12. Dasar Pengelolaan Terumbu Karang dan Ikan Karang Basic
3.3 Metode Pengambilan Data .1 Penentuan titik stasiun.1 Penentuan titik stasiun
Asumsi yang digunakan dalam pemilihan lokasi ini adalah keterwakilan dari zona inti dan zona pemukiman. Letak stasiun pengamatan di setiap pulau dilakukan dua titik pada lokasi tangkapan nelayan (berdasarkan informasi nelayan setempat) pada daerah terumbu karang. Stasiun penelitiannya adalah Timur Pramuka (Stasiun 1), Utara Pramuka, (Stasiun 2), Barat Panggang (Stasiun 3) dan Selatan Panggang (Stasiun 4) utnuk keterwakilan zona pemukiman, sedangkan Utara Belanda (Stasiun 5), Selatan Belanda (Stasiun 6), Timur Kayu. Angin Bira (Stasiun 7) dan Barat Kayu Angin Bira (Stasiun 8) untuk keterwakilan zona inti.
3.3.2 Parameter lingkungan
Pengambilan data parameter lingkungan (Fisika, Kimia dan Biologi) yang dilakukan di lokasi penelitian yaitu berupa kedalaman (Deep gauge), suhu (Thermometer Hg), salinitas (Refraktometer), kecepatan arus (Current-meter), dan kecerahan (Secchi disk). Parameter fisik yang akan dilakukan analisis di laboratorium IPB adalah berupa sampel air yang diambil dengan menggunakan botol yang diawetkan dengan H2S04, sedangkan untuk plankton diambil dengan menggunakan planktonet yang berbentuk kerucut dengan diameter mulut jaring 31 cm, panjang 80 cm dan ukuran mata jaring 60 µm. Caranya menyaring air sebanyak 50 liter dan contoh air yang tersaring dimasukan kedalam botol berukuran 100 ml selanjutnya diawetkan dengan lugol.
3.3.3 Kondisi terumbu karang
Kondisi terumbu karang dilihat berdasarkan bentuk pertumbuhan karang (lifeform) dan persentase tutupan substrat. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data kondisi terumbu karang adalah modifikasi transek garis yang dikembangkan oleh Loya (1978) dan transek kuadrat (Rogers et al. 1994) serta photogrammetry (Done 1981). Pada setiap stasiun pengamatan diletakkan transek garis dengan panjang 50 meter sejajar garis pantai. Kemudian diletakkan transek kuadrat ukuran 1 m x 1 m sepanjang garis transek dengan pengulangan 20 kali dalam jarak 50 m (Gambar 4).
Gambar 4 Metode pengamatan terumbu karang dan posisi transek kuadrat (1 m x 1 m) untuk pengamatan terumbu karang.
Pengamatan didukung dengan pengambilan photo bawah air menggunakan transek kuadrat yang telah dirangkai dengan bingkai tetrapod (Gambar 5). Transek kuadrat dibuat dari PVC dengan ukuran 1 m x 1 m. Transek tersebut dibentangkan sepanjang garis transek untuk kemudian difoto dengan kamera underwater. Hasil foto per transek diamati dan luas tutupan dihitung menggunakan perangkat lunak
Coral Point Count with Excell extension (CPCe) yang dikembangkan oleh Kohler
dan Gill (2006).
Gambar 5 Bingkai tetrapod untuk fotografi tutupan karang (English et al. 1997).
1 m
1
Komunitas dicirikan dengan menggunakan kategori “bentuk pertumbuhan” (lifeform) yang memberikan gambaran deskriptif morfologi komunitas karang. Penggolongan komponen substrat bentik penyusun komunitas karang dan
lifeform karang seperti disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Daftar penggolongan komponen substrat bentik penyusun komunitas karang dan lifeform karang serta kodenya
Kategori Kode Keterangan
Dead Coral DC Baru saja mati, warna putih atau putih
kotor
Dead Coral with Alga DCA Karang ini masih berdiri, struktur skeletal
masih terlihat
Acropora
Branching ACB Paling tidak 2opercabangan. Memiliki
axial dan radial oralit.
Encrusting ACE Biasanya merupakan dasar dari bentuk
acropora belum dewasa
Submassive ACS Tegak dengan bentuk seperti baji
Digitate ACD Bercabang tidak lebih dari 2o
Tabulate ACT Bentuk seperti meja datar
Non-Acropora
Branching CB Paling tidak 2opercabangan. Memiliki
radial oralit.
Encrusting CE Sebagian besar terikat pada substrat
(mengerak) Paling tidak 2opercabangan
Foliose CF Karang terikat pada satu atau lebih titik,
seperti daun, atau berupa piring.
Massive CM Seperti batu besar atau gundukan
Submassive CS Berbentuk tiang kecil, kenop atau baji.
Mushroom CMR Soliter, karang hidup bebas dari genera
Heliopora CHL Karang biru
Millepora CML Karang api
Tubipora CTU Bentuk seperti pipa-pipa kecil
Sofa Coral SC Karang bertubuh lunak
Sponge SP
Zoanthids ZO
Others OT Ascidians, anemon, gorgonian, dan
lain-lain Alga Alga assemblage AA Coralline alga CA Halimeda HA Macroalga MA Turf alga TA
Abiotik Sand S Pasir
Rubble R Patahan karang yang ukurannya kecil
Silt SI Pasir berlumpur
Water W Air
Rock RCK Batu
3.3.4 Sumberdaya ikan ekor kuning
3.3.4.1 Kelimpahanikan
Data kelimpahan dan ukuran ikan ekor kuning didapat melalui metode sensus visual bawah air (underwater visual census) menggunakan bantuan transek garis sepanjang 50 m (English et al. 1997). Prosedur yang digunakan dalam metode ini adalah:
1) Roll meter (50 m) dibentangkan sejajar garis pantai, menunggu beberapa saat untuk memberi kesempatan pada ikan untuk terbiasa dengan kehadiran penyelam.
2) Penyelam berenang lambat setengah meter di atas substrat sepanjang transek 50 m sambil mencatat kelimpahan dan ukuran ikan ekor kuning yang dijumpai dengan jangkauan pengamatan sebelah kiri dan kanan masing-masing sejauh 2.5 m (Gambar 6), sehingga area yang dicakup dalam satu titik pengamatan ikan ekor kuning adalah seluas 250 m2.
3) Di setiap stasiun dilakukan sekali pengamatan pada kedalaman 0-15 meter.
Gambar 6 Metode sensus visual bawah air ikan karang (Sumber: English et al. 1997).
3.3.4.2 Kondisi biometrik
Ikan yang dijadikan sampel merupakan hasil tangkapan bubu atau pancing dari lokasi pengamatan. Jumlah ikan sampel diambil sebanyak 50 ekor secara random sampling dengan tingkat kepercayaan 95%.
Pengamatan kondisi biometrik dilakukan dengan cara melihat distribusi frekuensi panjang dan berat. Pengukuran panjang ikan dilakukan dengan menggunakan mistar berketelitian 1 mm. Panjang ikan yang diukur adalah panjang cagak yaitu panjang ikan mulai dari ujung terdepan sampai ujung bagian luar lekukan ekor (Effendie 1997) dengan cara badan ikan terlebih dahulu diluruskan dan bibir mulutnya dirapatkan setelah itu baru dilakukan pengukuran. Interpretasi pola distribusi frekuensinya dilakukan dengan mengelompokkan data panjang ikan ke dalam kelas-kelas panjang.
Pengukuran berat terhadap seluruh sampel ikan digunakan timbangan elektrik berketelitian 0.01 gram dengan caranya kotoran-kotoran yang menempel pada tubuh ikan terlebih dahulu dibersihkan setelah itu dilakukan penimbangan. Interpretasi pola distribusi frekuensinya dilakukan dengan mengelompokkan data berat ikan ke dalam kelas-kelas berat. Berdasarkan data-data tersebut, maka dapat dianalisa hubungan panjang berat untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan ekor kuning di lokasi penelitian.
3.3.4.3Tingkatkematangangonad (TKG)
Data tingkat kematangan gonad diperoleh dengan cara melakukan pengamatan terhadap 50 ekor ikan sampel yang diambil dari hasil tangkapan nelayan di lokasi penelitian. Bagian perut ikan dibedah dengan bantuan dissecting
set, diambil bagian gonad dan diawetkan dalam botol sampel dengan formalin 4%,
untuk dianalisis di laboratorium.
3.3.4.4 Jenis makanan
Komposisi jenis makanan ikan ekor kuning diperoleh dengan cara perut 50 ekor ikan sampel hasil tangkapan nelayan di lokasi penelitian, dibedah dengan bantuan dissecting set, diambil bagian lambung di awetkan dalam botol sampel dengan formalin 4% dan dilakukan analisis di laboratorium.