KAJIAN PUSTAKA
PENDIDIKAN NASIONAL
Tinjauan tentang Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
1. Dasar dan Fungsi Pendidikan Nasional
a. Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
b. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
2. Tujuan Pendidikan Nasional
Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: a. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
b. berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan c. menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
commit to user
3. Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan
a. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. b. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik
dengan sistem terbuka dan multimakna.
1) Pendidikan sistem terbuka: fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan
2) Pendidikan multimakna: proses pendidikan yang diselenggarakan dengan berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak dan kepribadian, serta berbagai kecakapan hidup
c. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
d. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
e. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. f. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua
komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
4. Standar Nasional Pendidikan
a. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.
commit to user
b. Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. c. Pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standardisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan.
5. Kurikulum:
a. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
b. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
c. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
d. Pengembangan kurikulum secara berdiversifikasi dimaksudkan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
1) peningkatan iman dan takwa; 2) peningkatan akhlak mulia;
3) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; 4) keragaman potensi daerah dan lingkungan;
5) tuntutan pembangunan daerah dan nasional; 6) tuntutan dunia kerja;
commit to user
8) agama;
9) dinamika perkembangan global; dan
10) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
F. TINJAUAN INTERIOR
1. Hubungan Antar Ruang a. Ruang di dalam ruang
Sebuah bangunan yang luas dapat melingkupi dan memuat sebuah ruangan lain yang lebih kecil di dalamnya. Kontitunitas visual dan ruang di antara kedua ruang tersebut dengan mudah mampu dipenuhi tetapi hubungan dengan ruang luar dari ruang yang dimuat tergantung kepada ruang penutupnya yang lebih besar. Misalnya ruang kelas dalam gedung sekolah.
b. Ruang-ruang yang saling berkaitan
Suatu hubungan ruang yang saling berkaitan terdiri dari 2 buah ruang yang kawasannya membentuk volume berkaitan seperti, masaing-masing ruang mempertahankan identitasnya dan batasan sebagai ruang. Tetapi, hasil konfigurasi kedua ruang yang saling berkaitan akan tergantung pada beberapa penafsiran.
c. Ruang-ruang yang bersebelahan
Bersebelahan adalah jenis hubungan ruang yang paling umum. Hal tersebut memungkinkan definisi dan respon masing-masing ruang menjadi jelas terhadap fungsi dan persyaratan simbolis menurut cara masing-masing simbolisnya.
d. Ruang-ruang yang dihubungkan oleh ruang bersama
2 buah ruang yang terbagi oleh jarak dapat dihubungkan atau dikaitkan satu sama lain oleh ruang ketiga yaitu ruang pertama. Hubungan akan kedua ruang tersebut menempati satu ruang bersama-sama.
2. Sistem Organisasi Ruang
commit to user
kepentingan relatif dan fungsi serta peran simbolis ruang-ruang tersebut di dalam suatu organisasi bangunan. Keputusan mengenai jenis organisasi yang harus digunakan dalam situasi khusus akan tergantung pada: kebutuhan atas program bangunan, seperti pendekatan fungsional persyaratan ukuran, klasifikasi hirarki ruang-ruang dan syarat-syarat pencapaian, pencahayaan atau pemandangan. Kondisi-kondisi eksterior dari tapak yang mungkin akan membatasi bentuk atau pertumbuhan organisasi atau yang mungkin merangsang organisasi tersebut untuk mendapatkan gambaran-gambaran tertentu tentang tapaknya dan terpisah dari bentuk-bentuk lainnya. (Ching, 2000, 188).
Berbagai macam pengorganisasian ruang menurut Francis.D.K. Ching antara lain sebagai berikut :
a. Terpusat
Gambar II.2 Organisasi ruang terpusat Sumber : Ching, 2000, hal 189
Suatu ruang dominan, dimana pengelompokan sejumlah ruang sekunder dihadapkan.
Organisasi terpusat merupakan komposisi terpusat dan stabil yang terdiri dari sejumlah ruang sekunder, dikelompokkan mengelilingi sebuah ruang pusat yang luas dan dominan.
Gambar II.3 Ilustrasi 1 Organisasi ruang terpusat Sumber : Ching, 2000, hal 190
commit to user
Ruang pemersatu terpusat, dari suatu organisasi pada umumnya berbentuk teratur dan ukurannya cukup besar untuk menggabungkan sejumlah ruang sekunder di sekelilingya.
Gambar II.4 Ilustrasi 2 Organisasi ruang terpusat Sumber : Ching, 2000, hal 190
Ruang-ruang sekunder dari suatu organisasi mungkin setara satu sama lain dalam fungsi, bentuk dan ukuran, serta menciptakan suatu konfigurasi keseluruhan yang secara geometri teratur dan simetris terhadap dua sumbu atau lebih.
Gambar II.5 Ilustrasi 3 Organisasi ruang terpusat Sumber : Ching, 2000, hal 190
Ruang-ruang sekunder mungkin berbeda satu sama lain dalam hal bentuk atau ukurannya sebagai tanggapan terhadap kebutuhan-kebutuhan individu akan fungsi, menunjukkan kepentingan relatif, atau lingkungan suasana sekitarnya. Perbedaan antara ruang-ruang sekunder juga memungkinkan bentuk dari organisasi terpusat untuk menanggapi kondisi lingkungan tapaknya.
Gambar II.6 Ilustrasi 4 Organisasi ruang terpusat Sumber : Ching, 2000, hal 190
commit to user
Apabila bentuk organisasi terpusat bersifat tidak berarah, kondisi-kondisi pencapaian dan jalan masuk harus dikhususkan menurut tapak dan ketegasan salah satu ruang sekunder sebagai gerbang masuk.
Gambar II.7 Ilustrasi 5 Organisasi ruang terpusat Sumber : Ching, 2000, hal 190
Pola sirkulasi dan pergerakan dalam suatu organisasi terpusat mungkin berbentuk radial, lup atau Spiral. Walaupun hampir dalam setiap kasus pola tersebut akan berakhir di dalam atau di sekeliling ruang pusat.
Gambar II.8 Ilustrasi 6 Organisasi ruang terpusat Sumber : Ching, 2000, hal 190
Organisasi-organisasi terpusat yang bentuk-bentuknya relatif padat dan secara geometric teratur dapat digunakan untuk menetapkan titik-titik atau “tempat-tempat” di dalam ruangan,
menghentikan kondisi-kondisi aksial, dan berfungsi sebagai suatu obyek di dalam daerah atau volume ruang yang tetap.
commit to user
Gambar II.9 Ilustrasi 7 Organisasi ruang terpusat Sumber : Ching, 2000, hal 190
b. Linier
Gambar II.10 Organisasi ruang Linier Sumber : Ching, 2000, hal 189 Suatu urutan linier dari ruang-ruang yang berulang.
Organisasi linier pada dasarnya terdiri dari sederetan ruang. Ruang-ruang ini dapat berhubungan secara langsung satu dengan yang lain atau dihubungkan melalui ruang linier yang berbeda dan terpisah.
Organisasi linier biasanya terdiri dari ruang-ruang yang berulang serupa dalam hal ukuran, bentuk dan fungsi. Organisasi ini juga dapat terdiri dari ruang linier tunggal yang menurut panjangnya mengorganisir sederetan ruang-ruang sepanjang bentangnya yang berbeda ukuran, bentuk atau fungsi. Dalam kedua kasus di atas, tiap-tiap ruang di sepanjang rangkaian tersebut memiliki hubungan dengan ruang luar.
commit to user
Gambar II.11 Ilustrasi 1 Organisasi ruang Linier Sumber : Ching, 2000, hal 190
Ruang-ruang yang secara fungsional atau simbolis penting keberadaannya terhadap organisasi dapat terjadi di manapun sepanjang rangkaian linier dan kepentingannya ditegaskan oleh ukuran maupun bentuknya. Kepentingan juga dapat ditekankan menurut lokasinya: (1) pada ujung rangkaian linier, (2) keluar dari organisasi linier, (3) pada titik-titik belok bentuk linier yang terpotong-potong.
Gambar II.12 Ilustrasi 2 Organisasi ruang Linier Sumber : Ching, 2000, hal 190
Karena panjang karakternya, organisasi linier menunjukkan suatu arah, dan menggambarkan gerak, perluasan dan pertumbuhan. Untuk membatasi pertumbuhannya, organisasi-organisasi linier dapat dihentikan oleh suatu bentuk atau ruang yang dominan, dengan adanya tempat masuk yang menonjol dan tegas, atau penggabungan dengan bentuk bangunan lain atau karena keadaan topografi.
Gambar II.13 Ilustrasi 3 Organisasi ruang Linier Sumber : Ching, 2000, hal 190
commit to user
Bentuk organisasi linier bersifat fleksibel dan dapat menanggapi terhadap bermacam-macam kondisi tapak. Bentuk ini dapat disesuaikan dengan adanya perubahan-perubahan topografi, mengitari suatu badan air atau sebatang pohon, atau mengarahkan ruang-ruangnya untuk memperoleh sinar matahari dan pemandangan. Bentuknya dapat lurus, bersegmen, atau melengkung. Konfigurasinya dapat berbentuk horisontal sepanjang tapaknya, diagonal menaiki suatu kemiringan atau berdiri tegak seperti sebuah menara.
Gambar II.14 Ilustrasi 4 Organisasi ruang Linier Sumber : Ching, 2000, hal 190
Bentuk organisasi linier dapat berhubungan dengan bentu-bentuk lain di dalam lingkupnya dengan: (1) menghubungkan dan mengorganisir bentuk-bentuk di sepanjang bentangnya, (2) berfungsi sebagai dinding atau penahan untuk memisahkan ruang menjadi daerah yang berbeda. (3) mengelilingi dan melingkupi bentuk-bentuk ke dalam sebuah daerah ruang.
Gambar II.15 Ilustrasi 5 Organisasi ruang Linier Sumber : Ching, 2000, hal 190
commit to user
Bentuk-bentuk lengkung danbersegmen pada organisasi-organisasi linier melingkupi daerah ruang eksterior pada sisii cekungnya dan mengarahkan ruang-ruangnya menghadap ke, pusat daerah. Pada sisi cembungnya, bentuk-bentuk ini tampak menghadang dan memisahkan ruang di hadapannya terhadap lingkungannya.
Gambar II.16 Ilustrasi 6 Organisasi ruang Linier Sumber : Ching, 2000, hal 190
c. Radial
Gambar II.17 Organisasi ruang Radial Sumber : Ching, 2000, hal 190
Sebuah ruang pusat yang menjadi acuan organisai ruang yang linier berkembang menurut bentuk jari-jari.
Organisasi ruang radial memadukan unsur-unsur baik organisasi terpusat maupun linier. Organisasi ini terdiri dari ruang pusat yang dominan di mana sejumlah organisasi linier berkembang menurut arah jari-jarinya. Apabila suatu organisasi terpusat adalah sebuah bentuk yang introvert yang memusatkan pandangannya ke dalam ruang pusatnya, maka sebuah organisasi radial adalah sebuah bentuk yang ekstrovert yang mengembang
commit to user
keluar lingkupya. Dengan lengan-lengan liniernya, bentuk ini dapat meluas dam menggabungkan dirinya pada unsur-unsur atau benda-benda tertentu pada tapaknya.
Gambar II.18 Ilustrasi 1 Organisasi ruang Radial Sumber : Ching, 2000, hal 190
Seperti pada organisasi-organisasi terpusat, ruang pusat pada suatu organisasi radial pada umumnya bebentuk teratur. Lengan-lengan linier di mana ruang pusat menjadi porosnya, mungkin mirip satu sama lain dalam hal bentuk dan panjang dan mempertahankan keteraturan bentuk organisasi secara keseluruhan.
Gambar II.19 Ilustrasi 2 Organisasi ruang Radial Sumber : Ching, 2000, hal 190
Lengan-lengan radialnya juga dapat berbeda satu sama lain untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan individu akan fungsi dan konteksnya. Variasi tertentu dari orgarisasi radial adalah pola baling-baling di mana lengan-lengan liniernya berkembang dari sisi sebuah ruang pusat berbentuk segi empat atau bujur sangkar. Susunan ini menghasilkan suatu pola dinamis yang secara visual mengarah kepada gerak berputar mengelilingi ruang pusatnya.
commit to user
Gambar II.20 Ilustrasi 3 Organisasi ruang Radial Sumber : Ching, 2000, hal 190
d. Cluster
Gambar II.21 Organisasi ruang Cluster Sumber : Ching, 2000, hal 190
Ruang-ruang dikelompokan berdasarkan adanya hubungan atau bersama-sama memanfaatkan ciri atau hubungan visual.
Untuk memperkuat dan menyatukan bagian-bagian Organisaai dalam bentuk kelompok atau cluster mempertimbangkan pendekatan fisik untuk menghubungkan suatu ruang terhadap ruang lainnya. sering kali organisasi ini terdiri dari ruang-ruang selular yang berulang yang memiliki fungsi-fungsi sejenis dan memiliki sifat visual yang umum seperti wujud dan orientasi. sebuah organisasi kelompok juga dapat menerima di dalam komposisinya, ruang-ruang yang berlainan ukuran, bentuk dan fungsinya, tetapi berhubungan satu dengan yang lain berdasarkan penempatan atau alat penata visual seperti kesimetrisan atau sebuah sumbu. Karena polanya tidak berasal dari konsep geometri yang kaku, bentuk suatu organisasi kelompok bersifat fleksibel dan dapat menerima pertumbuhan dan perubahan langsung tanpa mempengaruhi karakternya.
commit to user
Gambar II.22 Ilustrasi 1 Organisasi ruang Cluster Sumber : Ching, 2000, hal 190
Gambar II.23 Ilustrasi 2 Organisasi ruang Cluster Sumber : Ching, 2000, hal 190
Ruang-ruang kelompok atau cluster dapat diorganisir terhadap suatu titik tempat masuk ke dalam bangunan atau sepanjang alur gerak yang rnelaluinya. Ruang-ruang dapat juga dikelompokkan berdasarkan luas daerah atau volume ruang tertentu. Pola ini serupa dengan organisasi terpusat, tetapi kurang dalarn hal kepadatan dan keteraturan geometri akhirnya. Ruang-ruang suatu organisasi kelompok dapat juga dimasukkan dalam suatu daerah atau volume ruang yang telah dibentuk.
Gambar II.24 Ilustrasi 3 Organisasi ruang Cluster Sumber : Ching, 2000, hal 190
Karena tidak adanya tempat utama di dalam pola organisasi berbentuk kelompok, maka tingkat kepentingan sebuah ruang harus
commit to user
ditegaskan lagi melalui ukuran, bentuk atau orientasi di dalarn polanya.
Kondisi simetris, atau aksial dapat dipergunakan untuk memperkuat atau menyatukan bagian-bagian suatu oerganisasi kelompok dan membantu menegaskan pentingnya suatu ruang sekelompok ruang atau dalam organisasi.
Gambar II.25 Ilustrasi 4 Organisasi ruang Cluster Sumber : Ching, 2000, hal 190
e. Grid
Gambar II.26 Organisasi ruang Grid Sumber : Ching, 2000, hal 190
Ruang-ruang diorganisir dalam kawasan grid struktural atau grid tiga dimensi lain.
Organisasi grid terdiri dari bentuk-bentuk dan ruang-ruang dimana posisinya dalam ruangan dan hubungan antar ruang diatur oleh pola atau bidang grid tiga dimensi.
Gambar II.27 Ilustrasi 1 Organisasi ruang Grid Sumber : Ching, 2000, hal 190
commit to user
Sebuah grid diciptakan oleh dua pasang garis sejajar yang tegak lurus yang membentuk sebuah pola titik-titik teratur pada pertemuannya. Apabila diproyeksikan dalam dimensi-ketiga, maka pola grid berubah menjadi satu set ruang unit modular berulang.
Gambar II.28 Ilustrasi 2 Organisasi ruang Grid Sumber : Ching, 2000, hal 190
Kekuatan yang mengorganisir suatu grid dihasilkan dari keteraturan dan kontinuitas pola-polanya yang meliputi unsur-unsur yang diorganisir.pola-pola ini membuat menjadi satu set atau daerah titik-titik dan garis-garis referensi yang stabil dalam ruang dimana ruang-ruang organisasi grid daerah yang walaupun berbeda dalam hal ukuran, bentuk, atau fungsi, dapat membagi hubungan bersama.
Gambar II.29 Ilustrasi 3 Organisasi ruang Grid Sumber : Ching, 2000, hal 190
Suatu grid di dalam arsitektur paling sering dibangun oleh sistem struktur rangka dari kolom dan balok. Dalam daerah grid ini, ruang-ruang dapat terbentuk sebagai beberapa daerah-daerah terisolir atau sebagai pengulangan modul grid. Tanpa melihat penempatannya dalam suatu daerah, ruang-ruang ini, jika
commit to user
dipandang sebagai bentuk-bentuk positif, akan menciptakan set kedua berupa ruang-ruang negatif.
Gambar II.30 Ilustrasi 4 Organisasi ruang Grid Sumber : Ching, 2000, hal 190
Karena sebuah grid tiga dirnerrsi terdiri dari unit-unit ruang modular yang berulang, maka organisasi ini dapat dikurangi, ditambahkan, atau dilapisi, dan identitasnya sebagai sebuah grid tetap dipertahankan dengan kemampuan untuk mengorganisir ruang-ruang. Manipulasi bentuk demikian dapat digunakan untuk rnenyewakan sebuah bentuk grid terhadap tapaknya, menetapkan tempat masuk atau ruang keluar atau memungkinkan pertumbuhan dan perluasan.
Gambar II.31 Ilustrasi 5 Organisasi ruang Grid Sumber : Ching, 2000, hal 190
Untuk memenuhi persyaratan-persyaratan khusus mengenai dimensi ruang-ruangnya atau untuk menegaskan daerah ruang untuk sirkulasi atau pelayanan, suatu grid dapat dibuat tidak teratur dalam satu atau dua arah. perubahan dimensi ini akan menimbulkan suatu hirarki rnodul-modul yang dibedakan oleh ukuran, proporsi dan lokasinya.
commit to user
Gambar II.32 Ilustrasi 6 Organisasi ruang Grid Sumber : Ching, 2000, hal 190
Sebuah grid dapat mengalami perubahan-perubahan bentu yang lain. Bagian-bagian grid dapat bergeser untuk mengubah kontinuitas visual maupun kontinuitas ruang melampaui daerahnya. Pola grid dapat diputus untuk membentuk ruang utama atau menampung bentuk-bentuk alami tapaknya. Sebagian dari grid dapat dipisahkan dan diputar terhadap sebuah titik dalam pola dasarnya. Lewat dari derahnya, grid dapat mengubah kesannya dari suatu pola titik ke garis, ke bidang, dan akhirnya ke ruang.
Gambar II.33 Ilustrasi 7 Organisasi ruang Grid Sumber : Ching, 2000, hal 190
3. Sistem Sirkulasi
Sirkulasi ruang sangat berperan penting dalam menentukan arah dalam sebuah bangunan, karena dengan sirkulasi yang teratur maka akan memudahkan pengguna yang berada didalamnya. Sebaliknya jika system sirkulasi ruang tidak teratur dan asal-asalan akan membuat pengguna yang berada didalamnya merasa tidak nyaman dan seolah menyesatkan penggunanya. Sistem sirkulasi hendaknya juga berhubungan dengan system organisasi ruang agar
commit to user
serasi dan tertata sehingga tercipta sebuah gedung dengan ruangan dan system sirkulasi yang memudahkan penggunanya.
Sirkulasi ruang mengarahkan atau membimbing perjalanan pengguna ruang – ruang pada suatu bangunan. Suatu pola sirkulasi memberikan suatu arahan perjalanan yang berupa lorong atau koridor, yang menghubungkan antara ruang yang satu dengan ruang yang lainnya. Pengarahan atau pembimbingan jalan dapat diperkuat dengan peletakan pintu – pintu, permainan langit – langit, dindign, lampu / penyinaran, gambar atau lukisan dan benda – benda yang di dalam ruang ( Pamudji Suptandar, 1999, hal. 114. Laporan Tugas Akhir Perencanaan dan Perancangan Interior Pendidikan Prasekolah Nasional Plus di Surakarta, Galur Gegadannitisswari, C 0803016, hal 17. 2009 ).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan sebuah sirkulasi ruang untuk sebuah bangunan menurut Pamudji Suptandar dalam bukunya yang berjudul “Perancangan Tata Ruang
Dalam (Interior Design)” ( 1999, hal 119 ) yaitu :
a. Kegiatan manusia sebagain besar dilakukan di dalam ruangan, maka faktor yang sangat penting adalah perancangan sirkulasi yang terjadi dalam ruang tersebut.
b. Fungsi ruang ditentukan oleh kegiatan manusia yang terjadi di dalamnya mempengaruhi dimensi ruang, organisasi ruang, ukuran, sirkulasi, letak serta bukaan jendela dan pintu – pintu.
c. Dimensi ruang dalam selain ditentukan oleh aktivitas kegiatan manusia juga dipengaruhi skala proporsi manusia itu sendiri. d. Modul perancangan ruang dan bangunan merupakan faktor utama,
dimana faktor – faktor yang mempengaruhi modul tersebut adalah bahan – bagan bangunan dan tehnik pelaksanannya.
e. Pencapaian ruang ke ruang hendaknya diberi identitas yang jelas dimana hal ini berhubungan erat dengan sistem organisasi ruang.
commit to user
Sedangkan menurut Francis D. K. Ching dalam bukunya yang
berjudul “Bentuk, Ruang, dan Susunannya” sistem sirkulasi ruangan
dapat dibagi menjadi :
a. Linear
Gambar II.34 Sirkulasi Linier Sumber : Ching, 2000, hal 221
Semua jalan adalah linier, jalan-jalan yang lurus dapat menjadi unsur pengorganisir yang utama untuk satu deretan ruang. Sebagai tambahan, jalan dapat melengkung atau terdiri atas segmen-segmen, memotong jalan lain, bercabang-cabang, membentuk kisaran.
b. Radial
Gambar II.35 Sirkulasi Radial Sumber : Ching, 2000, hal 221
Bentuk Radial memiliki jalan yang berkembang dari atau berhenti sebuah pusat, titik bersama.
c. Spiral
Gambar II.36 Sirkulasi Spiral Sumber : Ching, 2000, hal 221
commit to user
Sebuah bentuk Spiral adalah sesuatu jalan yang menerus yang berasal dari titik pusat, berputar mengelilinginya dengan jarak yang berubah.
d. Grid
Gambar II.37 Sirkulasi Grid Sumber : Ching, 2000, hal 221
Bentuk Grid terdiri dari dua set jalan-jalan sejajar yang saling berpotongan pada jarak yang sama dan menciptakan bujur sangkar atau kawasan-kawasan ruang segi empat
e. Network
Gambar II.38 Sirkulasi Network Sumber : Ching, 2000, hal 221
Satu bentuk jaringan terdiri dari beberapa jalan yang menggabungkan titik-titik tertentu didalam ruang.
f. Komposit
Untuk menghindarkan orientasi yang membingungkan, suatu susunan herarkis diantara jalur-jalur jalan bisa dicapai dengan membedakan skala, bentuk dan panjangnya.
commit to user
Dalam suatu ruangan pasti ada kegiatan atau aktivitas yang diwadahi, oleh karena itu dalam suatu ruangan hendaknya ada furnitur yang mampu mewadahi dan memenuhi kebutuhan untuk aktivitas yang ada didalam ruangan tersebut. Furnitur selain untuk mewadahi aktivitas yang ada juga sebagai elemen pembentuk ruang. Hal ini berkaitan dengan fungsi furnitur dalam fungsi keindahan atau estetis suatu ruang. Hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam pemilihan furnitur adalah tingkat efektif sebuah furnitur terhadap ruangan tertentu, apakah furnitur tersebut nantinya akan menghabiskan tempat atau tidak sehingga tidak mengganggu aktivitas sirkulasi ruang tersebut.
Penyusunan furnitur akan menimbulkan berbagai aspek yang berhubungan dengan jenis aktivitas, fungsi, maupun segi-segi visual. Semua ini memiliki kaitan antara aspek yang satu dengan aspek yang lain. Setelah semua factor tersebut terperhatikan kemudian meningkat pada tahap berikutnya yaitu bagaimana menerjemahkannya dalam desain.
Desain furnitur dibagi atas dua kategori :
1) Furniture yang berbentuk case (kotak) termasuk chest, meja tulis,