• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DATA

Dalam dokumen KTI Fraktur (Halaman 53-91)

No Data Kemungkinan penyebab Masalah

1. Ds : Pasien mengatakan nyeri pada kaki kiri dengan intensitas

nyeri sedang(4-6) Do : Pasien tampak

meringis kesakitan dan tidak tampak haematoma pada sisi fraktur. Terpasang  backslab dengan

kondisi luka bersih. TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x/i

RR : 22 x/i Temp : 35 ºc

Trauma

Fraktur Tibia Fibula dan terpasang backslab

 Nyeri

 Nyeri

2. Ds : Pasien mengatakan kaki kiri sulit

untuk digerakkan. Do : Aktivitas pasien

Post op Fraktur Tibia Fibula sinistra

Keterbatasan gerak

dibantu keluarganya. Terpasang

infuse RL 20 gtt/ i  pada tangan kiri,  backslab terpasang

daerah fraktur.

Intoleransi aktivitas

Imobilisasi

3. Ds : Pasien mengatakan susah untuk bergerak karena kaki kiri

terdapat luka bekas operasi.

Do : Pada bagian anterior Kaki kiri pasien tampak luka bekas operasi ± 10 cm, dengan 10 jahitan. Terpasang backslab. Trauma langsung/kecelakaan Open fraktur

Post op debridement dan  backslab

Luka operasi masih basah

Resiko tinggi infeksi

Resiko tinggi infeksi

3.2. Diagnosa keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan trauma ditandai dengan pasien meringis kesakitan dan tidak tampak haematoma pada sisi fraktur. TD : 118/75 mmHg, HR : 80 x / i, RR : 20 x / i Temp : 35 ºc.

2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan post op fraktur tibia fibula ditandai dengan Aktivitas pasien dibantu keluarganya. Terpasang infus RL 20 gtt / i pada tangan kiri, backslab terpasang daerah fraktur.

3. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan post operasi debridement dan backslab. Tampak ada luka bekas operasi ± 10 cm, dengan jumlah jahitan 10 jahitan.

ASUHAN KEPERAWATAN

 Nama : An. J Tanggal Masuk : 17 Maret 2013

J. Kelamin : Laki - laki Ruangan : VII / VIII

Tanggal : 10 April 2013 Diagnosa Medis : Fraktur Tibia dan

Fibula sinistra

No Tanggal Data Diagnosa Keperawatan Tujuan / KH Rencana Keperawatan

Intervensi Rasional 1 10 – 04-2013 Ds : Pasien mengatakan

nyeri pada kaki kiri. Dengan intensitas nyeri sedang (4-6). Do : Pasien tampak

meringis

kesakitan dan tidak

 Nyeri berhubungan dengan trauma ditandai dengan pasien meringis kesakitan dan tidak tampak haematoma pada sisi fraktur.  Nyeri hilang K/H : Melaporkan nyeri hilang / terkontrol. - Pertahankan imobilisasi  bagian yang sakit. - Tinggikan dan dukung daerah - Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan  posisi tulang. - Meningkatkan aliran balik 56 tampak

haematoma pada sisi fraktur. TD : 118/75 mmHg HR : 80 x / i RR : 20 x / i Temp : 35 ˚c. TD : 118/75 mmHg, HR : 80 x/I, RR : 20 x/i Temp : 35 ºc. yang cedera. - Atur posisi yang

 Nyaman.

- Evaluasi keluhan nyeri dan skala nyeri. - Lakukan jadwal vena. - Memberikan  posisi yang nyaman pada  pasien. - Meningkatkan kenyamanan  pasien dan mengetahui skala nyeri. - Mencegah

tampak

haematoma pada sisi fraktur. TD : 118/75 mmHg HR : 80 x / i RR : 20 x / i Temp : 35 ˚c. TD : 118/75 mmHg, HR : 80 x/I, RR : 20 x/i Temp : 35 ºc. yang cedera. - Atur posisi yang

 Nyaman.

- Evaluasi keluhan nyeri dan skala nyeri. - Lakukan jadwal  perawatan luka yang telah dianjurkan vena. - Memberikan  posisi yang nyaman pada  pasien. - Meningkatkan kenyamanan  pasien dan mengetahui skala nyeri. - Mencegah terjadinya infeksi. 57 dokter setiap hari. - Jelaskan Prosedur Sebelum Melakukan tindakan. - Memumingkan  pasien untuk siap

secara mental untuk aktivitas dan  berpartisipasi

dalam tindakan  pengobatan.

dokter setiap hari. - Jelaskan Prosedur Sebelum Melakukan tindakan. - Dorong pasien untuk mendiskusikan - Memumingkan  pasien untuk siap

secara mental untuk aktivitas dan  berpartisipasi dalam tindakan  pengobatan. - Membantu menghilangkan ansietas. 58 masalah sehubungan dengan cedera. - Kolaborasi dengan dokter dalam  pengobatan. - Menentukan  pengobatan yang tepat. 2 11-04 -2013 Ds : Pasien mengatakan kaki kirinya sulit digerakkan.

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan post op fraktur tibia fibula dextra

Mobilitas fisik stabil. K/H : Mampu melakukan - Kaji mobilitas fisik yang dihasilkan oleh cedera. - Pasien mungkin dibatasi oleh  pandangan dari keterbatasan fisik

masalah sehubungan dengan cedera. - Kolaborasi dengan dokter dalam  pengobatan. - Menentukan  pengobatan yang tepat. 2 11-04 -2013 Ds : Pasien mengatakan kaki kirinya sulit digerakkan. Do : Aktivitas pasien dibantu keluarganya. Terpasang infus RL Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan post op fraktur tibia fibula dextra ditandai dengan

Aktivitas pasien dibantu keluarganya. Terpasang Mobilitas fisik stabil. K/H : Mampu melakukan aktivitas. - Kaji mobilitas fisik yang dihasilkan oleh cedera. - Instrusikan pada  pasien untuk - Pasien mungkin dibatasi oleh  pandangan dari keterbatasan fisik aktual. - Meningkatkan aliran darah ke 59 20 gtt / i pada tangan kiri. Backslab terpasang pada daerah fraktur. infuse RL 20 gtt / i pada tangan kiri, backslab terpasang daerah fraktur.  bantu dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang

sakit dan yang sehat.

- Perhatikan  balutan / perban

elastis.

otak dan tulang untuk meningkatkan tonus otot. - Mencegah terjadinya  penyatuan fraktur yang salah.

20 gtt / i pada tangan kiri. Backslab terpasang pada daerah fraktur.

infuse RL 20 gtt / i pada tangan kiri, backslab terpasang daerah fraktur.  bantu dalam rentang gerak aktif pada ekstremitas yang

sakit dan yang sehat. - Perhatikan  balutan / perban elastis. - Bantu dalam mobilisasi dengan tongkat.

otak dan tulang untuk meningkatkan tonus otot. - Mencegah terjadinya  penyatuan fraktur yang salah. - Menurunkan komplikasi tirah  baring. 60 - Berikan

diet tinggi protein karbohidrat dan kalsium. - Kolaborasi dengan dokter dala pengobatan. - Membantu proses  penyembuhan

dengan diet yang  baik.

- Menentukan  pengobatan

yang tepat. 3 12-04-2013 Ds : Pasien mengatakan

susah untuk bergerak karena kaki kiri terdapat luka operasi.

Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan post operasi debridement dan Infeksi tidak terjadi. K/H : Mencapai - Kaji tanda-tanda infeksi. - Dapat mengidentifikasi terjadinya infeksi.

- Berikan

diet tinggi protein karbohidrat dan kalsium. - Kolaborasi dengan dokter dala pengobatan. - Membantu proses  penyembuhan

dengan diet yang  baik.

- Menentukan  pengobatan

yang tepat. 3 12-04-2013 Ds : Pasien mengatakan

susah untuk bergerak karena kaki kiri terdapat luka operasi. Do : Pada bagian

anterior Kaki kiri pasien

Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan post operasi debridement dan  backslab. Infeksi tidak terjadi. K/H : Mencapai  penyembuhan luka sesuai waktu, tidak terjadi demam.

- Kaji tanda-tanda infeksi.

- Observasi luka,  perubahan warna

kulit, bau yang

- Dapat mengidentifikasi terjadinya infeksi. - Tanda perkiraan infeksi ganggren. 61

tampak ada luka  bekas operasi ± 10 cm, dengan jumlah  jahitan 10 jahitan. Terpasan backslab. kurang sedap. - Anjurkan pada

 pasien untuk tidak menyentuh luka  bekas operasi. - Pantua TTV  pasien. - Gunakan anti septic (sabun) - Mencegah terjadinya kontaminasi yang menyebabkan infeksi. - Mengetahui keadaan umum  pasien. - Mencegah terjadinya infeksi

tampak ada luka  bekas operasi ± 10 cm, dengan jumlah  jahitan 10 jahitan. Terpasan backslab. kurang sedap. - Anjurkan pada

 pasien untuk tidak menyentuh luka  bekas operasi. - Pantua TTV  pasien. - Gunakan anti septic (sabun) untuk mencuci tangan. - Mencegah terjadinya kontaminasi yang menyebabkan infeksi. - Mengetahui keadaan umum  pasien. - Mencegah terjadinya infeksi silang. 62 - Kolaborasi dengan dokter dalam pengobatan - Menentukan  pengobatan yang tepat.

- Kolaborasi dengan dokter dalam pengobatan - Menentukan  pengobatan yang tepat. 63 CATATAN PERKEMBANGAN

 Nama : An.J Tanggal Masuk : 17 Maret 2013

J.Kelamin : Laki – laki Ruangan : VII

Tanggal : 10 – 04 2013 Dx Medis : Fraktur Tibia Dan Fibula

Sinistera

Hari / Tanggal

No. DX

Jam Implementasi Jam Evaluasi

CATATAN PERKEMBANGAN

 Nama : An.J Tanggal Masuk : 17 Maret 2013

J.Kelamin : Laki – laki Ruangan : VII

Tanggal : 10 – 04 2013 Dx Medis : Fraktur Tibia Dan Fibula

Sinistera

Hari / Tanggal

No. DX

Jam Implementasi Jam Evaluasi

Rabu 10-04-2013 08.30 08.30 08.35 08.40 - Mempertahankan mobilisasi bagian yang cedera dengan tirah  baring.

- Meninggikan bagian kaki yang cedera dengan 1  bantal.

- Mengatur posisi pasien yang nyaman dengan memberikan 1 bantal yang tinggi dan

merapikan tempat tidur. - Mengevaluasi adanya

keluhan nyeri dan skala

13.00 S : Pasien mengatakan kaki kirinya masih terasa sakit.

O : Pasien masih tampak meringis kesakitan. TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x / i RR : 20 x / i T : 350c A : Masalah belum teratasi. P : Rencana tindakan dilanjutkan.

12.00

12.10

12.40

nyeri 4 –  6 (sedang) ditandai dengan pasien masih tampak meringis kesakitan.

- Menjelaskan prosedur tindakan saat akan memberi injeksi

Gentamycin 80 mg/12  jam.

- Memotivasi pasien agar mau mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera.

- Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat. - Infus RL. 20 gtt / i - Inj. Terfacef 1 gr / 12  jam - Inj. Gentamycin 80 mg / 12 jam - Inj. Metronidazole 500

mg / 12 jam

- Inj. Ketorolac 1 amp / 8  jam

- Inj. Ranitidine 1 amp/8  jam Rabu 10-04-2013 2 09.00 09.10 09.15 09.20

- Mengkaji imobilitas fisik yang dihasilkan cedera (fraktur) pasien tidak dapat menggerakan jari –   jari kakinya.

- Menginstruksikan pasien untuk melatih gerak aktif  pada kaki yang cedera

dengan cara

menggerakkan jari –  jari kakinya.

- Memperhatikan

 balutan/perban elastis masih terpasang dengan tepat.

- Membantu pasien menggunakan tongkat

14.00 S : Pasien mengatakan kaki kirinya tidak dapat digerakkan spontan dan tidak dapat melakukan aktivitas. O : Pasien dibantu keluarga dalam melakukan aktivitas (berjalan kekamar mandi akan BAK). Terpasang infus RL 20 gtt/i, dibagian tangan kiri, terpasang  backslab kaki kirinya. A : Masalah belum

10.00

11.40

saat berjalan.

- Memberikan diet tinggi  protein karbohidrat dan kalsium yaitu makanan  biasa + sup.

- Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat

- Infus RL. 20 gtt/i

- Inj. Terfacef 1 gr/12 jam - Inj. Gentamycin 80

mg/12 jam

- Inj. Metronidazole 500 mg/12 jam

- Inj. Ketorolac 1 amp/8  jam

- Inj. Ranitidine 1 amp/8  jam

P : Rencana tindakan dilanjutkan.

Rabu 10-04-2013

3 08.50 - Mengkaji perubahan rasa nyeri dengan bertanya langsung pada pasien skala nyeri 4 –  6

14.35 S : Pasien mengatakan susah untuk bergerak karena kaki sebelah kirinya terdapat luka

10.00

10.00

12.00

13.00

- Mengobservasi

 perubahan warna kulit untuk mendeteksi tanda –  tanda infeksi, tidak

tampak kemerahan pada sekitar luka, luka tidak  bau.

- Menganjurkan pasien agar tidak menyentuh  bagian luka operasi. - Memantau TTV pasien TD : 110 / 70 mmHg HR : 82 x/i RR : 22 x/i T : 36,5 0c - Menggunakan antiseptik saat cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

 bekas operasi.

O : Pada bagian anterior kaki kiri pasien tampak luka bekas operasi ±10 cm,  backslab. A : Masalah belum teratasi. P : Rencana tindakan dilanjutkan.

13.30 - Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.

CATATAN PERKEMBANGAN

 Nama : An.J Tanggal Masuk : 17 Maret 2013

J.Kelamin : Laki – laki Ruangan : VII

Tanggal : 11 April 2013 Dx Medis : Fraktur Tibia dan Fibula Sinistera

Hari / Tanggal

No. DX

Jam Implementasi Jam Evaluasi

Kamis 11-04-2013 1 08.30 08.30 08.35 08.40 - Mempertahankan mobilisasi bagian yang cedera dengan tirah  baring.

- Meninggikan bagian kaki yang cedera dengan 1  bantal.

- Mengatur posisi pasien yang nyaman dengan memberikan 1 bantal yang tinggi dan

merapikan tempat tidur. - Mengevaluasi adanya

12.30 S : Pasien mengatakan kaki kirinyanya masih terasa sakit.

O : Pasien masih tampak meringis kesakitan. TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x / i RR : 20 x / i T : 350c A : Masalah belum teratasi. P : Rencana tindakan dilanjutkan.

12.00

12.10

12.40

keluhan nyeri dan skala nyeri 4 –  6 (sedang) ditandai dengan pasien masih tampak meringis kesakitan.

- Menjelaskan prosedur tindakan saat akan memberi injeksi

Gentamycin 80 mg/12  jam.

- Memotivasi pasien agar mau mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera.

- Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.

- Infus RL. 20 gtt/i

- Inj. Terfacef 1 gr/12 jam - Inj. Gentamycin 80

mg/12 jam

mg/12 jam mg/12 jam

-- Inj. Ketorolac 1 amp/8Inj. Ketorolac 1 amp/8  jam

 jam

-- Inj. Ranitidine 1 amp/8Inj. Ranitidine 1 amp/8  jam

Kamis Kamis 11-04-2013 11-04-2013 2 09.00 2 09.00 09.10 09.10 09.15 09.15 09.20 09.20 10.00 10.00

-- Mengkaji imobilitas fisikMengkaji imobilitas fisik yang dihasilkan cedera yang dihasilkan cedera (fraktur) pasien tidak (fraktur) pasien tidak dapat menggerakan jari dapat menggerakan jari –  –   jari kakinya.

 jari kakinya.

-- Menginstruksikan pasienMenginstruksikan pasien untuk melatih gerak aktif untuk melatih gerak aktif  pada kaki yang cedera  pada kaki yang cedera

dengan cara dengan cara

menggerakkan jari

menggerakkan jari –  –  jari jari kakinya.

kakinya.

-- MemperhatikanMemperhatikan

 balutan/perban elastis  balutan/perban elastis

masih terpasang dengan masih terpasang dengan tepat.

tepat.

-- Membantu pasienMembantu pasien menggunakan tongkat menggunakan tongkat saat berjalan.

saat berjalan.

-- Memberikan diet tinggiMemberikan diet tinggi  protein karbohidrat dan  protein karbohidrat dan kalsium yaitu makanan kalsium yaitu makanan

14.00

14.00 S S : : Pasien Pasien mengatakanmengatakan kaki kirinyanya tidak kaki kirinyanya tidak dapat digerakkan dapat digerakkan spontan dan tidak spontan dan tidak dapat melakukan dapat melakukan aktivitas.

aktivitas. O

O : : Pasien Pasien dibantudibantu keluarga dalam keluarga dalam melakukan aktivitas melakukan aktivitas (berjalan kekamar (berjalan kekamar mandi akan BAK). mandi akan BAK). Terpasang infus RL Terpasang infus RL 20 gtt/i, dibagian 20 gtt/i, dibagian tangan kiri, terpasang tangan kiri, terpasang  backslab kaki kirinya  backslab kaki kirinya ..

A

A : : Masalah Masalah belumbelum teratasi

teratasi P

P : : Rencana Rencana tindakantindakan dilanjutkan.

11.40 11.40

 biasa + sup.  biasa + sup.

-- Berkolaborasi denganBerkolaborasi dengan dokter dalam pemberian dokter dalam pemberian obat

obat

-- Infus RL. 20 gtt/iInfus RL. 20 gtt/i

-- Inj. Terfacef 1 gr/12 jamInj. Terfacef 1 gr/12 jam -- Inj. Gentamycin 80Inj. Gentamycin 80

mg/12 jam mg/12 jam

-- Inj. Metronidazole 500Inj. Metronidazole 500 mg/12 jam

mg/12 jam

-- Inj. Ketorolac 1 amp/8Inj. Ketorolac 1 amp/8  jam

 jam

-- Inj. Ranitidine 1 amp/8Inj. Ranitidine 1 amp/8  jam

Kamis 11-04 2013 3 08.50 10.00 10.00 12.00 - Mengkaji perubahan rasa nyeri dengan  bertanya langsung  pada pasien skala

nyeri 4 –  6 - Mengobservasi

 perubahan warna kulit untuk mendeteksi tanda –  tanda infeksi, tidak

tampak kemerahan pada sekitar luka, luka tidak  bau.

- Menganjurkan pasien agar tidak menyentuh  bagian luka operasi. - Memantau TTV pasien TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x/i RR : 20 x/i T : 350c 14.35 S : Pasien mengatakan susah untuk bergerak karena kaki sebelah kirinya terdapat luka  bekas operasi.

O : Pada bagian anterior kaki kiri pasien tampak luka bekas operasi ±10 cm, dengan 10 jahitan terpasang backslab. A : Masalah belum teratasi. P : Rencana tindakan dilanjutkan.

13.00

13.30

- Menggunakan antiseptik saat cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

- Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.

CATATAN PERKEMBANGAN

 Nama : An. J Tanggal Masuk : 17 Maret 2013

J.Kelamin : Laki – laki Ruangan : VII

Tanggal : 12 April 2013 Dx Medis : Fraktur Tibia dan Fibula Sinistera

Hari / Tanggal

No. DX

Jam Implementasi Jam Evaluasi

 jumat 12-04-2013 1 08.30 08.30 08.35 08.40 - Mempertahankan mobilisasi bagian yang cedera dengan tirah  baring.

- Meninggikan bagian kaki yang cedera dengan 1  bantal.

- Mengatur posisi pasien yang nyaman dengan memberikan 1 bantal yang tinggi dan

merapikan tempat tidur. - Mengevaluasi adanya

12.30 S : Pasien mengatakan kaki kirinya masih terasa sakit.

O : Pasien masih tampak meringis kesakitan. TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x / i RR : 20 x / i T : 350c A : Masalah belum teratasi. P : Rencana tindakan dilanjutkan.

12.00

12.10

12.40

keluhan nyeri dan skala nyeri 4 –  6 (sedang) ditandai dengan pasien masih tampak meringis kesakitan.

- Menjelaskan prosedur tindakan saat akan memberi injeksi

Gentamycin 80 mg/12  jam.

- Memotivasi pasien agar mau mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera.

- Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.

- Infus RL. 20 gtt/i

- Inj. Terfacef 1 gr/12 jam - Inj. Gentamycin 80

mg/12 jam

mg/12 jam

- Inj. Ketorolac 1 amp/8  jam

- Inj. Ranitidine 1 amp/8  jam Jumat 12-04-2013 2 09.00 09.10 09.15 09.20

- Mengkaji imobilitas fisik yang dihasilkan cedera (fraktur) pasien tidak dapat menggerakan jari –   jari kakinya.

- Menginstruksikan pasien untuk melatih gerak aktif  pada kaki yang cedera

dengan cara

menggerakkan jari –  jari kakinya.

- Memperhatikan

 balutan/perban elastis masih terpasang dengan tepat.

- Membantu pasien

14.00 S : Pasien mengatakan kaki kirinya tidak dapat digerakkan spontan dan tidak dapat melakukan aktivitas. O : Pasien dibantu keluarga dalam melakukan aktivitas (berjalan kekamar mandi akan BAK). Terpasang infus RL 20 gtt/i, dibagian tangan kiri, terpasang  backslab kaki kiri. A : Masalah belum

10.00

11.40

menggunakan tongkat saat berjalan.

- Memberikan diet tinggi  protein karbohidrat dan kalsium yaitu makanan  biasa + sup.

- Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat

- Infus RL. 20 gtt/i

- Inj. Terfacef 1 gr/12 jam - Inj. Gentamycin 80

mg/12 jam

- Inj. Metronidazole 500 mg/12 jam

- Inj. Ketorolac 1 amp/8  jam

- Inj. Ranitidine 1 amp/8  jam teratasi P : Rencana tindakan dilanjutkan. Jumat 12-04-2013

3 08.50 - Mengkaji perubahan rasa nyeri dengan bertanya langsung pada pasien

14.35 S : Pasien mengatakan susah untuk bergerak karena kaki sebelah

10.00 10.00 12.00 13.00 13.30 skala nyeri 4 –  6 - Mengobservasi

 perubahan warna kulit untuk mendeteksi tanda –  tanda infeksi, tidak

tampak kemerahan pada sekitar luka, luka tidak  bau.

- Menganjurkan pasien agar tidak menyentuh  bagian luka operasi. - Memantau TTV pasien TD : 118 / 75 mmHg HR : 80 x/i RR : 20 x/i T : 350c - Menggunakan antiseptik saat cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

- Berkolaborasi dengan

kirinya terdapat luka  bekas operasi.

O : Pada bagian anterior kaki kiri pasien tampak luka bekas operasi ±10 cm, A : Masalah belum

teratasi.

P : Rencana tindakan dilanjutkan.

dokter dalam pemberian obat.

BAB IV

PEMBAHASAN

Setelah penulis melaksanakan dan menerapkan asuhan keperawatan pada  pasien dengan gangguan muskuloskuletal fraktur tibia dan fibula post op debridement dan pemasangan backslab di ruang VII RSU dr. Pirngadi kota medan yang di observasi 3 hari, maka penulis akan membahas setiap permasalahan dan kesenjangan yang di jumpai pada asuhan keperawatan pada kasus pasien.

Dalam hal ini penulis akan membahas melalui tahapan  –   tahapan proses keparawatan yaitu : pengkajian, diangnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi.

4.1. Tahap Pengkajian

Didalam tahap pengkajian penulis mengadakan wawancara langsung pada  pasien. Pengkajian diawali dari pengumpulan data tentang identitas pasien, riwayat

kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan sekarang dan kebiasaan hidup sehari-hari.

Selama pasien dirawat dirumah sakit dilakukan pengkajian yang meliputi bio,  psiko, sosio dan spiritual. Selain itu juga didukung oleh data yang ada dalam catatan

Adapun data yang penulis temukan pada teori dan tidak ditemukan pada kasus fraktur meliputi :

a. Keterbatasan fungsi / kehilangan fungsi pada bagian yang cedera  b. Pembengkakan / hematoma pada sisi fraktur

c. Spasme otot

d. Deformitas, pemendekan otot, keterbatasan gerak e.  Nyeri

f. Perdarahan atau perubahan warna kulit

g. Hipertensi, hipotensi, takikardia, tidak ada nadi pada bagian distal, pengisian kapiler lambat dan parastesis.

Dari data-data tersebut (secara teori) ada beberapa data yang tidak penulis temukan pada kasus antara lain :

a. Pemendekan Tulang

Pada kasus An. J tidak terdapat adanya deformitas. Karena sudah dilakukan tindakan infasif pembedahan debridement dan backslab serta fraktur tampak  bersih.

 b. Hipertensi, hipotensi, takikardia, tidak ada nadi pada bagian distal, pengisian kapiler lambat dan parastesis tidak penulis temukan pada kasus karena pada saat pengkajian penulis mendapatkan TTV pasien, TD : 118 / 75 mmHg, HR : 80 x/i, RR : 20 x/i, S : 35 0c. Karena fraktur yang dialami An. J sudah

dilakukan tindakan infasif pembedahan debridement dan pemasangan  backslab dengan grade III dan kemungkinan sangat kecil.

4.2. Tahap Diagnosa Keperawatan

Pada diagnosa keperawatan dalam tinjauan teoritis penulis menemukan 8 (delapan) diagnosa keperawatan yaitu :

1. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur).

2.  Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak.

3. Resiko tinggi terhadap disfungsi neuromuskuler perifer berhubungan dengan  penurunan aliran darah.

4. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan  perubahan aliran darah.

5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler.

6. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi.

7. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive. 8. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Dari diagnosa keperawatan diatas tersebut ada beberapa diagnosa keperawatan yang tidak penulis temukan pada kasus antara lain :

1. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang (fraktur).

Hal ini tidak ditemukan karena pasien sudah menjalani tindakan infasif  pembedahan dengan debridement dan pemasangan backslab.

2. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan  penurunan aliran darah, cedera vaskuler.

Menurut teori hal ini terjadi karena penurunan aliran darah, cedera vaskuler. sedangkan pada kasus ini tidak dijumpai. Dimana dijumpai data terabanya nadi, TTV stabil, pengeluaran urine normal dan kulit hangat.

3. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan  perubahan aliran darah, emboli lemak.

Hal ini tidak ada ditemukan pada kasus dibuktikan dengan tidak adanya syanosis, frekwensi pernafasan 20 x/i.

4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik.

Hal ini tidak ditemukan dalam kasus karena pasien hanya mengalami fraktur tibia fibula sinistra dan sebagian anggota gerak yang lain dapat digerakkan dengan normal kecuali daerah yang dioperasi. Maka dalam hal ini tidak terdapat kerusakan integritas kulit.

Hal ini tidak ditemukan pada kasus karena pasien memiliki keluarga yang memberikan pengetahuan dan informasi tentang penyakitnya.

Sedangkan 3 (tiga) diagnosa yang penulis temukan pada An. J ada pada diagnosa keperawatan tinjauan pustaka.

4.3. Tahap Intervensi

Berdasarkan dari intervensi pada diagnosa yang sama pada teori dan pada kasus tidak semua direncanakan.

1.  Nyeri.

Pada teori terdapat intervensi untuk mengatasi nyeri dengan melakukan kompres dingin (es) 20  –   28 jam pertama sesuai keperluan. sedangkan pada kasus An. J hal ini tidak dilakukan karena luka tidak terjadi hematoma tetapi luka yang ada akibat insisi post operasi debridement dan pemasangan  backslab.

2. Kerusakan Mobilitas Fisik.

Pada teori yang terdapat pada intervensi untuk mengatasi kerusakan mobilitas fisik dengan konsul, dengan ahli terapi fisik / okupasi. Tetapi pada kasus An. J kerusakan mobilitas fisik hanya ditangani dengan tindakan mandiri saja misalnya melatih untuk menggerakkan kaki perlahan  –   lahan melatih berjalan dengan tongkat.

3. Resiko Tinggi Terhadap Infeksi

Hal ini tidak ditemukan pada kasus An. J karena infeksi / ganggren tidak terjadi dan intervensi persiapan pembedahan sesuai indikasi. Hal ini juga tidak terdapat pada kasus An.J karena sudah dilakukan debridement dan  pemasangan backslab sebelumnya, dan tidak di jumpai tanda - tanda infeksi.

4.4. Tahap Implementasi

Pada tahap ini penulis melaksanakan semua yang sesuai dengan apa yang direncanakan, pada prinsipnya semua yang direncanakan pada setiap diagnosa keperawatan dapat dilaksanakan pada pasien tersebut dan sebelumnya penulis memilih tindakan keperawatan yang sudah diberikan pada pasien.

Selama pelaksanaan penulis menemukan beberapa faktor pendukung dalam melaksanakan tindakan keperawatan yaitu : adanya kerja sama perawat ruangan dengan penulis, adanya kerjasama antara penulis dengan tim kesehatan lainnya dan adanya kerjasama antara penulis dengan pasien itu sendiri.

Sedangkan faktor penghambat dalam pelaksanaan tindakan yaitu : implementasi yang diharapkan tidak sesuai dengan intervensi yang ada sehingga adanya keterbatasan dalam pemberian tindakan. Dan tindakan yang diberikan hanya berdasarkan kepada implementasi yang sudah tercantum pada rencana keperawatan. Sedangkan faktor penghambat lainnya dalam pelaksanaan tindakan yaitu: keterbatasan waktu, dari penulis untuk melakukan tindakan keperawatan pada pasien.

4.5. Tahap Evaluasi

Dalam dokumen KTI Fraktur (Halaman 53-91)

Dokumen terkait