Terumbu karang merupakan komunitas organisme yang hidup di dasar perairan dan berupa batuan kapur (CaCO3) yang cukup kuat untuk menahan gaya
gelombang laut. Coral reefs are a community of organisms that live at the bottom of the water and limestone (CaCO3)is strong enough to withstand the force of waves. Pada dasarnya terumbu karang merupakan endapan padat kalsium karbonat (kapur) yang diproduksi oleh hewan karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur dan organisme lainnya yang menghasilkan kalsium karbonat. Basically coral reefs are dense deposits of calcium carbonate (lime) is produced by coral animals with a little extra from chalky algae and other organisms that produce calcium carbonate. Klasifikasi ilmiah menunjukan bahwa karang termasuk kelompok binatang dan bukan sebagai kelompok tumbuhan. Scientific classification showed that the rocks belonged to the animal and not as a group of plants. Hewan karang ini termasuk dalam filum Cnidaria, kelas Anthozoa, ordo Scleractinia (Baker et al. 1991). This reef animals included in the phylum
Cnidaria, class Anthozoa, order Scleractinia (Baker et al. 1991). Organismen yang dominan hidup di terumbu karang adalah binatang-binatang karang yang
mempunyai kerangka kapur dan algae yang diantaranya banyak mengandung kapur (Supriharyono 2000). Dalam hal kemampuan membentuk terumbu, karang dapat dibedakan atas karang hermatipik yaitu karang yang mampu membangun terumbu dan karang ahermatipik yaitu karang yang tidak mampu membentuk terumbu. Organismen the dominant life on the coral reef is a reef animals that have a skeleton of limestone and algae are among many contain lime
(Supriharyono 2000). In the event that the ability to form coral, coral reefs can be distinguished on hermatipik is capable of building reefs and coral reefs are
ahermatipik coral reefs can not form. Karang banyak dijumpai diantara 30oLU dan 25oLS. Reefs are often found between 30oN and 25oLS. Hewan ini kebanyakkan bersifat nocturnal. Hal ini dikarenakan mangsanya berupa
zooplankton, banyak muncul dimalam hari dan karang merupakan hewan karnivora (Veron 1986). Is not most animals are nocturnal. This is because the prey of zooplankton, many come at night and now are carnivores (Veron 1986). Morfologi skeleton karang merupakan hasil jadi dari bentuk pertumbuhan koloni karang. Morphological skeleton so now is a result of the growth of coral colonies. Istilah yang paling umum digunakan oleh Veron (1986) untuk mengambarkan bentuk pertumbuhan karang yang menghasilkan morfolgi karang yaitu massive (sama dalam semua dimensi), columnar (berbentuk tonggak), branching (seperti cabang pohon atau jari), encrusting (melekat pada substrata atau berbentuk kerak,
foliaceous (seperti daun), lamina r (seperti lempengan) dan free livi ng ( hidup
lepas dari substrat). The most common term used by Veron (1986) to describe the growth of coral reefs that generate massive morfolgi (equal in all dimensions),
columnar (pillar-shaped), branching (such as tree branches or fingers), encrusting
(attached to the substrata or shape crust, foliaceous (like leaves), lamina r (such as the slab) and free Livi ng (living away from the substrate).
Veron (1986) dan Wallace (1998) mengemukakan bahwa ekosistem terumbu karang adalah unik karena umumnya hanya terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas,
sedimentasi, eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami ( pristine). Tahun 1998 telah terjadi perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis sehingga menyebabkan pemutihan karang ( coral
bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Veron (1986)
and Wallace (1998) suggests that the coral reef ecosystem is unique because it is generally only found in tropical waters, is very sensitive to changes in the environment, especially temperature, salinity, sedimentation, eutrophication and require the quality of natural waters (PRISTINE). Year 1998 has been
environmental temperature changes due to global warming that hit the tropical waters causing coral bleaching (coral bleaching), followed by mass death reaches 90-95%. Suharsono (1998) mencatat selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2-3oC di atas suhu normal. Suharsono (1998) recorded during the bleaching event, the average surface temperature of the water in Indonesian waters is 2-3oC above normal temperatures.
Selain dari perubahan suhu, maka perubahan pada salinitas juga akan
mempengaruhi terumbu karang. Apart from changes in temperature, the change in salinity will also affect the coral reefs. Hal ini sesuai dengan penjelasan McCook (1999) bahwa curah hujan yang tinggi dan aliran material permukaan dari daratan ( mainland run off) dapat membunuh terumbu karang melalui peningkatan
sedimen dan terjadinya penurunan salinitas air laut. This is consistent with the explanation McCook (1999) that high rainfall and the flow of surface materials from the mainland (mainland run-off) can kill coral reefs by increasing the
hara ( nutrient overload) berkontribusi terhadap degradasi terumbu karang melalui peningkatan pertumbuhan makroalga yang melimpah ( overgrowth) terhadap karang. The next effect is the excess of nutrients (nutrient overload) contribute to the degradation of coral reefs through increased growth of abundant makroalga
(overgrowth) of the reef.
Meskipun beberapa karang dapat dijumpai dari lautan subtropis tetapi spesies yang membentuk karang hanya terdapat di daerah tropis. Although some corals can be found from the subtropical oceans, but the species that make up coral found only in the tropics. Kehidupan karang di lautan dibatasi oleh kedalaman yang biasanya kurang dari 25 m dan oleh area yang mempunyai suhu rata-rata minimum dalam setahun sebesar 100C. Reefs in the sea of life is limited by the depth of which is usually less than 25 m and the area has an average temperature of the year for a minimum of 100C. Pertumbuhan maksimum terumbu karang terjadi pada kedalaman kurang dari 10 m dan suhu sekitar 25oC sampai 290C. The maximum growth of coral reefs occur at depths less than 10 m and a
temperature around 25oC to 290C. Karena sifat hidup inilah maka terumbu karang banyak dijumpai di Indonesia (Hutabarat dan Evans 1985). Because of the nature of live coral reef is so often found in Indonesia (Hutabarat and Evans 1985).
Selanjutnya Nybakken (1992) mengelompokkan terumbu karang menjadi tiga tipe umum yaitu terumbu karang tepi ( Fringing reef/shore reef), terumbu karang penghalang ( Barrier reef) dan terumbu karang cincin ( atoll ). Diantara ketiga struktur tersebut, terumbu karang yang paling umum dijumpai di perairan Indonesia adalah terumbu karang tepi (Suharsono 1998). Next Nybakken (1992) classify coral reefs into three general types of coral reef edge (Fringing Reef /
shore reef), coral reef barrier (Barrier Reef) and coral reefs ring (atoll). Among
these three structures, coral reefs are the most common in Indonesian waters is the coral reef edge (Suharsono 1998). Penjelasan ketiga tipe terumbu karang sebagai berikut : Explanation of the three types of coral reefs as follows:
1. Terumbu karang tepi ( fringing reef) ini berkembang di sepanjang pantai dan mencapai kedalaman tidak lebih dari 40 m. Coral reef edge (fringing
reef) was developed along the coast and reaches depths of no more than 40
m. Terumbu karang ini tumbuh ke atas atau kearah laut. Coral reefs grow upward or toward the sea. Pertumbuhan terbaik biasanya terdapat dibagian yang cukup arus. The best growth is usually located in the current enough. Sedangkan diantara pantai dan tepi luar terumbu, karang batu cenderung mempunyai pertumbuhaan yang kurang baik bahkan banyak mati karena sering mengalami kekeringan dan banyak endapan yang datang dari darat. Meanwhile, among the outer edge of the beach and coral, coral stones tend to have less well pertumbuhaan even many die because of frequent
drought and lots of sediment that comes from the land.
2. Terumbu karang tipe penghalang ( Barrief reef) terletak di berbagai jarak kejauhan dari pantai dan dipisahkan dari pantai tersebut oleh dasar laut yang terlalu dalam untuk pertumbuhan karang batu (40-70 m). Coral reefs are the type of barrier (Barrief reef) located at various distances and the
distance from the beach is separated from the beach by the sea is too deep for the growth of coral stone (40-70 m). Umumnya memanjang menyusuri pantai dan biasanya berputar-putar seakan–akan merupakan penghalang bagi pendatang yang datang dari luar, contohnya adalah The Great Barier
Reef yang berderet disebelah timur laut Australia dengan panjang 1.350
mil. Generally extends along the coast and are usually round and round as if a barrier for immigrants who come from outside, for example is The
Great barrier Reef lined the ocean east of Australia with a length of 1350
miles.
3. Terumbu karang cincin ( atoll ) yang melingkari suatu goba ( laggon ). Coral reefs ring (atoll) encircling a goba (laggon). Kedalaman goba didalam atol sekitar 45 m jarang sampai 100 m seperti terumbu karang penghalang, contohnya adalah atol di Pulau Taka Bone Rate di Sulawesi Selatan. Goba depth within the atoll approximately 45 m to 100 m are rarely as barrier reefs, atolls example is the island of Taka Bone Rate in South Sulawesi.
Moberg dan Folke (1999), menyatakan bahwa fungsi ekosistem terumbu karang yang mengacu kepada habitat, biologis atau proses ekosistem sebagai
penyumbang barang maupun jasa. Moberg and Folke (1999), states that the coral reef ecosystem function that refers to the habitat, biological or ecosystem
processes as a contributor of goods and services. Sebagai penyumbang barang yaitu terkait dengan sumberdaya pulih seperti bahan makanan (ikan, rumput laut) dan tambang (pasir dan karang). As a contributor of goods that is associated with recovery resources such as food (fish, seaweed) and mining (sand and rocks). Sedangkan sebagai penyumbang jasa, ekosistem terumbu karang terdiri dari : Meanwhile, as a contributor to the service, the coral reef ecosystem consists of:
1. Jasa struktur fisik sebagai pelindung pantai. Services as a protector of the physical structure of the beach.
2. Jasa biologi sebagai habitat dan dan suport mata rantai kehidupan. Services as habitat and biology and life suport chain.
3. Jasa biokimia sebagai fiksasi nitrogen. Biochemistry services as nitrogen fixation.
4. Jasa informasi sebagai pencatatan iklim. Information services as the climate record.
5. Jasa sosial dan budaya sebagai nilai keindahan, rekrasi dan permainan Social and cultural services as the value of beauty, and the game rekrasi Terumbu karang menyediakan berbagai manfaat langsung maupun tidak langsung. Cesar (2000) menjelaskan bahwa ekosistem terumbu karang banyak
meyumbangkan berbagai biota laut seperti ikan karang, mollusca, crustacean bagi masyarakat yang hidup dikawasan pesisir. Coral reefs provide many benefits directly or indirectly. Cesar (2000) explains that many of the coral reef ecosystem meyumbangkan various marine biota such as fish, corals, molluscs, crustacean for the area of coastal living. Selain itu bersama dengan ekosistem pesisir lainnya menyediakan makanan dan merupakan tempat berpijah bagi berbagai jenis biota laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Also along with other coastal
ecosystems to provide food and a place for different types of spawn marine biota that have high economic value.
Menurut Supriharyono (2000) mengemukakan bahwa tingginya produktivitas primer di perairan terumbu karang, memungkinkan ekosistem ini dijadikan tempat pemijahan, pengasuhan, dan mencari makan bagi banyak biota laut. According to Supriharyono (2000) suggests that the high primary productivity of coral reefs in the waters, allowing these ecosystems to be a place of spawning, rearing, and find food for many marine biota. Menurut Salm (1984) dalam According to Salm (1984) in Supriharyono (2000), bahwa 16% dari total hasil ekspor ikan Indonesia berasal dari daerah karang. Supriharyono (2000), that 16% of the total fish export from Indonesia reef areas.
3. Tipe Dasar Terumbu Karang Coral Reef Elementary Type