• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Profil Responden dengan Persepsi Ekonomi

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

4.6 Kelembagaan Pemerintahan Daerah

5.5.3 Hubungan Profil Responden dengan Persepsi Ekonomi

Profil responden merupakan karakteristik responden yang terdiri dari jenis kelamin, asal suku, tingkat pendidikan, perkerjaan utama, dan jabatan dalam masyarakat. Sedangkan persepsi manfaat Ekonomi meliputi sektor pertanian, perikanan, kehutanan, pertambangan, konstruksi, perdagangan dan lainnya. Hubungan profil responden dengan persepsi manfaat ekonomi dihitung dengan menggunakan Chi-Square, dan hasilnya ditampilkan pada Tabel 45.

a. Hubungan Profil Responden dengan Persepsi Manfaat Sektor Pertanian Hasil perhitungan pada Tabel 45 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, pekerjaan utama dan jabatan dalam masyarakat, memilki hubungan dengan persepsi manfaat sektor pertanian pada taraf signifikan (α=5%). Ini berarti

perbedaan tingkat pendidikan, pekerjaan utama dan jabatan dalam masyarakat, membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran sektor pertanian.

Sedangkan jenis kelamin, asal suku, memiliki hubungan dengan persepsi manfaat pertanian pada taraf (α=5%). Ini berarti perbedaan jenis kelamin dan asal suku,

dapat membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat sektor pertanian.

Tabel 45. Hubungan Profil Responden dengan Persepsi Manfaat Ekonomi

Profil Responden Nilai Chi-Square X2-

tabel X2- tabel PT PI KHt PrT KT PD LA Jenis Kelamin 0,881 0,241 0,946 0,946 0,105 0,105 0,881 1,074 0,455 Asal Suku 3,474 4,045 3,134 3,134 1,942 1,942 3,474 4,878 3,357 Pendidikan 6,810 2,304 2,658 2,658 2,421 2,421 6,810 4,878 3,357 Pekerjaan Utama 6,507 2,570 6,460 6,460 2,058 2,058 6,507 6,064 4,351 Jabatan dlm masyarakat 4,533 3,374 4,743 4,743 16,682 16,682 4,533 4,878 3,357

Keterangan: PT=Pertanian, PI=Perikanan, KHt=Kehutanan, PrT=Pertambangan KT=Konstruksi,

PD=Perdagangan, LA=Lainnya

b. Hubungan Profil Responden dengan Persepsi Manfaat Perikanan

Hasil perhitungan pada Tabel 45 menunjukkan bahwa asal suku, dan jabatan dalam masyarakat, memiliki hubungan yang signifikan pada taraf taraf (α=50%).

Hal ini berarti perbedaan asal suku dan jabatan dan masyarakat membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat sestor perikanan. Sedangkan jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan utama, tidak memiliki hubungan signifikan dengan persepsi manfaat perikanan pada (α=30%) dan (α=50%).

Artinya perbedaan jenis kelamin, tingkat pendidikan dan pekerjaan utama, dapat membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran sektor perikanan.

c. Hubungan Profil Responden dengan Persepsi Manfaat Kehutanan

Hasil perhitungan pada Tabel 45 menunjukkan bahwa pekerjaan utama memiliki hubungan dengan persepsi manfaat kehutanan pada (α=30%).Ini berarti

perbedaan pekerjaan utama, membedakan persepsi mengenai manfaat pemekaran sector kehutanan. Kemudian jenis kelamin dan jabatan dalam masyarakat memilkki hubungan siginifikan dengan persepsi manfaat kehutanan pada taraf signifikan (α=50%). Ini berarti perbedaan jenis kelamin dan jabatan dalam

masyarakat dapat membedakan persepsi manfaat kehutanan. Sedangkan tingkat pendidikan dan asal suku tidak memiliki hubungan dengan persepsi manfaat kehutanan pada taraf (α=30%) dan (α=50%) Ini berarti perbedaan tingkat

pendidikan, tidak membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat sektor kehutanan.

d. Hubungan Profil Responden dengan Persepsi Manfaat Pertambangan Hasil perhitungan pada Tabel 45 menunjukkan bahwa pekerjaan utama memiliki hubungan dengan persepsi manfaat pemekaran sektor pertambangan pada taraf signifikan (α=30%). Ini berarti perbedaan pekrjaan utama,

membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran sektor pertambangan. Kemudian jenis kelamin dan jabatan dalam masyarakat memiliki hubungan signifikan dengan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran disektor pertambangan pada taraf signifikansi (α=50%). Ini berarti perbedaan

jenis kelamin dan jabatan dalam masyarakat, membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran wilayah disektor pertambangan. Sedangkan jenis kelamin dan tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan signifikan dengan persepsi manfaat sektor pertambangan baik pada taraf signifikansi (α=30%)

maupun (α=50%). Ini berarti perbedaan jenis kelamin dan tingkat pendidikan,

tidak membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran disektor pertambangan.

e. Hubungan Profil Responden dengan Persepsi Manfaat Konstruksi

Hasil perhitungan pada Tabel 45 menunjukkan bahwa jabatan dalam masyarakat memiliki hubungan dengan persepsi manfaat konstruksi pada taraf signifikan (α=30%). Ini berarti perbedaan jabatan dalam masyarakat,

membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat aspek konstruksi. Sedangkan jenis kelamin, asal suku, tingkat pendidikan dan pekerjaan utama, tidak memiliki hubungan signifikan dengan persepsi masyarakat mengenai manfaat aspek konstruksi pada taraf (α=30%) maupun (α=50%). Ini berarti

perbedaan jenis kelamin, asal suku, tingkat pendidikan dan pekerjaan utama, tidak membedakan persepsi masyarakat mengani manfaat aspek konstruksi.

f. Hubungan Profil Responden dengan Persepsi Manfaat Perdagangan Hasil perhitungan pada Tabel 45 menunjukkan bahwa jabatan dalam masyarakat memiliki hubungan signifikan dengan persepsi manfaat sektor perdagangan pada taraf (α=30%). Ini berarti perbedaan jabatan dalam masyarakat,

membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran sektor perdagangan. Sedangan jenis kelamanin, asal suku, tingkat pendidikan dan pekerjaan utama, tidak memiliki hubungan dengan persepsi masyarakat mengenai manfaat sektor perdagangan pada taraf signifikansi (α=30%) maupun (α=50%).

Ini berarti perbedaan jenis kelamanin, asal suku, tingkat pendidikan dan pekerjaan utama, tidak membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran sektor perdagangan.

g. Hubungan Profil Responden dengan Persepsi Manfaat Lainnya

Hasil perhitungan pada Tabel 45 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dan pekerjaan utama memiliki hubungan signifikan dengan persepsi manfaat sector-sektor lainnya pada taraf (α=30%). Ini berarti perbedaan tingkat pendidikan

dan pekerjaan utama, membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran sektor lainnya. Sedangan jenis kelamin, asal suku dan jabatan dalam masyarakat, memiliki hubungan memiliki hubungan dengan persepsi masyarakat mengenai manfaat sektor lainnya pada taraf signifikansi (α=50%). Ini berarti

perbedaan jenis kelamin, asal suku, dan jabatan dalam masyarakat, dapat membedakan persepsi masyarakat mengenai manfaat pemekaran wilayah sektor lainnya.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat dikemukakan kesimpulan penelitian ini sebagai berikut :

1. Kinerja pembangunan daerah Halmahera Timur setelah pemekaran wilayah semakin meningkat, dan trend peningkatannya lebih tinggi dari Halmahera Tengah (daerah induk), walaupun berada dibawah Kota Tidore (sesama daerah pemekaran), ditunjukan dengan peningkatan indeks kinerja aparatur pemerintah daerah, keuangan, ekonomi, dan pelayanan publik, serta kesejahteraan masyarakat selama tahun 2005-2009. Namun secara umum setelah pemekaran wilayah, kinerja pembangunan pada daerah induk dan daerah pemekaran menunjukan trend peningkatan, sehingga dalam waktu kurang lebih 5 (lima) tahun setelah pemekaran kondisi daerah induk dan pemekaran semakin membaik dan mengalami kemajuan yang cukup signifikan.

2. Pemekaran wilayah (daerah) memberikan dampak posetif terhadap peningkatan kinerja aparatur daerah, keuangan, ekonomi, dan pelayanan publik, serta kesejahteraan masyarakat di daerah pemekaran (Halmahera Timur dan Kota Tidore) dan daerah induk (Halmahera Tengah). Bahkan dalam waktu kurang lebih 5 (lima) tahun setelah pemekaran, kinerja pembangunan daerah pada daerah induk dan pemekaran dapat dipandang sudah sesuai dengan tujuan pemekaran wilayah (daerah) yang diisyaratkan dalam PP No.129/2000, serta daerah pemekaran dan induk dapat juga dipandang mampu melaksanakan tujuan otonomi daerah yang diisyaratkan dalam PP No.6/2008.

3. Aspirasi masyarakat mengenai manfaat pemekaran wilayah dipandang penting adalah ekonomi, fisik, dan sosial politik. Aspek ekonomi yang menjadi prioritas adalah rumah makan/restoran, toko/kios, listrik, air bersih, jasa transportasi dan komunikasi, perdagangan, dan konstruksi. Aspek fisik yang menjadi prioritas adalah fasilitas umum dan sosial. Aspek sosial politik yang menjadi prioritas adalah penegakan hukum, akses terhadap sumberdaya, dan kesempatan kerja.

Dokumen terkait