• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

A. Responden I

5. Analisa Data Wawancara

a. Keluarga dan Lingkungan

LS merupakan seorang mahasiswa yang memiliki pengalaman belajar yang berbeda dengan mahasiswa pada umumnya. LS merupakan seorang tuna netra. Kebutaan tersebut sudah disandangnya sejak berusia 8 tahun dan memberi berbagai dampak dalam kehidupan akademiknya. LS memiliki dua orang abang, dua orang kakak dan empat orang adik. Kesembilan bersaudara ini terlahir dari dua orang ibu, anak pertama sampai ke enam dari ibu pertama, yang juga meupakan ibu kandung LS dan anak ke tujuh sampai sembilan dari ibu tiri LS. Ibu kandung LS telah lama meninggal yaitu pada saat LS masih berumur sekitar tiga tahun. LS bahkan tidak begitu mengingat sosok ibu kandungnya, sementara ibu tirinya juga sudah meninggal pada tahun 2010. Kini hanya tinggal ayah LS yang masih hidup. Ayahnya bekerja sebagai pedagang sayur-mayur di pasar tradisional. Sementara beberapa abang dan kakaknya sudah ada yang bekerja dan berumah tangga. Terlahir sebagai anak ke lima dari sembilan bersaudara di tengah-tengah keluarga yang pas-pasan secara ekonomi, LS dituntut untuk berusaha lebih keras dalam menjalani kesehariannya karena keluarga tidak mampu untuk memenuhi

setiap kebutuhan dirinya sebagai seorang tuna netra. Selain LS, salah satu kakak LS juga merupakan seorang penderita tuna netra. Walaupun demikian LS tidak pernah merasa kekurangan dalam hal perhatian yang diterima dari keluarga dan dan tidak pernah merasa dibeda-bedakan dari yang lainnya. Terlepas dari keterbatasan materi yang dimiliki orang tuanya, sama seperti saudara-saudaranya yang lain, LS juga diwajibkan oleh ayahnya yang dulunya merupakan seorang guru, untuk bersekolah dan mengejar pendidikan.

“Keadaan ekonomi, menengahlah”

(W1.R1/B.64/hal.2)

“Oh..kalau itu sama aja, Kami diperlakukan sama. Dengan adik-adikku

kami semua sama”

(W1.R1/B.103-107/hal.3)

“Kalau aku sih karena lama di asrama, tapi kurasa perhatian dapatlah,

karena aku disekolahkan di asrama.”

(W1.R1/B.108-112/hal.3)

“Iyalah sekolah. Karena bapak kan dulu guru, jadi ya sekolah dan pendidikan itu penting.”

(W1.R1/B.113-116/hal.3)

“Kalau kurasa sekolah sih gak pernah sampe kesulitan ya, selagi memang kaminya masih mau disekolahkan. Biaya bisa dicari kemana-mana, pasti

dapat”

(W1.R1/B.124-129/hal.3)

Setelah memasuki sekolah, LS berpisah dari orangtuanya dan dimasukkan ke asrama yang berlokasi di tempat yang sama dengan sekolahnya. LS banyak menghabiskan waktu di lingkungan asramanya bersama orang-orang yang tinggal di tempat tersebut. LS hanya berkumpul kembali dengan keluarga pada liburan semester saja sehingga dirinya mengaku memiliki hubungan yang lebih dekat

dengan orang-orang di asrama daripada keluarganya sendiri. Kegiatan yang dilaksanakan sehari-hari sudah terjadwal dengan tetap harus memperhatikan tata peraturan asrama.

“Asramanya memang langsung disitu.. Dari SD sampai tamat SMA. Dari tahun ‘98”

(W1.R1/B.536-540/hal.10)

“Gak, libur semester aja baru pulang. Gak dikasih pulang. Liburan semester lah palingan. Paling banyak dua minggu”

(W1.R1/B.544-550/hal.10)

“Iya, lebih dekat dengan orang-orang asrama jadinya”

(W1.R1/B.552-553/hal.10)

“Bangun pagi harus jam lima. Udah paling lambat itu. Tapi namanya siswa, mau aja ada yang terlambat. 5.45 itu, terakhir aku disitu, ibadah pagi. Jadi dari tempo jam 5.00 sampai 5.45 harus udah siap semua. Bersihkan rumah, kemas-kemas, mandi, pokoknya semua. Karena habis ibadah pagi langsung sarapan pagi. Selesai sarapan pagi uda harus berangkat sekolah.”

(W1.R1/B.568-581/hal.10-11)

Kehidupan di asrama selama 12 tahun merupakan salah satu hal yang disukai dan juga kurang disukai LS. Di satu sisi LS merasa dirinya menjadi orang yang disiplin akibat tinggal di asrama, namun LS terkadang juga merasa bahwa peraturan-peraturan asrama yang sangat ketat cukup memberatkan dan memberi tekanan. Dalam pemberian hukuman, kekerasan juga kerap terjadi di dalam asrama jika ada perilaku yang dianggap tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Setiap pelanggaran akan mendapat konsekuensi dan hal tersebut dapat berupa hukuman ringan maupun berat, tergantung pada bentuk pelanggaran yang diperbuat. Meskipun demikian LS belum pernah mendapat hukuman berat.

“Disatu sisi ada enaknya. Enaknya kita diajarin lebih disiplin, itu enaknya. Lebih teratur.”

(W1.R1/B.603-606/hal.11)

“Disitu banyak yang tertekan menurutku. Satu , gak bebas. Luar biasalah kalau dibilang gak bebas. Nnati mau ke kedai aja harus permisi dulu. Pak, permisi sebentar ya, mau kemana katanya. Mau ke kedai. Tapi ahh, gak pernah itu betul. Dulu sampai sempat dibuat satpam. Yang penting harus minta izin. Dulu sempat mau digalakkan merokok gak boleh, jadi dibikin satpam, jadi semua yang keluar nanti diperiksa, kalau ada, ditangkap, dibawa ke asrama. Di kantor asrama, dinasehatin, kalau makin sering dilakukan yaudah main tangan. Atau panggil orang tua. Kalau setelah dipanggil orang tua gak apa juga, yauda dikeluarkan. Uda banyak yang dikeluarkan”

(W4.R1/B.865-894/hal.70-71)

“Kalau pelanggaran yang ringan, dikasih peringatan, tapi kalau uda over, baru main tangan. Kalau pihak asrama uda gak bisa nanganin, baru turun direktur”

(W4.R1/B.857-864/hal.70)

“Karena di asrama itu kan keras. Dulu pernah ada ditendang bisa, dimasukkan ke kolampun mau. Bem! Dicampakkan ke kolam. Memang gitu. Contoh, di asrama kan dilarang merokok. Kalau ketahuan disitu, habis. Bak buk bak. Habis. Habis kena bogem lah semua haha”

(W1.R1/B.791-803/hal.69)

“Aku memang selalu bernasib (tersenyum). Melanggar, tapi gak pernah dihukum. Gak, terkadang dihukum. Cuman, ibaratkannya kalau seperti

permainan, aku gak pernah jadi dalangnya dibelakang.”

(W1.R1/B.607-619/hal.11)

Kini setelah LS menamatkan sekolahnya dan berkuliah di Perguruan Tinggi, LS kembali tinggal bersama ayahnya di rumah. Kesehariannya adalah berkuliah. LS berangkat dan pulang sendiri dengan menggunakan angkutan umum.

“Sekali jalan kurang lebih 1 jam. Naik angkot. 1 jam lebihlah”

b. Gambaran Ketunanetraan

Tuna Netra atau seseorang dengan keterbatasan penglihatan merupakan individu yang kedua indera penglihatannya tidak berfungsi sebagaimana halnya individu berpenglihatan normal. Demikian pula yang dialami oleh LS. Berbeda dengan teman-temannya, LS tidak dapat melihat karena dirinya mengalami kebutaan total. Pada usia tiga tahun LS dan orang tuanya mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan mata LS. Menurut dokter yang ditemui LS, hal ini terjadi bukan akibat faktor genetis dan bukan sejak lahir, namun karena kelainan saraf mata yang dimilikinya. Akibatnya secara perlahan, LS kehilangan penglihatannya sampai pada akhirnya dirinya tidak dapat melihat sama sekali. Sejak diketahui adanya gangguan pada mata LS, pihak keluarga telah mengupayakan untuk mencari pengobatan bagi LS, namun tidak berhasil. Keluarga menyepakati perkataan dokter yang mengatakan bahwa gangguan pada saraf mata LS sudah tidak dapat disembuhkan lagi.

“Kalau dari yang kutau gak ada. Dulu pernah ditanya, ada gak dari opung, gak ada. Dari orang mamak dan bapak juga gak ada. Cuma dulu aku waktu baru lahir belum buta. Waktu masih kecil belum ada terasa, tapi sekitar umur-umur balitalah tiga tahun baru terasa kek-kek ada kelainan.Bukan bawaan lahir. Dulu masi bisa melihat. Kami dua sebenarnya kira-kira sampe umur 8 tahun 9 tahun masih bisanya melihat, cuman yang berangsur-angsur berkurang.”

(W1.R1/B.139-156/hal.4)

“Ada yang bilang, saraf matanya yang gak bisa diobati lagi. Katanya, kami berdua saraf matanya yang kena...”

(W1.R1/B.163-167/hal.4)

“Berobat. Kemana-mana. Herbal juga udah dicoba. Tapi gada yang

berhasil.”

“Iya, kalau ibaratkan benang katanya, uda kusut, udah terikat-ikat semua,

udah payah.”

(W1.R1/B.183-186/hal.5)

Jika dilihat dari ciri-ciri fisik matanya, secara sekilas kondisi mata LS tidak menunjukkan secara jelas bahwa dirinya adalah seorang tuna netra. Namun jika dilihat lebih seksama dapat diketahui bahwa ada kelainan pada matanya. Kerusakan mata LS bukan terletak pada bola matanya namun pada sarafnya, sehingga banyak orang awam yang terkadang tidak menyadari bahwa LS merupakan seorang tuna netra. Secara fungsi, LS telah kehilangan fungsi matanya secara total. LS sudah tidak dapat melihat lagi, namun LS masih dapat mengidentifikasi bayangan dan cahaya dalam intensitas tertentu, dan sebatas itulah yang dapat diandalkannya dalam hal visualisasi benda-benda, orang atau kegiatan maupun kejadian di depan matanya.

“Bukan, bukan biji matanya yang rusak. Bukan korneanya. Tapi memang saraf matanya yang udah rusak”

(W1.R1/B.174-178/hal.4)

“Iya. Gak nampak kayak orang buta kan.”

(W1.R1/B.179-180/hal.4-5)

“Palingan tinggal cahaya lah. Remang-remang, bayang-bayang masih bisa.”

(W1.R1/B.221-223/hal.5)

“Kalau menurut tuna netra sendiri ya, tuna netra kan ada dua, low sama total. Sebenarnya kategorinya itu luas. Kalau dibilang low vision, sebenarnya kek aku ini pun ada yang bilang masih low vision karena masih bisa nangkap cahaya, masih ada respon. Kalau yang total sama sekali gak ada. Tapi kalau prakteknya, orang bilang beda. Kalau low vision katanya masih bisa ngeliat. Nah kalau kek aku dibilang orang uda total. Sama tuna netra sendiri pun aku dibilang uda total. Tapi kalau orang yang benar-benar mengerti, itu aku dibilang low visoion. Karena itu kan ada tingkatan-tingkatannya. Ada T11, T12, kek aku uda dibilang T13”

Kini setelah bertahun-tahun menyandang kebutaan, LS sudah mampu beradaptasi dengan kondisi matanya. Bersamaan dengan menghilangnya penglihatan LS secara berangsur-angsur, LS juga perlahan-lahan belajar mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Ada beberapa orang yang menyarankan LS untuk kembali memeriksakan matanya dan mencoba mencari pengobatan. Pada dasarnya LS berkeinginan melakukannya dan berpendapat bahwa mungkin saja masih ada peluang memperbaiki penglihatannya, meskipun tidak sembuh total, mengingat bahwa tekknologi zaman sekarang sudah lebih baik dari zaman dulu ketika ia pertama kali memeriksakan diri. Namun LS masih enggan untuk memeriksakan diri dan tampaknya biaya pengobatan yang menjadi kendala. Walaupun demikian, jika ada orang atau pihak yang bersedia secara ikhlas membiayainya, LS dengan antusias akan mengambil kesempatan tersebut.

“Makanya ada dosen yang bilang, coba periksa, karena kau masih bisa liat bayangan atau cahaya. Mana tau teknologi sekarang lebih bisa membantu. Kurang tau juga lah pak kubilang, belum pernah periksa”

(W4.R1/B.307-315/hal.59)

“Gak tau juga. Soalnya kan gini, periksa aja kan bayar.”

(W4.R1/B.316-318/hal.59)

c. Pendidikan Sekolah

Walaupun terlahir normal, LS sudah mulai kehilangan penglihatannya pada usia dini sampai pada akhirnya buta total. Ketika masih bisa melihat, LS bersekolah di sekolah umum, sama seperti teman-temannya yang lain. Selama bersekolah di sekolah umum, sebenarnya proses belajar LS sudah terganggu. Ketidakmampuan matanya untuk melihat papan tulis dan membaca buku

berpengaruh terhadap proses belajarnya dan sedikit banyak menghambat proses belajarnya. Namun setelah memasuki kelas 3 SD gangguan mata LS sudah semakin parah dan sudah tidak kondusif lagi untuk bersekolah di sekolah umum.

“...aku kan dulu 2 tahun disekolah umum, sekolah reguler biasa, sebelum akhirnya aku masuk sekolah luar biasa. Masuk sekolah luar biasa pun awal-awalnya aku masih bisa melihat dikit-dikit, tapi kan masuk sekolah luar biasa ngulang lagi dari kelas satu. Kurang lebih pas kelas tiga menjelang kelas empat uda mulai makin kabur.”

(W1.R1/B.201-214/hal.)

Pada saat masih menduduki kelas 3 SD di sekolah umum, akhirnya orangtua LS memutuskan untuk memindahkan LS ke salah satu Sekolah Luar Biasa di Lubuk Pakam/Tanjung Morawa. Berhubung ini adalah kali pertama LS memasuki sekolah luar biasa, LS diharuskan untuk mengulang kembali dari kelas 1, meskipun sebenarnya dia sudah menduduki kelas 3. Hal ini dilakukan agar LS dapat memulai dari dasar dan lebih mengenal lingkungan dan sistem pendidikan di sekolah barunya. Ketika memasuki SMP dan SMA, LS melanjutkan studinya ke salah satu Sekolah Integrasi, yang mana sebenarnya merupakan sekolah umum, namun digabungkan juga dengan siswa yang berkebutuhan khusus, diantaranya tuna netra, di dalam satu kelas. Para siswa yang berkebutuhan khusus menjadi jumlah minoritas di dalam kelas. Sekolah Integrasi menjadi pilihan dikarenakan belum adanya sekolah inklusi pada saat itu. Di asrama dan di sekolahlah LS menghabiskan masa studinya selama 12 tahun yaitu SD, SMP dan SMA.

“Kalau kami bukan inklusi, tapi berintegrasi dengan sekolah umum. Kami yang minta gabung. Kalau inklusi, sekolah itu yang minta gabung dengan kami. Kami dulu dibilang Sekolah Integrasi.”

Mengalami kebutaan di usia muda dan bersekolah diantara orang-orang yang memiliki penglihatan menjadi tantangan tersendiri bagi LS. Di awal mula memasuki asrama, LS masih memiliki sisa-sisa penglihatan meskipun semakin hari semakin memburuk. Namun dengan sisa-sisa penglihatan tersebut LS masih sempat menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungannya.

“Hmm, iya. Jadi gak gitu kaget kan. Dan pada saat makin kabur itu, karena udah bertahun-tahun tinggal disitu, jadi uda bisa aku beradaptasi dengan lokasi setempat. Meskipun pada akhirnya uda gak bisa ngeliat sama sekali, tapi gak terkejut dengan lokasi yang uda lama ditempati.”

(W1.R1/B.251-261/hal.6)

Di sisi lain, tak dapat dipungikiri bahwa LS juga berbenturan dengan masalah-masalah seperti kepercayaan diri, keberanian, masalah pergaulan, terutama masalah belajarnya. Secara tegas LS menyatakan bahwa masa SMP lah yang dirasanya paling sulit khususnya dalam bergaul. Atmosfer yang baru kembali membuat LS seperti sendirian di tengah keramaian. LS belum berani untuk maju duluan dan memperkenalkan diri. Kondisi mata LS yang tampak normal juga membuat banyak orang berpikir bahwa dirinya bukan tuna netra dan hal ini semakin tidak membantu LS dalam mencari teman. Untungnya ada beberapa orang kakak kelas yang mengenal dan dikenal LS, dan merekalah teman pertama LS ketika SMP. Pada saat memasuki SMA, LS malah lebih kesulitan lagi dalam bergaul.

“Kalau minder sih yang paling terasa ketika sekolah SMP. Itulah yang paling terasa.”

“Kalau orang-orang yang keliatan dia seperti tuna netra, dia gampang cari kawan, karena tau orang-orang dia tuna netra. Kalau kek aku gak. Justru aku yang kewalahan cari kawan. Bingung cari kawan dimana. Kalau yang lainnya, paling gak kan , masuk SMP, uda punya kawan baru. Kalau aku gak. Palingan aku ada kenal sama kakak kelas, yang uda ada teman-teman tuna netra juga, ya paling sama itu berteman. Uda berapa-berapa hari kemudian barulah coba gabung sama teman-teman setingkat.”

(W1.R1/B.282-302/hal.7.)

“...Lebih parah pas SMA lagi, tiga hari MOS, gak pernah aku sama

seangkatanku, sama kakak kelas terus. Mungkin terpengaruh belum ada kawan. Memang banyak kawan baru, tapi pasti kan beda pola pikirnya.

Belum ada aja. Hari terakhir MOS baru. Itu uda mulai masuk kelas kan.”

(W4.R1/B.508-524/hal.63)

Dalam proses belajar di sekolah khususnya ketika SMP dan SMA, LS tetap menghadapi kesulitan-kesulitan yang tentunya diakibatkan oleh gangguan penglihatannya. Berbeda seperti sebelumnya kali ini LS berada di sekolah umum, yang tidak menyediakan fasilitas seperti ketika di SLB. Contoh kesulitan yang dihadapi LS pada masa sekolah misalnya pada pelajaran-pelajaran praktik seperti Pendidikan Jasmani (Penjas), laboratorium, kesenian dan kerajinan tangan.

“Prakteklah. Itu yang paling runyam.”

(W4.R1/B.578-578/hal.64)

“Pokoknya yang prakteklah, kalau dulu kami ada praktek komputer, masuk lab. Terus kesenian, atau kerajinan tangan yang buat-buat lampion. Aku gak pintar gitu-gitu.”

(W4.R1/B.640-647/hal.66)

Menurut LS sebenarnya dirinya mampu untuk mengikuti pelajaran pendidikan jasmani namun gurunya yang tidak memberikan izin kepada LS untuk ikut serta. LS merasa mampu karena pada saat di asrama LS sudah dibiasakan untuk berolahraga dan melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat fisik lainnya.

Bahkan setiap hari setelah makan siang, LS dan teman-temannya disuruh berbaris, dan lari mengelilingi asrama selama satu setengah jam. Sayangnya, dengan maksud tidak ingin membebani LS dengan kegiatan yang dianggap gurunya dapat mencelakakan LS, argumen LS tidak diterima sehingga mau tidak mau LS tidak boleh mengikuti kelas olahraga.

“Penjas. Sebenarnya bisa, tapi gurunya gak membolehkan. Yang namanya olahraga pasti ke lapangan kan, diluar, berbaris. Tapi mayoritas gurunya gak ngasih.”

(W4.R1/B.582-584/hal.65)

“Terkadang dibilang pun bisa, itu kan di asarama katanya. Udah, gausah capek kau. Terkadang mau dibilang apa, gurunya bilang gitu, kecuali kalau ada tugas, barulah dikerjain. Baru ikut kumpul.”

(W4.R1/B.628-631/hal.65-66)

“Kalau olahraga bisa dibilang sebenarnya maksud gurunya gak mau membebani. Padahal andaikan mereka datang ke asrama, hampir tiap hari kami disuruh olahraga. Kami ditempah jadi atlet di asrama, karena sering ada perlombaan antar anak-anak luar biasa, ntah yang sama—sama tuna netra, yang bisu, gitu-gitulah. Lari. Banyak, ada lempar ada lompat ada tolak...”

(W4.R1/B.594-609/hal.65)

Tidak tersedianya bantuan khusus bagi tuna netra di sekolah mengharuskan LS untuk berinisiatif mencari alternatif sendiri ketika berhadapan dengan masalah. Pada akhirnya segala usaha keras LS dalam berproses di masa sekolah terbayar dengan prestasinya yang baik. Bermodalkan prestasi yang baik tersebut LS memutuskan untuk melanjutkan studinya lagi ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu berkuliah di Universitas.

“Iya. Kalau memang ada yang tidak bisa dilakukan sesuai dengan yang umum, ya kita cari alternatif sendiri. Kan kita yang bergabung ke sekolah itu, jadi ya kita juga yang beradaptasi.”

(W1.R1/B.408-415/hal.7)

Melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi memang sudah menjadi rencana LS. Ada beberapa jurusan yang dianggapnya berpotensi untuk dijadikan tempatnya berkuliah. Orang-orang di asramalah yang dipercayakannya sebagai penasihat dan pemberi saran ataupun masukan mengenai jurusan yang cocok untuknya. Dari awal LS sudah berkeinginan untuk berkuliah di jurusan Etnomusikologi. Namun ada yang tidak menyetujui. Kemudian LS berpikiran untuk mencoba jurusan Bahasa Inggris atau Antropologi Sosiologi di Semarang. Namun tetap ada yang tidak setuju karena dianggap terlalu jauh, sedangkan jurusan bahasa Inggris juga tidak jadi diambil karena LS merasa bahwa dasar Bahasa Inggrisnya belum kuat. Walaupun demikian LS tetap mencoba mengambil jurusan Antropologi dengan alasan keluarganya ada yang tinggal di Semarang. Pada akhirnya setelah mengikuti dua tes seleksi masuk Perguruan Tinggi, yaitu UMB (Ujian Masuk Bersama) dan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi), dan setelah menentukan sejumlah pilihan jurusan, LS lulus di kampus LS yang sekarang. Hal ini disyukurinya karena memang itulah pilihannya dari awal dan memang LS merasa memiliki dasar di bidang tersebut, karena dirinya menyukai dan bisa memainkan beberapa alat musik.

“...Rupanya pilihan pertama yang jebol. Musik.”

“Ketepatan aku punya dasar. Itu aja sih. Lumayanlah. Piano bisa. Gitar bisa. Gak terlalu mahir tapi.”

(W1.R1/B.520-527/hal.9)

Masuk Perguruan Tinggi memang sudah menjadi rencananya setelah tamat sekolah. Alasan utama LS untuk berkuliah adalah karena dirinya ingin maju dan bukan tidak melakukan apa-apa.

“Satu, cuma satu, kalau gak kuliah mau kemana, mau ngapain? Karena menurutku kemampuan keterampilan aku belum punya. Kalau gak kuliah mau jadi apa? Sedangkan yang kuliah aja belum tentu sukses, belum tentu jadi apa. Padahal mereka normal. Awak mau jadi apa, itu sih prinsipku yang paling mendasar, dari diri sendiri”

(W4.R1/B.648-661/hal.66

2. Proses Pembelajaran di Perguruan Tinggi a. Proses memasuki Perguruan Tinggi

Setiap calon mahasiswa yang ingin mendaftarkan diri ke suatu jurusan di Universitas harus melalui proses seleksi. Bentuk seleksi dan prosedur seleksinya ada beragam, tergantung pada tes seleksi apa yang diikuti. Proses masuknya LS ke Universitas tidak berbeda dengan calon mahasiswa pada umumnya. LS mengikuti seleksi UMB (Ujian Masuk Bersama) yang juga diikuti oleh ribuan calon mahasiswa lainnya. Yang menjadi perbedaan LS dengan peserta tes yang lain adalah pada saat pelaksanaan ujian. LS dipisahkan dengan ribuan peserta lainnya dan mengikuti ujian di ruangan yang telah disediakan panitia khusus untuk para peserta tes yang memiliki kekurangan seperti dirinya. Disamping itu LS juga harus mencari pendamping yang dapat membantunya menuliskan jawaban-jawaban ujiannya, karena pengerjaan ujian menggunakan lembar jawaban-jawaban yang nantinya akan diperiksa menggunakan komputer sehingga pengisiannya harus

benar. Pada awalnya LS sangat kesulitan mencari orang yang membantunya, terlebih lagi setelah tahu bahwa pihak panitia tidak menyediakan. Pada akhirnya LS berhasil meminta kakaknya untuk membantunya.

“Ya sama aja seperti calon mahasiswa lainnya, cuma bedanya kami ruangannya terpisah.”

(W1.R1/B.645-648/hal.12)

“Wahh kalau aku dulu, cari teman agak kewalahan. Gak bisa dipungkirilah. Yang namanya mencari teman untuk membacakan ada yang sampai minta bayar. Paling gak kena lima puluh untuk membacakan dua hari. Kita yang

bayarin ongkosnya.”

(W1.R1/B.649-658/hal.12)

“Iya. Tapi kan ketepatan kakakku lagi kosong, jadi minta tolong dialah kemarin itu. Ketimbang awak bayar orang lain. Dan kebetulan dia mau. Yaudah. Jadi dialah yang bacain, yang nandain... karena panitia gak menyedikan pendamping. Sempat saya bertanya gini sama panitia, ada gak disediakan pendamping? Gak ada katanya. Yaudah saya ambil inisiatif sendiri. Ketepatan kakak saya sudah bersedia kian kan, jadi aku tinggal

Dokumen terkait