BAB III METODE PENELITIAN
E. Anak perusahaan dan perusahaan afiliasi
Anak perusahaan adalah suatu perusahaan dimana Telkom memiliki penyertaan saham lebih 50 persen dari seluruh modal yang ditetapkan dalam perusahaan tersebut. Sedangkan perusahaan afiliasi adalah suatu perusahaan dimana Telkom memiliki penyertaan saham 50 persen atau kurang dari 50 persen dari seluruh modal yang ditempatkan dalam perusahaan tersebut.
PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) adalah anak perusahaan PT Telkom yang bergerak dalam bidang usaha penyediaan sarana dan penyelenggaraan jasa telekomunikasi bergerak yaitu jasa Sambungan Telepon Bergerak Seluler Global System for Mobile Communication (STBS-GSM), dimana Telkom memiliki persentase kepemilikan sebesar 65 %, sedangkan yang termasuk perusahaan afiliasi Telkom antara lain:
1. PT Radio Telepon Indonesia (Ratelindo)
Bidang Usaha Ratelindo adalah penyediaan sarana dan penyelenggaraan jasa telekomunikasi jasa sambungan telepon lintas radio.
2. PT Komunikasi Seluler Indonesia (Komselindo)
Bidang usaha Komselindo adalah penyedian sarana dan penyelenggaraan jasa STBS-AMPS (Sambungan Telepon Bergerak Seuler-Advanced Mobile Phone System).
3. PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN)
Bidang usaha PSN adalah jasa telekomunikasi dan sarana penunjangnya serta memasarkan hasil produksinya di dalam negeri maupun luar negeri, yaitu penyelenggara jasa telekomunikasi Satelit Palapa Nusantara eks BI, jasa
komunikasi tetap (fixed satellite) dan menyewakan transponder Palapa C Extended C-Band.
4. PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta)
Bidang usaha lintasarta adalah menyelenggarakan jasa telekomunikasi data, yaitu Sambungan Data Langsung (SDL), Sambungan Komunikasi Data Paket (SKDP) dan Sistem Komunikasi Stasiun Bumi Mikro (SKSBM), menyelenggarakan jasa aplikasi jaringan untuk industri perbankan dan keuangan dan untuk industri lainnya termasuk menyediakan sarana fisik (perangkat keras dan sarana penunjangnya) dan perangkat lunak aplikasi, komunikasi dan atau antar muka komputer serta sistem solusi, menyelenggarakan sistem nilai tambah, termasuk Sistem Informasi Elektronik (SIE) dan Indonesia On Line Acces (IDOLA) dan memberikan jasa konsultasi di bidang teknologi telekomunikasi dan informasi.
5. PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo)
Bidang usaha Satelindo adalah penyediaan sarana dan penyelenggaraan jasa telekomunikasi satelit, jasa komunikasi STBS-GSM dan jasa telekomunikasi internasional.
6. PT Bangtelindo (Bangtelindo)
Bidang usaha bangtelindo adalah jasa perencanaan dan manajemen pengawasan pembangunan sarana telekomunikasi serta jasa pemeliharaan instalasi komunikasi.
7. PT Elnusa Yellow Page (ENYP)
Bidang usaha ENYP adalah jasa penerbitan buku petunjuk telepon dan buku petunjuk teleks dan faksimili.
8. PT Telekomindo Primabakti (Telekomindo)
Bidang usaha Telekomindo adalah jasa konstruksi, jasa telekomunikasi STBS-AMPS dan STBS-GSM.
F. Bentuk Kerjasama Telkom dengan Pihak lain
Telkom menyertakan para pemodal swasta untuk membiayai pembangunan prasarjana jaringan, penyediaan jasa-jasa khusus dan pelaksanaan diversifikasi operasinya dalam berbagai bentuk kerjasama. Partisipasi badan lain dalam penyelenggaraan jasa telekomunikasi dasar dengan telkom dapat berbentuk perusahaan patungan, kerjasama operasi dan kontrak manajemen. Bentuk kerjasama operasi yang telah ada antara lain dalam bentuk kerjasama Pola Bagi Hasil (PBH) dan Pola Kerjasama Operasi (PKO).
1. Pola Bagi Hasil (PBH)
Kerjasama Pola Bagi Hasil ditetapkan untuk mendukung rencana pengembangan sarana, jaringan serta fasilitas telekomunikasi Telkom. Bentuk kerjasama ini digunakan untuk membiayai pengembangan jaringan fixed wireline dan jasa Sambungan Telepon Bergerak Seluler (STBS) nasional. Dalam kerjasma ini secara umum pemodal swasta membiayai dan membangun proyek tertentu yang telah disepakati dan setelah pembangunan selesai akan menerima tertentu dari pendapatan yang dihasilkan oleh proyek tersebut selama periode yang
disepakati atau sampai saat dimana tingkat imbal hasil investasi pemodal yang telah disetujui tercapai. Pemodal swasta memiliki kepemilikan secara hukum atas semua jaringan atau fasilitas yang telah mereka dirikan sampai masa bagi hasil berakhir dan setelah itu kepemilikan tersebut akan dialihkan kepada Telkom.
Sebagian besar pola bagi hasil mempunyai persentase pembagian pendapatan 30 persen untuk Telkom dan 70 persen untuk pemodal Pola Bagi Hasil.
2. Kerjasama Operasi (KSO)
Setiap unit KSO akan dioperasikan sebagai suatu kesatuan akuntansi yang berdiri sendiri, bertanggung jawab untuk melekukan pembayaran-pembayaran tertentu kepada Telkom beerhak atas pendapatan yang dihasilkan dari semua sambungan berbayar yang dioperasikan dalam wilayah divisi KSO yang bersangkutan, bertanggung jawab atas semua biaya yang dikeluarkan sehubungan pengoperasian unit KSO.
Telkom berhak menerima pembayaran-pembayaran dari unit KSO antara lain biaya kompensasi yang dibayar satu kali. Pendapatan minimum Telkom merupakan bagian pendapatan Telkom dari pendapatan KSO yang berasal dari pendapatan KSO yang harus dibagi.
3. Perusahaan Patungan
Telkom memiliki kepemilikan diberbagai perusahaan patungan yang menyelenggarakan usaha-usaha yang berhubungan dengan telekomunikasi pada PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), PT Satelindo Palapa Indonesia (Satelindo), PT Radio Telepon Indonesia (Ratelindo), PT Telekomindo Primabhakti (Telekomindo), PT Komunikasi Seluler Indonesia (Komselindo),
PT.Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta), PT Pasifik Satelit Nusantara (PNS), PT.Bangtelindo (Bangtelindo) yang merupakan anak perusahaan dan perusahaan afiliasi Telkom.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Analisis Capital Structure pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Struktur modal merupakan perimbangan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri. Perimbangan antara kedua golongan modal permanen tersebut akan memperlihatkan sejauh mana perusahaan telah memilih berbagai alternative pembelanjaanny. Jumlah modal pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk berdasarkan neraca per 31 Desember 2009 sampai dengan 31 Desember 2010 dapat dilihat pada table berikut ini
Tabel 5.1
KEADAAN JUMLAH MODAL PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk
Tahun 2009-2010
Tahun Hutang jangka panjang(Rp) Modal sendiri(Rp)
2009 21.335.428.000 38.652.260.000
2010 22.870.766.000 44.418.742.000
Rata-rata 22.103.097.000 41.535.501.000
Sumber : PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan keadaan modal PT Telekomunikasi Indonesia,Tbk untuk hutang jangka panjang mengalami peningkatan dari tahun 2009-2010 yakni tahun 2009 sebesar Rp 21.335.428.000, dan pada tahun 2010 meningkat hingga menjadi Rp 22.870.766.000, sedangkan50
tahun 2009 sebesar Rp 38.652.260.000, tahun 2010 meningkat menjadi Rp 44.418.742.000, keadaan modal tersebut menunjjukkan bahwa penggunaan modal sendiri masih lebih besar dibandingkan modal pinjaman, dimana modal sendiri diharapkan mampu menekan penggunaan hutang jangka panjang yang merupakan hutang bagi perusahaan.
Selanjutnya untuk menngetahui struktur modal (capital structure) dengan melihat perbandingan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri dapat digunakan rumus sebagai berikut :
Hutang jangka panjang
a. Prporsi hutang jangka panjang = X 100%
Hutang jangka panjang + modal sendiri Modal sendiri
b. Proporsi modal sendiri = X 100%
Hutang jangka panjang + modal sendiri 1) Struktur modal tahun 2009
21.335.428.000
a. Proporsi hutang jangka panjang = X 100%
21,335.428.000 + 38.652.260.000
= 35,56%
38.652.260.000
b. Proporsi modal sendiri = X 100%
21.335.428.000 + 38.652.260.000
= 64,43%
2) Struktur modal tahun 2010
22.870.766.000
a. Proporsi hutang jangka panjang = X 100%
22.870.766.000 + 44.418.742.000
= 33,98%
44.418.742.000
b. Proporsi modal sendiri = X 100%
22.870.766.000 + 44.418.742.000
= 66,01%
Berdasarkan perhitungan tersebut, maka perbandingan struktur modal (capital structure) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 dapat dilihat pada tabel tersebut:
Tabel 5.2
CAPITAL STRUCTURE
PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk TAHUN 2009-2010
Tahun Komponen modal Capital structure (%)
2009
Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa struktur modal (capital structure) pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk bahwa keadaan hutang jangka panjang selama tahun 2009-2010 mengalami penurunan yakni pada tahun 2009 sebesar 35,56% dan hingga tahun 2010 menjadi 33,98%. Sedangkan untuk modal sendiri selama tahun 2009-2010 terus mengalami peningkatan yakni pada tahun 2009 sebesar 64,43% hingga mencapai 66,01% pada tahun 2010.
2. Analisis biaya modal (Cost Of Capital) pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Biaya modal (Cost Of Capital) adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana, baik yang berasal dari hutang jangka panjang maupun modal sendiri. Penentuan biaya modal dimaksudkan untuk
mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana yang diperlukan,
Biaya modal pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk berasal dari hutang jangka panjang dan modal sendiri. Dalam melakukan evaluasi atas perhitungan biaya-biaya modal pada perusahaan maka terlebih dahulu akan disjikan data biaya modal yang ditanggung oleh perusahaan selama tahun 2012,2013 dan 2014 yang dapat dilihat pada perhitungan sebagai berikut :
a. Biaya modal sendiri
Besarnya biaya modal sendiri pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 dapat dihitung sbb :
Laba bersih setelah pajak
Berdasarkan analisis tersebut diatas, dapat dijelaskan bahwa biaya modal sendiri pada PT Telekomunikaksi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 mengalami peningkatan, yakni dari tahun 2009 sebesar 29,49% meningkat menjadi 29,84% pada tahun 2010. Dengan demikian rata-rata biaya modal
sendiri pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 adalah
Berdasarkan analisis tersebut diatas, dapat dijelaskan bhwa biaya modal atau hutang jangka panjang pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 mengalami penurunan yakni dari tahun 2009 sebesar 6,87%
menurun menjadi 5,90% Pada tahun 2010.
3. Biaya modal rata-rata tertimbang (WACC)
Struktur modal yang optimal dapat diartikan sebagai struktur modal yang dapat meminimalkan biaya modal rata-rata tertimbang. Rata-rata tertimbang biaya modal (weighted average cost of capital - WACC) merupakan rata-rata tertimbang biaya-biaya komponen utang, dan ekuitas biasa (Brigham dan Houston, 2011).
Berdasarkan biaya modal sendiri dan biaya modal atas hutang jangka panjang maka biaya modal rata-rata tertimbang pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 dapat diketahui, adapn besarnya biaya modal rata-rata tertimbang untuk tahun 2009-2010 pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dapat dihitung sbb :
WACC
= w
d.r
d(1-T) + w
c.r
sWACC (2009) = 35,56% (6,87%) + 64,43% (29,49%)
= 2,44% + 19.00%
= 21,44%
WACC (2010) = 33,98% (5,90%) + 66,01% (29,84%)
= 2,00% + 19,69%
= 21,69%
Berdasarkan perhitungan tersebut diatas, dapat dijelaskan bahwa biaya modal secara keseluruhan pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 mengalami peningkatan yakni dari tahin 2009 sebesar 21,44% hingga mencapai 21,69% pada tahun 2010.
Adapun rekapitulasi perhitungan biaya modal (Cost Of Capital) dan biaya modal rata-rata tertimbang (Weighted Cost Of Capital) pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 5.3
REKAPITULASI PERHITUNGAN COST OF CAPITAL DAN WACC PADA PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA Tbk
TAHUN 2009-2010 tahun Komponen modal Cost of capital
(%)
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa biaya modal yang ditanggung PT Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 mengalami penurunan untuk hutang jangka panjang dari tahun 2009 sebesar 6,87% menurun menjadi 5,90% pada tahun 2010. Untuk modal sendiri mengalami peningkatan pada tahun 2009-2010 yakni pada tahun 2009 sebesar 29,49% hingga pada tahun 2010 meningkat menjadi 29,84%.
Sedangkan untuk WACC (Weighted Average Cost Of Capital) yaitu biaya modal rata-rata tertimbang pada PT Telekominikasi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 mengalami peningkatan yakni dari tahun 2009 sebesar 21,44%
hingga mencapai 21,69% pada tahun 2010.
B. PEMBAHASAN
1. Pengaruh perubahan Capital Structure terhadap tingkat Cost Of Capital pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Struktur modal yang optimal dapat diartikan sebagai struktur modal yang dapat meminimalkan biaya modal rata tertimbang, WACC merupakan rata-rata tertimbang biaya komponen utang dan modal sendiri, biaya modal dipengaruhi oleh sejumlah factor. Dua factor yang berada diluar kendali perusahaan adalah tingkat bunga dan tarif pajak. jika tingkat bunga dalam perekonomian meningkat, maka biaya utang akan naik.
Perhitungan dari masing-masing variabel telah dijelaskan sebelumnya, berikut ini disajikan data mengenai struktur modal (Capital Structure), biaya modal (Cost Of Capital) dan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk untuk tahun 2009-2010.
Tabel 5.4
REKAPITULASI PERHITUNGAN CAPITAL STRUCTURE, COST OF CAPITAL DAN WACC PADA PT TELEKOMUNIKASI
INDONNESIATbk
Sumber : hasil pengolahan data PT Telekom
Berdasarkan perhitungan diatas, menunjukkan bahwa penurunan struktur modal dengan komponen hutang jangka panjang mengalami penurunan yang cukup besar sedangkan untuk struktur modal dengan komponen modal sendiri mengalami peningkatan yang cukup besar sehingga biaya modal yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dana, baik utang bersal dari hutang jangka panjang maupun modal sendiri yang berarti bahwa penggunaan modal sendiri dapat menekan penggunaan modal pinjaman bagi hutang yang masih harus dibayar oleh perusahaan. besarnya biaya modal pinjaman yang dikeluarkan oleh perusahan mengalami penurunan, sedangkan untuk biaya modal sendiri yang dikeluarkan oleh perusahaan mengalami peningkatan yang cukup besar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan struktur modal dapat mempengaruhi biaya modal yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Biaya modal rata-rata tertimbang (weighted average cost of capital) atau WACC yang diperoleh dari biaya kompnen hutang jangka panjang dan modal sendiri mengalami peningkatan tiap tahunnya, jadi WACC mengalami peningkatan disebabkan karena peningkatan persentase biaya modal sendiri pada tahun sebelumnya. Adapun Capital structure (struktur modal) yang memberikan WACC yang lebih kecil adalah srtuktur modal dengan komponen modal hutang jangka panjang yang lebih dominan memberikan WACC yang lebih kecil dibandingkan dengan komponen modal sendiri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan struktur modal sangat berpengaruh signifikan terhadap biaya modal pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Apabila analisis dari laporan keuangan terlihat peningkatan struktur modal dengan modal sendiri mengalami peningkatan yang disebabkan oleh komponen-komponen ekuitas atau modal sendiri yang terdapat di laporan keuangan neraca, maka dapat dijelaskan bahwa biaya yang harus dikeluarkan atau dibayar oleh perusahaan untuk mendapat modal yang digunakan untuk investasi perusahaan mengalami peningkatan tiap tahunnya.
Adapun untuk tahun 2011-2013 tidak dianalisis dan direkap karena data yang diperoleh dari laporan keuangan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk tidak terdapat beban bunga yang digunakan untuk menghitung biaya modal pinjaman sehingga tidak dimasukkan dalam penelitian ini.
A. SIMPULAN
Berdasararkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Capital Structure (Struktur modal) pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk untuk hutang jangka panjang selama tahun 2009-2010 mengalami penurunan yakni pada tahun 2009 sebesar 35,56% dan hingga pada tahun 2010 sebesar 33,98%. sedangkan untuk modal sendiri selama tahun 2009-2010 terus mengalami peningkatan yakni pada tahun 2009 sebesar 64,43% hingga mencapai 66,01% pada tahun 20010. Hal ini disebabkan oleh komponen-komponen ekuitas yang terdapat di laporan keuangan neraca.
2. Cost of capital (Biaya modal) yang ditanggung oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk selama tahun 2009-2010 mengalami penurunan untuk hutang jangka panjang dari tahun 2009 sebesar 6,87% menurun menjadi 5,90% pada tahun 2010, Sedangkan untuk modal sendiri mengalami peningkatan yakni dari tahun 2009 sebesar 29,49% hingga pada tahun 2010 meningkat menjadi 29,84%. Capital Structure (struktur modal) tersebut menunjukkan bahwa Cost of capital (Biaya modal) yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan penggunan modal sendiri masih lebih besar dibandingkan hutang jangka panjang, yang berarti bahwa penggunaan modal sendiri dapat menekan penggunaan modal pinjaman.
WACC yang diperoleh dari biaya kompnen hutang dan modal sendiri mengalami peningkatan tiap tahunnya yakni pada tahun 2009 sebesar 21,44%
hingga mencapai 21,69% pada tahun 2010, sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan capital structure sangat berpengaruh signifikan terhadap cost of capital pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.
4. Capital structure (struktur modal) yang memberikan WACC yang lebih kecil adalah srtuktur modal dengan komponen modal hutang jangka panjang yang lebih dominan memberikan WACC yang lebih kecil dibandingkan dengan komponen modal sendiri.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpilan yang diperoleh diatas, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut :
1 Pihak perusahaan perlu memperhatikan besarnya biaya modal (cost of capital) yang dikeluarkan, baik modal tersebut dapat lebih efektif dan efisien dalam meningkatkan laba perusahaan.
2 Disarankan pula agar perusahaan memperhatikan masalah struktur modal (capital structure) yang optimum dalam setiap kegiatan perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwarti Sri Dewi Ari, 2010, Manajemen Keuangan Lanjut, edisi pertama, cetakan pertama, Penerbit : Graha Ilmu, Yogyakarta
Brigham, Eugene F. & Houston, Joel F, 2014, Dasar-dasar manajemen keuangan, edisi 11, buku 2, Salemba Empat, Jakarta.
Brigham, Eugene F. & Houston, Joel F. 2011. Manajemen Keuangan, edisi kedelapan, Erlangga, Jakarta.
Fahmi irham, 2013, Analisis Laporan Keuangan, cetakan ketiga, Alfabeta, Bandung.
Farid Harianto, Siswanto Sudomo, 1998, perangkat dan teknis analisis investasi di pasar modal, PT Bursa Efek Jakarta. Hlm.
Harahap, sofyan syafri. 2013. Analisis kritis atas laporan keuangan. PT.
Rajagrafindo. Persada. Jakarta.
Husnan, Suad dan Pudjiastuti, Enny. 2010, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, jilid 1. Yogyakarta: UPP-AMP YKPN.
Joel G. Siegel dan Jae K. Shim, 1999, Kamus Istilah Akuntansi, Elex Media Komputindo, Jakarta, (terjemahan).
Kamaruddin, 2003. Analisis Manajemen Permodalan Keuangan Modern, Cetakan Kesepuluh, Bandung Alumni.
Lev, Baaruch and S. Ramu Thiagarajan, 1993, Fundamental Information Analysis, Journal Accounting Research (JAR), 13, No. 2 (autum), pp, 190-215.
Martono dan Agus Harjito, 2008, Manejemen Keuangan, edisi pertama, cetakan, ketujuh penerbit : Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta Munawir S, 2002, Analisa Laporan Keuangan, Penerbit UPP-AMP YKPN,
Yogyakarta.
Napa J. Awat, 1999, Manajemen Keuangan Pendekatan Matematis, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Riyanto, Bambang. 2010, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Keempat, Yogyakarta: BPFF.
Rodoni, Ahmad dan Ali, Herni. 2014, Manajemen Keuangan Modern, Mitra Wacana Media, Jakarta.
Rodoni Ahmad, 2010, Manajemen Keuangan, edisi pertama, cetakan pertama, Penerbit : Mitra Wacana Media, Jakarta
Sofyan Assuari, 2000, Rekayasa Keuangan, Manajemen Usahawan Indonesia No.
08 Th XXIX
Weston J. Fred and Thomas E. Copeland, “Manajemen Keuangan”. Jilid 1, Erlangga , Jakarta 2005.
A M
P
I
R
A
N
Tempat/Tanggal Lahir : Buntu Siapa, 04 November 1993 Alamat : Jl. Salekowa Raya (Perum. Bukit
Salekowa Permai Blok B.9) No. Telepon/HP : 082 348 958 756
Nama Orang Tua : Ayah : Abd. Hafid Ibu : Hj. Hadiana Nama Saudara : 1. Aswar Hafid
2. Marlan Hafid 3. Sumarni Hafid 4. Asdar Hafid
Anak dari pasangan Abd. Hafid dan Hj. Nadiana menyelesaikan studinya pada:
MI. 06 Cimpu tahun 1999 - 2005
MTs. Suli tahun 2005 - 2008
SMA Negeri 1 Belopa tahun 2008 - 2011
Strata 1 Universitas Muhammadiyah Makassar tahun 2011 - sekarang pada jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
FOTO 4x6