• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

D. Metode Analisis Data

Untuk mengetahui dan menganalisis struktur modal perusahaan, digunakan metode analisis sebagai berikut :

1 Untuk mengetahui struktur modal, yaitu :

a. Proporsi hutang jangka panjang digunakan rumus :

b. Proporsi modal sendiri digunakan rumus : Hutang jangka panjang

X 100 % Hutang Jangka Panjang + Modal sendiri

Modal Sendiri

X 100 % Hutang Jangka Panjang + Modal Sendiri

2 Untuk mengetahui optimalisasi struktur modal dengan menggunakan biaya modal digunakan rumus :

a. Biaya ekuitas

b. Biaya modal pinjaman

3. Untuk menghitung biaya penggunaan modal secara keseluruhan adalah rata-rata terimbang, karena itu biaya penggunaan modal secara keseluruhan disebut (weighted average cost of capital) WACC, dengan Rumus:

Keterangan:

wd : proporsi sasaran utang wc : ekuitas biasa

rd : tingkat bunga utang baru suatu perusahaan : biaya komponen utang setelah pajak

rd(1-T) : biaya komponen utang setelah pajak, dimana T adalah tarif pajak marginal perusahaan. rd(1-T) merupakan biaya utang yang

Laba bersih setelah pajak

rs= X 100 %

biaya ekuitas

Biaya bunga

rd = (1 – pajak) X 100 %

Modal pinjaman

WACC = wd.rd(1-T) + wc.rs

+ ke

digunakan untuk menghitung biaya rata-rata terimbang biaya modal.

rs : biaya komponen ekuitas biasa

A. Sejarah Singkat Perusahaan

Telkom merupakan kelanjutan dari bagian dari suatu badan usaha bernaman Post-En Telegraafdienst yang didirikan dengan staatsblad Nomor 52 tahun 1884 berdasarkan staatsblad Nomor 359 tahun 1906. Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih pemilikan harta kekayaan (asset) (post-en telegraafdienst) atau disebut juga PPT-Dients. Pada tahun 1931, PPT-Dients ditetapkan sebagai perusahaan Negara berdasarkan Staatsblad Nomor 419 tahun 1927 tentang Indonesische Bedrijvenwet (I.B.W. Undang-Undang Perusahaan Negara). Selanjutnya pada tahun 1960, pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang (PERPU) Nomor 19 tahun 1960 tentang persyaratan suatu Perusahaan Negara dan PPT-Dienst memenuhi syarat untuk tetap menjadi suatu Perusahaan Negara (PN). Dalam peraturan pemerintah Nomor 240 tahun 1961 tentang pendirian perusahaan negara sebagai dimaksud dalam pasal 2 I.B.W dilebur kedalam Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Pos dan Telekomunikasi).

Pemerintah membagi PN Pos dan Telekomunikasi menjadi 2 (dua) Perusahaan Negara yang berdiri sendiri. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1965 tentang Pendirian Perusahaan Negara Pos dan Giro didirikan Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Ps dan Giro) dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 1965 tentang pendirian Perusahaan Negara

Telekomunikasi didirikan perusahaan negara telekomunikasi (PN Telekomunikasi).

Pada tahun 1974, berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 36 tahun 1974 tentang perusahaan umum telekomunikasi (PN Telekomunikasi), status PN Telekomunikasi diubah menjadi perusahaan umum telekomunikasi (PERUMTEL) yang merupakan badan usaha tunggal penyelenggara jasa telekomunikasi umum, baik hubungan telekomunikassi dengan negeri maupun luar negeri.

Pada akhir tahun 1980, pemerintah mengambil kebijakan bahwa negara republik indonesia membeli seluruh salah satu PT Indonesan Satellindo Corporation (indosat) dari American cable & radio corporation, suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan peraturan perundangan negara bagian Delaware, Amerika Serikat. Setelah seluruh saham American Cable & Radio Corporation dalam indosat dibeli oleh Negara Republik Indonesia. Indosat yang semula merupakan suatu Perseorangan Terbatas yang didirikan menurut dan berdasarkan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia.

Selanjutnya guna lebih meningkatkan pelayanan telekomunikasi untuk umum dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 1980 tentang perubahan atas peraturan pemerintah Nomor 22 tahun 1974 tentang Telekomunikasi untuk umum. PERUMTEL ditetapkan sebagai badan usaha yang diberi wewenang untuk menyelenggaran telekomunikasi untuk umum dalam negeri dan indosat ditetapkan sebagai badan usaha yang diberi wewenang untuk menyelenggarakan telekomunikasi untuk umum internasional.

Untuk dapat mengantisipasi tuntutan perkembangan telekomunikasi yang semakin pesat dimana dibutuhkan manajemen yang lebih profesional, maka berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 1991 tentang pengalihan bentuk perusahaan umum (perum) Telekomunikasi menjadi perusahaan perseroan (Persero), status PERUMTEL diubah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) sebagaimana dimaksud dalam undang-undang Nomor 9 tahun 1969 selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 1991 disebutkan bahwa dengan dialihkannya bentuk PERUMTEL menjadi Perusahaan Perseroan (Persero), PERUMTEL dinyatakan bubar pada saat pendirian Perseroan (Persero) tersebut, dengan ketentuan segala hal dan kewajiban, kekayaan serta karyawan PERUMTEL yang ada pada saat pembubarannya, beralih sepenuhnya kepada Perusahaan Perseroan (Persero) yang bersangkutan.

Pada tahun 1993, berdasarkan keputusan Rapat Umum Luar Biasa kembali dalam Akta Perubahan Anggaran Dasar Telkom Nomor 111 tanggal 26 Februari 1993, dibuat dihadapan Achmad Bajumi, SH., pengganti Imas Fatimah., Notaris di Jakarta yang telah disetujui oleh Menteri kehakiman RI dengan Surat Keputusan Nomor C2-1679.HT.01.4.Th. 1993, tanggal 7 Maret 1993 dan didaftarkan di Kantor Panitera Pengadilan Negeri Bandung dibawah Nomor 290 dan Nomor 291 tanggal 11 juni 1993, tambahan Nomor 2654 telah dilakukan perubahan pada pasal 1 Anggaran Dasar Telkom sehubungan dengan perubahan tempat kedudukan Telkom dari Jakarta ke Bandung dengan alamat jalan Japati Nomor 40133, Telp (022) 4521510, Fax (022) 440313.

Setelah nama PT PERUMTEL berubah menjadi PT Telekomunikasi Indonesia atau Telkom, maka operasi bisnis terbagi atas dua belas wilayah telekomunikasi (witel). Kedua belas wilayah telekomunikasi tersebut kemudian dirombak menjadi tujuh divisi regional (divre), yaitu divisi I Sumatera, divisi II Jakarta, divisi III Jawa Barat, divisi IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, divisi V jawa Timur, divisi VI Kalimantan dan divisi VII Indonesia Bagian Timur.

Pada tanggal 14 November 1995 Telkom melaksanakan penawaran saham perdana publik (Inital Public Offering) di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Pada tanggal 26 Mei 1995, Telkom mendirikan Anak Perusahaan yang menangani bisnis telepon seluler (Telkomsel). Undang-undang Telekomunikasi (UU No.36/1999) yang berlaku efektif pada bulan September 2000 telah memfasilitasi masuknya pemain baru sehingga menumbuhkan persaingan usaha di dunia industri telekomunikasi. Telkom mengakuisisi 35 persen saham Indosat di Telkom sehingga menjadikannya pemegang saham mayoritas diperusahaan seluler itu dengan kepemilikan 77,7 persen Indosat kemudian mengambil alih 22,5 persen saham Telkom di Satelindo dan 37,7 persen saham Telkom di PT lintasarta Aplikanusa. Pada saat yang bersamaan, Telkom kehilangan hak eksklusifnya sebagai penyelanggara tunggal layanan telepon tidak bergerak di Indonesia.

Sekitar tahun 2002-2009 Telkom melepas kepemilikan sahamnya sebesar 12,7 persen di Telkom kepada Singapore Telkom Mobile Pte Ltd (Sing Telkom Mobile). Telkom meluncurkan layanan sambung langsung internasional untuk telepon tidak bergerak. Satelit Telkom-2 diluncurkan untuk menggantikan seluruh layanan transmisi satelit yang sebelumnya dilayani oleh Satelit Palapa B-4.

Peluncurannya menjadikan jumlah satelit yang telah diluncurkan oleh Telkom menjadi delapan satelit, termasuk satelit palapa A-1. Telkom bertransformasi dari perusahaan inficomm menjadi perusahaan penyelenggara TIME. Wajah baru telkom diperkenalkan kepada publik dengan menampilkan logo dan taglinebaru perusahaan ”the world in your hand”.

Pada bulan April 2010, proyek kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Denpasar, dan Mataram (JaKaLaDeMa) telah berhasil dirampungkan. Reformasi infrastruktur telekomunikasi melalui proyek Telkom Nusantara Super Highway yang menyatukan nusantara mulai dari Sumatera sampai Papua, serta proyek True Broadband Access yang menyediakan akses internet berkapasitas 20-200 Mbps ke pelanggan di seluruh Indonesia yang masih digunakan sampai sekarang.

B. Visi dan Misi Perusahaan

Adapun Visi dan Misi Perusahaan adalah : 1 Visi PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Menjadikan perusahaan unggul dalam penyelenggaraan TIME (Teknologi, Information, Media and Edutaimen ) di kawasan regional.

2 Misi PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

Menyediakan layanan TIME (Teknologi, Information, Media and Edutaimen ) yang berkualitas tinggi dengan harga kompentitif. Menjadi model pengelolaan korporsi terbaik di Indonesi

C. Struktur Organisasi

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk sudah mengadopsi sebuah pendekatan holding company ke dalam pengelolaan korporasi, yang kami percaya akan menyediakan productive flexibility bagi seluruh entitas bisnis kami sesuai dengan karakteristik masing-masing unit. Dalam rangka implementasi pengelolaan korporasi dengan berkarakteristik holding company, maka:

1. Peran corporate office difokuskan pada Corporate Level Strategy (directing strategy, portfolio strategy dan parenting strategy)

2. Parenting style disesuaikan dengan karakteristik dan tingkat maturity entitas bisnisnya.

3. Empowerment entitas bisnis sesuai dengan karakteristiknya. Untuk itu, pada tahun 2013 kami telah melakukan beberapa perubahan menyangkut pembidangan pembagian tugas dan wewenang masing-masing anggota Direksi, sebagai berikut:

a. Kami merubah pembidangan divisi dari semula di bawah Direktur Enterprise

& Wholesale (“EWS”) menjadi Direktur Enterprise & Business Service yang fokus pada pengembangan segmen bisnis enterprise dan small medium enterprise.

b. Kami merubah pembidangan divisi yang semula di bawah Direktur Compliance & Risk Management (“CRM”) menjadi Direktur Wholesale &

International Service yang fokus pada pengembangan segmen bisnis wholesale. Kami juga mengalihkan tugas dan wewenang pengelolaan

compliance, legal dan risk management ke Head of Compliance, Risk Management & General Affairs.

c. Kami merubah pembidangan divisi yang semula Direktur IT, Solution &

Strategic Portfolio (“ITSSP”) menjadi Direktur Innovation & Strategic Portfolio yang fokus pada upaya inovasi dan pengembangan portofolio bisnis.

d. Kami merubah pembidangan divisi yang semula Direktur NWS menjadi Direktur Network, IT & Solution yang fokus pada pengelolaan dan pendayagunakan infrastructure, IT dan service operation & management, untuk mendukung upaya pengembangan bisnis yang sudah berjalan (established).

e. Kami merubah pembidangan divisi yang semula Human Capital & General Affair menjadi Direktur Human Capital Management yang fokus pada pengelolaan human capital. Kami juga mengalihkan tugas dan wewenang pengelolaan supply ke Head of Compliance, Risk Management & General Affairs. Selain itu untuk mewadahi mekanisme pengelolaan parenting terhadap seluruh portfolio kami secara Group, maka telah dibentuk Board of Executive yang beranggotakan seluruh Direksi Telkom dan beberapa Chief of Business. Chief of Business merupakan sebutan untuk posisi “senior business expert” yang ditempatkan sejajar dengan Direksi Telkom untuk melaksanakan peran sebagai penasehat dalam merumuskan keputusan -keputusan corporate level strategy, mengupayakan harmonisasi hubungan antara entitas anak dengan Telkom sebagai parent.

Sumber : PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk 2014

Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk Keterangan:

1. Direktorat NITS

Fokus pada pengelolaan infrastructure strategy & governance, IT Strategy

& Governance, and Solution serta pengelolaan pendayagunaan IT dan service operation & management, dalam rangka dukungan upaya eksploitasi bisnis yang sudah mapan dan pengendalian operasional infrastruktur melalui Divisi Network of Broadband Information System Center, Divisi Wireless Broadband serta Divisi Broadband.

( Triana Mulyatsa ) Direktur Keuangan

(Honesti Basyir)

2. Direktorat ISP

Fokus pada pengelolaan fungsi Corporate Strategic Planning, Strategic Business Development, Innovation Strategy & Synergy serta pengendalian operasi unit-unit: Divisi Solution Convergence dan Innovation & Design Center.

3. Direktorat CONS

Fokus dalam pengelolaan bisnis segmen konsumer serta pengendalian operasi Divisi Consumer.

4. Direktorat EBIS

Fokus pada pengelolaan bisnis segmen enterprise & small medium enterprise serta pengelolaan Divisi Enterprise Services dan Divisi Business.

5. Direktorat WINS

Fokus pada pengelolaan fungsi penanganan bisnis segmen wholesale dan international, serta pengendalian operasional Divisi Wholesale Services.

6. Direktorat HCM

Fokus pada manajemen SDM Perusahaan serta penyelenggaraan operasional SDM secara terpusat melalui unit Human Capital Center, serta pengendalian operasi unit Telkom Corporate University Center, Assessment Center Indonesia serta Community Development

1) Direktorat KEU

Fokus pada pengelolaan keuangan perusahaan serta mengendalikan operasi keuangan secara terpusat melalui unit Finance, Billing & Collection Center.

Dokumen terkait