• Tidak ada hasil yang ditemukan

12. Dasar Pengelolaan Terumbu Karang dan Ikan Karang Basic

3.4 Analisa Data

3.4.1 Persentase tutupan substrat bentik ekosistem terumbu karang

Kondisi terumbu karang dapat diduga melalui pendekatan persentase penutupan karang keras pada ekosistem terumbu karang sebagaimana yang dijelaskan oleh Gomez dan Yap (1988). Semakain kecil persentase penutupan karang hidup yang diperoleh maka makin sedikit pula asosiasi terumbu karang yang hidup di dalamnya. Persentase penutupan karang keras dan persentase penutupan biota pengisi habitat bentik lainnya diolah dengan menggunakan program lunak Coral Point Count with Excell extension (CPCe) yang dikembangkan oleh Kohler dan Gill (2006). Program ini merupakan varian dari program Visual Basic.

Penilaian kondisi terumbu karang didasarkan pada persentase tutupan karang keras mengacu pada kategorikan Gomez and Yap (1988) seperti disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3 Kriteria penilaian kondisi ekosistem terumbu karang berdasarkan persentase penutupan karang (Gomez and Yap 1988)

Persentase Penutupan (%) Kriteria Penilaian

0 – 24.9 Buruk

25 – 49.9 Sedang

50 – 74.9 Baik

75 – 100 Sangat baik

3.4.2 Ikan ekor kuning

3.4.2.1 Kelimpahan ikan ekor kuning

Analisis kelimpahan ikan ekor kuning yang berada di daerah terumbu karang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

n

X

X

i

Dimana :

X = Kelimpahan Ikan

Xi = Jumlah ikan pada stasiun pengamatan ke-i n = Luas terumbu karang yang diamati (m2)

3.4.2.2 Kondisibiometri

Hubungan panjang berat dianalisis dengan model atau persamaan Hile (1936) dalam Effendie (1997), sebagai berikut:

W = aL

b

Untuk jumlah sampel kecil maka menggunakan teknik perhitungan menurut Rounsefeell dan Everhart (1960) yaitu :

Log W = log a + b log L

Dimana :

W = berat ikan (gram) L = panjang ikan (cm) a dan b = konstanta.

Harga ”b” berkisar antara 2.0-3.5. Harga b yang mungkin timbul selain b < 3, juga b = 3 atau b > 3. Masing-masing harga ”b” yang demikian itu dapat ditafsirkan sebagai berikut:

b = 3 : Pertumbuhan bersifat isometrik karena pertambahan panjang dan berat ikan seimbang (ideal).

b > 3 atau b < 3 : Pertumbuhan ikan bersifat allometrik atau kurang baik karena pertumbuhan berat dan panjang tidak sebanding. Sifat allometrik ini dibagi menjadi 2 golongan yaitu : Bila b < 3 berarti pertumbuhan panjang lebih cepat jika dibandingkan dengan pertumbuhan berat sehingga ikan kelihatan kurus dan tidak normal, terlihat terlalu panjang. Bila b > 3 berarti pertumbuhan berat lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan panjang sehingga ikan kelihatan gemuk dan tidak normal.

Nilai ”b” yang didapat dari hasil perhitungan tersebut, akan dilakukan uji statistik (regresi) untuk melihat sejauh mana keeratan hubungan nilai ”b” atau menguji keertan hubungan antara pertumbuhan berat dan pertumbuhan panjang.

3.4.2.3Tingkatkematangan gonad (TKG)

Data tingkat kematangan gonad untuk ikan ekor kuning diperoleh berdasarkan analisa terhadap kondisi gonat yang dilakukan di laboratorium, berpedoman pada lima tingkatan menurut klasifikasi kematangan gonad ikan laut (Romimohtarto dan Juwana 2001), seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4 Klasifikasi kematangan gonad ikan laut

Tingkat Keadaan Gonad Deskripsi

I Tidak matang

(immature)

Gonad memanjang, kecil hampir transparan

II Sedang Matang

(maturing)

Gonad membesar, berwarna jingga kekuning-kuningan, butiran telur belum terlihat dengan mata telanjang

III Matang (mature) Gonad berwarna putih kekuningan, butiran telur sudah

dapat terlihat dengan mata telanjang

IV Siap Pijah Butiran telur membesar dan berwarna kuning jernih,

dapat keluar dengan sedikit tekanan pada perut

V Pijah (spent) Gonad mengecil, berwarna merah dan banyak terdapat

pembuluh darah

3.4.2.4Jenismakanan

Kodisi dan pola pertumbuhan dari makluk hidup salah satunya dipengaruhi oleh ketersediaan makanan. Makanan merupakan salah satu faktor ekologis yang memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan. Data jenis makan ikan ekor kuning, dianalisis berdasarkan komposisi isi lambung yang dilihat dengan menggunakan mikroskop dengan cara komposisi isi lambung dari setiap ekor ikan di letakan dalam preparat lalu melihat frekwensi kejadiannya, dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali dan hasilnya dijumlahkan. Komposisi jenis makanan dihitung berdasarkan total dari hasil analisas masing-masaing isi lambung ikan. Hasil perhitungan tersebut dapar memberikan informasi mengenai komposisi makanan utama dari ikan ekor kuning.

Untuk kelimpahan plankton di perairan dihitung mengunkan metode sapuan diatas gelas obyek Sedwigck Rafter (Basmi 2000) dengan satuan individu per meter kubik (individu/m3) :

Dimana :

N = Jumlah total individu plankton per m3 (Individu/m3) ni = Jumlah individu ke-i yang tercacah (indvidu)

Vd = Volume air contoh yang disaring (l) Vt = Volume air contoh yang tersaring (100 ml)

Vs = Volume air pada Sedwigck Rafter counting cell volume (1 ml)

Mengetahui kuatnya hubungan antara kelimpahan plankton sebagai makanan dengan kelimpahan ikan ekor kuning dilanjutkan dengan regresi.

3.4.3 Pengelompokan habitat

Pengelompokan habitat dilakukan berdasarkan pengelompokan substrat bentik, menggunakan cluster analysis berdasrkan indeks kesamaan Bray-Curtis. Indeks yang diolah menggunakan program MVSP (Multi Variate Statistical

Package). Rumus Bray-Curtis dalam Clifford dan Stephenson (1975) adalah

sebagai berikut:

Keterangan:

S = indeks kesamaan Bray-Curtis

Xi1= tutupan karang jenis ke-i pada stasiun pertama Xi2= tutupan karang jenis ke-i pada stasiun kedua

3.4.4 Keterkaitan sumberdaya ikan ekor kuning dengan karakteristik habitat

Pengelompokan habitat di atas akan menunjukan dendrogram yang mengelompokan lokasi-lokasi penelitian sesuai dengan variabel-variabel yang mempunyai kemiripan sangat dekat sesuai titik potong yang terbentuk. Kemiripan variabel antar lokasi penelitian tersebut merupakan ciri yang membedakan kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Selanjutnya untuk kelimpahan ikan dari tiap lokasi penelitian dikelompokan sesuai kelompok yang sudah terbentuk.

Berdasarkan ciri kelompok yang terbentuk dan kelimpahan ikan dari masing-masing kelompok maka dapat dideskripsi mengenai keterkaitan sumberdaya ikan ekor kuning dengan karakteristik habitat pada ekosistem terumbu karang.

3.4.5 Rekomendasi pengelolaan ekosistem terumbu karang dan ikan ekor kuning secara terpadu dan berkelanjutan

Rekomendasi pengelolaan terhadap ekosistem terumbu karang dan sumberdaya ikan ekor kuning secara ekologis dalam penelitian ini adalah berdasarkan pada kondisi ekosistem terumbu karang, kondisi sumberdaya ikan ekor kuning dan keterkaitan antara sumberdaya ekor kuning dengan karakteristik habitat.