BAB I PEDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan bagi pihak perusahaan untuk mengetahui pengaruh perubahan capital structure terhadap tingkat cost of capital pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.
2. Manfaat praktis
Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak perusahaan dalam mengambil keputusan dalam penggunaan modal dan bagi pihak lain penelitian ini juga diharapkan dapat membantu pihak lain dalam penyajian informasi untuk mengadakan penelitian selanjutnya.
3. Kebijakan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan kepada pihak perusahaan terhadap kebijaksanaan penggunaan modal dalam hal ini penggunaan dana yang telah ditempuh, sehingga bisa digunakan sebagai alat perbandingan untuk kebijaksanaan selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Laporan Keuangan
Menurut Irham Fahmi (2013 : 2) Laporan Keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut.
Disisi lain Farid dan Siswanto (1998 : 2) mengatakan “Laporan keuangan merupakan informasi yang diharapkan mampu memberikan bantuan kepada pengguna untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat financial.
lebih lanjut Munawir (2002 : 2) mengatakan “Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.” Dengan begitu laporan keuangan diharapkan dapat akan membantu bagi para pengguna (users) untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat financial.
Secara lebih jelas Sofyan Assauri (2000 : 2) “laporan keuangan merupakan laporan pertanggungjawaban manajemen sumber daya yang dipercayakan kepadanya .” ini sejalan yang dikemukakan oleh Farid Harianto dan Siswanto Sudomo yakni “laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber dana yang dipercayakan kepadanya.” Pihak manajemen memegang peranan penting
dalam membuat laporan keuangan untuk dapat dipahami oleh pihak yang berkepentingan. Ini ditekankan lebih lanjut oleh sofyan assuari bahwa “dalam laporan keuangan terdapat informasi yang menyangkut posisi keuangan suatu perusahaan.”
Adapun menurut Harahap, Sofyan Safri (2013 : 105) Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu prusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal adalah: Neraca atau laporan laba/rugi atau hasil usaha, laporan arus kas.
Laporan perubahan posisi keuangan.
Laporan keuangan yang dipublikasikan dianggap memiliki arti penting dalam menilai suatu perusahaan. Pernyataan ini ditegaskan oleh lev dan thiangarajan (1993 : 3) mengatakan bahwa analisis terhadap laporan keuangan yang merupakan informasi akuntansi ini dianggap penting dilakukan untuk memahami informasi yang terkandung dalam laporan keuangan tersebut.
Pada setiap perusahaan bagian keuangan memegang peranan penting dalam menentukan arah perencanaa perusahaan. Ini seperti dikatakan oleh Napa J.
awat (1999 : 3) bahwa “berfungsinya bagian keuangan merupakan prasyarat bagi kelancaran pelaksanaan kegiatan pada bagian-bagian lainnya.” dengan berfungsinya secara baik bagian keuangan membuat kinerja keuangan yang dilihat dari laporan keuangan perusahaan akan tersaji dengan baik.
Sehingga pihak-pihak yang membutuhkan akan dapat memperoleh laporan keuangan tersebut dan membantunya dalam proses pengambilan keputusan sesuai yang diharapkan. Dalam analisis informasi keuangan, setiap aktivitas bisnis harus
dianalisis secara mendalam baik oleh manajemen maupun oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan yang bersangkutan.
Berdasarkan definisi di atas dapat dipahami bahwa manajemen menyajikan laporan keuangan dan pihak luar perusahaan memanfaatkan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan. Bahwa seorang investor yang ingin membeli atau menjual saham bisa terbantu dengan memahami dan menganalisis laporan keuangan hingga selanjutnya bisa menilai perusahaan mana yang mempunyai prospek yang menguntungkan dimasa depan.
Sebuah laporan keuangan pada umumnya terdiri dari:
1. Neraca
2. Laporan laba rugi
3. Laporan perubahan modal 4. Laporan arus kas
5. Catatan atas laporan keuangan.
Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi kepada pihak yang membutuhkan tentang kondisi suatu perusahaan dari sudut angka-angka dalam suatu moneter.
Laporan keuangan nampaknya sendiri dibutuhkan sebagai sumber informasi keuangan perusahaan bagi para pemakai untuk mengambil keputusan, maka semakin tinggi pula tuntutan kualitas laporan keuangan yang disajikan.
Pemakai laporan keuangan akan merasa puas apabila keingintahunnya mengenai kondisi keuangan perusahaan dapat dapat terpenuhi secara transparan, didukung angka-angka yang handal dan dapat diperbandingkan serta pengungkapan
kebijakan akuntansi yang jelas sesuai standar akuntansi keuangan (SAK). Untuk menyiapkan laporan keuangan berkualitas itu, terkadang masih merupakan hambatan atas sesuatu yang tabu bagi sebagian besar pelaku bisnis negeri kita.
Sikap semacam ini harus segera diubah. Kompetisi global dalam pergaulan internasional, dapat dipastikan memaksa perusahaan untuk membuka diri secara transparan, yang akan tercerminkan dalam laporan keuangan sebagai salah satu alat komunikator, bila mengharap tidak tersisih dari komunitas itu.
B. Pengertian Modal
Modal adalah cermin dari suatu perusahaan karena semakin besar perusahaan maka semakin besar pula modal yang digunakan didalam menjalankan kegiatannya. Untuk mengetahui berapa besar modal yang digunakan di dalam suatu perusahaan dapat dilihat dari neraca perusahaan trersebut.
Menurut kamaruddin (2003 : 47) bahwa modal yang sebenarnya adalah dana yang tetap dari kekayaan produktif yang terwujud dalam bentuk barang-barang modal sebagai berikut:
1. Modal aktif
Berdasarkan lamanya, modal aktif aktif kekayaan suatu perusahaan dapat dibedakan atas aktifa lancar dan aktiva tetap. Perbandingan atau perimbangan antara kedua aktiva tersebut disebut struktur kekayaan. Disebut aktiva tetap karena waktu penggunaanya yang relative lama yaitu lebih dari satu periode akuntansi pada pengeluaran yang dilaksanakan untuk aktiva tersebut,dinikmati dari satu periode. Aktiva tetap ini ada yang terbatas umurnya dilakukan
penyusutan agar nanti setelah aktiva tersebut telah habis ( mencapai umur ekonomis) maka, dapat dibeli baru dengan menggunakan akumulasi penyusustan tadi. Contoh dari aktiva yang terbatas umurnya antara lain: kendaraan, bangunan, masing-masing dan sebagainya.
Sedangkan aktiva tetap yang tidak terbatas umurnya seperti tanah, beberapa aktiva tetap yang tidak berwujud: (hak merek, hak guna bangunan,hak pengelolaan hutang). Disebut dengan pengertian aktiva lancar karena aktiva tersebut biasanya habis dalam satu kegiatan produksi dan dapat diperoleh kembali dalam periode tersebut untuk digunakan kembali dalam proses produksi periode berikutnya. Contoh aktiva lancar adalah uang kas, persediaan barang baku dan persediaan barang jadi dan lain-lain.
2. Modal passif
Apabila kita melihat asalnya, modal passif itu dapat dibedakan antara modal sendiri dan modal asing atau modal badan usaha dan modal kreditur. Modal sendiri atau sering juga disebut modal badan usaha (cadangan penyusutan dan laba yang ditahan) atau yang berasal dari pengambilan bagian peserta atau pemilik ( modal saham, modal peserta dan lain-lain). Modal yang menjadi yang menjadi tanggung jawab terhadap keseluruhan risiko dari perusahaan secara yuridis.
Modal inilah yang merupakan jaminan bagi para kreditur.
Ditinjau dari lama, modal passif dapat dibedakan antara modal pinjaman jangka panjang. Pembagian modal passif dapat juga didasarkan atas dasar likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas. Berdasarkan syarat likuiditas yakni
menurut jangka waktu penggunaanya modal passif dapat dibedakan antara modal jangka panjang dan modal jangka pendek.
Modal ekstern yang jangka waktunya tertentu misalnya modal saham, modal dari perusahaan induk, dimana modal ini akan tetap tertanam dalam perusahaan selama hidupnya. Modal yang jangka waktunya tertentu, misalnya modal obligasi hipotik, dimana modal ini akan tertanam di dalam perusahaan dalam jangka waktu tidak lama yaitu sampai pada saat jatuh temponya untuk segera dilunasi kembali.
Modal jangka pendek yang tidak tertentu waktunya misalnya kredit rekening Koran. Sedangkan kredit jangka pendek yang tentu waktunya misalnya kredit wesel, kredit dari penjualan, kredit dari pembeli dan sebagainya.
Berdasarkan syarat solvabilitas yaitu dalam hubungannya dengan fungsi jaminan. Modal passifa dapat dibedakan antara modal sendiri dan modal pinjaman.
Berdasarkan syarat rentabilitas yaitu dalam hubungannya dengan fungsinya dalam kemampuannya menghasilkan laba. Maka modal passiva dapat dibedakan antar modal dengan pendapatan tetap (modal obligasi) dengan modal pendapatan tidak tetap (modal saham).
Apabila ketiga pembagian modal diatas kita hubungkan satu dengan yang lainnya, maka kita dapat mengatakan bahwa:
a. Modal jangka panjang yang ditarik untuk jangka waktu tertentu atau yang terbatas waktunya (dari sudut likuiditas) adalah modal sendiri. Demikianlah
dilihat dari sudut solvabilitas dan merupakan modal dengan pendapatan tidak tetap (dari sudut rentabilitas).
b. Modal yang ditarik dalam waktu jangka tertentu atau terbatas waktunya (dari sudut likuiditas) adalah modal pinjaman (dari sudut solfabilitas) dan merupakan modal dengan pendapatan tidak tetap (dari sudut rentabilitas).
C. Pengertian Capital Structure
Teori (Capital Structure) struktur modal menjelaskan apakah ada pengaruh perubahan struktur modal terhadap nilai perusahaan, kalu keputusan investasi dana kebijakan dividen dipegang konstan. Dengan kata lain, seandainya perusahaan mengganti sebagian modal sendiri dengan hutang (atau sebaliknya) apakah harga saham akan berubah, apabila perusahaan tidak merubah keputusan-keputusan keuangan lainnya. Dengan kata lain, kalau perubahan struktur modal tidak merubah nilai perusahaan, berarti tidak ada struktur modal yang baik.
Modal yang dipergunakan perusahaan selalu mempunyai biaya. Biaya tersebut bersifat eksplisit dan opportunistic Nampak dan di isyarakat oleh pemodal). Bagi dana yang berbentuk utang, maka biaya dana mudah diidentifikasi, yaitu biaya bunganya, sedangkan bagi dana berbentuk modal sendiri, biaya modalnya tidak Nampak. Meskipun demikian tidak berarti bahwa biaya dananya lebih murah dari dana dalam bentuk hutang. Biaya dana (cost of capital) untuk dana dalam modal sendiri merupakan tingkat keuntungan yang diisyaratkan oleh pemilik dana tersebut sebelum mereka menyerahkan dananya ke
perusahaan. Tingkat keuntungan ini belum tentu lebih kecil apabila dibandingkan dengan bunga pinjaman.
Struktur modal merupakan sesuatu sangat penting dalam pengambilan keputusan keuangan perusahaan, karena langsung berakibat terhadap biaya modal, nilai perusahaan, dan rate of return. Oleh karena itu dalam memenuhi kebutuhan dana, berbagai alternative dengan menggunakan modal sendiri dan modal pinjaman atau kombinasi modal sendiri dengan modal pinjaman, perlu dikembangkan dan dipertimbangkan.
Ada beberapa Pengertian struktur modal menurut Joel G. Siegel dan Jae K.
Shim (1999 : 179) mengatakan capital struckture (struktur modal) adalah komposisi saham biasa, saham preferen, dan berbagai kelas seperti itu, laba yang ditahan, dan utang jangka panjang yang dipertahankan oleh kesatuan usaha dalam mendanai aktiva. Struktur modal adalah pembelanjaan permanen dimana mencerminkan perimbangan antar hutang jangka panjang dengan modal sendiri Riyanto (2010 : 22). Struktur modal (capital structure) suatu perusahaan merupakan salah satu faktor fundamental dalam operasi perusahaan.
Brigham dan Houston (2011 : 155) mengatakan struktur modal yang optimal dapat didefinisikan sebagai “struktur yang memaksimalkan harga saham perusahaan tersebut”. Struktur modal yang baik dan optimal adalah struktur modal yang dapat meminimumkan biaya dan menyeimbangkan risiko dengan tingkat pengembalian. Hal ini didukung oleh pendapat Husnan (2010 : 299), yang menyatakan bahwa “struktur modal yang dapat memaksimumkan nilai perusahaan atau harga saham adalah struktur modal yang terbaik”. Struktur modal erat
kaitannya dengan harga saham, ini dikarenakan salah satu unsur yang membentuk harga saham adalah persepsi investor atas kinerja perusahaan, dan struktur modal adalah salah satu unsur yang menentukan baik buruknya kinerja perusahaan.
Capital structure atau struktur modal menurut Ambarwati (2010 : 138) mendefinisikan bahwa : “ Struktur modal optimal yaitu memaksimumkan nilai perusahaan adalah juga salah satu yang dapat meminimalkan biaya modal (Cost of capital).” Sedangkan menurut Weston dan Copeland (2005 : 129) mengatakan bahwa struktur modal adalah pembiayaan permanen yang terdiri dari utang jangka panjang, saham preferen dan modal pemegang saham. Sedangkan menurut Riyanto (2010 : 22) memberikan gambaran tentang pengertian struktur modal struktur modal adalah pembelanjaan permanen di mana mencerminkan perimbangan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Apabila struktur financial tercermin pada keseluruhan passive dalam neraca, maka struktur modal hanya tercermin pada utang jangka panjang dan unsur-unsur modal sendiri, di mana kedua golongan tersebut merupakan dana permanen atau dana jangka panjang.
Berdasarkan beberapa referensi tersebut, penulis dapat menyimpulakan bahwa struktur modal adalah proporsi dalam menentukan pemenuhan kebutuhan belanja perusahaan, dimana dana yang diperoleh menggunakn kombinasi atau panduan sumber yang berasal dari dana jangka panjang yang terdiri dari dua sumber utama, yakni yang berasal dari dalam dan luar perusahaan.
Sehingga dapat dimengerti bahwa struktur modal merupakan gambaran dari bentuk proporsi financial perusahaan yaitu antara modal yang dimiliki yang bersumber dari utang jangka panjang (long-term liabilities)dan modal sendiri (shareholders’ equity) yang menjadi sumber pembiayaan perusahaan. kebutuhan
dana untuk memperkuat struktur modal suatu perusahaan dapat bersumber dari internal dan eksternal, dengan ketentuan sumber dana yang dibutuhkan tersebut bersumber dari tempat-tempat yang dianggap aman (safety position) dan jika dipergunakan memiliki nilai dorong dalam memperkuat struktur modal keuangan perusahaan. dalam artian ketika dana itu dipakai untuk memperkuat struktur modal perusahaan, maka perusahaan mampu mengendalikan modal tersbut secara efektif dan efisien serta tepat sasaran.
Yang menjadi masalah dari struktur modal adalah bagaimana agar perusahaan dengan cepat memadukan komposisi dana permanen yang digunakannya dengan mencari paduan dana yang dapat meminimumkan biaya modal perusahaan dan dapat memaksimalkan harga saham. Hal inilah yang menjadi tujuan akhir dari struktur modal, yakni membuat komposisi sumber pembiayaan yang paling optimal.
D. Sasaran Capital Structure
Menurut Brigham, Houston, (2014 : 155) Sasaran struktur modal (optimal capital structure) suatu perusahaan didefinisikan sebagai struktur yang akan memaksimalkan harga saham perusahaan tersebut. Menganalisis situasi dan mencoba untuk menentukan struktur optimal yang tentunya akan bermanfaat,
tetapi pada praktiknya akan sulit untuk mengestimasi secara pasti. Akibatnya, dalam praktinya cenderung membayangkan struktur modal yang optimal dalam suatu rentang nilai, misalnya, 40 sampai 50 persen yang terdiri atas utang, dan bukan suatu angka pasti seperti, misalnya 45 persen. Perusahaan pada umumnya mempelajari situasi, mengambil kesimpulan tentang struktur yang optimal, dan menentukan suatu sasaran struktur modal (target capital strcture), mungkin berupa angka tetap seperti utang 45 persen. Selanjutnya, jika rasio utang aktual di bawah tingkat sasaran, perusahaan akan menghimpun modal dengan menerbitkan utang, sementara jika rasio utang di atas sasaran, maka yang akan digunakan adalah ekuitas. Sasaran dapat berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan kondisi, tetapi pada satu waktu, manajemen biasanya memiliki satu struktur spesifik yang menjadi acuan.
Penentuan struktur modal akan melibatkan pertukaran antara risiko dan pengembalian:
1. Menggunakan utang dalam jumlah yang lebih besar akan meningkatkan risiko yang ditanggung oleh pemegang saham.
2. Namun, Menggunakan lebih banyak utang pada umumnya akan meningkatkan perkiraan pengembalian atas ekuitas.
Risiko yang makin tinggi terkait dengan utang dalam jumlah yang lebih besar cenderung akan menurunkan harga saham, tetapi perkiraan tingkat pengembalian yang lebih tinggi diakibatkan oleh utang yang lebih besar akan menaikkannya. Jadi, kita berusaha untuk mencari struktur modal yang menghasilkan keseimbangan antara risiko dan pengembalian yang akan
memaksimalkan harga saham. terdapat empat faktor yang mempengaruhi keputusan struktur modal:
1. Risiko usaha, atau tingkat risiko yang inheren dalam oprasi perusahaan jika perusahaan tidak menggunakan utang. Makin besar risiko usaha perusahaan, makin rendah rasio utang optimalnya.
2. Posisi pajak perusahaan. Salah satu alasan utama digunakannya utang adalah karena bunga merupakan pengurang pajak, selanjutnya menurunkan biaya utang efektif. Akan tetapi, jika sebagian besar laba suatu perusahaan telah dilindungi dari pajak oleh perlindungan pajak yang berasal dari penyusutan, maka bunga atas utang yang saat ini blum dilunasi, atau kerugian pajak yang dibawah ke periode berikutnya, akan menghsilkan tarif pajak yang rendah.
Akibatnya, tambahan utang tidak akan memiliki keunggulan yang sama jika dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki tarif pajak efektif yang lebih tinggi.
3. Fleksibilitas keuangan, atau kemampuan untuk menghimpun modal dengan persyaratan yang wajar dalam kondisi yang buruk. Bendahara perusahaan tau bahwa pasokan modal yang lancar dibutuhkan oleh oprasi yang stabil, selanjutnya memiliki arti yang sangat penting bagi keberhasilan jangka panjang
4. Konservatisme atau keagresifan manajerial. Beberapa manajer lebih agresif dibandingkan manajer yang lain, sehingga mereka lebih bersedia untuk menggunakan utang sebagai usaha untuk meningkatkan laba. Faktor ini tidak mempengaruhi struktur modal optimal yang sebenarnya, atau struktur modal
yang memaksimalkan nilai, tetapi ia memang akan memengaruhi sasaran struktur modal perusahaan.
Keempat hal di atas memiliki pengaruh yang besar pada sasaran struktur modal, namun kondisi oprasional dapat menyebabkan struktur modal aktual berbeda dari sasaran. Misalnya, harga saham aktual suatu perusahaan mungkin karena beberapa alasan tertentu yang berada jauh dibawah nilai intrinsik seperti yang diyakini oleh manajemen.
E. Teori Capital Structure
Risiko usaha merupakan suatu determinan penting struktur modal yang optimal, dan perusahaan pada berbagai industri memiliki risiko-risiko yang berbeda-beda, sehingga kita beranggapan bahwa struktur modal akan sangat bervariasi di antara masing-masing industri.
Teori struktur modal modern dimulai pada tahun 1958, ketika Professor Franco Modigliani dan Merton Miller (selanjutnya disebut MM) menerbitkan apa yang disebut sebagai artikel keuangan paling berpengaruh yang pernah ditulis.
MM membuktikan, dengan menggunakan sekumpulan asumsi yang patut dipertanyakan, bahwa nilai suatu perusahaan seharusnya tidak dipengaruhi oleh struktur modalnya. Atau dengan kata lain, hasil yang diperoleh MM menunjukan bahwa bagaimana cara perusahaan mendanai oprasinya tidak memiliki pengaruh, sehingga struktur modal adalah suatu yang tidak relevan. Akan tetapi, asumsi-asumsi yang menjadi dasar studi MM bukanlah asumsi-asumsi yang realitas, sehingga
hasil yang mereka peroleh menjadi dipertanyakan. Berikut adalah daftar sebagian asumsi-asumsi yang mereka ambil:
1. Tidak ada biaya piulang.
2. Tidak ada pajak.
3. Tidak ada biaya kebangkrutan.
4. Investor dapat meminjam dengan tingkat yang sama seperti perusahaan.
5. Seluruh investor memiliki informasi yang sama seperti manajemen tentang peluang investasi perusahaan dimasa depan.
6. Pendapatan sebelum bunga dan pajak (EBIT) tidak dipengaruhi oleh penggunaan utang.
Modigliani Miller juga menjelaskan bahwa pembiayaan modal perusahaan yang berasal dari luar perusahaan , baik berupa penerbitan obligasi ataupun pinjaman jangka panjang mempunyai biaya yang relative lebih kecil dibandingkan biaya modal sendiri. Hal tersebut disebabkan karena pertama, penghasilan yang diterima oleh pemilik modal sendiri bersifat lebih tidak pasti dibandingkan dengan pemberian kredit. Kedua, karena dalam peristiwa likuidasi pemilik modal sendiri akan menerima bagian paling akhir setelah kredit-kredit dilunasi. Selain itu dilihat dari segi pajak penggunaa utang (jangka panjang), biaya bunga dapat digunakan untuk mengurangi penghasilan yang dikenakan pajak (tax deductibilityof interest payment). Menghemat pajak merupakan manfaat bagi pemilik perusahaan. Namun yang terpenting dalam keputusan perusahaan menentukan proporsi paduan jenis atau sumber pembiayaan haruslah memperhatikan risiko.
Kajian tentang teori struktur modal telah banyak dibahas diberbagai buku teks baik yang ditulis oleh penulis domestik maupun asing, dan secara umum teori yang membahas tentang struktur modal ada dua yaitu:
1. Balancing theories, dan 2. Packing order theory.
1. Balancing theories
Balancing theories merupakan suatu kebijakan yang ditempuh oleh perusahaan untuk mencari dana tambahan dengan cara mencari pinjaman baik ke perbankan atau juga dengan menerbitkan obligasi (bonds). Obligasi adalah sebuah surat berharga (commercial paper) yang mencantumkan nilai nominal, tingkat suku bunga, dan jangka waktu dimana itu dikeluarkan baik oleh perusahaaan ataupun government untuk kemudian dijual kepada publik.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa menjual obligasi adalah artinya berutang pada publik atau perusahaan melakukan penambahan long term liabilities-nya. Maka penerapan balancing theories juga memungkinkan deterapkan oleh suatu pemerintahan adalah dengan cara melakukan pinjaman ke pihak asing seperti pemerintah Negara asing atau juga pada lembaga donator internasional seperti World Bank, International Monetery Fund, Asian Development Bank, dan lembaga lainnya.
Ada beberapa bentuk risiko yang harus ditanggung oleh perusahaan pada saat kebijakan balancing theories diterpkan, yaitu:
a. Jika perusahaan meminjam dana ke perbankan, maka dibutuhkan jaminan atau agunan seperti tanah, gedung, kendaraan dan sejenisnya. Dan jika
angsuran kredit tersebut terlambat dibayar perbankan akan memberikan teguran dalam bentuk tulisan dan lisan. Persoalannya adalah seandainya perusahaan tidak mampu lagi membayar angsuran di atas batas waktu yang ditentukan /dtolerir maka agunan tersebut diambil dan dilelang oleh perbankan untuk menutupi kerugian sejumlah nilai pinjaman. Artinya perusahaan telah kehilanga asset yang digunakan tersebut.
b. Jika kebutuhan dana dengan cara menjual obligasi. Bentuk risiko yang dihadapi adalah jika seandainya tidak sanggup membayar bunga obligasi secara tepat waktu atau bergeser dari waktu yang disepakati maka perusahaan harus melakukan berbagai kebijakan untuk mengatasi ini, termasuk mengonversi dari pemegang obligasi ke pemegang saham.
c. Risiko selanjutnya terhadap masalah yang dialami oleh perusahaan tersebut adalah telah menyebabkan nilai perusahaan di mata publik terjadi penurunan, karena publik menilai kinerja keuanagan perusahaan tidak baik khusunya dalam kemampuan manajemen struktur modal (capital structure manajement).
2. Packing order theory
Packing order theory merupakan suatu kebijakan yang ditempuh oleh
Packing order theory merupakan suatu kebijakan yang ditempuh oleh