BAB II LANDASAN TEORI
A. Deskripsi Teoretik
3. Anak Usia Dini
a. Pengertian Anak Usia Dini
Anak usia dini adalah anak yang berada pada usia 0-8 tahun.
Menurut Beichler dan Snowman dalam Dwi Yulianti bahwa, “anak usia dini adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun”.24 Sedangkan hakikat anak usia dini adalah individu yang unik dimana ia memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik, kognitif, sosio emosional, kreativitas, bahasa dan komunikasi yang khusus yang sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut.
Dari berbagai definisi, peneliti menyimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun yang sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental.
Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah “golden age”
atau masa emas. Pada masa ini hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat
24 Dwi Yulianti, Bermain sambil Belajar Sains di Taman Kanak-kanak, (Jakarta: PT Indeks, 2010), h. 7.
dan hebat. Perkembangan setiap anak tidak sama karena setiap individu memiliki perkembangan yang berbeda. Makanan yang bergizi dan seimbang serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tersebut. Apabila anak diberikan stimulasi secara intensif dari lingkungannya, maka anak akan mampu menjalani tugas perkembangannya dengan baik.
b. Prinsip Perkembangan Anak Usia Dini
Aspek-aspek perkembangan anak seperti aspek fisik, sosial, emosional, dan kognitif satu sama lain saling terkait secara erat.
Perkembangan anak tersebut terjadi dalam suatu urutan yang berlangsung dengan rentang bervariasi antar anak dan juga antar bidang perkembangan dari masing-masing fungsi. Perkembangan berlangsung ke arah kompleksitas, organisasi, dan internalisasi yang lebih meningkat. Pengalaman pertama anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak. Perkembangan dan belajar dapat terjadi karena dipengaruhi oleh konteks sosial dan kultural yang merupakan hasil dari interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial tempat anak tinggal. Perkembangan mengalami percepatan bila anak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan-keterampilan yang baru diperoleh dan ketika mereka mengalami tantangan. Sarana penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif anak serta merefleksikan perkembangan anak yaitu dengan bermain.
Melalui bermain anak memiliki kesempatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya sehingga anak disebut dengan pembelajar aktif. Anak akan berkembang dan belajar dengan baik apabila berada dalam suatu konteks komunitas yang aman (fisik dan psikologi), menghargai, memenuhi kebutuhankebutuhan fisiknya, dan aman secara psikologis. Anak menunjukkan cara belajar yang berbeda untuk mengetahui dan belajar tentang suatu hal yang kemudian mempresentasikan apa yang mereka tahu dengan cara mereka sendiri.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian yang memiliki relevansi dengan penelitian ini adalah beberapa hasil penelitian yang dihasilkan oleh para peneliti terdahulu sebagai berikut:
Pertama, penelitian yang telah dilaksanakan oleh Hasnidar pada tahun 2015 dengan judul penelitian “Penerapan Metode Story Reading untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Anak Usia 5-6 Tahun di TK Melati / ABA 005 Pulau Bali”. Kesimpulannya adalah 1) Dengan menggunakan metode story reading dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak pada usia 5-6 tahun di TK Melati/ ABA 005 Pulau Balai. 2) Metode story reading yang menarik dengan warna-warni mencolok akan disukai anak-anak dan memberikan daya tarik untuk melihatnya, sehingga akan meningkatkan motivasi anak dalam belajar. 3) Persentase peningkatan kemampuan berbicara anak pada usia 5-6 tahun dengan menggunakan metode Story Reading di TK
Melati / ABA 005 Pulau Balai, dari data awal ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 32,2%.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Hajrah pada tahun 2015 dengan judul penelitian “Pengembangan Metode Bercerita pada Anak Usia Dini”.
Kesimpulannya adalah hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tingkat kebutuhan pengembangan metode bercerita menjadi kebutuhan pengembangan walaupun sebelumnya metode tersebut bukan metode pembelajaran baru bagi anak didik untuk diberikan namun dalam mempelajarinya perlu diberikan pemahaman awal dari konsep dasar pembelajarannya; (2) Prototipe metode bercerita bagi anak usia dini terdiri atas dua jenis kegiatan meliputi: (1) bercerita dengan gambar seri, dan (2) mendongeng. Semua kegiatan tersebut bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak namun dalam pelaksanaannya memiliki keterbatasan atau kekurangan; dan (3) Tingkat validitas dan kepraktisan pengembangan metode bercerita pada anak usia dini menunjukkan bahwa penilaian validator dari semua perangkat yang telah disajikan dapat dinyatakan valid untuk digunakan dan pengembangan metode bercerita memenuhi aspek praktis sehingga layak digunakan.
C. Kerangka Berpikir
Pengajaran keterampilan berbahasa lisan akan membawa hasil yang maksimal apabila dilandasi dengan beberapa landasan sebagaimana disebutkan oleh Martini Jamaris sebagai berikut, “(1) tujuan yang jelas, (2)
materi yang disusun secara sestimatis, (3) usaha menumbuhkan partisipasi aktif bagi siswa, (4) mengembangkan kreativitas siswa, dan (5) menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan”.25
Secara praktik keterampilan bercerita membutuhkan latihan dan pengarahan pembelajaran yang intensif. Namun demikian, pembelajaran bercerita di sekolah mendapatkan jadwal yang sangat minimal. Selain keterbatasan waktu, lemahnya kemampuan bercerita dipengaruhi oleh metode pembelajaran yang kurang efektif. Penyampaian materi disampaikan hanya melalui ceramah dan interaksi satu arah.
Untuk mengatasi hal tersebut, guru hendaknya menggunakan alternatif dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat. Metode yang dirasa tepat untuk mengatasi masalah di atas adalah menggunakan pengembangan metode bercerita. Pengembangan metode bercerita dengan berpasangan memudahkan siswa memahami konsep tentang benda-benda secara utuh, misalnya ukuran, sifat, dan bentuk. Pengembangan metode bercerita dengan cara berpasangan juga dapat merangsang siswa untuk berbahasa secara lisan dengan baik, misalnya sebagai model untuk mengungkapkan emosinya.
Anak-anak sering melakukan percakapan dengan teman yang menurut mereka menarik, mereka berimajinasi seolah-olah teman merupakan orang yang mengertia perasaan dan masalah mereka. Oleh karena itu bercerita berpasangan dapat mempermudah siswa dalam bercerita.
25 Martini Jamaris, Op.Cit., h. 15
Salah satu prinsip pembelajaran di TK yakni bermain sambil belajar.
Belajar seraya bermain. Bermain merupakan alat yang paling kuat untuk membelajarkan kemampuan berbahasa anak. Melalui komunikasi inilah anak dapat memperluas kosa kata dan mengembangkan daya penerimaan serta pengekspresian kemampuan bercerita mereka melalui interaksi dengan anak-anak lain dan orang dewasa pada situasi bermain spontan.