METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Analisa Kuantitatif
Untuk dapat mengetahui dampak input dan output Wajardikdas terhadap outcome, maka digunakan Metode Panel Data Analysis. Sebagaimana metode ekonometrika lainnya, metode analisa data panel ini dapat digunakan untuk menguji atau memperkirakan dampak dari perubahan satu faktor terhadap outcome yang diharapkan (misalnya: Angka Partisipasi Sekolah). Kelebihan estimasi menggunakan data panel adalah sebagai berikut:
1. Menghasilkan kumpulan data yang lebih informatif, lebih bervariasi, memperbaiki degree of freedom, lebih efisien dan menurunkan colinearity antar variabel (Baltagi, 2001:6).
2. Memungkinkan menganalisa beberapa isu penting dalam perekonomian yang tidak dapat diterangkan dengan analisa time series atau cross section (Hsiao, 1989: 2).
3. Menghitung tingkat keberagaman karakteristik individu yang lebih tinggi dibandingkan dengan analisa time series (Baltagi, 2001:6).
4. Memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi dalam pemodelan perbedaan perilaku dibandingkan dengan analisa cross section (Greene, 1997:615).
5. Mampu menerangkan lebih baik dalam dynamic adjustment (Baltagi, 2001:6).
Adapun model dasar yang digunakan dalam evaluasi ini adalah Model Bank Dunia 2007 mengenai investasi pendidikan. Model ini mengangkat masalah Investasi dalam Pendidikan di Indonesia dengan
24
menggunakan satu model dasar yang meneliti sisi penawaran dan permintaan sebagai penentu (determinat) dari outcomes pendidikan. Spesifikasi model yang digunakan adalah sebagai berikut:
i
i E E S GDRP Po R A Sc D K L
R 1 12 23 4 5 6 7 8 9 10 11
Dimana:
= Kabupaten/ kota = 1…N R = Net Enrollment Rates
E1 = Log dari pengeluaran pendidikan per jumlah penduduk dalam usia sekolah (Total pengeluaran pendidikan per jumlah penduduk usia 7-18 Tahun).
E2 = Log dari rata-rata belanja pemerintah kabupaten/kota (per populasi penduduk usia sekolah) dari 2001-2003. S = Belanja untuk gaji tenaga pendidikan terhadap total
belanja pendidikan (rasio belanja pegawai terhadap toal belanja pendidikan).
GDRP = Log PDRB per kapita. Po = Poverty Head Count
R = Remote Area (Jarak rata-rata geometrik dari desa terhadap kabupaten terdekat)
A = Akses jalan (% desa dengan akses jalan paving) Sc = Jumlah sekolah SD dan SMP tiap KM2
D = Bencana, variabel yang mengindikasi apakah daerah merupakan daerah pasca bencana selama 1 tahun yang lalu.
K = Dummy untuk kabupaten/ kota (urban /rural)
L = Persentase penduduk dalam usia sekolah yang bekerja Berdasarkan model investasi pendidikan Bank Dunia tersebut, maka dilakukan pengembangan model dan modifikasi model tanpa meninggalkan esensinya dengan mempertimbangkan data yang dimiliki. Pengembangan model dalam kajian ini bertujuan untuk menganalisis dampak sejumlah faktor terhadap outcomes Wajardikdas 9 Tahun.
25
Salah satu outcomes utama dalam pelaksanaan program Wajardikdas 9 Tahun adalah Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk tingkat sekolah dasar dan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk sekolah menengah pertama. Faktor pertama yang digunakan adalah faktor output dalam pendidikan yang dikombinasikan dengan faktor eksternal dan faktor karakteristik wilayah. Dalam kajian ini akan disajikan hasil dari APK dan APM baik untuk SD maupun SMP.
Adapun Persamaan Angka Partisipasi Murni dan Angka Partisipasi Kasar dapat dituliskan sebagai berikut:
Dalam spesifikasi ini, simbol-simbol didefinisikan sebagai berikut:
APSDMI = Angka Partisipasi Murni dan Angka Partisipasi Kasar Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah
APSSMMTs = Angka Partisipasi Murni dan Angka Partsipasi Kasar Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah Rycko = Rasio Produk Domestik Regional Bruto
Terhadap Rata-Rata Nasional POV = Tingkat Kemiskinan
AIRA = Akses Air Bersih RLF = Jumlah Angkatan Kerja
26
LITER = Angka Melek Huruf
STAT = Dummy untuk kabupaten/kota
DT = Dummy untuk daerah Indonesia
Tertinggal
JAWA = Dummy untuk daerah yang berada di Pulau Jawa/Luar Pulau Jawa
RDAU = Rasio Dana Alokasi Umum Terhadap APBD
RDAK = Rasio Dana Alokasi Khusus Terhadap APBD
RPAD = Rasio Pendapatan Asli Daerah Terhadap APBD
MGSDMI = Rasio Murid Guru SD/MI (Murid/Guru SD/MI)
DTSDMI = Rasio Murid Sekolah SD/MI (Murid/Sekolah SD/MI)
MGSMTS = Rasio Murid Guru SMP/MTs
(Murid/Guru SMP/MTs)
DTSMTS = Rasio Murid Sekolah SMP/MTs (Murid/Sekolah SMP/MTs)
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian outcome dari Program Wajardikdas 9 Tahun, yaitu faktor input dan output program serta faktor eksternal seperti karakteristik sosial ekonomi suatu daerah. Yang termasuk faktor input antara lain alokasi Dana Alokasi Khusus untuk Pendidikan, Rasio Dana Alokasi Umum Terhadap APBD, Rasio Dana Alokasi Khusus Terhadap APBD, dana BOS (BOS tunai dan BOS Buku). Dalam hal ini, tercapainya outcome program Wajardikdas dipengaruhi oleh besarnya dana dan
pembiayaan-27
pembiayaan yang dialokasikan untuk program tersebut. Dengan hipotesis bahwa terdapat hubungan positif antara besarnya dana yang dialokasikan dengan pencapaian APK dan APM.
Sedangkan, output Wajardikdas antara lain unit sekolah baru (USB), ruang kelas baru (RKB), perpustakaan dan rehabilitasi prasarana dan sarana SD/MI/SDLB/Paket A dan SMP/MTs/SMPLB, dan guru. Melalui perbaikan ruang kelas, maka akan meningkatkan daya tampung siswa secara maksimal. Demikian halnya dengan rehabilitasi gedung sekolah, dengan demikian dapat meningkatkan daya tampung secara maksimal dan memperlancar proses pembelajaran. Pembangunan USB-RKB dapat mendekatkan lembaga pendidikan dengan tempat tinggal siswa serta dapat menambah daya tampung. Pembangunan perpustakaan dan laboratorium akan meningkatkan mutu dan proses pembelajaran. Berkaitan dengan guru, maka yang harus diperhatikan adalah peningkatan ketersediaan guru yang akan memperlancar proses pembelajaran, serta peningkatan kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi guru, sehingga guru dapat mengajar secara profesional sesuai dengan kompetensinya.
Dalam model ini faktor output yang digunakan antara lain Rasio Murid Guru SD/MI, Rasio Murid Sekolah SD/MI (daya tampung sekolah SD/MI), Rasio Murid Guru SMP/MTs dan Rasio Murid Sekolah SMP/MTs (daya tampung sekolah SMP/MTs). Dengan hipotesis terdapat hubungan yang negatif antara Rasio Murid guru SD/MI dan SMP/MTS terhadap APK dan APM SD/MI dan SMP/MTs. Semakin banyak guru yang tersedia akan meningkatkan APK dan APM. Sedangkan hubungan antara rasio murid sekolah dengan APK dan APM diharapkan positif. Artinya semakin banyak sekolah yang tersedia akan meningkatkan APK dan APM.
Sedangkan untuk faktor eksternal, antara lain angka melek huruf, tingkat kemiskinan, pendapatan masyarakat, jumlah angkatan kerja, serta akses terhadap fasilitas umum. Tingkat kemiskinan diharapkan
28
mempunyai hubungan negatif terhadap besarnya APK dan APM. Sedangkan, angka melek huruf diharapkan mempunyai hubungan positif terhadap APK dan APM. Dengan argumentasi bahwa ketika angka melek huruf meningkat (mencerminkan tingkat pendidikan masyarakat) maka hal ini akan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya. Demikian juga dengan tingkat kemiskinan. Tingkat pendapatan masyarakat dan akses terhadap fasilitas umum mempunyai hubungan yang positif terhadap APK dan APM. Dengan semakin terpenuhinya akses fasilitas umum, maka akan memudahkan siswa untuk menjangkau sekolah. Tingkat pendapatan masyarakat yang juga dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat, juga akan mempengaruhi orangtua dan anak untuk melanjutkan sekolah.
Selain itu, juga terdapat beberapa faktor karakteristik daerah yang dapat mempengaruhi pencapaian APK dan APM. Antara lain Kabupaten/Kota, Daerah Tertinggal, dan keberadaan daerah di Pulau Jawa/Luar Pulau Jawa. Faktor karakteristik daerah digunakan sebagai variabel dummy. Dengan manggunakan beberapa variabel dummy tersebut diharapkan dapat diketahui apakah karekteristik tertentu dari suatu daerah akan mempengaruhi capaian APK dan APM. Sebagai hipotesis sementara daerah kota akan mempunyai tingkat capaian yang lebih tinggi daripada kabupaten. Hal ini dimungkinkan karena beberapa indikator input dan output daerah kota lebih baik daripada kabupaten. Demikian juga halnya jika daerah tersebut bukan merupakan daerah tertinggal (dilihat dari besarnya desa tertinggal di daerah tersebut). Hal yang sama juga terjadi untuk daerah di luar dan di Pulau Jawa. Dapat diduga bahwa daerah di Jawa capaiannya lebih baik daripada daerah di luar Jawa.
Terdapat beberapa penelitian yang mendukung adanya hubungan antara tingkat pendidikan dan pendapatan yang menjadi salah satu alasan bahwa capaian APK dan APM di daerah dipengaruhi oleh
29
pendapatan yang diproksi dengan PDRB. Penelitian tersebut diantaranya pernah dilakukan oleh Schultz (1960), Becker (1964) dan Mincer (1974). Ketiganya menyimpulkan bahwa hubungan antara rata-rata tingkat pendidikan dengan pendapatan (diperimbangkan juga faktor distribusinya) mempunyai hubungan positif. Selain itu, Bils dan Klenow (2000) melakukan penelitan yang menghasilkan kesimpulan bahwa terdapat korelasi antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi, dimana semakin tinggi tingkat pertumbuhan akan menyebabkan pendidikan yang semakin meningkat. Pertumbuhan ekonomi sabagai variabel bebas dan tingkat pendidikan sebagai variabel terikatnya, bukan sebaliknya.