik membulat, beralur empat, ukuran 0.5-0.6x0.4-0.5 mm; tangkai putik gilig, panjang

1 mm

A

C B

44

0.2 mm; bakal buah beruang dua. Buah beri, membulat, hijau, panjang 1.7 cm. Biji 1 per buah, membulat-bundar telur sungsang.

Sayatan paradermal daun, adaksial; dinding antiklinal sel epidermis

bergelombang melonjong, panjang 90-120 μm. Abaksial; dinding antiklinal sel epidermis tidak beraturan membulat, panjang 100 μm; rambut kelenjar uniselular pada seluruh permukaan daun; stomata anomositik berpapila memipih bersatu, panjang 80 μm. Sayatan melintang daun, jumlah jaringan tiang satu lapis, tebal

daun 100 μm; epidermis atas daun tipis; dua tipe kristal kalsium oksalat jarum dan bintang; bentuk kristal kalsium oksalat jarum membulat; kedudukan stomata menonjol terhadap epidermis bawah daun, papila sama tinggi terhadap stomata (Gambar 35).

Gambar 35 Sayatan paradermal dan melintang daun A. filipes. A. dinding antiklinal sel epidermis adaksial daun; B. permukaan abaksial daun; C. sayatan melintang. 1= jaringan tiang satu lapis, k= kristal kalsium oksalat jarum, s= stomata, sg= rambut kelenjar uniselular, ss= rambut beruntun tunggal

Sebaran: Sumatera, Borneo, Myanmar, Pulau Andaman, India.

Spesimen yang diamati: Nanggroe Aceh Darussalam, Ketambe, WJJD de Wilde

& BEE de Wilde 12221, 14581, 18095. Sumatera Utara, Sibolangit JA Lorzing 12798, 4638. Sumatera Selatan, Pulau Raja CGGJ van Steenis 3539.

Catatan: Ampelocissus filipes belum pernah dilaporkan terdapat di Sumatera.

Jenis ini merupakan satu-satunnya jenis Ampelocissus di Sumatera dengan ciri daun dimorfis, yakni daun tunggal ketika muda dan dewasa majemuk menjari tiga setelah dewasa, serta kuncup bunga membulat dengan indumentum wol pada seluruh permukaannya.

4. Ampelocissus gracilis(Wall.) Planch. ― Gambar 36

Ampelocissus gracilis (Wall.) Planch., Monogr. Phan. 5 (1887) 407. Suessenguth, Natur. Pflazenfam. 20 (1953) 306. Latiff, Fed. Mus. Jour. 27 (1982) 86. ― Vitis gracilis Wall., Fl. Ind. 2 (1824) 477. King, Jour. Roy. Soc. Beng. 65:2 (1896). Ridley, Fl. Mal. Penin. 1 (1922) 472. Tipe: Singapura, Wallich C 6007 (Holotipe: K! foto).

Habitus herba pemanjat. Indumentum memasai kuning kecokelatan tersebar tipis, menutupi seluruh permukaan. Batang tua memipih, diameter 0.1-0.2 cm. Sulur tunggal berhadapan daun, panjang 9-16 cm. Daun penumpu membulat, ujung menyegi tiga, panjang 0.12-0.4 cm. Daun tunggal, panjang tangkai 6-11.5 cm,

50 μm 1 k s 100 μm A 100 μm s sg B C

45 bundar telur- membundar 5.5-13x3-11 cm, pangkal membulat-menjantung, tepi bergigi, sinus rata-tumpul, panjang 0.05-0.13 cm, ujung bertaring, pertulangan menyirip dengan sudut 45-65°; permukaan adaksial berindumentum memasai hanya pada venasi, seluruh permukaan abaksial berindumentum memasai putih-kekuningan. Daun pelindung tidak ada. Perbungaan tirsus mengerucut, panjang 13-15.5 cm; cabang 9-13 pasang, panjang 4.5-10.5 cm, jarak ruas 0.5-1.8 cm; sulur pada pangkal perbungaan, panjang 7-9 cm. Kuncup bunga melonjong 0.8-1.2x0.5-0.8 mm, duduk, kedudukan bulir berhadapan, licin, 6-10 bulir per cabang, jarak bulir 0.2-0.3 cm. Bunga berbilangan 4; kelopak seperti mangkok; mahkota melonjong, panjang 0.9 mm, ujung membulat, pangkal menyegi, hijau muda-kuning; tangkai sari tipis, panjang 0.7-0.8 mm; kepala sari membulat, pelekatan dorsifixed, ukuran 0.4x0.3 mm; putik membulat, beralur empat, ukuran 0.4x0.5 mm; tangkai putik gilig, panjang 0.2 mm; bakal buah beruang dua. Buah beri, melonjong, hijau, panjang 1.5 cm. Biji 1-2 per buah, bulat-lonjong.

Gambar 36 Ampelocissus gracilis (W Takeuchi, E Sambas 18282). A. spesimen herbarium, B. bagian-bagian bunga, C. putik dan kelopak bunga

Sayatan paradermal daun, adaksial; dinding antiklinal sel epidermis daun

berliuk, licin, panjang 100-140 μm. Abaksial; dinding antiklinal sel epidermis berliuk, panjang 80-100 μm; rambut kelenjar uniselular pada seluruh permukaan daun; stomata anomositik licin, panjang 70 μm. Sayatan melintang daun, jumlah

jaringan tiang satu lapis, tebal daun 220 μm; epidermis atas daun tipis; dua tipe kristal kalsium oksalat jarum dan bintang, bentuk kristal kalsium oksalat jarum membulat; kedudukan stomata rata terhadap epidermis bawah daun (Gambar 37).

1 mm

0.5 mm

A B

46

Gambar 37 Sayatan paradermal dan melintang daun A. gracilis. A. dinding antiklinal sel epidermis adaksial daun, B. permukaan abaksial daun, C. stomata, D. sayatan melintang, E. kedudukan stomata. 1= jaringan tiang satu lapis, dr= kristal kalsium oksalat bintang, k= kristal kalsium oksalat jarum, s= stomata, sg= rambut kelenjar uniselular, ss= rambut beruntun tunggal

Sebaran: Sumatera, Semenanjung Malaya, Borneo.

Spesimen yang diamati: Sumatera Utara, Sikundur, K Iwatsuki, G Murata, J

Dransfield, D Saerudin 375; Sungai Besitang WJJD de Wilde & BEE de Wilde 19313; Aras Napal WJJD de Wilde & BEE de Wilde 21197; Bahorok H Wiriadinata, Maskuri 681; Suaka Margasatwa Dolok Surungan Elizabeth AWidjaja 1848; Tapanuli Selatan W Takeuchi& E Sambas 18278, 18282, 18310. Bangka, Djeboes Leg. s.n.

Catatan: Ampelocissus gracilis memiliki ciri yang sangat khas karena

mempunyai tipe indumentum memasai yang menutupi permukaan pertulangan daun dan helaian daun pada bagian abaksial dan adaksial. Selain itu, pada spesimen yang dikoleksi dari Suaka Margasatwa Dolok Surungan AK VIII/B 82, 27 February 1983 oleh Widjaja EA 1848 memiliki indumentum membulu sikat di pertulangan abaksial daun yang belum pernah dilaporkan sebelumnya (Gambar 38).

Gambar 38 Variasi tipe indumentum pada Ampelocissus gracilis. A. memasai, B. membulu sikat 100 μm 100 μm sg 50 μm 100 μm C s E B A D 1 k dr A B 1 mm 1 mm

47

5. Ampelocissus imperialis(Miq.) Planch.Gambar 39

Ampelocissus imperialis (Miq.) Planch., Monogr. Phan. 5 (1887) 408. ― Vitis imperialis Miq. Fl. Ned. Ind. 1 (1861) 518. Tipe: Sumatera, Teysmann HB597 (Isotipe BO!).

Habitus liana merambat. Indumentum wol cokelat tersebar, menutupi seluruh permukaan. Batang tua memipih, diameter 0.3-0.4 cm. Sulur tunggal berhadapan daun, panjang 3.5-9 cm. Daun penumpu membulat, ujung menyegitiga, panjang 0.4-0.8 cm. Daun tunggal, panjang tangkai 4.5-13 cm, menjantung, 10-24x10.5-30 cm, pangkal menjantung-tumpang tindih, tepi bergigi, sinus tumpul, panjang 0.05-0.15 cm, ujung runcing-berembang pertulangan menjala, tiga pertulangan utama, dengan sudut 40-50°, permukaan adaksial dan abaksial berindumentum wol putih-kekuningan, licin pada venasi. Daun pelindung tidak ada. Perbungaan tirsus mengerucut, panjang 14-15 cm; cabang 22-24 pasang, panjang 1-1.5 cm, jarak ruas 0.5 cm; sulur pada pangkal perbungaan, panjang 15-16 cm. Kuncup bunga membulat 0.4-0-7x0.5-0.6 mm, duduk, kedudukan bulir berhadapan, licin, 5-7 bulir per cabang, jarak bulir 0.1 cm. Bunga berbilangan 4; kelopak seperti mangkok; mahkota melonjong, panjang 0.4 mm, ujung membulat, pangkal menyegi, hijau muda-kuning; tangkai sari tipis, panjang 0.4-0.6 mm; kepala sari membulat, pelekatan dorsifixed, ukuran 0.4x0.3 mm; putik membulat, beralur empat, ukuran 0.4x0.4 mm; tangkai putik gilig, panjang 0.2 mm; bakal buah beruang dua. Buah beri, membulat. Biji 1-3 per buah, eliptik.

Gambar 39 Ampelocissus imperialis (Teysmann 597). A. spesimen herbarium

Sayatan paradermal daun, adaksial; dinding antiklinal sel epidermis tidak

beraturan persegi, panjang 90-100 μm. Abaksial; dinding antiklinal sel epidermis abaksial daun tidak beraturan membulat; rambut kelenjar multiselular, kerapatan sangat lebat pada seluruh permukaan daun; stomata anomositik berpapila memipih bersatu, panjang 60 μm. Sayatan melintang daun, jumlah jaringan

tiang satu lapis, tebal daun 100 μm; epidermis atas daun tipis; dua tipe kristal

48

kalsium oksalat jarum dan bintang, bentuk kristal kalsium oksalat jarum mempundi; kedudukan stomata menonjol terhadap epidermis bawah daun, papila sama tinggi terhadap stomata (Gambar 40).

Gambar 40 Sayatan paradermal dan melintang daun A. imperialis. A. dinding antiklinal adaksial daun, B. permukaan abaksial daun, C. sayatan melintang. 1= jaringan tiang satu lapis, k= kristal kalsium oksalat jarum, s= stomata, sgm= rambut kelenjar multiselular

Nama Lokal: akar behahau

Sebaran: Sumatera, Jawa, Borneo.

Spesimen yang diamati: Sumatera Barat, Lubuk Sikaping Teysmann 597.

Catatan: Spesimen jenis A. imperialis yang diamati hanya berupa organ vegetatif,

sehingga data mengenai morfologi organ generatif tidak tersedia, sehingga deskripsi organ generatif mengacu pada deskripsi Planchon (1887). Ampelocissus imperialis dapat dibedakan dengan jenis lainnya melalui ciri daun berukuran besar, yakni 10-24x10.5-30 cm, pangkal daun menjantung tumpang tindih dan pertulangan daun menjala.

Dalam dokumen Revisi Ampelocissus (Vitaceae) Di Sumatera (Halaman 61-66)

Dokumen terkait