• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ampelocissus thyrsiflora (Blume) Planch. ― Gambar 50

Dalam dokumen Revisi Ampelocissus (Vitaceae) Di Sumatera (Halaman 75-84)

Gambar 49 Sayatan paradermal dan melintang daun A. rubiginosa. A. dinding antiklinal sel epidermis adaksial daun, B. permukaan abaksial daun, C. stomata, D. sayatan melintang, E. kedudukan stomata. 1= jaringan tiang satu lapis, 2= jaringan tiang dua lapis, k= kristal kalsium oksalat jarum, s= stomata, sg= rambut kelenjar uniselular, ss= rambut beruntun tunggal

Sebaran: Sumatera, Borneo.

Spesimen yang diamati: Sumatera Utara, Taman Nasional Gunung Leuser,

WJJD de Wilde & BEE de Wilde 20695; Tapanuli Selatan W Takeuchi & E Sambas 18328. Riau, Tenayan Raya Soepadmo 251.

Catatan: Ampelocissus rubiginosa merupakan rekamam baru jenis Ampelocissus

di Sumatera. Koleksi W. Takeuchi & E. Sambas 18328 yang disimpan dengan nama jenis Ampelocissus cf. thyrsiflora, memiliki ciri daun bundar telur sungsang, sinus daun tumpul, tipe indumentum menggimbal dan kuncup bunga lonjong, yang merupakan ciri A. rubiginosa. Umumnya daun A. rubiginosa mempunyai tipe daun majemuk menjari lima. Variasi tipe daun majemuk menjari kaki lima hingga tujuh ditemukan pada nomor koleksi ini.

10. Ampelocissus thyrsiflora(Blume) Planch. ― Gambar 50

Ampelocissus thyrsiflora (Blume) Planch., Monogr. Phan. 5 (1887) 409. Suessenguth, Natur. Pflazenfam. 20 (1963) 307. Backer and Bakhauizen van den

Brink, Fl. Java 2 (1965) 87. ― Cissus thyrsiflora Blume, Bijdr. Fl. Ned. Ind. 1

(1825) 187. ― Vitis thyrsiflora Miq., King, Jour. As. Soc. Beng 65:2 (1896) 391. Tipe: Jawa, Blume s.n. (Holotipe: BO!).

Habitus liana merambat. Indumentum wol menutupi seluruh permukaan, berwarna cokelat kemerahan. Batang tua memipih, berongga hingga tidak, diameter 0.3-0.5 cm. Sulur tunggal berhadapan daun, panjang 10-32 cm. Daun penumpu membulat, ujung menyegi tiga-membulat, panjang 0.2-1 cm. Daun majemuk menjari

E s 100 μm A 100 μm 100 μm 100 μm C D B 1 2 dr k sg ss

58

membulat, panjang tangkai 12-16 cm; anak daun 3-5, panjang tangkai 3-5 cm, bundar telur sungsang-asimetri, 5.5-20x3-7 cm, pangkal membaji-asimetri, tepi bergigi, sinus tumpul, panjang 0.05-0.1 cm, ujung melancip-bertaring, pertulangan menyirip, dengan sudut 45-55°, permukaan adaksial berindumentum wol hanya pada venasi, seluruh permukaan abaksial berindumentum wol cokelat kemerahan. Perbungaan tirsus memanjang, panjang 11-20 cm, cabang 13-32 pasang, panjang 0.5-7.5 cm, jarak ruas 0.5-0.7 cm; sulur pada pangkal perbungaan, panjang 21-28 cm. Kuncup bunga membulat-melonjong 0.5-1.3x0.5-1 mm, duduk, kedudukan bulir berkarang, licin, 15-17 bulir per cabang, jarak bulir 0.05 cm. Bunga berbilangan 4; kelopak seperti mangkok; mahkota melonjong 1-1.3 mm, ujung membulat, pangkal menyegi, hijau kekuningan; tangkai sari tipis, panjang 0.6-0.7 mm; kepala sari membulat, pelekatan dorsifixed, ukuran kepala sari 0.6x0.4 mm; putik membulat, beralur empat, ukuran 0.7-1x0.7-0.9 mm; tangkai putik gilig, panjang 0.2 cm; bakal buah beruang dua. Buah beri membulat-melonjong, warna hijau-tua merah hingga lembayung gelap, panjang 1-2.5 cm. Biji 2-3 biji per buah, bulat telur sungsang.

Gambar 50 Ampelocissus thyrsiflora (Dalimunthe SH 6). A. spesimen herbarium, B. bunga berbilangan empat, C. kuncup bunga berbentuk membulat, D. tipe perbuahan beri

Sayatan paradermal daun, adaksial; dinding antiklinal sel epidermis tidak

beraturan membulat, panjang 60-80 μm. Abaksial; dinding antiklinal sel epidermis abaksial daun tidak beraturan membulat; rambut kelenjar uniselular pada seluruh permukaan daun dan rambut beruntun tunggal; stomata anomositik berpapila berumbai, panjang 100-150 μm. Sayatan melintang daun, jumlah jaringan tiang satu lapis, tebal daun 290 μm; epidermis atas daun tipis; dua tipe kristal kalsium

oksalat jarum dan bintang, bentuk kristal kalsium oksalat jarum mempundi; kedudukan stomata rata pada epidermis bawah daun, tenggelam diantara papila tegak (Gambar 51).

A B

D C

59

Gambar 51 Sayatan paradermal dan melintang daun A. thyrsiflora. A. dinding antiklinal sel epidermis adaksial daun, B. permukaan abaksial daun, C. stomata, D. sayatan melintang, E. kedudukan stomata. 1= jaringan tiang satu lapis, k= kristal kalsium oksalat jarum, p= papila, s= stomata, sg= rambut kelenjar uniselular

Nama lokal: akar apu, galing

Sebaran: Sumatera, Borneo, Semenanjung Malaya, Vietnam, Kampuchea,

Thailand.

Spesimen yang diamati: Pulau Batu, Leg 302. Nanggroe Aceh Darussalam,

Pulau Tapah, Achmad 1602, Tanah Gayo, CGGJ van Steenis 9320, Sumatera Utara, Sibolangit, JA Lorzing 5205, Sembahe, JA Lorzing 5605, Bahorok, JA Lorzing 17035, Bandar Baru, JA Lorzing 14056; Tapanuli Selatan, W Takeuchi & E Sambas 18328, Dalimunthe SH 13, Sumatera Barat, Lubu Along, Teysmann 596, Padang, HS Yates 706, HS Yates s.n., Bukit Barisan, Muro Kalumpi, EF de Vogel 2711, Bukit Tinggi, HAB Bunnemeijer 3023, Sumatera Selatan, Berbak, Leg 90, Banyuasin, W Grashoff 952, Dalimunthe SH 5,. Bangka, Pangkal Pinang, Altheer JJ 55, Sungai Liat, HAB Bunnemeijer 1631, CNB CHM 3638; Lobok Besar, Kostermans 151, JD Kobus sn, Djeboes, Teysmann sn, Kostermans 3, G. Pading, Kostermans 1025, Merawang, Dalimunthe SH 6, Dalimunthe SH 7, Dalimunthe SH 8, Dalimunthe SH 9, Gerunggang, Dalimunthe SH 10, Gunung Mangkol, Dalimunthe SH 11, Belitung, Tanjung Pandan, 1905 Leg s.n., Lingga Archipelago, Pulau Singkep HAB Bunnemeijer 7195.

Catatan: Jenis Ampelocissus thyrsiflora mempunyai variasi paling besar diantara

jenis Ampelocissus yang ditemukan di Sumatera. Variasi jenis ini terdapat pada tipe dan keberadaan indumentum, kedudukan daun, bentuk daun, serta bentuk dan kehadiran indumentum pada kuncup bunga.

Kedudukan daun majemuk menjari ditemukan pada jenis Ampelocissus thyrsiflora. Jumlah daun bervariasi mulai tiga hingga lima helai. Variasi pada bentuk daun yang ditemukan, yaitu melonjong, bundar telur sunsang, melanset

100 μm 100 μm 100 μm sg B 100 μm 1 s C 100 μm A D E k p

60

hingga asimetri (Gambar 52). Bentuk melanset merupakan bentuk yang belum pernah tercatat pada penelitian sebelummya.

Gambar 52 Variasi tipe dan bentuk daun A. thyrsiflora. A-B: tipe daun majemuk menjari, A. jumlah helai anak daun tiga, B. helai anak daun lima. C-D: bentuk daun, C. melonjong, D. bundar telur sunsang, E. melanset Pada umumnya satu jenis memiliki rentangan bentuk kuncup bunga yang tidak terlalu besar, tetapi kuncup bunga pada jenis ini memiliki bentuk yang sangat bervariasi. Variasi bentuk kuncup bunga yang dimiliki Ampelocissus thyrsiflora, yaitu melonjong ujung membulat, melonjong ujung dan bentuk kuncup membulat (Gambar 53).

Gambar53 Variasi ujung kuncup bunga A. thyrsiflora. A. membulat, B. bersegi Kuncup bunga A. thyrsiflora umumnya tidak ditutupi oleh indumentum (licin). Variasi kuncup bunga yang ditemukan, yakni licin hingga berindumentum

A B

C D E

61 tebal (Gambar 54). Indumentum pada permukaan kuncup bunga belum pernah dilaporkan sebelumya.

Gambar 54Variasi kuncup perbungaan A. thyrsiflora. A. berindumentum, B. licin

62

5 SIMPULAN

Berdasarkan studi terhadap 71 spesimen yang tersimpan di Herbarium Bogoriense (BO) dan 12 spesimen hasil eksplorasi di Sumatera, sepuluh jenis dan satu varietas Ampelocissus ditemukan berada di Sumatera. Tujuh jenis Ampelocissus didapatkan sesuai dengan studi sebelumnya, yakni A. arachnoidea, A. gracilis, A. imperialis, A. korthalsii, A. ochracea, A. polythyrsa, dan A. thyrsiflora; tiga jenis dan satu varietas rekaman baru, A. elegans, A. filipes, A. rubiginosa, dan A. ochracea var. trilobata.

Jenis Ampelocissus dapat dibedakan berdasarkan ciri vegetatif (habitus, tipe indumentum, tipe daun, bentuk daun, bentuk daun penumpu, keberadaan dan ukuran daun pelindung) serta ciri generatif (tipe perbungaan, tangkai bunga, indumentum kuncup bunga, bentuk kuncup bunga, bentuk putik bunga, dan ukuran tangkai putik).

Ciri anatomi merupakan ciri yang dapat mempunyai nilai taksonomi dalam membedakan jenis-jenis Ampelocissus di Sumatera. Adapun ciri yang di amati adalah, bentuk dinding antiklinal sel epidermis adaksial dan abaksial, jumlah lapisan jaringan tiang, bentuk epidermis atas, tebal daun, keberadaan papila, tipe dan bentuk kristal kalsium oksalat, serta kedudukan stomata pada sisi abaksial daun. Dari keseluruhan ciri morfologi anatomi yang diamati, terdapat enam ciri yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, yakni indumentum membulu sikat pada pertulangan abaksial daun, bentuk daun melanset, indumentum wol pada kuncup bunga, jumlah bilangan bunga, kedudukan stomata serta ciri papila.

Koefisien keserupaan Ampelocissus di Sumatera berdasarkan 25 ciri morfologi berkisar 0.35-0.96 yang terbagi menjadi tiga kelompok besar. Kelompok I terdiri dari A. arachnoidea, kelompok II terdiri dari A. filipes, A. elegans, A. korthalsii, A. thyrsiflora, A. imperialis, A. ochracea, dan A. ochracea var. trilobata, sedangkan kelompok III terdiri atas jenis A. gracilis, A. polythyrsa dan A. rubiginosa. Pengelompokan hasil studi sejalan dengan pengelompokan studi sebelumnya, yaitu semua jenis Ampelocissus mengelompok berdasarkan ciri perbungaan.

Koefisien keserupaan Ampelocissus di Sumatera juga ditentukan berdasarkan 16 ciri anatomi, yang berkisar antara 0.48-0.81. Marga Ampelocissus terbagi menjadi dua kelompok pada koefisien 0.50. Pengelompokan berdasarkan ciri anatomi menunjukkan kesamaan yang besar. Namun demikian, perbedaan pengelompokan juga didapat dalam pengelompokan berdasarkan ciri morfologi dan ciri anatomi. Terbatasnya ciri anatomi yang digunakan diduga menyebabkan pengelompokan yang dihasilkan tidak sepenuhnya mendukung pengelompokan berdasarkan ciri morfologi.

Jenis Ampelocissus tersebar di Pulau Sumatera dari ketinggian 5-1400 m dpl, dengan jenis A. arachnoidea, A. filipes, A. polythyrsa, dan A. thyrsiflora. sebagai jenis kosmopolit. Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, dan Bangka Belitung merupakan wilayah sebaran utama jenis Ampelocissus di Sumatera.

63

DAFTAR PUSTAKA

Backer CA, Bakhuizen van den Brink Jr. RC 1963. Flora of Java. Volume 2. Groningen (NL): NVP Noordhoff.

Chen I, Manchester SR. 2007. Seed morphology of modern and fossil Ampelocissus (Vitaceae) and implications for phytogeography. Amer J Bot. 94:1534-1553.

Chen I. 2009. History of Vitaceae inferred from morphology-based phylogeny and the fossil record of seeds [disertasi]. Florida (US): University of Florida. Choudhary K, Singh M, Pillai U. 2008. Ethnobotanical survey of Rajasthan - an

update. Am Euras J Bot. 1:38-45.

Cutler DF. 1978. Applied plant anatomy. London (UK). Longman.

Davis SD. 1995. Regional overview: South East Asia (Malesia). Di dalam: Davis SD, Heywood VH, editor. Centres of plant diversity. Volume 2. Oxford (UK): WWF/IUCN.

Djarwaningsih T, Sunarti S, Kramadibrata K. 2002. Panduan pengolahan dan pengolahan material herbarium serta pengendalian hama terpadu di Herbarium Bogoriense. Bogor (ID): Puslit Biologi-LIPI.

Falah F, Sayektiningsih T, Noorcahyati. 2013. Keragaman jenis dan pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat oleh masyarakat sekitar hutan lindung Gunung Beratus, Kalimantan Timur. Jurnal PHKA. 10:1-18.

Gilg E, Brandt M. 1911. Vitaceae Africanae. Bot Jahrb Syst. 46:419-435.

Ifrim C, Jitareanu CD, Slabu C, Marta AE. 2012. Aspects regarding the calcium oxalate crystals at the grapevines cultivated in Iasi and Cotnari vineyards. Lucrari Stiinfice. 55:74-77.

[IPGRI] International Plant Genetic Resources Institute. 1997. Descriptors for grapevine (Vitis spp.). Rome (IT): Italy.

King G. 1896. Ampelidaceae, materials for the flora of the Malay Peninsula Disciflorae. Jour As Soc Beng. 65:385-407.

Latiff A. 1982. Studies in Malesian Vitaceae, 4. The genera of Ampelocissus, Ampelopsis and Parthenocissus in the Malay Peninsula. Fed Mus J. 27:78-93.

Latiff A. 2001. Studies in Malesian Vitaceae. Taxonomic notes on Cissus, Ampelocissus, Nothocissus and Tetrastigma and other genera. Folia Malaysiana. 2:179-189.

Laumonier Y. 1997. The vegetation and physiography of Sumatra. Dordrecht (NL): Kluwer Academic Pulishers.

Linnaeus C. 1753. Species plantarum. Stockholm (SW): Laurentius Salvius. Merrill ED. 1916. New or interesting Philippine Vitaceae. Phillip J Sci.

9:125-145.

Merrill ED. 1921. A bibliographic enumeration of Bornean plants. Singapore (SG): Fraser and Neave.

Merrill ED. 1938. New Sumatran plants III. Di dalam: McCartney ES and Stockhard AH, editor. Papers of the Michigan academy of science arts and letters. Norwood (US): The Plimpton Press.

Metcalfe CR, Chalk L. 1950. Ampelidaceae (Vitaceae). D i dalam: Anatomy of the dicotyledons. Volume 2. London (UK): Oxford Press.

64

Miquel FAG. 1863. Ampelidae novae. Di dalam: Miquel FAG, Wilhelm FA, editor. Flora Indiae Batavae, supplementum primum prodromus florae Sumatranae accedunt tabulae 4. Amsterdam (NL): CG van der Post.

Monteiro A, Teixeira G, Lopes CM. 2013. Comparative leaf micromorphoanatomy of Vitis vinifera ssp. vinifera (Vitaceae). Ciencia Tec Vitiv. 28:19-28.

Najmaddin C. 2014. Leaf anatomy and palynological differences among selected cultivars of Vitis vinifera and Parthenocissus quinquefolia (Vitaceae). Species. 9:6-12.

Planchon JE. 1884. Les vignes des tropiques du genre Ampelocissus considérées au point de vue pratique. Vigne Amer Vitic Eur. 8:370-381.

Planchon JE. 1887. Monographie des Ampélidées vrais. Di dalam: Candolle D, Casimir AE, editor. Monographiae phanaerogamarum. Volume 5. Paris (FR): Sumptibus G Mason.

Ren H, Pan KY, Chen ZD, Wan RQ. 2003. Structural characthers of leaf epidermis and their systemic significance in Vitaceae. Acta Phytotax Sin. 41:531-544.

Ren H. 2011. Phylogenetic analysis of the grape family (Vitaceae) based on the noncoding plastid trnC-petN, trnH-psbA, and trnL-F sequences. Taxon. 60:629–637.

Rifai MA. 2013. Asas-asas sistematika biologi. Bogor (ID): Puslit Biologi-LIPI. Rifai MA, Puryadi D. 2008. Glosarium Biologi. Jakarta (ID): Pusat Bahasa

Departemen Pendidikan Nasional.

Ridley HN. 1922. Ampelidaceae. Di dalam: Flora of Malay Peninsula. London (UK): Reeves and Co.

Rohlf FJ. 2000. NTSYS-pc numerical taxonomy and multivariate analysis system. Setauket (US): Exeter Software.

Roos MC, Keßler PJA, Gradstein SR, Baas P. 2004. Species diversity and endemism of five major Malesian island; diversity-area relationship. J Biogeogr. 31:1893-1908.

Rugayah, Retnowati A, Windadri FI, Hidayat A. 2004. Pengumpulan data Taksonomi. Di dalam: Rugayah, Widjaja EA, Praptiwi, editor. Pedoman pengumpulan data keanekaragaman flora. Bogor (ID): Puslit Biologi -LIPI. Sari R. 2009. Taman Wisata Alam Sicikeh-cikeh. Di dalam: Hartini S dan

Puspitaningtyas DM, editor. Keanekaragaman tumbuhan Pulau Sumatera. Bogor (ID): LIPI Pr.

Soejima A, Wen J. 2006. Phylogenetic analysis of the grape family (Vitaceae) based on three chloroplast markers. Amer J Bot. 93:278–287.

Suessenguth G. 1953. Vitaceae. Di dalam: Engler A, Prantl K, editor. Die naturlichen Pflanzen familien. Volume 20. Berlin (GE): Dunker and Humblot.

Tomlinson PB. 1965. Stomatal structure in Pandanaceae. Pac Sci. 19:38-54. Uji T. 2007. Keanekaragaman jenis buah-buahan asli Indonesia dan potensinya.

Biodiversitas. 8:157-167.

Wen J. 2007. Vitaceae. Di dalam: Kubitzki K, editor. The families and genera of vascular plants. Volume 9. Germany (GE): Springer.

Wen J, Kiapranis R, Lovave M. 2013a. Ampelocissus asekii, a new species of Vitaceae from Papua New Guinea. Phytokeys. 21:1-6.

65 Wen J, Lu LM, Boggan JK. 2013b. Diversity and evolution of Vitaceae in the

Philippines. Phillip J Sci. 142:223-244.

Yeo CK, Ang WF, Lok AFSL, Ong KH. 2013. The conservation status of Ampelocissus Planch. (Vitaceae) of Singapore, with a special note on Ampelocissus ascendiflora Latiff. Nat Sing. 6:45-53.

Zongo C, Savadogo A, Ouattara L. 2010. Polyphenols content, antioxidant and antimicrobial activities of Ampelocissus grantii (Baker) Planch. (Vitaceae): a medicinal plant from Burkina Faso. Int J Phar. 6:880-887.

66

Dalam dokumen Revisi Ampelocissus (Vitaceae) Di Sumatera (Halaman 75-84)

Dokumen terkait