BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
B. Responden II
Tabel 3. Deskripsi Umum Responden II
Dimensi Keterangan
Nama/Inisial ES
Usia 20 tahun
Usia mengalami kebutaan total 2,5 tahun
Universitas/Fakultas/Jurusan Salah satu Universitas Swasta di Sumatera Utara / Satsra / Bahasa Indonesia
Alamat Rumah Jln Karya Wisata, Johor
Lama berkuliah 1,5 tahun
Agama Katolik
Suku Batak Simalungun
Keberadaan orangtua Ibu masih hidup, Ayah sudah meninggal Jumlah saudara kandung Anak ke 2 dari 2 bersaudara
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,6
2. Jadwal Pelaksanaan Wawancara
Tabel 4. Jadwal Wawancara Responden II
No Hari Tanggal Waktu Tempat Keterangan
1 Senin 18 Maret 2013 10.00 – 10.30 WIB Kampus Responden Rapport 2 Sabtu 6 April 2013 12.30 – 13.45 WIB Asrama Wawancara 1 3 Senin 8 April 2013 14.00 – 15.00 WIB Asrama Wawancara 2 4 Kamis 11 April 2013 08.00 – 09.15 WIB Kampus Responden Wawancara 3
3. Gambaran Umum Responden II
ES adalah seorang mahasiswi tunanetra berusia 20 tahun yang berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Medan yaitu Universitas Prima. Pada saat ini, ES sedang menduduki semester ke 4 di jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas
Sastra. ES merupakan salah satu mahasiswa yang beruntung mendapatkan beasiswa penuh untuk berkuliah di tempat tersebut.
ES merupakan anak ke-dua dari dua bersaudara. ES memiliki seorang abang yang kini telah berkeluarga dan tinggal di Riau. Di Medan, ES tinggal di asrama di Panti Asuhan Karya Murni, dimana ES telah tinggal menetap di tempat tersebut sejak ibunya mengantarkannya pada usia 4 tahun. Tempat ini merupakan tempat tinggal dan juga sekolahnya pada masa SD dan SMP, yang juga merupakan Sekolah Luar Biasa (SLB). Pada saat SMA, ES belajar di SMA Cahaya, salah satu sekolah reguler yang bukan diperuntukkan bagi anak tuna netra.
ES terlahir normal, namun sangat disayangkan hanya memiliki fungsi mata yang bekerja dengan baik sampai pada usia 2 tahun saja. Menurut pengakuan ES, pada saat kecil, dirinya kurang mendapat perhatian dari ibunya. Ayahnya juga sudah meninggal akibat penyakit lever, sejak dirinya berusia 2 tahun. Sejak saat itu, ibu ES sering stress dan menelantarkan anak-anaknya. Sedari kecil ES tidak memiliki hubungan yang baik dengan ibunya, bahkan hingga sekarang. Sejak ibunya mengantarkan ES ke asrama, ES tidak pernah lagi berjumpa dengan ibunya dan tidak mengetahui dimana keberadaannya. ES juga tidak memiliki ingatan apapun tentang ayahnya. ES dulu sering dijaga dan dirawat oleh neneknya, sehingga ES lebih dekat dengan nenek dan abangnya dibandingkan dengan ibunya. Selama di asrama pun, hanya neneknya lah yang sesekali datang mengunjungi dirinya, dan pada saat usianya sudah cukup, ES lah yang pulang ke kampung setiap akhir semester untuk mengunjungi nenek dan
abangnya. Namun karena neneknya kini juga sudah meninggal, dan abangnya juga sudah berada di Riau, ES tidak memiliki hubungan erat dengan satupun keluarga atau sanak saudaranya yang masih hidup. ES hanya menjaga komunikasi dengan abangnya lewat telepon.
Pada saat balita, ES pernah menderita campak dan penyakit kulit di saat yang bersamaan, namun tidak mendapatkan perawatan yang semestinya. Walaupun ada sedikit usaha untuk mengobati, namun Ibunya tidak begitu mempedulikan kesehatan ES. Persoalan biaya dan kurangnya perhatian serta kewaspadaan terhadap penyakit campak dan kulit yang dideritanya mengakibatkan ES mengalami kebutaan total yang permanen. Cahaya dan bayangan pun tidak dapat dirasakan ES, sehingga ES lebih banyak didampingi untuk melakukan segala aktivitasnya.
Kini ES telah menjalani kesehariannya tanpa melihat selama kurang lebih 17 tahun. ES mengaku sudah mulai terbiasa, namun tidak memungkiri bahwa banyak sekali kendala yang dihadapinya karena tidak bisa melihat. Tak jarang ES merasa kesal dan juga minder akan keadaan dirinya, namun ES juga sering memotivasi dirinya untuk terus maju. Absennya keluarga dalam kehidupannya, menuntut ES untuk menjadi orang yang mandiri dan lebih mengandalkan teman-teman serta orang-orang yang di asrama.
Pada masa sekolah, khususnya SD dan SMP, prestasi yang didaptakan ES terbilang cukup baik. Meskipun dirinya tidak pernah juara kelas, nilai rata-rata yang didaptkannya sudah baik. Namun pada saat memasuki SMA, ES merasa harus berjuang lebih keras, karena untuk pertama kalinya dirinya memasuki
sekolah reguler, dengan sistem belajar yang sangat berbeda. Pada tahun pertamanya, ES mengalami kesulitan yang sangat besar dalam mengikuti pelajaran. ES juga kesulitan mendapat teman baru, dan juga malu untuk memulai percakapan. Segala sesuatunya dianggapnya berjalan dengan lebih cepat dan lebih sulit daripada waktu ES belajar di SLB. Perlahan-lahan prestasinya juga menurun, dan akhirnya ES mendapat ranking kelas yang tidak baik. ES mencoba mengejar dan memperbaiki prestasinya di kelas dua dan tiga, dan ES berhasil untuk menjadi lebih baik. ES juga lulus UN dengan nilai yang memuaskan.
Ketika memasuki masa kuliah, ES kembali mengalami proses adaptasi dengan segala sistem belajar yang ada. Disatu sisi, ES sudah lebih berani dalam bertindak dan bertanya kepada orang yang belum dikenalnya, namun dalam hal belajar dan pengerjaan tugas, ES masih sering mengalami kesulitan. Walaupun demikian prestasi ES dari segi IPK sangat baik, yaitu 3,6. Namun, ES mengaku IP nya tersebut menurun setiap semester, dan mengkhawatirkan akan terus menurun. Perasaan dan mood ES sering berubah-ubah dan sedikit banyak dipengaruhi oleh berbagai hal yang terjadi dengan dirinya. Masalah keluarga, masalah keuangan, pergaulan dan kegiatan akademiknya sering mempengaruhi proses belajar ES.
4. Data Observasi Selama Wawancara
Sebelum melaksanakan wawancara, peneliti dan responden mengatur pertemuan untuk dapat berkenalan dan membahas maksud dan tujuan peneliti mengajak responden. Sebelumnya, responden telah setuju untuk berpartisipasi ketika ditanyakan melalui telepon. Pertemuan pertama terjadi di kampus
responden yaitu di Universitas Prima, tepatnya di lobby kampus sekitar pukul 10.00 WIB. Lobby tersebut cukup luas dan tersedia bangku-bangku di dua sisi dinding. Banyak mahasiswa yang lalu lalang, namun responden tidak melihat adanya seorang mahasiswa tuna netra. Peneliti menelepon responden dan tidak lama kemudian responden turun dari lantai dua melalui tangga, ditemani dua orang teman perempuannya. ES memiliki tinggi badan sekitar 160 cm dan berat badan kurang lebiih 50 kg, memiliki warna kulit sawo matang, bentuk wajah yang bulat dan sedikit berjerawat, ES terlihat rapi mengenakan kemeja putih dan rok hijau kotak-kotak selutut serta sepatu flat berwarna coklat, dan rambut hitam lurus yang diikat satu. Keadaan mata ES secara fisik sangat menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang tuna netra. Meskipun bola matanya tidak rusak parah, namun dapat dilihat bahwa bola mata hitamnya cenderung ke atas sehingga ketika ES membuka mata, yang cenderung terlihat adalah bagian putihnya saja. Selain itu ES juga sering berkedip-kedip dan tidak pernah menghadap langsung kepada orang yang sedang berbicara dengannya.
Responden mengulurkan tangan untuk bersalaman dan berkenalan dan ES merespon dengan hangat, tampak dari balasan salamnya serta senyuman yang dilontarkannya. Peneliti dan responden sama-sama duduk di bangku yang ada di lobby, dan kedua teman responden duduk disampingnya. Peneliti menjelaskan kembali mengenai maksud dan tujuan peneliti meminta partisipasi responden. Responden tampak bingung dan kebanyakan diam saja. Peneliti menanyakan apakah responden memahami apa yang peneliti jelaskan, dan responden hanya tersenyum dan menjawab dengan malu-malu “iya, kak”. Responden tampak
tegang dan gelisah. Sikap duduknya tidak menunjukkan sikap duduk yang nyaman serta raut wajahnya juga terlihat tegang. Responden mencoba mencairkan suasana dan memberikan lelucon agar peneliti bisa lebih santai, kemudian mencoba menjelaskan kembali dengan kata-kata yang lebih sederhana. Kali ini responden tampak lebih paham dan akhirnya menyetujui untuk berpartisipasi, serta menandatangani informed concent yang peneliti bawa. Pembangunan rapport berjalan dengan baik. Dalam waktu kurang lebih setengah jam, ES sudah tampak semakin nyaman dalam berbicara walaupun masih sangat pemalu. Beberapa kali ES juga menanyakan peneliti beberapa pertanyaan mengenai peneliti dan juga skripsi peneliti.
Pertemuan kedua dilakukan di asrama yang ditinggali oleh ES, yaitu di Panti Asuhan Karya Murni, di daerah Johor. Peneliti mendatangi responden sekitar pukul 12.30 WIB. Responden langsung mendatangi ruangan asrama ES, dan meminta orang untuk memanggil dirinya. ES menyambut peneliti dengan sangat riang dan sumringah. ES tampak senang dengan kedatangan peneliti dan langsung menarik tangan peneliti serta melingkarkan lengannya di lengan peneliti. Perubahan sikap ES tampak cukup signifikan dari kali pertama berjumpa. ES tampak lebuh ceria, lebih aktif berbicara, dan lebih banyak tertawa. Peneliti menanyakan apakah responden sudah makan atau belum dan ternyata belum, namun responden menolak untuk makan terlebih dahulu, meskipun sudah peneliti paksa. Responden lebih memilih untuk wawancara saja.
Wawancara langsung dimulai di ruangan tersebut, yang mana cukup kondusif karena tidak berisik dan tidak dipenuhi oleh orang banyak. Hanya ada
beberapa orang saja di ruangan tersebut, namun tidak ada yang mengganggu proses wawancara, karena mereka semua lebih memilih berada di kamarnya masing-masing. ES dan peneliti duduk di meja bundar, yang merupakan meja yang biasa digunakan untuk makan bersama. Pada wawancara pertama ini, peneliti mendapati bahwa ternyata ES masih memiliki seorang ibu, namun sudah putus hubungan sama sekali dengannya. Setiap membahas mengenai keluarga, terutama ibunya, ES seperti enggan membicarakannya dan juga malu. Hal ini tampak dari bahasa tubuhnya yang berubah, dirinya menjadi tidak seantusias awal, dan kepalanya sering menunduk. Namun ketika membicarakan opungnya (nenek), ES kembali tersenyum dan menceritakan beberapa kenangan dengan opungnya.
Proses wawancara berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam dan berjalan dengan baik. ES cukup jelas dalam memberikan jawaban, dan juga tidak malu untuk bertanya ketika dirinya kurang memahami pertanyaan yang diajukan. ES juga memiliki kecenderungan untuk tertawa kecil ketika dirinya tersipu malu atau sedang menceritakan pengalamannya yang lucu. Misalnya, ketika peneliti menanyakan mengenai IPK nya, ES langsung tertawa dan mengatakan “lupa”,
namun pada akhirnya ES memberitahukan bahwa IPK nya 3.6, kemudiaan ES tertawa kecil lagi karena malu menyampaikan bahwa setiap semester IP nya turun.
Wawancara ke-dua kembali dilaksanakan di asrama ES, sekitar pukul 14.00 WIB. Pada hari itu ES tidak ada jadwal kuliah sehingga berada di asrama seharian. ES mengenakan pakaian rumah berupa kaos berwarna kuning dan celana jeans selutut. Wawancara dilaksanakan di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Peneliti mulai menanyakan kembali pertanyaan-pertanyaan sesuai pedoman wawancara dan ES menjawab setiap pertanyaan dengan baik. ES terlihat semangat dalam menceritakan pengalamannya ketika SMP dan SMA, mengenai hari-hari pertama masuk sekolah, begitu pula ketika menceritakan mengenai kesulitan yang dihadapinya ketika melaksanakan ujian bulanan. Beberapa kali ia tertawa sambil menceritakannya. Pada wawancara yang kedua ini peneliti dan ES sudah semakin akrab dan sifat pemalu ES perlahan-lahan memudar.
Wawancara ketiga dilaksanakan pagi-pagi sekitar pukul 08.00 WIB di kampus ES, di lobby. Begitu sampai di lokasi , peneliti menelepon ES dan ES langsung turun dari lantai dua sendirian. ES memakai kemeja putih dan rok coklat selutut serta sepatu flat coklat, sambil memegang sebuah buku cetak dengan sampul berwarna hijau. Rambutnya diikat satu dan ES menyandang tas ransel berwana abu-abu dan ungu di punggungnya. Peneliti mendatangi responden dan melingkarkan lengan peneliti ke lengan ES, namun ES malah mengambil tangan peneliti dan menggenggam tangan peneliti. Setelah sibuk mendiskusikan dimana lokasi yang enak untuk mengobrol akhirnya diputuskan untuk melaksanakan wawancara ditempat awal, yaitu di bangku lobby. Karena masih pagi, keadaan kampus tidak seramai hari pertama berjumpa, namun tetap saja banyak orang yang lalu lalang. Untungnya di bagian tempat duduk hanya peneliti dan ES yang duduk, sehingga tidak begitu ribut. Wawancara pun dimulai dengan menanyakan beberapa hal terkait wawancara lalu yang belum begitu jelas. ES mengambil sikap duduk yang nyaman, sambil bersandar ke bangku dan menjawab setiap pertanyaan dengan tenang. Peneliti sempat menanyakan kembali mengenai ibu
ES, dan ES langsung terlihat tidak selera untuk membicarakannya. Namun pada akhirnya ES mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui apapun mengenai ibunya dan bahwa pandangannya terhadap seorang ibu turut berubah. ES tampak gelisah dan tidak nyaman setiap membicarakan ibunya, hal ini juga tampak dari bahasa tubuhnya yang terus membolak-balik lembaran-lembaran kertas di buku cetak yang dipegangnya. Kelanjutan wawancara berjalan dengan lancar, dan berakhir setelah kurang lebih 1 jam 15 menit. Peneliti mengajak ES untuk sarapan bersama namun ES menolak dengan sopan, karena akan masuk kuliah pukul 10.00 WIB, namun ES tidak menolak ketika diajak jajan. Dalam perjalanan menuju kantin, ES semakin menunjukkan keterbukaannya dan sedikit curhat mengenai dirinya yang tidak pernah mendapatkan uang saku untuk jajan atau kebutuhan tersiernya.
5. Analisa Data Wawancara 1. Latar Belakang
a. Keluarga dan Lingkungan
ES adalah seorang mahasiswa tingkat II, berusia 20 tahun, yang berkuliah di jurusan Sastra Indonesia di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan. ES yang beragama Katolik ini adalah seorang anak perempuan yang terlahir sebagai anak kedua dari dua bersaudara. ES dan abangnya selisih usia 3 tahun. Ayah ES sudah meninggal sejak ES berusia 2 tahun karena sakit lever, sementara Ibu ES sudah tidak berhubungan baik lagi dengan ES dan abangnya sejak masih kecil.
“Tinggal mamak. Kalau bapak uda lama meninggal.”
“Sejak aku masih kecil.”
(W1.R2/B.35/hal.77)
“Sakit lever.”
(W1.R2/B.95/hal.78)
Sejak ayahnya meninggal, ES dan abangnya sering dititipkan ke neneknya,
yang disapanya dengan sebutan “opung”, karena ibu ES memiliki banyak sekali kesibukan yang tidak menentu di luar rumah. ES menganggap ibunya dulu merasa tertekan karena penyakit berat sekaligus menimpa ES dan ayahnya. Keuangan yang tidak mencukupi menyebabkan ayah dan ES hanya mendapat pengobatan seadanya. Setelah ayahnya meninggal, ibu ES tidak lagi sering memberikan perhatiannya kepada ES dan abangnya. Untuk ES, neneknya sempat berusaha memberikan pengobatan, namun karena keterbatasan pemahaman mengenai penyakit ini, pengobatan yang dilakukan pun tetap tidak maksimal. Penyakit ES yang awalnya penyakit kulit, kemudian ditambah campak malah menimbulkan kebutaan total pada ES. Hal ini karena kurangnya penanganan yang serius.
“Iya mamak itu dulu suka keluar-keluar keluyuran. Gak tau ntah ngapain. Makanya dulu aku sama abang lebih sering dititipin ke opung.”
(W1.R2/B.76-81/hal.77-78)
“Gaktau lah kak. Dulu mamak itu stress.”
(W1.R2/B.88-89/hal.78)
“Macam-macam lah kak. Dulu kan aku juga sakit, langsung dua penyakit,
terus bapak juga dulu sakit.”
(W1.R2/B.90-94/hal.78)
“Ya dikasih, tapi apa adanya. Dulu kan biaya juga susah.”
(W1.R2/B.97-99/hal.78)
“Iya, aku dulu normal lahirnya. Bisa melihat. Terus pas sekitar umur dua
tahun, aku ada sakit kulit. Gak lama kemudian sakit campak juga. Disitu mamak uda sering stress, akhirnya dia jadi kurang perhatian gitu.
Penyakitkku itu juga jadi kek kurang dapat perawatan. Palingan dari opunglah. Tapi itu pun mungkin karena gak terlalu paham, jadi fokusnya lebih ke penyakit kulitnya. Campaknya dibiarin. Rupanya karena dibiar-biarkan, ternyata nyerang mata juga. Dari situ lah awalnya kak mataku ngalamin gangguan. Lama-lama rupanya jadi buta total.”
(W1.R2/B.100-124/hal.78)
Pada usia 4 tahun, ES sudah diantar ibunya ke panti asuhan ini dan sejak itu ES bersekolah di panti asuhan ini. Di panti asuhan ini, ES tinggal bersama anak-anak tuna netra lainnya. Sejak saat itu pula ES kehilangan kontak dengan ibunya. ES tidak pernah mengetahui keberadaan ibunya sampai sekarang. Satu-satunya keluarga yang rutin mengunjungi ES di panti asuhan ini adalah neneknya. Selain nenek dan abangnya, ES juga sebenarnya masih memiliki keluarga lainnya dari pihak ayahnya. Namun, kelaurga dari pihak ayah inipun tidak baik hubungannya. Tidak saling peduli antara anggota keluarga.
“Dulu aku diantar mamak kesini. Waktu sekitar 4 tahun. Yauda dari sejak
itu aku sekolah disini.”
(W1.R2/B.139-142/hal.79)
“Gak. Pas dia ngantar trakir kali itu lah. Setelah itu uda gak pernah ketemu lagi.”
(W1.R2/B.150-153/hal.79)
“Opung tetap di kampung. Tapi sekali-sekali datang berkunjung juga
kesini.”
(W1.R2/B.143-146/hal.79)
“Ya memang ada Pak Uda, Nanguda, Namboru. Kalo keluarga kami ini
agak lain kak, udah agak retak gitu. Jadi gak terlalu harmonis. Jadi apa yang dibikin si anu disana, gak terlalu diperhatikan. Keluarga Bapak la itu
semua, ya kayak gak akur gitu lah kak.”
Sampai tingkat SMP, ES menjalani pendidikannya di SLB yang bertepatan sama dengan panti asuhan tempat ia menetap. Selepas SMP, ES melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMA di salah satu sekolah swasta normal yang ada di Medan. Keadaan yang ditemui ES di sekolah normal ini sangat berbeda dengan sewaktu ia masih di SLB dulu, dimana semua peserta didiknya adalah tunanetra. Sejak masuk ke panti asuhan ini, ES jarang bertemu dengan abangnya. Tepat sewaktu ES duduk di bangku SMA, pertemuan ini semakin sulit karena abangnya harus pindah ke Riau.
“SMA gak. Di Cahaya. Kalau SMP disini, SLB.”
(W1.R2/B.255-256/hal.81)
“Aku jarang ketemu sama abangku kak.”
(W1.R2/B.240-241/hal.81)
Tahun-tahun pertama di bangku SMA, ES sering merasa kesal kepada keluarganya, kesal juga kepada Tuhan. ES menganggap bahwa beban yang diberikan kepadanya sangat berat. Mulai dari keadaan dirinya yang buta total, nenek yang selama ini memperhatikannya dipanggil oleh Tuhan, ditambah lagi dengan keluarga yang tidak mempedulikannya. Kepergian neneknya membuat ES merasa sangat kehilangan. Neneknyalah satu-satunya keluarga, selain abangnya, yang mendukungnya secara mental, memberikan ES perhatian yang cukup dan rutin mengunjunginya selama berada di panti asuhan. Nenek yang sudah bagaikan orangtua sendiri bagi ES, tidak pernah membatasi pergerakan ES. Nenek yang setiap harinya mengurusi ladang selalu mengizinkan ES jika ingin ikut ke ladang bersamanya, membantunya memanen ubi jalar. Sekarang ini, hanya abangnyalah
yang sering memperhatikannya, keluarga yang lainnya tidak, bahkan untuk menanyakan kabar saja pun tidak.
“Yaa pas pertama-tama kali gitu kak, pas SMA, kekmana ya kak. Aduh, kesal sama orang itu, kesal sama Tuhan, kok kek ginilah kan ya, udah awak gak bisa melihat, terpisah dari keluarga, orang itu cuek lagi. Kekmanalah ini ya, sempurnalah udah semua. Memang benci kali aku kemarin sama orang itu, apalagi pas meninggal opung itu, keknya disitu benar-benarlah kehilangan. Yaudahlah. Aku pun mikir, mau peduli mau enggak, ya terserahlah. Ya kenyataannya sampai sekarang kek gitulah orang itu, paling cuma abang lah yang perhatian, selain itu gak ada. Kek
nanya kabar pun enggak.”
(W2.R2/B.658-681/hal.113)
“Kalau opung itu ya kak, pokoknya orangnya gak ini, gak membatasi pergerakan, misalnya kalau mau ke ladang, nanti biasanya diajak. Kalau kek teman-temanku kan dirumah aja kalau pas pulang. Kalau aku gak, kalau misalnya opung mau ke rumah saudara, kalau misalnya aku mau, aku ikut. Jadi kemana opung pigi ke situ aku pigi. Bangun juga kek gitu. Kalau opung cepat bangun, cepat juga aku bangun. Walaupun nanti di ladang itu aku cuma duduk-duduk, main-main, tapi pokoknya apa, tetap ikut sama opung. Enak gitu sama opung. Kadang ntah apa nanti
ngangkat-ngangkat, disuruh.”
(W3.R2/B.101-125/hal.116)
Hubungan ES dengan abangnya terbilang cukup baik. Namun ES cukup tertutup terhadap abangnya jika ES memiliki masalah, karena ES tidak ingin menambah beban pikiran abangnya. Ditambah pula sekarang abangnya sudah berkeluarga, jadi ES maklum jika perhatian abangnya menjadi lebih sedikit terhadapnya. Hanya saja, ketidakhadiran abangnya terasa ketika ES berada di kampung, karena di kampung, ES hanya dekat dengan abangnya. ES mengaku segan dan takut dengan keluarga yang lain. Ketidaknyamanan yang dirasakan ES ini membuatnya merasa malas untuk pulang ke kampung. Hal ini jugalah yang membuat abang ES memutuskan untuk merantau, karena sudah tidak betah lagi
berada di kampung. Alhasil, ES sering menghabiskan hari liburnya dengan beraktivitas di panti asuhan yang sepi di hari libur.
“Sama abang kompak sih kak. Cuman kan abang ini, kekmana ya,
menganggap aku gak ada masalah apa-apa. Kalau di asrama dianggapnya
semua uda bereslah gitu.”
(W3.R2/B.537-543/hal.127)
“Iya. Kalau sama abang kan nanti takutnya, membebani dia pulak lagi nanti.Jadi aku mikirnya dari dulu, ah udahlah.”
(W3.R2/B.556-560/hal.127)
“Aku kekmana ya kak. Jadi bingung juga minta perhatian dia. Karena kan
dia udah berkeluarga. Kalau nuntut terlalu banyak, apa juga. Ya dia uda lebih besarlah perhatiannya ke keluarga daripada sama aku. Jadi walaupun