BAB II LANDASAN TEORI
C. Kerangka Berpikir
Guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas inklusi diharapkan mampu menguasai kompetensi khusus untuk mengajar siswa berkebutuhan Dyah Putri Istiqomah
(2015)
“Dinamika Empati Guru Anak Berkebutuhan
Empati guru terhadap siswa ABK terbentuk kurang respek terhadap penanganan ABK, guru
33
khusus pada jam pembelajaran khusus inklusi. Guru juga diharapkan mampu menerima kondisi dan memahami kondisi siswa berkebutuhan khusus yang diajarnya di kelas atau juga dapat dikatakan guru memiliki empati terhadap siswa berkebutuhan khusus seperti yang dimiliki terhadap siswa reguler lainnya. Empati merupakan respon yang muncul sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali dan memahami perasaan serta pikiran orang lain tanpa kehilangan identitas dirinya. Empati sendiri terdiri atas aspek-aspek, komponen dan proses yang membentuknya.
Udhiyanasari (2019) melakukan penelitian di salah satu sekolah dasar inklusi di Jember untuk mengetahui sikap guru terhadap siswa berkebutuhan khusus. Hasil penelitian menunjukkan guru memiliki sikap kurang baik dan kurang respek dalam menangani siswa berkebutuhan yang diampunya. Sikap yang ditunjukkan guru tersebut dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman guru terhadap siswa ABK dan pendidikan inklusi.
Pemahaman mengenai karakteristik siswa ABK tersebut berhubungan dengan penanganan yang diberikan guru terhadap siswanya, untuk dapat memahami dan menangani siswa ABK yang diampu guru diharapkan memiliki kemampuan emosional salah satunya empati. Sementara itu Istiqomah (2015) melakukan penelitian untuk mengetahui dinamika empati yang dimiliki guru terhadap siswa di sekolah luar biasa yang pada dasarnya seluruh siswanya merupakan siswa berkebutuhan khusus. Penelitian tersebut menjadi acuan dalam penelitiab ini. Peneliti menggali lebih lagi bagaimana proses yang dilewati serta aspek-aspek yang menunjang terbentuknya empati yang dimiliki guru terhadap siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusi khususnya sekolah dasar inklusi. Adanya empati guru terhadap siswa berkebutuhan khusus di dalam kelas inklusi memudahkan guru untuk memahami dan menangani anak berkebutuhan khusus yang diampunya.
Peneliti melakukan wawancara kepada guru kelas bawah dan kelas atas yang mengajar siswa berkebutuhan khusus di salah satu sekolah inklusi wilayah Klaten, yaitu SD Negeri 2 Semangkak. Pertanyaan wawancara
34
disusun dengan berpedoman dan dikembangkan dari aspek-aspek yang ada dalam empati. Dalam proses wawancara peneliti memilih teknik semi terstruktur, sehingga dalam pelaksanaannya kemungkinan akan terdapat pertanyaan lain yang terlontar ketika wawancara berlangsung. Observasi dilakukan jika memungkinkan terselenggaranya kelas. Peneliti mengobservasi proses empati yang muncul ketika guru melakukan proses pembelajaran dengan siswa ABK pada jam pembelajaran inklusi. Data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis, sehingga dapat disimpulkan dengan teks deskripsi bagaimana dinamika empati guru ABK terhadap siswa berkebutuhan khusus di sekolah dasar inklusi tersebut.
Berikut kerangka berpikir peneliti megenai “Dinamika Empati Guru Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi : SD Negeri 2 Semangkak” :
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Guru dipandang
kurang sensitif, memiliki sikap kurang baik terhadap siswa dan kurang respek dalam menangani siswa ABK.
Dibutuhkan empati yang dimiliki guru untuk dapat memahami dan menangani siswa ABK agar pelaksanaan pendidikan inklusi berjalan dengan baik.
Peneliti menggali aspek – aspek empati, komponen kognitif dan afektif, serta proses empati yang dilalui guru ketika mengajar siswa ABK di sekolah dasar inklusi terkhusus di SD Negeri 2 Smeangkak.
35 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan observasi, wawancara), data yang diperoleh cenderung data kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif bersifat untuk memahami makna, memahami keunikan, mengkonstruksi fenomena, dan menemukan hipotesis (Sugiyono,2018).
Prastowo (2014:24) menjelaskan bahwa metode penelitian kualitiatif adalah metode (jalan) penelitian yang sistematis yang digunakan untuk mengkaji atau meneliti suatu objek pada latar alamiah tanpa ada manipulasi di dalamnya dan tanpa ada pengujian hipotesis, dengan metode – metode yang alamiah ketika hasil penelitian yang diharapkan bukanlah generalisasi berdasarkan ukuran – ukuran kuantitas, namun makna (segi kualitas) dari fenomena yang diamati.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif. Nazir (dalam Prastowo, 2014 : 186) memaparkan bahwa metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Metode ini memusatkan diri pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah yang aktual. Pada metode ini data yang dikumpulkan mula – mula disusun, dijelaskan, kemudian dianalisis.
36 B. Setting Penelitian
1. Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan salah satu sekolah dasar inklusi yang terdapat di wilayah Klaten, yaitu SD Negeri 2 Semangkak yang beralamatkan di Jalan Andalas, Sipacar, Semangkak, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Peneliti memilih melakukan penelitian di SD Negeri 2 Semangkak ini karena sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah inklusi di kabupaten Klaten dan ingin mengetahui dinamika empati guru ABK terhadap siswa berkebutuhan khusus yang ada di sekolah dasar inklusi tersebut.
b. Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai dari bulan November 2020 hingga bulan Agustus 2021. Dalam penelitian ini, kegiatan dimulai dari menentukan judul skripsi, kemudian melakukan penyusunan pedoman wawancara dan observasi pada bulan Desember 2020 hinga Januari 2021. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan perizinan penelitian kepada Kepala Sekolah, dilanjutkan dengan penelitian di sekolah dasar pada April hingga Mei 2021. Di bulan Mei hingga Agustus 2021, peneliti melakukan pengolahan data.
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah guru yang mengajar anak berkebutuhan khusus di SD Negeri 2 Semangkak. Terdapat dua orang guru yang masing-masing mengajar tiga kelas inklusi di SD Negeri 2 Semangkak. Satu orang guru mengajar siswa ABK kelas I-III dan satu orang guru mengajar siswa ABK kelas IV-VI.
3. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah aspek-aspek, komponen dan proses empati yang dimiliki guru ABK terhadap anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar inklusi SD Negeri 2 Semangkak.
37 C. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini mengarah pada tahapan penelitian kualitatif. Emzir (2012:14-16) menjelaskan bahwa tahap – tahap penelitian kualitatif secara umum sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi sebuah topik atau fokus.
Topik diidentifikasi berdasarkan pengalaman, observasi pada seting penelitian, dan bacaan tentang topik tersebut. Topik – topik tersebut ditentukan pada awal studi, akan tetapi fokus penelitian dapat ditulis kembali selama fase pengumpulan data. Peneliti melakukan pendalaman pada proses terbentuknya empati guru terhadap anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi SD Negeri 2 Semangkak.
2. Melakukan tinjauan pustaka.
Tinjauan pustaka dilakukan oleh peneliti untuk mengidentifikasi informasi penting yang relevan dengan studi dan untuk menulis perumusan masalah. Tinjauan pustaka ini sering berlanjut sampai data terkumpul dan memungkinkan peneliti mendefinisikan kembali pertanyaan penelitian (perumusan masalah). Peneliti melakukan tinjauan pustaka dengan mengumpulkan sumber informasi penting yang berkaitan dengan topik penelitian.
3. Mendefinisikan peran peneliti.
Peneliti menetapkan tingkat keterlibatannya dengan partisipisan.
Peneliti kemudian menjalin hubungan dengan partisipan untuk memperoleh pengertian tentang kebenaran data yang akan diteliti.
Sebagaimana yang diterima oleh partisipan, peneliti harus menjadi bagian dari budaya yang akan diteliti. Selain itu peneliti perlu mengembangkan suatu titik pandang orang dalam yang diteliti untuk memotret pandangan dari partisipan. Peran peneliti pada tahap ini, yaitu sebagai pewawancara dan observer partisipasi pasif untuk mendapatkan informasi dari narasumber.
4. Mengelola jalan masuk lapangan dan menjaga hubungan baik di lapangan.
38
Lapangan penelitian ditentukan sesuai dengan topik penelitian.
Ketika lapangan penelitian sudah ditentukan, peneliti harus mempersiapkan dan memperkenalkan dirinya serta penelitian kepada pihak sekolah. Peneliti juga memerlukan izin baik dari lebaga maupun partisipan dalam penelitian ini. Selama proses penelitian, komunikasi dan interaksi yang baik harus diusahakan dan diusahakan. Pengelolaan jalan masuk lapangan dan hubungan baik pada penelitian ini diawali dari proses perizinan kepada kepala sekolah, kemudian menjelaskan tujuan dan topik penelitian.
Hubungan yang baik dibangun melalui interaksi dan komunikasi yang jujur dan tidak menghakimi narasumber.
5. Memilih partisipan.
Partisipan dipilih melalui kesesuaian dengan pertanyaan – pertanyaan yang sudah disusun. Partisipan yang dipilih merupakan partisipan yang dapat menyediakan informasi penting menjadi salah satu kunci penelitian ini. Peneliti memilih guru kelas atas dan guru kelas bawah sebagai partisipan. Guru kelas atas dan guru kelas bawah yang secara langsung mengajar siswa ABK telah dipilih untuk diwawancara dan diobservasi oleh peneliti sesuai dengan topik yang akan dibahas oleh peneliti mengenai dinaika guru ABK di sekolah inklusi.
6. Menulis pertanyaan–pertanyaan bayangan.
Peneliti merancang pertanyaan–pertanyaan yang sesuai dengan topik penelitian. Pertanyaan bayangan membantu peneliti untuk fokus pada pengumpulan data dan pelaksanaannya dengan cara yang sistematis.
Pertanyaan yang diajukan oleh peneliti kepada narasumber berfokus seputar aspek dan komponen empati yang muncul dari guru terhadap anak berkebutuhan khusus di kelas.
7. Pengumpulan data
Pada penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan mencakup observasi, wawancara dan analisis dokumen. Validasi temuan dilakukan melalui teknik pengumpulan data yang beragam. Sumber
39
– sumber data yang berbeda tersebut kemudian dibandingkan dengan teknik lain dalam suatu proses yang disebut triangulasi. Pada tahap ini, pengumpulan data dilakukan peneliti melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan bentuk wawancara semi terstruktur yang dicirikan dengan pertanyaan terbuka. Sedangkan observasi dilakukan dengan metode partisipasi pasif di mana peneliti melakukan interaksi dengan narasumber dan tempat penelitian, tetapi tidak terlibat dalam kegiatan yang dilakukan narasumber.
8. Analisis Data
Data yang telah didapat kemudian dianalisis melalui membaca dan mereview data (catatan observasi, transkrip wawancara) untuk mendekteksi tema–tema dan pola yang muncul. Data hasil wawancara dan observasi dianalisis dengan cara reduksi data, display data atau penyajian data dan terakhir verifikasi data.
9. Interpretasi dan Disseminasi Hasil
Peneliti merangkum dan menjelaskan tema – tema dan pola – pola dalam bentuk naratif. Dalam hal ini juga mungkin melibatkan diskusi tentang bagaimana temuan studi berkaitan dengan temuan – temuan studi sebelumnya. Lebih lanjut peneliti berusaha berbagi temuan mereka dengan profesional lain melalui jurnal, laporan, website, pertemuan formal dan informal. Data hasil wawancara dan observasi setelah dianalisis kemudian dirangkum dalam bentuk teks naratif menjadi sebuah kesimpulan yang menghubungkan dengan temuan jurnal atau penemuan formal lainnya.
D. Teknik Pengumpulan Data
Sugiyono (dalam Prastowo, 2014:208) menyatakan bahwa teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian karena tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data. Ghony dan Fauzan (2014:164) turut berpendapat bahwa pengumpulan data dalam
40
penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan menggunakan teknik kondisi yang alami, sumber data primer, dan lebih banyak pada teknik observasi berperan serta, wawancara mendalam, dan dokumentasi.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu wawancara, dan observasi.
1. Wawancara
Stewart dan Cash (dalam Herdiansyah, 2012:118) menyatakan bahwa wawancara diartikan sebagai sebuah interaksi yang di dalamnya terdapat pertukaran atau berbagai aturan, tanggung jawab, peerasaan, kepercayaan, motif dan informasi. Wawancara bukanlah suatu kegiatan dengan kondisi satu orang melakukan/memulai pembicaraan sementara yang lain hanya mendengarkan.
Selain itu wawancara juga merupakan suatu metode pengumpulan data yang berupa pertemuan dua orang atau lebih secara langsung untuk bertukar informasi dan ide dengan tanya jawab secara lisan sehingga dapat dibangun makna dalam suatu topik tertentu (Prastowo, 2014:145).
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan bentuk wawancara semi terstruktur. Herdiansyah (2012:123) memaparkan bahwa wawancara semi terstruktur lebih tepat jika dilakukan pada penelitian kualitatif daripada penelitian lainnya. Wawancara ini dicirikan dengan adanya pertanyaan terbuka, yang berarti bahwa jawaban yang diberikan tidak dibatasan, sehingga subjek lebih bebas mengemukakan jawaban. Pada pedoman wawancara semi terstruktur, isi yang tertulis pada pedoman wawancara hanya berupa topik – topik pembicaraan saja yang mengacu pada satu tema sentral yang telah ditetapkan dan disesuaikan dengan tujuan wawancara. Tujuan dari wawancara semi testruktur adalah untuk memahami suatu fenomena atau permasalahan tertentu.
2. Observasi
Metode observasi (pengamatan) merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan
41
mengamati hal – hal yang berkaitan dengan ruang, tempat pelaku, kegiatan, benda – benda, waktu, peristiwa, tujuan, dan perasaan.
Observasi merupakan cara yang sangat baik untuk mengawasi perilaku subjek penelitian, tetapi tidak semua perlu diamati oleh peneliti, hanya hal – hal yang terkait atau sangat relevan dengan data yang dibutuhkan.
(Ghony dan Fauzan, 2014 : 165)
Penelitian ini menggunakan jenis observasi partisipasi pasif (passive participation). Metode observasi partisipasi pasif merupakan salah satu kelompok observasi partisipan. Observasi partisipan dipakai merujuk kepada penelitian yang bercirikan di dalamnya ada interaksi sosial yang intensif antara peneliti dan masyarakat yang diteliti di dalam lingkungan masyarakat yang diteliti. Pada penelitian ini, peneliti datang di tempat kegiatan orang yang diamati, tetapi tidak terlibat dalam kegiatan orang tersebut. Observasi yang dilakukan peneliti adalah mengamati perilaku empati yang diberikan guru terhadap siswa berkebutuhan khusus. Tujuan yang dilakukan peneliti pada kegiatan observasi instruinstradalah dapat mengetahui dinamika empati guru terhadap siswa berkebutuhan khusus.
E. Instrumen Penelitian
Pada dasarnya dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen atau alat penelitian utama adalah peneliti itu sendiri. Sugiyono (2014:60-61) menyatakan bahwa peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya.
Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian yang terdiri dari instrumen wawancara dan instrumen observasi. Pedoman wawancara dan observasi yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut :
42 1. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara yang disusun oleh peneliti menjadi panduan selama proses wawancara dilakukan terhadap narasumber agar topik pembicaraan dapat tepat sasaran. Peneliti memilih guru kelas yang mengampu anak berkebutuhan khusus sebagai narasumber. Berikut ini adalah tabel kisi – kisi pedoman wawancara yang digunakan peneliti :
Tabel 3.1 Kisi-kisi Pedoman Wawancara
No. Aspek Empati Indikator Pertayaan Pokok
1. Perspective Taking Membaca emosi orang lain dengan melihat memberi tanda kepada guru ketika akan melakukan sesuatu kegiatan yang diinginkan?
Menerima dan
memposisikan diri pada kondisi orang lain.
4. Bagaimana pandangan guru terhadap siswa
2. Fantasy Membayangkan diri
sendiri masuk dalam perasaan, pikiran, dan perilaku karakter-karakter kesulitan yang dialami siswa ABK ketika
43
10. Bagaimana pendapat guru apabila siswa diatur dan beradaptasi dengan siswa lainnya?
14. Apakah ada terapi khusus yang guru berikan kepada siswa
ABK dengan kesulitan yang dialami siswa ABK?
44
yang dilakukan guru kepada siswa ABK?
4. Personal Distress Adanya kecemasan dan kegelisahan terhadap
Pedoman observasi yang disusun oleh peneliti menjadi panduan selama proses observasi terhadap aspek – aspek yang ditunjukkan oleh guru dan juga yang terdapat di lingkungan sekolah. Pedoman observasi ini dalam proses pengamatannya dituliskan dalam bentuk catatan anekdot, di mana peneliti akan mengamati dan mencatat perilaku unik, khas dan penting yang dilakukan narasumber penelitian.
Tabel 3.2 Pedoman Observasi
No. Indikator Deskripsi Hasil Pengamatan
1. Antecedents 2. Processes
3. Intrapersonal outcomes 4. Interpersonal outcomes
5. Komponen Kognitif (pengetahuan guru terhadap anak berkebutuhan khusus) 6. Komponen afektif
45 F. Kredibilitas dan Transferabilitas
Penelitian kualitatif ini dapat ditentukan derajatnya dengan menggunakan derajat kepercayaan (credibility) dan keteralihan (transferability).
1. Kredibilitas
Djamal (2015:127-128) memaparkan bahwa kredibilitas atau derajat kepercayaan merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan data hasil penelitian uang dilakukan benar – benar menggambarkan keadaan objek yang sesungguhnya. Pengujian kredibilitas data penelitian kualitatif dapat menggunakan beberapa teknik yaitu, perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensi, analisis kasus negatif, dan pengecekan anggota.
Uji kredibilitas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi dalam penelitian ini merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2006:330).
Denzin (dalam Moleong, 2006:330) menambahkan bahwa triangulasi dibedakan menjadi empat macam sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi, membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang terkait.
Triangulasi metode dilakukan dengan melakukan pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama. Ahmadi (2014:267) menambahkan bahwa data yang dikumpulkan dengan menggunakan metode tertentu nantinya dicek dengan metode yang lain. Misalnya,
46
data yang dikumpulkan dengan menggunakan metode (atau teknik) wawancara nantinya dicek dengan menggunakan metode observasi atau analisis dokumen.
Penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode atau teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan mengecek data wawancara yang dilakukan kepada nara sumber kepala sekolah, guru kelas bawah dan guru kelas atas. Data yang diperoleh dari satu narasumber dapat saling memperkuat data dari narasumber lainnya, kemudian data diolah dan ditarik kesimpulan. Apabila data yang diperoleh dari satu narasumber dengan narasumber lainnya terdapat perbedaan, maka peneliti melakukan triangulasi teknik. Triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data hasil wawancara dan data hasil observasi.
2. Transferabilitas
Transferabilitas (keteralihan) berarti hasil penelitian dapat diterapkan atau digunakan pada situasi lain yang memiliki karakteristik dan yang relatif sama (Djamal, 2015:135). Sugiyono (dalam Prastowo, 2014:273-274) mengungkapkan bahwa dalam penelitian kualitatif, nilai transfer bergantung pada pemakai sampai manakah hasil penelitian tersebut digunakan dalam konteks dan situasi lain. Dalam penyusunan uji transferabilitas juga harus diberikan uraian yang rinci, jelas, dan sistematis
Uji transferabilitas dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti dengan menyajikan data hasil wawancara dan studi hasil observasi yang kemudian disimpulkan dan ditulis dalam bentuk deskripsi yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya agar dapat digunakan sebagai acuan pada penelitian lain.
G. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisaskan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satu uraian dasar sehingga dapat ditemukan
47
tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja yang disarankan oleh data (Moleong,2006:380). Bogdan dan Biklen (dalam Ahmadi, 2014:230) mengatakan bahwa analisis data merupakan suatu proses penyelidikan dan pengaturan secara sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan, dan material – material lain yang peneliti kumpulkan untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang data dan memungkinkan peneliti untuk mempresentasikan apa yang telah ditemukan kepada orang lain.
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data milik Miles dan uberman. Emzir (2012:130) menyatakan bahwa aktivitas analisis data yaitu berupa reduksi data, display data, dan verifikasi data.
1. Reduksi Data
Tahap pertama yang dilakukan dalam analisis data kualitatif adalah proses reduksi data. Mereduksi data adalah proses mengolah data dengan merangkum dan memfokuskan data – data penting, kemudian menyeragamkan data menjadi sebuah tulisan yang akan dianalisis. Data yang telah direduksi akan lebih jelas dan sesuai dengan fokus penelitan.
Djamal (2015:147) menambahkan, reduksi data merupakan bentuk analisis untuk mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang dan menyusun data ke arah pengambilan kesimpulan. Melalui proses reduksi data, data yang relevan disusun dan disitematisasikan ke dalam pola dan kategori tertentu, sedangkan data yang tidak terpakai dibuang.
Peneliti melakukan reduksi data yang diperoleh dari data hasil observasi dan wawancara. Hasil data tersebut kemudian dirangkum dan disesuaikan dengan permasalahan yang dikaji yaitu mengenai dinamika empati guru di sekolah inklusi tersebut.
2. Display Data
Tahap kedua dalam analisis data kualitatif adalah display data atau menyajikan data. Penyajian data dilakukan dengan menuliskan data yang telah direduksi ke dalam teks naratif. Data yang diperoleh dihubungkan dalam sebuah kategori tertentu kemudian disusun secara sistematis berdasarkan kriteria tertentu.
48
Herdiansyah (2012:176) memaparkan, display data adalah mengolah data setengah jadi yang sudah seragam dalam bentuk tulisan dan sudah memiliki alur tema yang jelas (yang sudah disusun alurnya dalam tabel akumulasi tema) ke dalam suatu matriks kategorisasi sesuai tema-tema yang sudah dikategorikan.
Penelitian ini menyajikan data dalam bentuk tabel dan uraian singkat yang berisikan data hasil reduksi observasi dan reduksi wawancara dalam satu tabel berdasarkan aspek yang diamati. Melalui data yang disajikan dalam bentuk tabel, peneliti kemudian akan membandingkan data. Perbandingan data ini akan mempermudah peneliti untuk menarik kesimpulan.
3. Verifikasi Data
Tahap ketiga sekaligus tahap terakhir dalam analisis data kualitatif adalah verifikasi data. Pada tahap ini dilakukan penarikan kesimpulan dari temuan dan hasil penelitian dengan memberikan penjelasan simpulan dari jawaban pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian.
Pada penelitian kualitatif, kesimpulan awal yang diambil masih bersifat sementara, sehingga dapat berubah setiap saat apabila tidak didukung dengan bukti-bukti yang kuat. Tetapi apabila kesimpulan yang telah diambil didukung dengan bukti-bukti yang sahih atau konsisten, maka
Pada penelitian kualitatif, kesimpulan awal yang diambil masih bersifat sementara, sehingga dapat berubah setiap saat apabila tidak didukung dengan bukti-bukti yang kuat. Tetapi apabila kesimpulan yang telah diambil didukung dengan bukti-bukti yang sahih atau konsisten, maka