BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Penelitian dilakukan di salah satu sekolah inklusi di Kabupaten Klaten yaitu SD Negeri 2 Semangkak, di mana subjek yang diteliti adalah seorang guru ABK yang mengajar siswa ABK kelas bawah dan guru ABK kelas atas di sekolah tersebut. Kelas bawah dan kelas atas dalam hal ini menyatakan mengenai jenjang kelas satuan pendidikan di sekolah dasar, kelas bawah
70
yaitu kelas I,II,III dan kelas atas yaitu kelas IV,V,VI. Sedangkan yang menjadi objek penelitian ini yaitu aspek, komponen dan proses empati yang dilalui oleh guru ABK terhadap siswa ABK. Topik yang dipilih dalam penelitian ini berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Istiqomah (2015) mengenai dinamika empati guru ABK di salah satu sekolah luar biasa di Malang. Hasil dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa empati guru terhadap anak berkebutuhan khusus berasal dari aspek kognitif dan afektif. Dinamika empati guru ABK adalah bagaimana guru memaknai ABK dan tugasnya sebagai guru ABK yang didasari oleh sikap empati yang kemudian diwujudkan dalam berbagai bentuk perilaku empati guru kepada ABK. Berdasarkan penelitian tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lagi dinamika empati yang dimiliki oleh guru ABK di sekolah inklusi. Pada penelitian ini teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara dan observasi. Hasil penelitian kemudian disajikan dalam bentuk paragraf deskripsi yang menjelaskan secara rinci data yang diperoleh dari proses wawancara dan observasi.
Peneliti menggunakan aspek, komponen dan proses empati untuk mengetahui dinamika empati yang dimiliki oleh guru ABK di SD Negeri 2 Semangkak selama mengajar dan mengampu siswa berkebutuhan khusus di dalam sekolah inklusi.
1. Aspek Empati
a. Perspective Taking
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru ABK kelas bawah dan kelas atas, kedua guru ABK tersebut dapat dengan mudah memahami keinginan siswa ABK. Selain latar belakang yang guru miliki dalam menangani siswa ABK, untuk dapat dengan mudah memahami keinginan siswa ABK dibutuhkan identifikasi dan juga observasi karakteristik serta perilaku siswanya. Guru dapat mengenali keinginan siswa terkhusus melalui komunikasi secara tatap muka atau langsung yang dilakukan guru dengan siswa, dari tindakan tersebut guru dapat melihat isyarat dan raut wajah yang
71
ditunjukkan oleh siswa ABK. Melalui isyarat atau tanda dan komunikasi yang dilakukan, guru ABK dapat menganalisis kebutuhan siswa ABK tersebut.
Melalui pemahaman yang dimiliki guru mengenai keinginan dan kebutuhan siswa ABK guru memiliki pandangan atau perspektif tersendiri mengenai siswa ABK yang diampunya. Guru ABK kelas bawah memandang siswa ABK menjadi siswa lebih terbatas dibandingkan dengan perkembangan anak seusianya dan hal itu membuat guru merasa kasihan serta tersentuh dengan keadaan siswa ABK tersebut. Selain itu, guru ABK kelas atas memandang siswa ABK adalah siswa yang istimewa bukan untuk dikucilkan, siswa mendapat tempat tersendiri dalam hati guru ABK tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Taufik (2012:74-75) bahwa seseorang yang dikatakan memiliki perspective taking apabila orang tersebut dapat benar-benar mengerti apa yang terjadi paa orang lain.
Perspective taking juga berkaitan dengan theory of mind di mana seseorang dapat menyimpulkan kondisi mental orang lain, memahami perspektif mereka, dan dapat mengintepretasikan serta memprediksikan perilaku orang lain.
Kemampuan guru untuk mengintepretasikan dan memprediksi siswa ABK terlihat ketika guru selalu berusaha untuk membantu siswa. Guru mendahulukan siswa yang sangat membutuhkan bantuan dari guru baru kemudian siswa lainnya. Misalnya apabila ada siswa yang bosan di kelas dan kehilangan mood, maka guru akan membiarkan siswa tersebut untuk bermain sampai mood siswa tersebut kembali. Guru memahami apa yang siswa alami dan kebiasaan seperti apa yang siswa miliki.
b. Fantasy
Davis (1983:115) mendefinisikan fantasy sebagai kemampuan seseorang untuk mengubah diri secara imajinatif dalam mengalami perasaan dan tindakan dari karakter khayal dalam buku, film, dan
72
permainan-permainan. Kemampuan untuk mengubah diri secara imajinaif tersebut ditunjukan oleh kedua subjek. Kedua guru ABK baik kelas bawah maupun guru ABK kelas atas, sebenarnya tidak mampu membayangkan berada menjadi anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak yang diampunya. Akan tetapi, guru ABK membayangan dan memposisikan diri sebagai orang tua siswa ABK, maka dari itu guru berusaha untuk membantu dan menguatkan orang tua siswa ABK. Guru membayangkan kesulitan yang dialami oleh orang tua siswa dalam membiayai dan mengurus anak yang memiliki kebutuhan khusus. Tidak hanya membayangkan kesulitan yang dialami orang tua siswa ABK, guru juga membayangkan kesulitan yang dialami siswa ABK itu sendiri. Guru membayangkan kesulitan siswa untuk menyesuaikan diri dengan siswa umum lainnya, berkomunikasi dan juga berperilaku ketika pembelajaran di kelas.
c. Empathic Concern
Kedua guru ABK menanggapi kesulitan yang dihadapi setiap siswa ABK dengan kesabaran. Guru harus membantu siswa yang kesulitan satu persatu, sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru bertanggung jawab untuk membantu siswa hingga bisa. Guru ABK juga menyampaikan bahwa kesabaran menjadi poin penting mengajar siswa ABK dengan masing-masing kebutuhannya. Guru juga berusaha membantu siswa untuk mempertahankan sikap dan perilakunya tetap stabil serta tenang ketika belajar bersama dengan siswa umum lainnya. Cara yang digunakan guru umum berbeda dengan guru ABK dalam menangani kesulitan siswa. Apabila guru umum atau guru kelasnya tidak terlalu fokus dengan kesulitan siswa ABK di kelas dan hanya berfokus pada materi, tetapi guru ABK akan fokus mengamati dan menganalisis sejauh mana kemampuan siswa lalu fokus dengan satu hal yang belum dikuasai oleh siswa ABK tersebut tidak melulu mengenai materi.
73
Pendekatan dilakukan kedua guru dengan mengajak siswa berkomunikasi kata per kata sehingga siswa dapat mengungkapkan apa yang menjadi keinginan siswa, dari hal tersebut guru dapat memberikan perhatian intensif pada masing-masing siswa ABK.
Guru ABK juga berusaha membantu kesulitan yang dialami siswa dengan memberikan terapi. Kedua guru ABK memiliki cara yang berbeda dalam memberikan terapi. Guru ABK kelas bawah memberikan terapi kepada siswa melalui alat peraga dan juga permainan. Apabila siswa kesulitan dalam menghapal dan mengurutkan angka, maka guru memberikan kartu angka untuk siswa belajar. Guru ABK kelas bawah lebih berfokus pada pencapaian kemampuan dasar siswa seperti membaca, menulis, dan berhitung. Berbeda dengan guru kelas bawah, guru ABK kelas atas lebih berfokus pada terapi perilaku siswa baru kemuddian masuk ke materi. Terapi tersebut ditentukan guru setelah berdiskusi dengan orang tua dan siswa. Salah satu terapi yang diberikan guru ABK kepada siswa kelas atas yaitu bagaimana anak tersebut dapat duduk dengan tenang. Terapi untuk siswa dapat duduk dengan tenang tersebut biasa guru ABK berikan juga pada saat guru akan melaksanakan pembelajaran.
Sejalan dengan pengertian yang disampaikan Davis (1983:115) bahwa empathic concern merupakan perasaan simpati yang berorientasi kepada orang lain dan perhatian terhadap kemalangan yang dialami orang lain. Tindakan yang dilakukan guru dalam mendampingi siswa dan juga memberikan terapi kepada siswa untuk menghadapi kesulitan yang dialami merupakan salah satu bentuk perasaan simpati yang ditunjukan kepada siswa. Perasaan simpati atau kepedulian tersebut berfokus pada pengalaman yang dialami siswa ABK yang diampu oleh kedua guru tersebut. Lebih lagi kepedulian guru ABK ditunjukkan dengan pendekatan yang dilakukan melalui komunikasi secara langsung dengan siswa.
74
Adanya komunikasi yang rutin dilakukan oleh guru ABK membuat siswa dan guru semakin dekat, sehingga siswa dapat menceritakan pengalaman yang siswa alami ketika di rumah.
d. Personal Distress
Personal distress diartikan sebagai perasaan cemas yang dirasakan pribadi terhadap situasi interpersonal atau pengalaman negatif yang dialami orang lain (Davis, 1983:116). Seseorang dengan personal distress yang tinggi akan memiliki empati yang rendah. Kecemasan yang berlebihan pada diri kegua guru ABK terhadap pengalaman siswa tidak ditemukan dalam penelitian ini.
Kedua guru ABK sangat memahami bagaimana latar belakang siswa mulai dari riwayat kelahiran hingga proses pertumbuhan siswa.
Karena ketika guru memahami latar belakang siswa, guru dapat menentukan penanganan yang tepat untuk diberikan bagi setiap siswa ABK. Pemahaman tersebut yang membuat guru tidak menggelisahkan pertumbuhan siswa ABK, karena guru sudah dapat memprediksi apa yang akan siswa lakukan dan penanganan yang tepat yang diberikan.
Guru ABK juga membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang tua siswa, hal itu yang menambah pemahaman guru ABK mengenai cara bergaul siswa ABK dengan siswa lainnya juga. Kedua guru ABK tidak membatasi pergaulan dan pertemanan siswa, guru memberi kebebasan siswa ABK untuk berteman dengan siapa saja termasuk dengan siswa yang tidak memiliki kebutuhan.
Keterbukaan yang diberikan guru tersebut membuat siswa tidak memiliki kendala dan tidak minder untuk berbincang serta bermain bersmaa dengan siswa lainnya. Kedua guru ABK juga menaruh kepercayaan terhadap siswa ABK dan juga tidak mengucilkan siswa ABK sehingga siswa lainnya juga dapat menerima siswa ABK menjadi teman sebayanya di sekolah. Beberapa Langkah dan
75
keputusan guru tersebut menggambarkan bahwa guru tidak memiliki kecemasan khusus dalam diri siswa terutama dalam bersosialisasi.
2. Komponen Empati a. Komponen Kognitif
Mengenai komponen kognitif, Schieman dan Gundy (dalam Taufik, 2012 : 44) menyatakan bahwa seseorang yang empatik memiliki keahlian terkait dengan persoalan komunikasi, perspectif dan kepekaan dalam pemahaman sosio-emosional orang lain. Hal ini juga terdapat dalam hasil observasi pada kedua subjek yaitu, kedua subjek yang adalah guru ABK dapat dengan mudah bercakap-cakap dan berkomunikasi dengan siswa secara lancar dan juga guru nampak ramah dengan siswa baik ketika berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia maupun menggunakan Bahasa Jawa.
Lebih lagi komponen kognitif ditemukan pada proses observasi ketika kedua guru ABK melaksanakan pembelajaran baik secara tatap muka dan daring. Guru ABK sudah hapal dengan kebiasaan siswa ABK yang diampu, apabila ada siswa yang mulai bermain dengan alat tulisnya guru akan mengenali bahwa anak tersebut sudah tidak fokus. Ada juga siswa yang harus bermain terlebih dahulu sebelum berlatih berhitung dan membaca. Karena sudah hapal dengan kebiasaan siswanya, guru berusaha beradaptasi dengan kebiasaan tersebut dan tidak kesulitan dalam mengajar siswa ABK. Apabila anak akan tantrum, guru juga sudah hapal dan mengenali apa yang akan siswa lakukan, karena sudah mengenali dan hapal akan hal tersebut, guru dapat dengan mudah mengantisipasi dengan memisahkan siswa tersebut dari siswa lainnya. Selama pembelajaran guru tidak memperlihatkan wajah kesal atau marah yang berlebihan ketika ada siswa yang lambat dalam mengerjakan tugas atau tidak fokus, guru tetap berusaha ramah dan bersahabat dengan siswa.
76
Apabila seseorang mengenali kebiasaan seseorang dan juga dapat menyelaraskan perasaan dirinya dengan orang lain atau dapat dikatakan memiliki kemampuan kognitif maka orang tersebut memiliki empati, hal tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan Taufik (2012:44) bahwa komponen-komponen kognitif adalah perwujudan dari multidimensi, seperti kemampuan seseorang dalam menjelaskan suatu perilau, seseorang mampu mengingat jejak-jejak intelektual dan verbal tentang orang lain, dan memiliki kemampuan untuk memberdakan kondisi emosional dirinya sendiri dengan orang lain. Sebab tanpa adanya kemampuan kognitif yang memadai maka seseorang akan meleset dan kesulitan dalam memahami kondisi orang lain.
b. Komponen Afektif
Pengalaman afektif merupakan pusat dari pengalaman empati, dan proses empati kognitif ada untuk mendukung atau menuju pengalaman afektif. Dua komponen afektif yang diperlukan untuk terjadinya pengalaman empati, yaitu kemampuan untuk mengalami secara emosi dan tingkat reaktivitas emosional yang memadai atau dapat dikatakan kecenderungan individu untuk memberi reaksi emosional terhadap situasi yang dihadapi (Taufik, 2012:51).
Berdasarkan hasil observasi pembelajaran, guru ABK kelas bawah dan kelas atas dapat merasakan dan mengalami apa yang siswa ABK alami terutama pada saat pembelajaran berlangsung.
Guru ABK mengenali apa yang dirasakan siswanya melalui raut wajah yang ditunjukkan oleh siswa, apabila siswa sudah mulai mengeluh dan menunjukkan raut kurang ceria itu merupakan tanda bahwa siswa ingin beristirahat sejenak. Selain itu apabila terdapat siswa yang sedih, guru ABK mengajak siswa lainnya untuk menyemangati temannya menggunakan kata-kata, guru juga menunjukkan ekspresi sedih dan rasa kasihan kepada siswa, kemudian guru mengajak siswa berkomunikasi hingga siswa dapat
77
ceria kembali. Guru ABK tidak membutuhkan banyak waktu untuk beradaptasi dan meresponi apa yang siswa rasakan pada saat itu.
Hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa guru ABK dapat mengalami secara emosi apa yang dialami oleh siswa ABK. Ketika mengajar, guru juga dapat menanggapi dan memberikan reaksi yang sesuai terhadap situasi yang siswa alami pada saat itu. Akurasi yang dimiliki guru ABK dapat dikatakan baik, karena guru ABK dapat merasakan kondisi siswa ABK pada waktu itu.
3. Proses Empati
Selain aspek dan komponen empati, pemahaman mengenai empati perlu untuk direalisasikan dalam tindakan nyata yaitu perilaku guru ABK terhadap siswa ABK terutama ketika guru mengajar siswa ABK tersebut. Perilaku guru tersebut muncul dalam proses empati yang dialami guru ABK tersebut. Davis (dalam Taufik, 2012:53-54) menggolongkan proses empati menjadi empat tahapan diantaranya :
a. Antecedents
Antecedents merupakan tahapan pertama dalam proses empati di mana di dalamnya terdapat kondisi-kondisi yang mendahului sebelum terjadinya proses empati. Kapasitas pribadi observer yang dalam hal ini merupakan guru ABK juga menjadi poin penting adanya empati. Kapasitas empati yang tinggi juga dipengaruhi adanya kapasitas intelektual untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain (Taufik, 2012:54-55).
Kedua guru ABK masing-masing memiliki pengalaman menangani ABK sebelum mengajar di SD Negeri 2 Semangkak. Hal ini terlihat ketika guru dengan nyaman dan tidak canggung dapat berkomunikasi dengan siswa serta mampu menangani siswa dengan tepat. Beberapa siswa ABK kelas bawah berasal dari tempat tinggal yang tidak jauh dari rumah guru ABK kelas bawah sehingga guru sudah terbiasa dengan siswa tersebut. Kebiasaan yang sama untuk
78
menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari dimiliki oleh guru ABK kelas atas dengan siswa ABK membuat guru nyaman untuk berkomunikasai dengan siswa. Selain memiliki kesamaan daerah tinggal dan kebiasaan penggunaan bahasa, usia guru ABK nampak tidak jauh berbeda dengan usia orang tua siswa, sehingga guru ABK dengan mudah berkomunikasi dengan siswa maupun orang tuanya. Guru ABK juga terlihat senang ketika siswa datang dan mengikuti pembelajaran dengan semangat.
Hasil temuan tersebut sesuai dengan kondisi-kondisi yang menggambarkan tahap antecedents. Kondisi tersebut yaitu kekuatan situasi dan tingkat persamaan antara subjek dengan target. Pertama mengenai kekuatan situasi, guru ABK dan siswa berada dalam situasi yang sama. Ketika siswa datang dengan ceria dan bersemangat, guru ABK nampak senang dan hal tersebut ditunjukkan melalui raut wajah atau eskpresi guru ketika menyambut siswa menuju ke pembelajaran. Kedua, guru ABK memiliki persamaan daerah tempat tinggal dengan siswa dan bahasa sehari-hari. Selain itu kedua guru ABK memiliki latar belakang yangnotabene bukan pertama kali menangani ABK sehingga memiliki kapasitas intelektual untuk memahami siswa ABK. Kedua kondisi dan juga latar belakang tersebut mempengaruhi guru ABK untuk berempati terhadap siswa ABK. Hal itu juga dinyatakan oleh Taufik (2012:55) bahwa riwayat pembelajaran individu atau guru ABK sebelumnya termasuk sosialisasi terhadap nilai-nilai yang terkait dengan empati. Kekuatan situasi dan juga semakin tinggi tingkat persamaannya maka akan semakin besar peluang untuk guru ABK berempati kepada siswa.
b. Processes
Adanya empati pada proses ini meliputi tiga komponen yaitu, non cognitive, simple cognitive, dan advance cognitive.
79
1) Pertama, non cognitive, adanya empati disebabkan oleh proses non kognitif yang tidak perlu memahami situasi yang terjadi.
Sehingga pada proses ini hanya melibatkan proses emosi (Taufik, 2012:56). Proses ini nampak pada hasil observasi ketia guru selalu berusaha tampak ceria untuk menyemangati siswa nya.
Guru tidak memerlukan proses kognitif tertentu untuk menunjukkan ekspresi yang dapat membangun semangat dan motivasi siswanya.
2) Kedua, simple cognitive processes. Pada proses ini hanya membutuhkan sedikit proses kognitif. Empati yang muncul tidak membutuhkan proses yang mendalam, karena situasi yang mudah dipahami, atau dengan kata lain empati ini normal untuk kita lakukan (Taufik, 2012:56). Proses ini ditemukan ketika guru ABK tidak membeda-bedakan atau lebih menguatamakan siswa tertentu untuk diajar. Guru ABK mengurutkan dari siswa yang sudah menyelesaikan atau materi yang diberikan, baru kemudian fokus ke siswa lainnya. Guru ABK juga selalu memeriksa keadaan siswa termasuk apakah siswa mengalami kesulitan atau tidak.
3) Ketiga, advance cognitive processes. Pada proses ketiga ini lebih dituntut untuk mengerahkan kemampuan kogitif. Leboh lagi Hoffman (dalam Taufik, 2012:56) menambahkan bahwa munculnya empati merupakan akibat dari ucapan atau bahasa yang disampaikan oleh target atau dalam hal ini adalah siswa ABK atau yang disebut dengan language mediated association.
Pemahaman yang tinggi terhadap situasi yang terjadi dibutuhkan untuk terjadinya empati pada proses ini.
Pada proses ini sikap empati ditunjukkan ketika siswa mengerjakan tugas, guru juga mengajak siswa bercerita mengenai pengalaman yang siswa alami selama di rumah, guru meresponi cerita siswa dengan menunjukkan raut wajah cukup sedih karena
80
siswa kesulitan belajar di rumah.. Sikap empati juga ditunjukkan guru ABK ketika siswa saling bersautan memberikan pendapat, dan salah satu siswa nampak terganggu maka guru akan memberikan tanda dengan tangan agar siswa dapat diam, tenang dan kondusif.
c. Intrapersonal Outcomes
Guru ABK dapat merasakan dan mengidentifikasi apa yang siswa ABK rasakan. Hal ini ditunjukkan saat siswa bercerita, guru ABK memberikan tanggapan yang ramah, ikut tertawa ketika siswa bertingkah lucu maupun menceritakan hal lucu. Guru ABK selalu memotivasi siswa apabila siswa mulai lambat dalam mengerjakan tugas atau ketika belajar materi yang disampaikan. Guru ABK juga Guru merespon dengan cepat ketika terdapat salah seorang siswa menunjukkan raut wajah sedih, dan bertanya mengenai kesulitan yang dialami siswa. Guru memberikan respon terhadap jawaban siswa dengan memberikan jempol dan tepuk tangan.
Perilaku yang ditunjukkan guru tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap siswa, selain itu juga daoat ditemukan juga keselarasan emosi atau emoticon matching antara guru ABK dan siswa. Hal ini sesuai dengan hasil dari proses empati salah satunya adalah hasil intrapersonal yang terdiri atas affective outcomes dan non affective outcomes. Di mana affective outcomes terdiri atas reaksi emosional yang dialami oleh subjek dalam merespon pengalaman target. Keselarasan emosi atau emoticon matching dapat meningkapkan sikap positif terhadap orang lain. Sedangkan non affective outcomes menjadi hasil empati yang didasarkan pada proses kognitif karena adanya kecermatan dalam menangkap dan menganalisis situasi yang ada (Taufik, 2012:57-58).
d. Interpersonal Outcomes
Berdasarkan hasil observasi terhadap kedua guru ABK, ditemukan bahwa terdapat perilaku menolong (helping behaviour)
81
yang diberikan kepada siswa. Perilaku menolong yang ditunjukkan oleh guru ABK diantaranya, ketika terdapat siswa yang menunjukkan raut wajah sedih, guru ABK kelas atas mengajak siswa lainnya untuk menyemangati dan kemudian guru ABK mulai membantu mengatasi kesulitan siswa. Guru ABK kelas bawah juga otomatis membantu dan menolong siswa ABK yang kesulitan untuk mengeja huruf dengan mengarahkan pandangan siswa ke mulut guru ABK agar siswa dapat menirukan gerak bibir guru dalam mengeja.
ketika siswa ngeyel, guru sangat tegas dengan siswa, seperti menegur dan menarik siswa untuk duduk di kursinya dengan tenang.
Walaupun cukup tegas, guru ABK terlihat berusaha untuk selalu membangun komunikasi dengan siswa agar siswa nyaman dalam belajar dan membantu siswa sampai bisa. uru lebih memposisikan diri sebagai teman untuk siswa sehingga siswa tidak sungkan bercerita atau meminta tolong. Terlihat juga ketika siswa mengumpulkan tugas ke sekolah guru ABK membantu siswa untuk menunjukkan beberapa tulisan yang kurang tepat dari pekerjaan siswa.
Beberapa hal yang ditunjukkan oleh guru ABK terhadap siswa ABK sesuai dengan pengertian interpersonal outcomes. Salah satu bentuk dari interpersonal outcomes adalah munculnya helping behaviour (perilaku menolong). Interpersonal outcomes tidak sekadar mendiskusikan apa yang dialami orang lain, tetapi dapat menimbulkan perilaku menolong, selain itu juga ada agresi dan perilaku social sebagai respon interpersonal sebagai hasil empati (Taufik, 2012:58,175).
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi ditemukan bahwa dinamika empati guru ABK berupa hubungan pemahaman guru baik secara kogntif maupun afektif terhadap siswa ABK yang kemudian melalui beberapa tahapan proses dan membentuk empati. Pengertian dan pemahaman tersebut dimulai dari aspek-aspek empati yang