• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Kerangka Teoritis

2. Anak dengan Kebutuhan Khusus

Menurut Monks (1989), Autisma berasal dari kata auto yang berarti sendiri dan dari bahasa Yunani autos yang berarti aku, dalam pengertian non

ilmiah bahwa semua anak yang bersikap mengarah pada dirinya sendiri karena sebab apapun disebut autistik. Penyandang autisme seakan-akan merasa hidup sendiri. Menurut Hitipeuw (1990:17), Autisme diartikan sebagai penyimpangan yang terjadi pada anak-anak sejak usia dini sekali yang ditandai dengan adanya gangguan dalam perkembangan bahasa, komunikasi sosial, intelegensi, dan perilaku-perilaku individu yang mengalami gangguan. Penyandang autisme mempunyai tingkah laku yang tidak lazim daripada anak-anak yang normal.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Alwi,1990), autisma adalah gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu. Sedangkan autistik adalah terganggu jika berhubungan dengan orang lain. Rapin dalam Dardjowidjojo (1991:109) memberikan pengertian bahwa autisme merupakan gangguan perkembangan bahasa yang berat. Gejala utamanya berhubungan dengan sosialisasi, komunikasi, dan bermain.

a. Ciri-ciri Autisme

Peters (2004) menyebutkan bahwa dalam perkembangan anak abnormal yang terganggu sebelum usia 3 tahun akan menunjukkan keterlambatan dan fungsi abnormal pada paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut.

1) Interaksi sosial, bahasa yang dipergunakan dalam perkembangan sosial.

2) Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial. 3) Permainan simbolik atau imajinatif.

Adapun ganggguan kualitatif dalam berkomunikasi menurut Peeters (2004) ditunjukkan oleh paling sedikit salah satu dari keadaan berikut.

1) Keterlambatan atau kekurangan secara menyeluruh dalam berbahasa lisan (tidak disertai usaha untuk mengimbanginya dengan penggunaan gestureatau mimik muka sebagai alternatif dalam berkomunikasi). 2) Ciri gangguan yang jelas pada kemampuan untuk memulai atau

melanjutkan pembicaraan dengan orang lain meskipun dalam percakapan sederhana.

3) Penggunaan bahasa yang repetitive (diulang-ulang) atau stereotip (meniru-niru) atau bersifatidiosinktratik (aneh).

4) Kurang beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau meniru orang lain yang sesuai dengan tingkat perkembangannya (2004:1).

Gunawan juga menambahkan lima gejala adanya ganguan perkembangan pada anak penyandang autisme, yaitu: gangguan komunikasi, gangguan interaksi, gangguan perilaku, gangguan emosi, gangguan persepsi sensori.

Anak yang mengalami gangguan komunikasi akan menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut: anak mengalami keterlambatan bicara atau sama sekali belum dapat berbicara sehingga sangat sulit untuk dapat memulai dan

mempertahankan percakapan. Anak cenderung berkomunikasi dengan bahasa tubuh, mengulang-ulang kata bahkan anak sering meracau dengan bahasanya sendiri.

Terganggunya interaksi menyebabkan anak mengalami gangguan dalam hal hubungan dengan orang-orang sekitar seperti kurang responsive terhadap isyarat sosial, anak tidak mau menatap mata lawan bicaranya, apabila dipanggil tidak menengok, anak tidak mau mengekspresikan rasa senang atau keinginannya bahkan anak akan lebih senang menyendiri tidak mau bermain dengan teman sebaya.

Anak yang mengalami gangguan perilaku akan menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut: anak cenderung cuek terhadap lingkungan dan terlalu asyik dengan dunianya sendiri, anak akan bersikap semaunya sendiri, sangat sulit diatur. Semakin lama perilaku anak menjadi semakin tidak terarah, suka menyakiti dirinya sendiri, taruntum (mengamuk) dengan sebab yang tidak jelas.

Anak yang sering tertawa, menangis, marah-marah tanpa sebab yang jelas merupakan salah satu dari cirri anak yang mengalami gangguan emosi. Gangguan lain diantaranya adalah ketakutan anak yang kurang jelas dan tidak wajar, serta emosi anak semakin lama menjadi semakin tidak terkendali.gejala yang ditunjukkan oleh anak berbeda, antara anak yang satu dengan anak yang lain. Gangguan yang berhubungan dengan panca indera disebut ganguan persepsi sensori, adapun cirri anak yang mengalami gangguan perspsi sensori antara lain sebagai berikut: menjilat-jilat benda,

mencium benda, menutup telinga bila mendengar suara yang keras dengan nada tertentu, anak snagat tahan terhadap sakit, dan kecenderungan anak yang tidak suka memakai bahan yang kasar.

b. Penyebab Autisme

Handoyo (2003) menyebutkan adanya 5 penyebab anak menderita autisme.

1) Adanya kelainan pada otaknya. Ada tiga lokasi otak yang ternyata mengalami kelainan neuro-anatomis, yang disebabkan oleh faktor keturunan, infeksi virus dan jamur, kekurangan nutrisi dan oksigen serta akibat polusi udara, air, dan makanan. Gangguan tersebut terjadi pada fase pembentukan organ-organ yaitu pada usia kehamilan antara 0-4 bulan.

2) Adanya kelainan anatomis pada lobus patietalis, cerebellum dan sistem limbiknya. 43% penyandang autisma mempunyai kelainan padalobus parietalis otaknya yang menyebabkan anak cuek terhadap lingkungannya.

3) Kelainan pada otak kecil (cerebellum). Otak kecil bertanggung jawab atas proses sensoris, daya ingat, berpikir, belajar bahasa, dan proses atensi (perhatian).

4) Terdapatnya kelainan yang khas di daerahsistim limbic yang disebut hippocampus dab amygdale. Akibatnya terjadi gangguan fungsi kontrol terhadap agresi dan emosi. Anak kurang dapat mengendalikan emosinya, seringkali terlalu agresif atau sangat pasif. Amygdale

bertangung jawab terhadap berbagai rangsangan sensoris seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan rasa. Hippocampus bertanggung jawab terhadap fungsi belajar dan daya ingat.

5) Faktor genetika diperkirakan penyebab utama dari kelainan autisma. Itu dikarenakan dengan adanya kelainan kromosom pada anak autisma.

c. Jenis-Jenis Autis

Handojo,(2003) menggolongan autis ke dalam 3 bagian. 1) Autisme infantil atau autisme masa kanak-kanak.

Perilaku autistik ini digolongkan dalam 2 jenis yaitu, perilaku yang ekspresif (berlebihan) dan perilaku yang deficit (kekurangan). Yang termasuk perilaku ekspresif adalah hiperaktif dan tantrum (mengamuk) yang berupa menjerit, menyepak, menggigit, mencakar, memukul, dsb. Di sini juga sering terjadi anak menyakiti diri sendiri (self abuse). Perilakudeficitditandai dengan gangguan bicara, perilaku sosial kurang sesuai, deficit sensoris sehingga sering dikira tuli, bermain tidak benar, dan emosi yang tidak tepat, misalnya tertawa dan menagnis tanpa sebab. Karakteristik penyandang autisme ini antara lain: Selektif berlebihan terhadap rangsang, Kurangnya motivasi untuk menjelajahi lingkungan baru, Respon stimulasi diri sehingga menganggu integrasi sosial.

2) Sindroma Aspeger

Ini mirip dengan autisma Infantil, dalam hal kurang interaksi sosial. Tetapi mereka masih mampu berkomunikasi cukup baik. Anak sering memperlihatkan perilaku tidak wajar dan minat yang terbatas. Anak mampu mengikuti kegiatan sekolah dengan prestasi rata-rata atau di atas rata-rata.

3) Attention Deficit (hyperactive) Disorder atau AD(H)D.

ADHD dapat diterjemahkan dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas atau GPPH. Gejala anak dengan ADHD sekilas mirip dengan autisma, tetapi memiliki kemampuan komunikasi dan interaksi sosial jauh lebih baik. Orang sering menyebut anak tipe ini dengan anak hiperaktif.

Anak yang hiperaktif sering bermain dengan jari tangan, tidak bisa duduk diam saat anak lain duduk dengan manis. Ia akan berlari dan memanjat berlebihan. Gejala GPPH terdiri dari tiga gejala umum yaitu: inatensivitas atau tidak ada perhatian atau tidak menyimak,impulsivitas atau tidak sabaran, bisa impulsive motorik dan impulsive verbal atau kognitif, danhiperaktivitas atau tidak bisa diam.

4) AnakGifted.

Anak Gifted adalah anak dengan intelegensi yang super atau genius, namun memiliki gejala-gejala yang mirip dengan autisma. Penanganan anak Gifted berbeda dengan penanganan anak autisma. Pertama-tama perlu dicari dulu dalam bidang apa anak tersebut genius.

Biasanya kegeniusan hanya pada satu bidang tertentu dan tidak pada semua disiplin ilmu atau keterampilan.

Dokumen terkait