II. TINJAUAN PUSTAKA
3.5 Teknik Analisa Data
3.5.1 Analisa Kinerja Pembangunan Daerah
Aparatur pemerintah daerah sebagai penyelenggara pemerintahan daerah memiliki peranan penting dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, serta pelayanan umum, untuk itu ketersediaan aparatur secara kuantitas dan kualitas bagi daerah pemekaran baru (otonom baru) di sangat penting dianalisis. Dalam menganalisis ketersediaan aparatur secara kualitas dan kuantitas di Kabupaten Halmahera Timur dan Kota Tidore Kepulauan sebagai daerah pemekaran, maupun daerah induk (Halmahera Tengah) digunakan 3 (tiga) indikator, yaitu kualitas pendidikan aparatur, persentase aparatur pendidik, dan persentase aparatur paramedis (Bappenas, 2008). Indikator-indikator tersebut adalah:
1. Kualitas Pendidikan Aparatur (KPA)
Tingkat pendidikan merefleksikan tingkat pemahaman dan pengetahuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan aparatur, semakin besar pula potensi untuk meningkatkan kualitas kerjanya. Indikator ini dinyatakan dalam persentase jumlah aparatur yang berpendidikan minimal sarjana (S1), dalam total jumlah aparatur Pegawai Negeri Sipil (PNS).
2. Persentase Aparatur Pendidik (PAP)
Indikator ini mencerminkan seberapa besar fungsi pelayanan masyarakat dibidang pendidikan berpeluang untuk dijalankan. Data yang digunakan dalam studi ini adalah jumlah aparatur yang berprofesi guru (pengajar) dalam total jumlah aparatur Pegawai Negeri Sipil (PNS).
3. Persentase aparatur para medis (PAPM).
Indikator ini mencerminkan seberapa besar fungsi pelayanan masyarakat dibidang kesehatan dapat dilaksanakan. Data yang digunakan dalam studi ini adalah jumlah aparatur tenaga kesehatan dalam total jumlah aparatur Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Kemudian untuk mengetahui kinerja aparatur pemerintah daerah baik di Kabupaten Halmahera Timur, Kota Tidore Kepuluan sebagai daerah pemekaran, dan daerah induk (Halmahera Tengah) secara komprehensif, disusun indeks kinerja aparatur berdasarkan 3 (tiga) indikator diatas. Persamaan Indeks Kinerja Aparatur (IKA) diformulasikan sebagai berikut:
IKA, =(KPA, + PAP3, + PAPM, )
Dimana: IKAi,t = indeks kinerja aparatur pemerintah daerah pada kabupaten/kota i
ditahun t. KPAi,t, PAPi,t, PAPMi,t adalah indikator-indikator kinerja aparatur
pemerintah daerah pada kabupaten/kota i ditahun t.
b. Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Keuangan daerah memiliki peranan penting dalam membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan daerah. Keuangan pemerintah daerah juga, menggambarkan arah dan pencapaian kebijakan fiscal dalam mendorong pembangunan di daerah, maupun menggambarkan sejauh mana tugas dan
kewajiban yang diembankan pada pemerintah daerah dalam konteks desentralisasi fiskal dapat dilaksanakan (Bappenas, 2008). Untuk itu dalam analisis kinerja keuangan pemerintah daerah dalam konteks pemekaran daerah khususnya pada daerah pemekaran (Halmahera Timur, dan Kota Tidore) dan daerah induk (Halmahera Tengah), digunakan indikator kinerja keuangan daerah yang tidak saja merefleksikan kinerja keuangan pemerintah daerah secara mikro tetapi juga secara makro, sehingga diperoleh indikator-indikator yang terukur, berimbang dan komprehensif. Indikator-indikator tersebut diantaranya:
1. Ketergantungan Fiskal Daerah (KFD).
Indikator ketergantungan fiskal dirumuskan sebagai persentase dari dana alokasi umum (yang sudah dikurangi belanja pegawai) dalam total pendapatan anggaran daerah.
2. Kapasitas Penciptaan Pendapatan Daerah (KPPD)
Proporsi PAD tidak dinyatakan dalam total nilai APBD, tetapi dinyatakan sebagai persentase dari PDRB kabupaten/kota yang bersangkutan. Hal ini diperlukan untuk menunjukkan kinerja pemerintah daerah dalam meningkatkan PAD berdasarkan kapasitas penciptaan pendapatan masing-masing daerah. 3. Proporsi Belanja Modal (PBM).
Indikator ini menunjukkan arah pengelolaan belanja pemerintah pada manfaat jangka panjang, sehingga memberikan multiplier yang lebih besar terhadap perekonomian. Indikator ini dirumuskan persentase sebagai dari belanja modal dalam total belanja pada anggaran daerah.
4. Kontribusi sektor pemerintah (KSP).
Indikator ini menunjukkan kontribusi pemerintah dalam menggerakan perekonomian. Nilainya dinyatakan sebagai persentase total belanja pemerintah dalam PDRB kabupaten/kota yang bersangkutan.
Kemudian untuk mengetahui kinerja keuangan pemerintah daerah secara komprehensif, maka disusun indeks kinerja keuangan pemerintah daerah (IKKPD) berdasarkan 4 (empat) indikator diatas. Persamaan indeks kinerja keuangan pemerintah daerah (IKKPD) diformulasikan sebagai berikut:
Dimana: IKKPDi,t = Indeks Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah pada
kabupaten/kota i di tahun t. KFDi,t , KPPDi,t, PBMi,t, KSPi,t adalah indikator-
indikator kinerja keuangan pemerintah daerah pada kabupaten/kota I di tahun t.
c. Analisis Kinerja Ekonomi Daerah
Fokus kinerja ekonomi daerah digunakan untuk mengukur, apakah setelah pemekaran wilayah terjadi perkembangan dalam kondisi perekonomian daerah atau tidak. Indikator yang digunakan sebagai ukuran kinerja ekonomi daerah adalah pertumbuhan PDRB non migas, PDRB per kapita, proporsi belanja modal, dan angka kemiskinan (Bappenas, 2008). Indikator-indikator tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Pertumbuhan PDRB Non-migas (PDM).
Indikator ini mengukur gerak perekonomian daerah yang mampu meciptakan lapangan pekerjaan dan kesehatan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi dihitung dengan menggunakan PDRB.
2. PDRB per Kapita (PPK)
Indikator ini mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah yang bersangkutan.
3. Rasio PDRB Kabupaten/Kota terhadap PDRB Propinsi (RPP)
Indikator ini melihat seberapa besar tingkat perkembangan ekonomi di satu daerah di bandingkan dengan daerah lain dalam satu wilayah propinsi. Besarnya tingkat perkembangan dikorelasikan dengan perbaikan pada tingkat ekonomi.
4. Angka Kemiskinan (AK)
Pembangunan ekonomi seyokyanya mengurangi tingkat kemiskinan yang diukur menggunakan head-count index, yaitu persentase orang miskin terhadap total penduduk.
Kemudian untuk mengetahui secara umum perkembangan kinerja ekonomi pada daerah pemekaran dan induk, maka disusun indeks kinerja ekonomi daerah
(IKED) dengan menggunakan 4 (empat) indicator diatas. Persamaan indeks kinerja ekonomi daerah (IKED) diformulasikan sebagai berikut:
IKE, =( !",# $",# % ",# ( ( &$",#))
Dimana IKEi,t = indeks kinerja ekonomi daerah pada kabupaten/kota i ditahun t.
PDMi,t, PPKi,t, RPPi,t, AKi,t, adalah indikator-indikator kinerja ekonomi daerah
pada kabupaten/kota i ditahun t.
d. Analisis Kinerja Pelayanan Publik
Analisis kinerja pelayanan publik dalam penelitian ini difokuskan pada pada pelayanan bidang kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Namun dalam waktu yang relatif singkat (5 tahun) tentunya hasil-hasil sebagai kinerja pelayanan publik tentu belum terlalu nampak. Oleh karena itu, indikator pelayanan publik dalam penelitian ini lebih dititik beratkan pada aspek input pelayanan publik. Indikator yang digunakan meliputi:
1. Jumlah Siswa Per Sekolah (JSS).
Indikator ini mengindikasikan daya tampung sekolah di suatu daerah (kabupaten/kota). Rasionya dibedakan antara tingkat pendidikan dasar SD dan SMP (JSSD) dan tingkat lanjutan SLTA (JSSA).
2. Jumlah Siswa Per Guru (JSG).
Indikator ini menyangkut ketersediaan tenaga pendidik. Indikator ini dibedakan juga atas pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan SLTA. Rasio siswa per guru ini juga dibedakan antara tingkat dasar SD dan SLTP (JSGD) dan pendidikan SLTA (JSGA).
3. Ketersediaan Fasilitas Kesehatan (KFK).
Ketersediaan fasilitas kesehatan dinyatakan dalam rasio terhadap 10 ribu penduduk (jumlah ini di gunakan untuk mendekatkannya dengan skala kecamatan). Fasilitas kesehatan dimaksud adalah rumah sakit, puskesmas pembantu (pustu), dan balai pengobatan.
Ketersediaan tenaga kesehatan dinyatakan dalam rasio terhadap 10 ribu penduduk (jumlah ini digunakan untuk mendekatkannya dengan skala kecamatan). Tenaga kesehatan yang dimaksud adalah dokter, tenaga para medis, dan pembantu para medis.
5. Kualitas Infrastruktur (KI).
Indikator ini menyangkut besarnya persentase panjang jalan dengan kualitas baik, terhadap keseluruhan ruas panjang jalan di kabupaten/kota bersangkutan.
Kemudian untuk mengetahui secara umum kinerja pelayanan publik, maka disusun indeks Kinerja Pelayanan Publik (IKPI) dengan menggunakan 5 (lima) indikator diatas formulasi (Bappenas, 2008). Persamaan indeks Kinerja Pelayanan Publik (IKPI) diformulasikan sebagai berikut:
PPI,
= (JSSD, + (100 − JSSA,) + JSGD, + (100 − JSGA7 , ) + KFK, + KTK, + KI, ) Dimana: PPIi,t = Indeks Kinerja Pelayanan PUblik pada kabupaten/kota i ditahun t. JSSDi,t, JSSAi,t, JSGDi,t, JSGAi,t, KFKi,t, KTKi,t, KIi,t, adalah indikator-indikator
kinerja pelayanan publik pada kabupaten/kota i ditahun t.
e. Analisis Kesejahteraan Masyarakat
Pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah pada daerah pemekaran maupun induk dalam konteks otonomi daerah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ukuran tingkat kesejahteraan masyarakat yang paling umum dan sering digunakan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Oleh karena itu, dalam PP No.6/2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, disebutkan bahwa tujuan akhir akhir pelaksanaan otonomi daerah ditunjukkan dengan parameter tinggi kualitas manusia yang secara internasional diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Untuk itu, dalam penelitian ini untuk mengetahui perkembangan kesejahteraan masyarakat setelah pemekaran wilayah di Kabupaten Halmahera Timur, Kota Tidore dan daerah induk (Halmahera Tengah) serta kabupaten/kota dalam lingkup propinsi Maluku Utara, digunakan pendekatan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dengan metode analisis secara deskriptif.
3.5.2. Analisa Persepsi Masyarakat terhadap Manfaat Pemekaran Wilayah. Analisis persepsi masyarakat terhadap manfaat pemekaran wilayah digunakan pendekatan analisis yang meliputi, (a) analisis deskriptif, (b) Analytical Hierarchy Process (AHP, dan (c) Chi-Square. Model pendekatan analisis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Analisis Deskriptif
Pendekatan analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap manfaat pemakaran wilayah, dari aspek sosial politik, fisik dan ekonomi, serta kinerja pembangunan daerah.
b. Analytical Hierarchy Process (AHP)
Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menganalisis aspirasi dan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran wilayah dan distribusi manfaat pemekaran wilayah. Pendekatan AHP pada dasarnya didesain untuk menangkap aspirasi masyarakat mengenai manfaat pemekaran wilayah yang dipandang penting dan menjadi prioritas, serta persepsi masyarakat mengenai distribusi manfaat pemekaran wilayah. Langkah-langkah yang dilakukan dalam Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang ingin dicapai, dan selanjutnya menyusun struktur hierarki dimulai dari tujuan umum (level 1), aspek (level 2), dan faktor (level 3).
Dalam penelitian ini tujuan utama (level 1) merupakan definisi masalah yang diantaranya, (a) aspirasi masyarakat mengenai manfaat pemekaran wilayah, dan (b) distribusi manfaat pemekaran wilayah. Kemudian pada level-2 yang merupakan aspek manfaat pemekaran wilayah yang diaspirasikan masyarakat, meliputi aspek sosial politik, fisik dan ekonomi. Sedangkan distribusi manfaat pemekaran pada level 2, meliputi pemerintah daerah, pengusaha dan masyarakat. Selanjutnya pada level 3 faktor-faktor dari aspek sosial politik meliputi pelayanan umum, partisipasi masyarakat, kesempatan kerja, akses terhadap sumberdaya penegakan hukum. Faktor-faktor aspek fisik meliputi fasilitas umum dan sosial. Faktor-faktor serta aspek ekonomi meliputi, sektor pertanian, perikanan, kehutanan, pertambangan, konstruksi, perdagangan dan
lainnya. Sedangkan faktor-faktor distribusi manfaat pemekaran wilayah aspek pemerintah daerah meliputi pemerintah daerah dan DPRD. Faktor-faktor aspek pengusaha meliputi pengusaha besar, menengah dan kecil. Faktor-faktor aspek masyarakat meliputi masyarakat lokal, Maluku Utara, Jawa, Sulawesi, Cina dan lainnya. Struktur hierarki aspirasi dan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran wilayah secara lengkap ditampilkan pada Gambar 2 dan 3. 2. Membuat matriks komparasi berpasangan.
Komparasi dilakukan untuk penentuan tingkat kepentingan pada setiap tingkat hierarki atau penilaian pendapat. Teknik ini dilakukan dengan wawancara langsung dengan 64 orang responden yang sudah dipilih (key responden) dengan teknik stratified purposive. Responden adalah masyarakat Halmahera Timur yang dipandang lebih memahami dan mengetahui manfaat pemekaran wilayah dan pola distribusi manfaat pemekaran wilayah dan dikelompokkan menurut jenis kelamin, asal suku, tingkat pendidikan, pekerjaan utama dan jabatan dalam masyarakat.
Keterangan:
PU: Pelayanan Umum FU: Fasilitas Umum PrT: Pertambangan
PM: Partisipasi Masyarakat FS: Fasilitas Sosial KS: Konstruksi
KK: Kesempatan Kerja PT: Pertanian PRd: Perdagangan
AS: Akses thd Sumberdaya PRi: Perikanan PRi: Perikanan
PH: Penegakan Hukum KHt: Kehutanan
LA: Lainnya (Rumah makan/restoran Toko/kios, Penginapan/ /hotel, listrik & air bersih, Jasa transportasi dan komunikasi.
Gambar 2. Struktur Hierarki Aspirasi Manfaat Pemekaran Wilayah
Level 3 Faktor Manfaat Aspirasi Manfaat Pemekaran Wilayah Level 1 Tujuan/ Aspirasi Manfaat Level 2 Aspek Manfaat
Sosial Politik Fisik Ekonomi
P Rd K S Pr T K Ht P Ri P T F S F U P H L A P U P M K K A S
Gambar 3. Struktur hierarki distribusi manfaat pemekaran wilayah.
Untuk mengkuantifikasikan data kualitatif khususnya aspirasi dan persepsi yang berkaitan dengan manfaat pemekaran wilayah yang dipandang penting dan prioritas pada materi wawancara digunakan nilai skala komparasi 1-9 mengikuti panduan skala perbandingan Saaty (1991) seperti pada Tabel 5.
Tabel 5. Skala Perbandingan berpasangan dalam AHP Intensitas/
Pentingnya
Definisi/ Keterangan Penjelasan
1 Kedua elemen sama
pentingnya
Dua elemen menyumbangkan sama besar pada sifat itu
3 Elemen yang satu sedikit lebih
penting ketimbang yang lainnya
Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen atas yang lain
5 Elemen yang satu esensial atau
sangat penting ketimbang elemen yang lainnya
Pengalaman dan pertimbangan dengan kuat menyokong satu elemen atas yang lain
7 Elemen yang satu jelas lebih
penting dari elemen lainnya
Satu elemen dengan kuat disokong dan dominannya telah terlihat dalam praktek
9 Elemen yang satu mutlak lebih
penting ketimbang elemen yang lainnya
Bukti yang menyokong elemen yang satu atau yang lain memiliki tinggi yang mungkin menguatkan 2,4,6,8 Nilai-nilai diantara dua
pertimbangan yang berdekatan
Kompromi diperlukan antara dua pertimbangan
Kebalikan angka bukan nol diatas
Jika elemen i dibandingkan dengan j mendapat nilai bukan nol, maka j dibandingkan dengan i, mempunyai nilai
Asumsi yang masuk akal
Level 1 Tujuan/ Distribusi Manfaat Level 3 Faktor Distribusi Manfaat Pemekaran Wilayah Masyarakat Level 2
Aspek PEMDA Pengusaha
Lainnya Cina Sulawesi Jawa Malut Lokal Besar Menengah Besar Pemda DPRD
kebalikannya.
Rasional Rasio yang timbul dari skala Jika konsistensi perlu dipaksakan dengan mendapatkan sebanyak n nilai angka untuk melengkapi matriks.
Sumber: Saaty, 1991
Pembobotan perbandingan dilakukan berdasarkan pada pertanyaan seberapa kuat suatu elemen berkontribusi, mendominasi, mempengaruhi, memenuhi atau menguntungkan pada suatu pertimbangan (sifat yang dibandingkan) dibandingkan dengan elemen lain. Berkenaan dengan itu, maka dalam penelitian ini dilakukan perbandingan atas masing-masing faktor, aspek, tujuan dengan beberapa alternatif yang ditawarkan. Skala perbandingan ini dibuat berdasarkan tingkatan kualitatif dari kriteria yang dikuantitatifkan dari tujuan untuk mendapatkan suatu skala baru yang memungkinkan untuk melakukan perbandingan antara beberapa alternatif.
Prioritas menyeluruh dari berbagai pertimbangan diperoleh dengan cara mensintesis terhadap keseluruhan pertimbangan. Sintesis dilakukan dengan pembobotan dan penjumlahan untuk menghasilkan bilangan tunggal yang menunjukkan prioritas setiap elemen. Formulasi untuk menentukan vektor prioritas dari elemen-elemen pada setiap matriks adalah sebagai berikut :
1. Menjumlahkan nilai-nilai dalam setiap kolom
012 = 3 452
6 789
(1)
dimana : Nkj = Nilai kolom ke j, aij = nilai setiap entri dalam matriks pada baris i kolom j, dan n = jumlah elemen.
2. Membagi setiap entri dalam setiap kolom dengan jumlah pada kolom untuk memperoleh matriks yang dinormalisasi (Ndij)
0:52 =012452
dimana: Ndij = nilai setiap entri yang dinormalisasi pada baris i kolom j. 3. Vektor prioritas dari setiap elemen diperoleh dengan menrata-ratakan nilai
;<5 = 30:52=
6 89
Kemudian untuk nilai konsistensi rasio (CR) dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
1. Perhitungan akar ciri atau nilai eigen (eigen value) maksimum (λ maks) VA = aij x Vp dengan VA=(V aij); dimana: VA vector antara.
;> =?@? dengan VB=Vbi, dimana: VB=nilai eigen.
λ A4B =∑ ;> 6 D9
5 = 1 2. Perhitungan indeks konsistensi (CI)
EF = λ A4B − == − 1
dimana λ max = akar ciri maksimum dan n = ukuran matriks. Nilai
pengukuran konsistensi diperlukan untuk mengetahui tingkat konsistensi jawaban dari responden yang akan berpengaruh terhadap validitas atau keabsahan hasil.
3. Perhitungan rasio konsistensi (CR)
EH = HFEF
Dimana nilai RI diperoleh dari tabel sebagai berikut : Tabel 6. Nilai Random Indeks
Ukuran matriks Indeks Random
1 dan 2 0.00 3 0.58 4 0.90 5 1.12 6 1.24 7 1.32 8 1.41
c. Analisis Chi-Square
Pendekatan analisis Chi-Square digunakan untuk menganalisis: (a) hubungan profil responden dengan persepsi manfaat aspek sosial politik, (b) hubungan profil responden dengan persepsi manfaat aspek fisik, (c) hubungan profil responden dengan persepsi manfaat aspek ekonomi.
Profil responden merupakan karakterristik responden yang dikelompokkan menurut jenis kelamin, asal suku, tingkat pendidikan, pekerjaan utama dan jabatan dalam masyarakat. Sedangkan persepsi manfaat aspek sosial politik meliputi pelayanan umum, partisipasi masyarakat, kesempatan kerja, akses terhadap sumberdaya, dan penegakan hukum. Persepsi manfaat aspek fisik meliputi fasilitas umum dan fasilitas sosial. Persepsi manfaat aspek ekonomi meliputi sektor pertanian, perikanan, kehutanan, pertambangan, konstruksi, perdagangan dan lainnya. Formula Chi-Square disajikan sebagai berikut :
IJ = 3(KD − LD)J
LD 7
D9
dimana : Oi = Frekuensi yang diamati katagori ke-i; Ei = frekuensi yang diharapkan dari populasi ke-i; k = jumlah sampel. Kriteria pengujian adalah ; tolak Ho, jika X2 > X2 (1-α) (k-1) dengan α = taraf nyata untuk pengujian.
Kemudian untuk menguji tingkat keeratan hubungan digunakan rumus Koefisien Kontigensi Pearson dengan model persamaan :
E =0 + I√IJJ Keterangan:
C = Koefisien kontigensi; X2 = Nilai Chi-Square;